Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Buku Musik


__ADS_3

Stephanie menyodorkan sebuah botol berisi infused water. Aku mengerti kegilaannya pada pola hidup sehat tetapi aku tidak mengerti bagaimana bisa dia sama dengan William yang menempatkanku pada posisi ini. Aku tidak bisa menikmati junk food sesuka hatiku. Di rumah William selalu mengawasiku dan diluar Stephanie yang mengawasiku. Aku heran kenapa bukan Caroline yang merupakan saudara kembarnya yang diperlakukan seperti ini olehnya.


Bukankah sudah cukup William untukku?


Perlahan kuminum infused water pemberiannya. Sangat hambar, seperti air putih pada umumnya tetapi cukup segar untuk melepas rasa haus.


“Wah, lihat itu. Bagaimana bisa mereka juga menunjukkan kemesraan disini? Apa mereka haus perhatian?” tanya Caroline sembari merebut botol dari tanganku.


Caroline selalu mengambil makanan atau minuman sehat yang diberikan Stephanie kepadaku tetapi dia tidak pernah menghabiskannya. Dia hanya memakan dan meminum sepertiganya dan sisanya aku yang menghabiskan. Sekarang aku tahu dengan pasti kenapa Stephanie tidak menerapkan pola hidup sehat miliknya kepada Caroline. Caroline bertindak sesuka hatinya. Jika dia menyukainya dia akan mengambil tetapi jika dia membencinya dia akan membuang. Hidup yang sangat simpel dan aku sangat ingin mengikutinya.


Kualihkan perhatianku kepada Ken dan Natasha, mereka berdua benar-benar memamerkan kemesraan mereka, membuat beberapa kakak kelas dan teman seangkatan mundur secara perlahan. Natasha Anthony T., nama yang bahkan tidak aku ketahui dengan lengkap. Sebelumnya aku tidak terlalu memperhatikannya tetapi 2 minggu yang lalu dia cukup menarik perhatianku. Dia salah satu siswa pilihan, dia mendapatkan beasiswa untuk bisa masuk ke sekolah ini. Sekolah dengan bayaran termahal di London, sekolah dimana anak-anak konglomerat berada.


Aku tidak terlalu peduli dengan status sosialnya tetapi banyak siswa yang menjadi peduli begitu berita antara dia dan Ken menyebar keseluruh penjuru sekolah, status sosialnya langsung meningkat. Orang-orang yang dulu memandangnya sebelah mata sekarang mencari muka kepadanya. Hati manusia benar-benar menakutkan. Apapun itu, aku tidak ingin terlibat lebih jauh. Lebih baik aku memikirkan diriku sendiri.


Sekarang sudah waktunya pulang tetapi aku tidak bisa karena harus menunggu William dan Arthur yang mengikuti ekstrakulikuler basket. Tentu saja Ken juga tergabung dalam ekstrakulikuler ini karena itu aku bisa melihatnya bermesraan dengan pacarnya saat ini di lapangan basket. Aku sudah menghubungi supir untuk menjemputku tetapi William mengatakan jika aku harus pulang dengannya. Dan disinilah aku, duduk diam tidak tahu harus tetap diam atau ikut bersorak menyemangati.


Sekarang memang hanya latih tanding biasa bukan perlombaan tetapi satu stadion basket penuh dengan orang-orang. Aku rasa mereka hanya ingin melihat para pemain dan bukannya permainan. Hal yang sangat mudah ditebak melihat bagaimana orang-orang saling bersorak meneriakan satu atau dua nama.


“Kenapa Natasha harus duduk dibarisan para pemain? Lihat wajahnya yang menyebalkan itu. Dia benar-benar menyebalkan,” keluh Caroline.


“Hei hei, bicara fakta saja tanpa melibatkan perasaanmu. Kamu sekarang bias,” timpal Stephanie.


Aku setuju dengan Stephanie. Kita tidak bisa menilai seseorang dengan melibatkan perasaan kita atau penilaian kita akan menjadi subjektif dan merugikan diri kita sendiri atau orang lain. Dalam hal rasional aku sangat menyukai Stephanie yang tidak pernah melibatkan perasaannya saat melihat suatu masalah. Sangat berbeda dengan Caroline yang selalu melibatkan hatinya kapanpun dan dimanapun.


“Boleh aku duduk di sampingmu? Bangku lain penuh.”

__ADS_1


Sebuah suara mengalihkan perhatian kami bertiga. Kami serentak melihat ke arah suara itu berasal. Sepasang mata biru yang aku lihat di ruang musik, sekarang berada di sampingku. Aku bertatapan cukup lama dengan pemilik mata biru itu hingga penonton di belakang berteriak karena merasa terhalangi. Aku baru sadar saat Stephanie menyikutku dan langsung bergeser agar dia bisa duduk di sampingku.


“Dia Kak Alvin, bukan?” bisik Caroline.


Aku bisa mendengar dengan jelas suara miliknya. Dia benar-benar tidak bisa mengontrol volume miliknya. Sepertinya Alvin juga mendengar dengan jelas bisikan itu, melihat bagaimana sebuah senyum tersimpul di pipinya. Dia sekarang sudah sangat serius menonton pertandingan dan tidak lagi peduli dengan sekelilingnya. Aku ikut memfokuskan diriku ke lapangan basket yang sekarang mulai memanas.


William dan Arthur terus menyerang tim yang dipimpin Ken, sepertinya mereka berdua berniat membuat malu Ken. Aku bahkan tidak meminta mereka melakukan hal bodoh itu. Aku benar-benar membenci mereka yang terlalu mencampuri hidupku.


“Apa itu tunanganmu? Laki-laki bernomor punggung 12.”


Aku tidak salah dengar bukan? Laki-laki di sampingku berbicara? Apa itu ditujukan kepadaku?


“Aku bertanya kepadamu,” ucapnya begitu melihatku hanya menatapnya dengan bingung.


Senyum pertama yang aku lihat penuh dengan ketulusan. Tidak ada kebohongan. Tidak ada beban. Tidak ada keterpaksaan. Senyum yang benar-benar senyum, senyum seperti seorang bayi.


“Sepertinya dia menyukaimu,” ucapnya sekali lagi membuatku terkejut.


Kuikuti jari telunjuknya yang menunjuk ke arah Ken. Aku tidak tahu ini kebetulan atau tidak tetapi saat ini Ken juga sedang melihat ke arah tempatku duduk. Dia bahkan terkena pukulan bola saat teman satu timnya mencoba mengoper bola ke arahnya. Ken langsung mengambil bola begitu tersadar dan kembali fokus ke permainan.


“Untukmu.”


Sebuah buku musik diserahkan kepadaku. Situasi apa yang sedang aku hadapi, aku sama sekali tidak tahu. Aku memegang buku musik di tanganku seolah aku sedang mematuhi perintah dari ayah. Baru kali ini ada seseorang yang membuatku melakukan apa yang diperintahkannya tanpa membuatku bertanya-tanya selain anggota keluargaku tentunya. Bahkan terkadang aku sering mengajukan banyak pertanyaan saat Arthur menyuruhku melakukan sesuatu.


“Itu nyawaku. Aku akan turun. Jika aku bisa mencetak 20 poin, aku akan memainkan semua permainan musik di buku itu untukmu. Jika aku tidak bisa, kamu bisa memintaku memainkan apapun dari buku musik itu,” ucapnya sebelum turun ke lapangan basket.

__ADS_1


“Dia gila?! Bagaimana bisa dua hal itu menguntungkan untuknya?! Bukankah salah satunya harus merugikan untuknya?” teriak Caroline membuat perhatian penonton di samping tempat kami duduk teralihkan sejenak.


“…”


“Apa bertemu denganmu adalah hal merugikan?” lanjutnya tidak kalah histeris dari sebelumnya.


Aku hanya menggeleng. Kuikuti punggungnya yang terus berjalan mendekat ke lapangan basket. Dia melepas hoodie yang dia kenakan, membuatku sadar jika sedari tadi dia sudah mengenakan seragam basket. Bahkan sepatu yang dia pakai juga sepatu basket. Bodohnya aku yang tidak menyadarinya.


Tunggu…


Bukankah Caroline bilang dia hanya menyukai piano?


“Dia bisa bermain basket?” tanyaku terkejut.


“Aku tidak tahu. Ini kali pertama dia masuk ke lapangan basket,” jawab Caroline bingung sama sepertiku.


“Tunggu, bagaimana bisa dia mengobrol denganmu? Dia tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kata pada orang lain selain William,” tanya Stephanie tidak kalah bingung.


“Dia sudah mencetak 6 poin setelah dia masuk,” ucap Stephanie lagi dengan wajah bingung dan nada canggungnya membuatku mengalihkan perhatian pada papan skor.


Berbagai pertanyaan muncul di benakku. Aku tidak tahu pertanyaan apa yang harus aku tanyakan terlebih dahulu. Bahkan aku tidak tahu kepada siapa pertanyaan itu harus diajukan. Saat ini, aku hanya bisa terus memegang buku di tanganku dan menatap jauh ke lapangan basket dimana laki-laki yang sebelumnya tidak aku kenal sudah mencetak 10 angka. Laki-laki itu bahkan berpelukan dengan kedua kakakku.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini?


...-----...

__ADS_1


__ADS_2