
Sambutan yang pertama kali aku dapatkan sesampainya di rumah adalah wajah ibu yang khawatir. Beliau langsung mengamati tubuhku, untuk mengecek apakah ada luka lain selain di pipiku. Begitu memastikan tidak ada luka lainnya, ibu langsung memegang lembut pipiku yang membengkak dan memerah. Beliau juga langsung memberikan pelukan kepadaku, mengabaikan kehadiran Stephanie dan Caroline.
Aku belum melihat wajah ayah maupun William. Hanya ibu dan beberapa pelayan di rumahku yang menyambutku dengan wajah khawatir. Ibu menarik tubuhku masuk ke dalam ruang keluarga setelah selesai memelukku. Pantas saja aku tidak melihat wajah ayah maupun William, saat ini ayah sedang berbicara dengan Dokter Anthony dan juga Dokter Margareth. Sedangkan William sedang sibuk dengan telepon.
Jika tamparan yang diberikan Ken kepadaku membuat ayah memanggil 2 dokter, akan menjadi seperti apa wajah Ken besok?
"Apakah sakit saat dipegang seperti ini?" tanya Dokter Margareth sambil menyentuh lembut pipiku.
"Bisakah kamu membuka mulutmu?"
Aku menuruti semua yang diperintahkan kepadaku. Aku tidak memiliki tenaga untuk membantah ucapan ataupun menanyakan alasan 2 dokter berada di rumah ini. Rasanya tubuhku sudah sangat lelah dan ingin berbaring di atas tempat tidur.
"Bagian dalam pipimu robek sedikit. Sepertinya Ken menamparmu dengan sangat keras.”
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Dokter Margareth mampu membuat ayah dan William mengalihkan perhatian mereka kepadaku. Ayah bahkan menghampiriku dan menggenggam erat tangan kananku. Sebuah genggaman penuh dengan amarah. Aku memegang tangan ayah dengan tangan kiriku. Aku tidak ingin ayah menunjukkan amarahnya karena aku takut akan apa yang akan diperbuat olehnya.
William memanggil ayah karena ada suatu hal yang terjadi. Aku melepaskan genggaman tanganku karena aku tahu dengan pasti ayah tidak akan pernah melepaskan genggaman tangan miliknya sebelum aku yang melepaskannya. Aku pernah tidak melepaskan genggaman tangan ayah karena ingin melihat beliau yang melepaskan tanganku, tetapi beliau tetap menggenggam kedua tanganku hingga akhirnya kehilangan kontrak senilai 5 trilyun. Sejak saat itu, aku tidak pernah menunggu ayah untuk melepaskan genggaman tangannya. Aku tidak ingin perusahaan merugi karena tingkah kekanak-kanakanku.
“Dokter Margareth!!!" teriak Caroline memenuhi ruang keluarga yang tadinya sangat hening.
Dokter Margareth menyambut pelukan Caroline sebelum akhirnya fokus kembali kepada luka di dalam pipiku. Dokter Margareth membersihkan sisa-sisa darah dan mengamati sekali lagi pipi bagian dalamku hingga akhirnya yakin jika darah benar-benar sudah tidak keluar. Saat ini Dokter Margareth sedang berbicara dengan Dokter Anthony. Sekarang aku tahu hubungan diantara keduanya, Dokter Anthony adalah dokter yang bertanggung jawab terhadap Dokter Margareth. Terlebih ini adalah kali kedua untukku bertemu dengannya karena pada awalnya dokter pribadiku sama dengan Arthur. Dan juga sebelum menjadi dokter penanggung jawabku, Dokter Margareth adalah dokter Stephanie dan Caroline. Aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa ayah merebut dokter dari Keluarga Chester, dimana keluarga mereka terkenal tidak mau melepaskan orang-orang yang berbakat. Atau, Dokter Margareth bukan dokter berbakat seperti yang aku kira?
__ADS_1
"Dokter akan memberimu steroid untuk mengatasi rasa sakit dan radang. Jika pipi bagian dalammu kembali mengeluarkan darah, segera hubungi Dokter."
Aku hanya mengangguk.
"Bagaimana Dokter tahu jika Ken yang menamparku?"
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutku dan pertanyaan yang membuat Dokter Margareth terkejut.
"Semua dokter sudah tahu akan hal ini. Kamu tidak perlu khawatir karena berita ini tidak akan menyebar ke publik," jawabnya dengan tenang.
"..."
"Kamu harus bersyukur memiliki ayah dan kakak yang sangat menyayangi dan mencintaimu."
Pertanyaan ayah membuat kedua dokter yang sedari tadi berada di ruang keluarga mengikuti ayah masuk ke ruang kerjanya. Ibu yang sedari tadi hanya menatapku sekarang sudah memelukku untuk kedua kalinya setelah mendengar cerita lengkap yang terjadi dari mulut Stephanie dan Caroline. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti mereka yang juga mendapatkan kepercayaan dari keluargaku. Aku juga bersyukur karena mereka, aku tidak perlu selalu menceritakan semua hal yang terjadi dan mengingat kembali rasa sakit yang aku rasakan.
"Seharusnya saat dia berlari meninggalkan acara pertemuan aku sadar ada yang salah," ucap William sembari menyentuh pipiku.
"Maafkan aku, aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi," lanjut William.
"Apa kamu melakukan sesuatu kepada perusahaan lain?" tanya Arthur.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” balas William tajam.
"Tidak, Zeta ingin menutupi apa yang terjadi lalu kenapa aku harus membuat masalah?" lanjut William setelah hening beberapa saat karena Arthur tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku hanya takut kamu melakukan sesuatu yang buruk."
"Arthur," tegur ibu.
"Apa yang ingin kalian berdua minum? Tante akan mengambilkannya."
Stephanie dan Caroline langsung berdiri dari tempat mereka duduk, tahu jika mereka tidak seharusnya berada di ruangan ini. Mereka memutuskan untuk mengambil minuman mereka sendiri, sebagai bentuk pelarian mereka dari ruangan ini. Ibu langsung tersenyum dan membawa kedua sahabatku itu menuju dapur meninggalkanku bersama kedua kakakku.
"Seharusnya kamu tidak memukuli Ken dan membiarkan ayahnya yang memukulinya."
"Jika saat itu kamu bersama dengan kami, aku yakin 100% kamu akan melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan."
"Bisakah Kakak berhenti membahas hal ini?" tanyaku sudah lelah dengan drama yang terjadi hari ini.
"Mulai saat ini, aku tidak akan membiarkan seseorang bisa mendapatkanmu dengan mudah," ucap William sebelum akhirnya meninggal ruang keluarga menuju ruang kerja ayah.
"Aku setuju dengannya. Aku tidak akan membiarkan adikku disakiti kedua kalinya."
__ADS_1
...-----...