Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Tanggung Jawab


__ADS_3

"Kamu boleh memberitahu Ken tentang hal ini," ucap Natasha membuka percakapan.


Aku hanya diam menatapnya tanpa ada keinginan untuk membalas ucapannya. Perempuan yang selama ini aku kenal dengan gayanya yang feminim ternyata bisa menunjukkan gaya boyish, gaya yang sangat dibenci Ken. Awalnya aku kira Ken jatuh cinta pada perempuan ini karena style pakaiannya sangat mirip dengan Tante Lily tetapi siapa sangka dia sepertinya lebih nyaman dengan style boyish yang sedang dia kenakan sekarang. Kuamati pergelangan tangannya yang sedang memainkan cup dan saat ini tidak ada gelang peninggalan tante di pergelangan tangan itu.


"Zeta," panggil Natasha dengan suara lirih, sepertinya dia mengira jika aku sedang melamun.


"Aku tidak akan memberitahu apapun kepada Ken. Itu urusanmu, bukan urusanku."


"Aku tidak yakin bisa mengatakan semua ini."


"Seharusnya kamu tidak memulainya jika kamu tidak yakin bisa mengakhirinya. Aku tidak akan ikut campur tentang masalah ini, itu adalah sesuatu yang harus kamu selesaikan sendiri. Aku hanya ingin menanyakan satu hal, siapa dari Keluarga Nakamoto yang mengutusmu? Apakah itu Kak Alvin?"


Natasha kembali memainkan cup di depannya. Dia beberapa kali mencoba menatap mataku, tetapi dia langsung menundukkan wajahnya begitu matanya bertemu dengan mataku. Aku tidak mengulangi kembali pertanyaanku karena aku tahu jika saat ini dia juga paham aku akan terus menunggu jawaban keluar dari mulutnya.


"Bukan Kak Alvin, aku tidak bisa mengatakan siapa yang menyuruhku. Aku hanya bisa memberitahumu jika Kak Alvin sama sekali tidak ada kaitannya dengan hal ini."


"Baiklah."


Aku langsung berdiri dari tempatku duduk. Aku hanya penasaran tentang siapa Keluarga Nakamoto yang mengutusnya. Aku ingin tahu seberapa besar sebenarnya keinginan mereka menginginkanku hingga menyuruh seseorang untuk merayu Ken. Aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya Keluarga Nakamoto inginkan dariku.


"Zeta," panggil Natasha dengan nada memelas.


Panggilan Natasha membuatku mengurungkan langkah kaki yang akan aku langkahkan. Sekarang aku berdiri menatapnya yang sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan sesuatu yang sangat aku kenal, gelang peninggalan Tante Lily. Gelang yang sudah menemaniku tumbuh hingga sekarang dan gelang yang Ken ambil dengan paksa dari hidupku. Natasha menyodorkan gelang itu kepadaku. Dia menatapku dari tempatnya duduk, membuatnya seperti sedang menatap seseorang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan lebih dibandingkan dirinya. Aku sangat membenci perasaan saat orang lain merasa kecil di hadapanku. Aku benar-benar membenci perasaan itu. Aku memutuskan untuk duduk kembali.


"Aku tidak pantas mendapatkan gelang ini," ucapnya begitu aku duduk.


"Bukankah sudah aku katakan jika aku tidak akan ikut campur masalahmu dengan Ken?"


"Bukankah kamu mencintainya? Bukankah kamu ingin dia kembali kepadamu?"


"Kamu membuatku berhenti mencintainya."


"Aku....."


"Aku akan memberimu satu saran, beritahu Ken sebelum paman yang memberitahunya. Cepat atau lambat Ken akan tahu semua ini, kamu hanya punya dua pilihan, kamu memberitahunya atau dia tahu dari orang lain. Dia mencintaimu dengan tulus dan karena itu balaslah ketulusan itu," potongku.

__ADS_1


"Dia tidak pernah mencintaiku," ucap Natasha kali ini dengan nada yang dia tinggikan.


"Natasha, ada saat dimana aku benar-benar ingin membencimu. Saat dimana kamu dengan mudahnya mengambil hati dari seseorang yang sudah lama aku inginkan, itu adalah saat dimana aku benar-benar ingin membencimu. Tetapi aku kembali tersadar untuk tidak memiliki perasaan benci kepada siapapun karena hal itu hanya akan merugikan orang yang aku benci dan juga diriku. Jadi, kumohon berhenti disini sebelum aku benar-benar membencimu."


"Di musim dingin tahun lalu, dia mengira aku yang menyelamatkannya dan karena hal itu Keluarga Nakamoto melihat peluang dengan kehadiranku maka Ken bisa luluh. Tetapi kenyataannya mu yang menyelamatkannya, Zeta."


"..."


Keheningan kembali muncul untuk kesekian kalinya. Baik aku maupun Natasha tidak ada yang ingin memecah keheningan ini. Ada saat dimana keheningan lebih baik daripada percakapan dan ada kalanya diam lebih baik daripada berbicara. Kami berdua sama-sama tahu rahasia yang ingin kami sembunyikan dari orang lain dan kami berdua sama-sama tahu hanya kami yang bisa membuat rahasia ini tidak menimbulkan masalah lebih lanjut di masa depan. Tetapi, kami juga sama-sama tahu keberanian yang dibutuhkan untuk mengungkapkan rahasia dan mencegah timbulnya masalah bukan hanya keberanian anak kecil.


Keberanian untuk menyakiti orang lain, seberapa banyak keberanian yang dibutuhkan?


Satu tahun yang lalu saat musim dingin, sekolah mengadakan suatu acara untuk merayakan Natal dan libur musim dingin. Acara itu sudah berlangsung dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan acara itu menjadi salah satu acara paling fenomenal di sekolah. Para siswa bisa menampilkan karya milik mereka. Selain menampilkan karya, para siswa juga bisa mengeluarkan pikiran ataupun opini mereka, baik untuk diri mereka, teman mereka, guru, keluarga, ataupun sekolah. Acara itu dikenal dengan sebutan WE yang berarti Winter Event dan juga We yang berarti kita, para siswa, dimana acara ini ditujukan untuk siswa-siswi di Sekolah Elizabeth. Acara ini juga merupakan satu-satunya acara dimana para siswa bisa seluasa mungkin mengekspresikan diri mereka tanpa perlu takut akan adanya hukuman karena menjelekkan sekolah ataupun orang lain. Keluarga Allison sering menjadi sasaran beberapa siswa yang mendapatkan beasiswa, banyak dari mereka yang menyuarakan betapa besarnya pengaruh Keluarga Allison di sekolah.


Apa aku marah saat Keluarga Allison dijelek-jelekkan? Tidak, aku bersyukur ada yang menyuarakan isi hatiku.


Kembali ke tahun lalu, saat itu kelas kami menampilkan penampilan drama. Jujur, aku tidak ikut bermain dalam pertunjukkan itu. Aku bahkan tidak ikut membantu mempersiapkan properti. Baik aku, Ken, Stephanie, dan Caroline, kami berempat hanya memberikan uang untuk persiapan pertunjukkan dan selebihnya kami tidak pernah menunjukkan wajah kami. Ada alasan dibalik semua itu, persiapan pertunjukkan selalu dilakukan diakhir pekan dan saat itu kami harus menghadiri kelas tata krama, kelas yang kami hadiri dari saat kami masih kecil hingga dewasa. Untungnya begitu kami memasuki sekolah menengah atas, kelas tata krama perlahan mulai berkurang menjadi 1 kali seminggu dan itu adalah akhir pekan. Saat kami memasuki semester 2 di tahun pertama kami, kelas tatakrama benar-benar berakhir karena guru yang mengajari kami selalu mengatakan semakin dewasa kami maka kami sudah bisa menentukan bagaimana perilaku kita. Seberapa lamapun kelas ini berlangsung jika kami tidak menginginkannya maka kami hanya akan bertingkah sesuka hati kami.


Saat acara WE berlangsung, tidak ada satupun orang yang mengira akan adanya blackout di wilayah London selama beberapa menit. Beberapa menit yang membuat teman sekelas kami membuat kesalahan dengan meledakkan properti di atas panggung karena api di tongkat yang dibawa salah satu pemain mengenai balon berisi helium. Bagi sebagian orang, blackout dan tentunya ledakan beberapa properti di atas panggung cukup membuat mereka semua berlari ketakutan keluar dari aula tetapi Ken kedua hal itu membuatnya kembali mengalami Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Ken tetap berada di dalam aula yang gelap, dia bahkan berpindah ke dalam gudang aula. Adanya acara WE tentunya membuat gudang aula menjadi tempat yang jarang dimasuki para siswa dan di tempat itulah Ken kembali mengingat saat-saat dimana ibunya meninggal di depan matanya sendiri karena mobil yang ditumpanginya meledak dalam kegelapan malam.


Saat itu juga kali pertama aku bertemu dengan Natasha. Untuk keluarga seperti Keluarga Allison dan Parker, sangat tidak mungkin untuk memiliki hubungan yang baik dengan para penerima beasiswa. Kami selalu membatasi diri kami kepada siapapun itu dan tentunya orang yang tidak setara dengan kami, kami akan menjauhinya. Pertama kali aku melihatnya, aku tidak menyangka dia akan menjadi seseorang yang bisa mengambil hati Ken. Dia membantuku dan Ken untuk menelepon ambulans. Salahku saat itu meninggalkan Ken berdua dengannya, mungkin saat itulah Ken mengira orang yang mendengarkan semua ocehannya dan orang yang menemaninya dalam kegelapan adalah Natasha. Sejak saat itu, cahaya dalam gudang itu beralih ke Natasha.


Apa aku menyesal karena cahaya yang seharusnya menjadi milikku berubah menjadi milik orang lain dalam hitungan menit? Tidak, aku tidak menyesal karena aku mendapatkan impianku sebagai gantinya.


Tetapi, jika aku melihat kembali ke masa lalu, bukankah aku ikut andil dalam masalah ini?


"Zeta, Ken mencintaiku karena bayang-bayangmu. Sampai kapanpun dia akan mencintaimu karena itu kumohon..."


"Apa kamu sedang menyelamatkan dirimu sendiri?"


"Apa?" tanyanya terkejut.


"Kamu memiliki seseorang yang kamu cintai. Bisa saja kamu langsung pergi dari hidup Ken dan menyakitinya tetapi kamu terlalu baik untuk menyakitinya bukan?" potongku.


"..."

__ADS_1


"Apa kamu ingin aku menjadi tokoh antagonis dengan menanggung semua permainanmu?"


"Bukan itu maksudku...."


"Saat dimana kamu membuat kesepakatan dengan paman, saat itu juga kamu harus menanggung perasaan bersalah di dalam hatimu. Aku akan mengambil gelang ini dan menanggung rasa bersalah milikku sendiri."


"Aku tidak bermak..."


"Karena itu cintai dia dengan benar hingga dia tidak mengetahui apapun tentang kesepakatanmu dengan ayahnya. Bisakah kamu pergi sekarang? Aku tidak ingin melihatmu."


Untuk kali kedua, gelang berukiran bunga lili putih ini kembali kepadaku. Berbeda dengan kali pertama aku menerimanya, aku bisa langsung memakainya tetapi sekarang untuk menyentuhnya kembali aku takut. Aku takut akan kembali terikat dengan gelang ini.


Kualihkan pandanganku ke jalanan di luar cafe. Sangat sepi.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Stephanie setelah membiarkanku sendiri selama 5 menit.


Kutatap Stephanie yang menunjukkan wajah marah miliknya, wajah marah yang dia tujukan untuk Natasha dan juga dirinya sendiri.


"Aku belum memikirkan apapun," jawabku sembari kembali mengamati jalanan di luar.


"Zeta!!!"


"Kamu merasa bersalah bukan karena apa yang sudah kamu lakukan kepada Ken?" tanyaku.


"...."


"Dia tidak pernah merasakan cinta tulus setelah kematian ibunya. Aku takut dia akan melukai dirinya jika dia mengetahui semua hal ini."


"Tapi Ibu juga tidak ingin kamu melukai diri kamu, Zeta."


Aku melupakan Bu Jasmine yang juga masih berada di cafe ini. Beliau pasti tahu semua yang terjadi. Jujur, aku ingin tahu pendapat beliau tentang masalah ini tetapi aku tidak memiliki keberanian apapun untuk membuka mulutku meminta pendapatnya. Aku merasa malu berada dalam lingkungan yang tidak sehat ini. Aku benar-benar malu.


"Aku akan baik kepada Ken mulai saat ini," ucap Caroline sembari memelukku.


"Hmmm, berlaku baiklah padanya hingga dia tidak menyadari kepalsuan yang berada di dekatnya," balasku.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2