
Sudah satu minggu aku hidup seperti yang Ken inginkan dan rencanakan. Selama satu minggu ini juga Natasha tidak masuk sekolah. Akan sulit bagi Natasha untuk menunjukan kembali wajahnya setelah apa yang terjadi, aku tahu hal itu karena sudah beberapa kali aku melihat korban bullying yang akhirnya memutuskan pindah sekolah. Tetapi ada hal lain yang lebih janggal daripada ketidakhadiran Natasha, ayah maupun William tidak melakukan apapun terkait semua tindakan yang Ken lakukan terhadapku.
Bahkan, bukan hanya Ken saja yang membullyku, teman-teman lain selain teman kelasku ikut membullyku. Tentu saja mereka berani membullyku karena Keluarga Parker berada di belakang semua ini. Dan ayah tetap membiarkan hal itu terjadi.
Hanya teman seangkatanku yang membullyku, kakak kelas hanya diam mengamati seolah ada seseorang yang menyuruh mereka untuk tidak melakukan apapun. Beberapa teman seangkatanku ada juga yang tidak membullyku, terutama mereka yang memiliki kakak di sekolah ini. Mereka yang pernah menjadi korban bullying juga tidak ikut membullyku. Mereka hanya memberikan ekspresi seolah tidak percaya seseorang dari Keluarga Allison yang memiliki pengaruh cukup besar bisa dibully. Felix juga menepati ucapannya untuk tidak mengganggu semua yang Ken lakukan.
"Ayahmu atau William tidak mungkin tidak tahu akan hal ini bukan?" tanya Caroline.
Selama satu minggu ini, baik Caroline maupun Stephanie juga sudah cukup lelah karena membelaku dari bullyan yang aku dapatkan. Orang-orang juga mulai menjauhi mereka karena menganggap mereka bagian dariku yang membully Natasha. Selama ini juga Sera masih menutup rapat mulutnya seperti yang aku suruh. Beberapa kali Charlotte menemuiku dan memohon agar membiarkan kakaknya menceritakan semua yang terjadi tetapi aku menolaknya.
"Sepertinya ayah dan Kak Will ingin aku merasakan apa yang aku inginkan. Selama ini mereka selalu melindungiku dan membuatku terus merasakan kenyamanan dan ketenangan."
"Mereka bahkan sudah mulai mencelakaimu, Zeta. Sekarang mereka menyerang mental dan fisikmu."
"Aku setuju dengan Carol, semakin lama mereka semakin melunjak. Jika Keluarga Allison tidak melakukan apapun, Keluarga Allison akan dianggap tidak sekuat yang mereka kira dan bisa terus menerus menyiksamu," balas Caroline.
"Carol, semua ini bukan masalah reputasi Keluarga Allison. Apa kamu tidak ingat bagaimana sebuah pot hampir jatuh di atas kepala Zeta? Jika saja para pengawal tidak sigap, apa yang akan terjadi dengan Zeta? Dan juga hari-hari sebelumnya, bagaimana bisa mereka dengan sengaja meletakkan pisau dan pistol di atas meja Zeta? Terlebih pistol itu pistol nyata bukan pistol mainan," keluh Stephanie.
"Aku tidak paham lagi dengan Ken," ucap Caroline dengan nada kesal sebelum meninggalkanku berdua dengan Stephanie.
"Apa yang akan kamu lakukan? Kamu masih belum membenci Ken?"
"Ibuku mengatakan perasaan bukan hanya sekadar merasakan dan tidak merasakan. Tetapi saat ini aku tidak merasakan perasaan apapun untuknya."
"Kamu belum menyadari perasaan itu."
"Ah...mungkin kamu benar. Butuh waktu lama bagiku menyadari perasaan yang aku miliki. Semenjak kehadiran Kak Alvin, aku merasa bisa merasakan perasaanku lebih cepat. Sepertinya itu hanya berlaku untuk Kak Alvin."
Stephanie tidak lagi membalas ucapanku. Dia menemaniku dalam diam mengamati anak-anak lain yang sedang bermain voli. Aku langsung menyuruh Stephanie untuk bergabung dengan anak-anak lain begitu salah satu bola mendarat di hadapan kami. Stephanie menyentuh pundakku untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya pergi meninggalkanku sendirian di tempat para pemain cadangan biasanya duduk.
Guru olahraga memberikan kebebasan kepada kami untuk melakukan apapun di jam ini. Anak laki-laki memutuskan menuju lapangan bola dan anak perempuan lebih memilih bermain voli, menghindari sinar matahari. Aku sangat membenci olahraga apapun karena aku hanya memiliki sedikit energi. Tubuhku akan langsung pegal begitu aku selesai melakukan olahraga. Sepertinya dibanding olahraga, aku lebih membenci pegal yang aku dapatkan.
Sekali lagi, sebuah bola kembali mendarat di hadapanku. Saat aku ingin mengambil bola voli itu, seseorang mendorong tubuhku ke depan. Seseorang yang sekarang bermandikan creamy carrot soup, sup yang juga Sera tumpahkan ke tubuh Natasha. Percikan panas sup itu mengenai tanganku, sangat panas hingga membuat kulitku langsung memerah.
"Paman," ucapku terbata-bata.
__ADS_1
"Zetaaa!!!" teriak teman-teman lain begitu melihatku terjatuh karena dorongan pengawalku dan langsung menghampiriku.
Aku langsung berdiri menghampiri Paman Stephan dengan langkah lemas begitu Caroline membantuku berdiri. Sekujur tubuhku ikut bergetar. Aku bahkan tidak bisa memanggil pengawal lainnya hingga akhirnya Stephanie yang memanggil semua pengawal pribadiku ke ruang olahraga dan langsung memberikan pertolongan pertama pada luka di tubuh paman. Mata mata ikut terkena sup itu.
"Paman," panggilku sekali lagi.
"Seperti yang saya janjikan, saya akan berlari sebelum Nona merasakan rasa sakit."
"Maafkan, Zeta," ucapku sambil menangis.
"Saya senang bisa melindungi, Nona."
"Maafkan, Zeta," ucapku sekali lagi.
"Tidak, Nona. Ini adalah sebuah kebahagiaan bagi saya untuk bisa melindungi Nona,” ucap paman sebelum akhirnya dibawa pergi ke rumah sakit.
Aku menggeleng. Tidak ada kebahagiaan karena mendapatkan sebuah luka. Tidak akan ada kebahagian karena hal itu. Tidak mungkin ada orang yang bahagia dengan mendapatkan luka. Konsekuensi yang aku dapatkan dari melindungi Ken adalah semakin banyak orang yang akan ikut melindungiku. Aku tidak pernah memikirkan konsekuensi itu saat membuat keputusan untuk melindungi laki-laki yang mungkin sekarang sudah aku benci. Aku tidak menyadari keputusanku untuk menyelamatkan Ken dari kepalsuan akan berakhir menjadi seperti ini.
Sekarang aku tahu alasan diamnya ayah, ayah ingin mengajariku di setiap keputusan yang aku ambil akan ada banyak orang yang merasakan dampaknya. Aku akhirnya mengerti kenapa aku harus memikirkan matang-matang setiap keputusan yang akan keluar dari mulutku. Aku seharusnya tidak boleh hanya menggunakan perasaanku saat membuat sebuah keputusan. Ah... ini alasan kenapa William selalu menggunakan rasionalitasnya saat membuat keputusan.
"Ah... dia di kelas."
Aku langsung berlari menuju kelas. Stephanie dan Caroline terus membuntutiku, bahkan mereka juga menyuruh pengawal pribadi mereka mengikuti kami secara langsung. Sepertinya dia takut jika Ken akan melukaiku. Tetapi, aku yang akan melukainya.
Sebuah buket bunga berisikan bunga lily putih, poppy merah, mawar merah, dan krisan memenuhi meja dan kursi tempatku duduk. Semua bunga yang melambangkan kematian itu menyambut kedatanganku. Sama halnya dengan pisau dan pistol yang tempo hari mengisi mejaku, sekarang bunga kematian yang menghiasi meja dan tempat dudukku seolah pengirimnya menginginkan kematianku.
Caroline langsung mengambil buket bunga itu dan melemparkannya ke arah Ken. Beberapa anak yang berada di dalam kelas terkejut dan langsung memahami situasi yang terjadi. Stephanie diikuti beberapa anak langsung menutup rapat pintu kelas dan menutup jendela dengan korden, mencegah orang luar tahu apa yang terjadi di ruangan ini.
"Sudah cukup dengan semua ini, Ken."
"Aku tidak ingin berbicara denganmu," ucap Ken sembari mendorong tubuh Caroline dan berjalan mendekatiku.
"Bagaimana rasanya hidup di neraka, Zeta?" tanyanya sembari mendorong tubuhku.
"Saat dimana tante meninggal, seharusnya aku tidak membiarkan Paman Stephan menolongmu. Seharusnya aku mencegahnya menolong laki-laki yang tidak tahu terima kasih itu."
__ADS_1
Ken menghentikan tubuhnya mendorongku. Dia menatap kedua mataku dengan penuh amarah yang juga aku balas dengan penuh amarah.
"Sup yang ditumpahkan ke tubuh Natasha, bukanlah sup yang baru diangkat dari atas kompor. Bagaimana bisa kamu membiarkan sup panas itu langsung ditumpahkan? Aku tidak masalah jika sup panas itu mengenai tubuhku tetapi saat itu mengenai orang yang selalu melindungiku, aku tidak bisa tinggal diam."
"..."
"Kamu menginginkan aku merasakan apa yang Natasha rasakan tetapi apakah aku menjatuhkan pot bunga di atas kepalanya? Apakah aku meletakan pisau dan pistol di mejanya? Apakah aku menumpahkan kotoran air kepadanya saat dia berada di kamar mandi? Apakah aku menuliskan kalimat hinaan di atas mejanya? Apakah aku menyandung kakinya hingga membuatnya terjatuh? Apakah aku menempelkan poster berisi hinaan di sepanjang koridor sekolah? Apakah aku meletakan bunga kematian di atas mejanya? Dan apakah aku mengirim surat kematian kepadanya?" ucapku sembari terus mendorong tubuh Ken hingga membuatnya terjatuh di tempat duduknya.
"Kamu pernah mengatakan jika aku sangat mudah dibaca? Tidak, tidak ada seorangpun yang bisa membaca perasaanku yang sebenarnya kepadamu. Mereka semua membacanya sebagai perasaan cinta, termasuk kedua kakakku. Tetapi, apa kamu tahu jika perasaan yang aku miliki untukmu hanyalah perasaan bersalah dan kasihan. Perasaan bersalah karena seharusnya aku tidak membuat keluargaku datang terlambat dimana keluargaku bisa menyelamatkan Tante Lily dan perasaan kasihan karena melihatmu tidak berdaya di hadapan ayahmu sendiri setelah kematian tante."
Keheningan mengisi ruang kelas ini. Semua yang ada di ruangan ini terkejut melihat apa yang aku lakukan dan mendengar apa yang aku ucapkan. Mereka tidak pernah mengira seorang Zeta yang selalu menunjukkan sisi lembutnya, ternyata memiliki sisi lain yang sangat berbeda. Sisi yang mungkin tidak ingin mereka bangunkan.
"Ternyata Zeta memiliki sisi jahat sama seperti ayah dan kedua kakaknya," ucap Ken sambil terkekeh.
"Ken!!!" sekali lagi Caroline berteriak memanggil namanya.
"Haruskah aku menyakiti Bibi Anastasia?"
"Hei!!!"
Teriak Ken dengan tangannya sudah mengayun di udara. Bibi Anastasia, orang yang merawatnya dari dia kecil hingga sekarang. Orang yang selalu memberikan kehangatan seorang ibu kepada Ken setelah kematian ibunya. Dan orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Aku memukul titik lemah dirinya.
"Kenapa tidak menamparkanku lagi untuk kedua kalinya?" tanyaku dengan sinis.
"Alvin, bagaimana bisa bajingan sepertinya mencintai ****** sepertimu. Kalian berdua pasangan yang sangat serasi," ucapnya sambil tertawa mengejek.
Aku tidak masalah jika dia menghinaku tetapi saat dia membawa orang lain seperti yang dia lakukan selama ini, aku tidak bisa tinggal diam. Aku mengayunkan tanganku ke atas hendak menampar pipinya hingga sebuah tangan memegang tanganku dan menghentikanku.
"Jangan mengotori tanganmu untuk sampah sepertinya," ucap Alvin.
"Satu minggu setelah ini, kamu akan berada di dalam neraka yang kamu buat," lanjut Alvin.
Alvin langsung membawa tubuhku keluar ruang kelas. Meninggalkan keheningan yang semakin mencekam. Meninggalkan mata penuh ketakutan milik teman-temanku. Dan tentunya meninggalkan seseorang yang hingga saat ini masih memiliki kepercayaan diri dan kesombongan yang tinggi.
...-----...
__ADS_1