
Kapan terakhir kali aku menghabiskan 24 jam yang aku miliki untuk ibuku?
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang selama satu minggu ini mengisi hari-hariku. Di dalam ingatanku, aku selalu menghabiskan waktu berdua dengan ibu hingga usiaku 4 tahun karena setelahnya aku lebih memilih menghabiskan waktu dengan kedua kakakku ataupun Ken. Selama satu minggu ini aku terheran-heran dengan semua waktu yang telah aku lewati, bagaimana bisa aku hanya menghabiskan waktuku untuk orang lain dan bukan untuk wanita yang mempertaruhkan nyawanya untukku?
Selama satu minggu ini aku menghabiskan waktuku bersama ibu. Berbelanja, menonton film, memasak, bercerita, berjalan-jalan di taman, ataupun hanya sekadar melamun, aku melakukan semua itu dengan ibu. Aku tidak pernah menyangka waktu yang aku habiskan dengan ibu bisa menjadi sebuah penyembuh untukku karena selama ini aku lebih memilih untuk memberikan waktu untukku seorang diri. Aku menyesal tidak pernah mencoba menghabiskan waktu lebih banyak dengan ibu disaat aku benar-benar membutuhkan sebuah penyembuh.
Sudah satu minggu juga aku berada di rumah Kakek Phillip. Setelah Ken dan ayahnya pulang, ibu tiba-tiba mengajakku untuk pergi ke Wales. Ibu juga mengatakan sudah mendapatkan izin dari ayah, izin yang aku kira hanya untuk 2-3 hari. Ibu hanya mengajakku dan anehnya kedua kakakku tidak merengek ataupun menanyakan alasannya, bahkan Arthur yang biasanya marah saat tidak diajak pergi ikut membantuku berkemas. Aku sempat berpikir jika kedua kakakku sedang berusaha menjauhkanku dari rencana mereka tetapi melihat bagaimana ibu yang selalu tertawa bahagia dan tidak dipenuhi rasa khawatir membuatku membuang jauh-jauh pikiran itu.
"Apa Zeta ingin menemani Kakek jalan-jalan?" pertanyaan kakek membuatku mengangkat wajahku yang sedari tadi fokus pada makanan di piring.
"Tentu?" balasku dengan nada bertanya, membuat kakek dan nenekku tertawa.
Dibandingkan dengan kedua kakakku, aku memang yang paling canggung dengan anggota keluarga besar lainnya. Aku lebih bisa mengekspresikan diriku saat berada di keluarga inti dibandingkan saat berada di lingkungan keluarga besar. Aku selalu merasa untuk bisa menjaga sikap setiap kali bersama dengan keluarga besar lainnya. Jika aku melakukan satu saja kesalahan maka reputasi kedua orang tuaku bisa hancur karena dianggap tidak bisa mendidikku dengan baik.
"Kakek akan menunggumu di tempat berkuda."
"Tapi Zeta tidak bisa menunggangi kuda," jawabku spontan dengan nada yang benar-benar menunjukan betapa canggungnya diriku.
"Kakek tidak akan memintamu melakukan hal yang tidak kamu kuasai," balas kakek dengan sebuah senyum yang membuatku malu.
Begitu mengucapkan kalimat itu, kakek langsung berjalan keluar dari ruang makan. Aku rasa kakek akan langsung menuju tempat pacuan kuda yang berada di belakang rumah ini. Aku tetap menyantap sarapanku karena ibu menyuruhku. Aku rasa makanan hari ini akan menjadi kali pertama bagi tubuhku tidak bisa mencernanya dengan baik dalam minggu ini.
__ADS_1
"Pergilah menuju tempat berkuda, kakekmu sudah menunggu lama disana," ucap ibu begitu melihatku ikut membantunya dan nenek merapikan meja makan. Aku kembali meletakkan piring ke atas meja dan berjalan dengan tidak bersemangat menuju tempat berkuda. Aku tidak bisa membayangkan akan secanggung apa suasana antara kakek denganku.
"Kakek Nona berada di rumah pohon," ucap pengawal kakek begitu aku sampai di tempat berkuda.
"Maaf?" tanyaku memastikan apa yang baru saja aku dengar.
"Ikuti saya, Nona."
Aku mengikuti pengawal di depanku menuju sebuah pohon yang di atasnya terdapat rumah. Jika aku tidak salah ingat, rumah pohon tempat kakek sekarang berada adalah rumah pohon yang dulu aku minta. Saat itu usiaku 8 tahun, aku meminta sebuah tempat untukku bisa bersembunyi dari dunia luar kepada kakek. Itu menjadi kali pertama dan terakhir dalam hidupku meminta sesuatu kepada kakek. Aku kira kakek tidak pernah memikirkan dan mengabulkan permintaanku karena selama 3 hari setelah aku membuat permintaan itu, kakek tidak memberi tahuku apapun tentang rumah pohon bahkan setelah aku kembali ke London.
Perlahan aku menaiki pohon, ada pijakan di batang pohon yang membantu agar bisa sampai ke rumah pohon dengan selamat. Melihat bagaimana kondisi rumah pohon ini, sepertinya kakek selalu meminta seseorang untuk mengurusnya atau bisa jadi setiap beberapa tahun sekali rumah pohon ini diganti dengan rumah pohon yang baru. Aku mendapati kakek yang sedang menatap jauh ke luar melalui jendela besar begitu aku melangkahkan kaki di rumah pohon ini. Sekarang aku tahu darimana kebiasaan menatap jauh yang diturunkan kepadaku itu berasal.
"Kita harus melihat segala sesuatu secara keseluruhan hanya dengan begitu kita bisa melihat seluruh masalah dengan objektif," ucap kakek memecah hening.
"Apa maksud Kakek?"
Aku terdiam, tidak tahu harus membalas apa ucapan kakek. Aku memutuskan untuk diam selama beberapa menit menemani kakek menikmati pemandangan di depan sebelum akhirnya berjalan melihat-lihat isi rumah pohon ini. Ada banyak foto yang terpajang, hampir semuanya adalah foto milikku. Foto yang berisikan perkembanganku mulai dari hari pertama kelahiranku hingga kemarin saat pertama kali aku belajar mengemudikan mobil.
"Dulu, Kakek selalu memprioritaskan ibumu karena dia adalah anak Kakek. Kakek hanya menganggap cucu-cucu Kakek sebagai pelengkap keluarga ini hingga saat dimana Kakek tahu cinta seperti apa yang anak Kakek dapatkan. Begitu mengetahui semua kebenaran tentang pernikahan orang tua kalian, Kakek selalu meminta ibumu untuk menceraikan ayahmu. Tidak ada satupun ayah di dunia ini yang ingin melihat anak perempuannya menderita karena bagi seorang ayah berapapun usia anak perempuannya, ia akan selalu menganggapnya sebagai anak kecil yang harus dilindungi dari rasa sakit. Tapi, apakah kamu tahu apa yang selalu ibumu katakan?"
"Ibu mencintai ayah dan akan memegang janji pernikahannya hingga ajal memisahkan mereka,” balasku setelah diam selama 1 menit karena terkejut dengan keterus terangan kakek.
__ADS_1
"Ya, jawaban yang menyakitkan bagi seorang ayah yang berusaha menghentikan luka anaknya. Begitu mendengar jawaban yang ibumu berikan, Kakek langsung pergi menuju tempat berkuda dan tidak sengaja menemukan rumah pohon ini. Rumah pohon yang bahkan tidak pernah Kakek ketahui keberadaannya. Kakek langsung menemukan banyak foto milikmu di rumah ini. Foto yang membuat Kakek kembali merasa menjadi seorang ayah."
"Lalu, apa yang Kakek lakukan setelahnya?"
"Apa yang Kakek rasakan dan inginkan sebagai seorang ayah bukanlah sesuatu yang akan membuat ibumu bahagia. Kakek hanya akan menyingkirkan rasa sakit yang telah ibumu terima dan menambahnya dengan rasa sakit yang lain. Apa yang Kakek kira terbaik untuk ibumu ternyata hanya sesuatu yang akan menyakitinya lebih jauh di masa depan."
"..."
"Kakek mohon selamatkan ibumu, Zeta."
"Apa maksud Kakek?"
Perlahan Kakek memegang kedua tanganku dan mengeratkan pegangannya. Beliau menatapku dengan mata berair, air mata yang sepertinya sudah lama ingin beliau keluarkan. Tanpa kusadari, kakek sudah menjatuhkan tubuhnya ke lantai, membuatnya berlutut di hadapanku. Seketika itu juga aku langsung ikut berlutut.
"Apa yang Kakek lakukan? Zeta, mohon jangan lakukan hal seperti ini," ucapku sembari berusaha membuat kakek kembali berdiri.
"Kakek memohon sebagai seorang ayah, lindungi senyum anak Kakek. Hanya itu, yang Kakek inginkan."
"Sama seperti Kakek yang mencintai ibu, Zeta juga sangat mencintai Ibu. Zeta tahu cinta yang Zeta berikan kepada ibu tidak sebesar cinta yang Kakek berikan tetapi Zeta akan melindungi ibu. Zeta akan selalu melindungi ibu, bukan hanya Zeta tetapi kedua kakak Zeta. Zeta mohon bangun, Kek."
"Lindungi senyumnya."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk sembari membantu kakek berdiri kembali.
...-----...