Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Tante Emily


__ADS_3

Wajah yang pertama kali aku lihat saat sampai di ruang tunggu IGD adalah wajah Felix. Arthur memberitahuku jika dia menghubungi Felix mengenai kondisi Natasha, dia tidak tahu jika Felix akan ke rumah sakit karena dia sama terkejutnya denganku begitu melihat wajahnya. Dia sedang menemani Carlista memainkan puzzle yang aku berikan kepadanya tadi pagi karena dia terus melihat ke arah puzzle yang berada di dalam mobil, puzzle yang sebenarnya milik William.


Aku akan mengganti puzzle itu jika William mencarinya karena selama ini dia tidak akan pernah mencari barang miliknya yang tertinggal di dalam mobil dan pasti akan memesan lagi barang yang sama dan karena itu banyak barang miliknya dengan jenis yang sama karena ketidaksabarannya dalam mencari barangnya yang tertinggal baik di mobil ataupun kelas.


Arthur juga memberitahuku jika dia sudah menghubungi pihak sekolah atas ketidakhadiran kami berdua. Akan lebih baik jika dia tidak menghubungi pihak sekolah dan membiarkan hal ini menjadi 'bolos' pertama dalam hidupku. Selain itu, aku juga tidak ingin ayah ataupun William langsung terbang kembali ke London hanya untuk memastikan kami berdua baik-baik saja karena sangat mustahil pihak sekolah tidak memberitahu ayah tentang kedua anaknya yang tidak datang ke sekolah. Aku tidak masalah jika ayah memarahiku karena membolos, aku lebih mempermasalahkan saat dimana ayah akan menginterogasiku karena tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak pasti seperti saat ini. Arthur hanya mengatakan kami berdua tidak bisa ke sekolah karena suatu alasan dan dia tidak berusaha untuk mengarang suatu alasan yang masuk akal.


"Aku sudah mengurus semua biaya pengobatan Natasha," ucap Arthur sembari duduk di sampingku.


"Kak Arthur membayar biayanya atau pihak rumah sakit tahu siapa Kakak?” tanyaku karena sebelumnya melihat beberapa orang menyapanya.


"Masker yang aku gunakan tidak cukup membuat mereka tidak mengenaliku. Mereka langsung tahu siapa aku dan sepertinya para pengawal juga memberitahu pihak rumah sakit."


"Sebentar lagi pasti ayah atau Kak William akan menelepon.”


"William sudah menelepon tepat 5 menit setelah aku menghubungi sekolah, saat kamu masih berada di ruang dokter.”


"Apa yang Kak Will katakan?"


"Ayah akan menunggu kita di rumah pukul 3 sore, tidak ada toleransi keterlambatan. Hanya itu yang dia katakan dan membuatku lebih takut karena tidak ada amarah di nada bicaranya."


"Luka di lengan Kakak bagaimana?" tanyaku mencoba mengubah topik pembicaraan.


"Aku akan mengobatinya di rumah."


"Obati di sini, Zeta takut akan ada infeksi di luka itu jika tidak segera dibersihkan dan diobati."


"Baiklah," ucap Arthur sembari berdiri dari tempatnya duduk dan mengusap kepalaku sebelum akhirnya berjalan menuju ruang IGD untuk meminta pengobatan.


Paman Stephan yang sebelumnya berada 5 meter dari tempatku duduk, sekarang berjalan mendekat begitu melihat Felix mendekatiku. Aku memberikan tatapan agar Paman Stephan tidak melakukan apapun dan tetap berada di tempatnya berdiri. Felix tidak akan melakukan apapun kepadaku, dia bukan tipikal orang yang akan menyakiti seseorang sebelum orang itu menyakiti dirinya ataupun orang yang berharga dalam hidupnya.


"Terima kasih sudah menolong Natasha. Seharusnya aku tidak mengabaikan Carlista saat dia meminta tolong kepadaku," ucapnya sembari menyandarkan tubuhnya ke tembok di belakangnya.


"Apa yang kamu sukai dari Natasha?"


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Saat Ken tahu yang sebenarnya terjadi, dia akan menyerangmu. Pewaris Keluarga Parker bisa membuatmu diboikot oleh banyak perusahaan, kamu bisa kehilangan beasiswa dan juga pekerjaan di masa depan. Apa yang membuatmu begitu mencintainya?"


"...."


Aku menunggu jawaban keluar dari mulutnya selama 1 menit dan hanya diam yang aku dapatkan. Seharusnya aku tahu membicarakan hal privasi seperti ini tidak akan bisa dilakukan oleh seseorang yang belum bersahabat dengan baik. Bahkan mereka yang sudah bersahabat terkadang tidak bertukar cerita mengenai siapa yang mereka cintai ataupun alasan mereka mencintai seseorang.


Aku langsung menolehkan wajahku ke arah Carlista yang masih sibuk dengan puzzle bergambarkan tokoh film Toy Story, film yang selalu ditonton William kapanpun dia bisa dan tentunya dia mengoleksi semua hal berbau Toy Story. Kembali ke Carlista yang dengan wajah polosnya mencari potongan-potongan puzzle lainnya yang sesuai. Wajah yang sebelumnya penuh dengan kecemasan sekarang sudah berubah menjadi wajah anak kecil yang begitu polos. Wajah yang seharusnya selalu dia tunjukkan di masa kecilnya.


Carlista memergokiku yang sedang mengamatinya. Dia langsung berjalan mendekatiku begitu melihatku menggerakkan tangan, mencoba memanggilnya mendekat. Dia tetap membawa puzzle di pangkuannya itu, membuatku ikut bermain dengannya. Sejujurnya aku memanggilnya mendekat karena aku bosan dan ingin ikut bermain puzzle dengannya, sepertinya dia lebih peka dibandingkan diriku.


"Terima kasih sudah menolong Kak Natasha," ucapnya dengan nada gemas.


Aku rasa, dia sudah tidak terlalu merasa takut denganku hingga bisa mengeluarkan suara miliknya yang tidak pernah sekalipun dia keluarkan untuk membalas setiap tulisan yang aku berikan kepadanya. Aku mengambil tangan kanannya dan menuliskan 'ok' menggunakan jari telunjukku di telapak tangannya. Dia tersenyum geli ke arahku dan langsung kembali sibuk dengan puzzle.


"Apa Carlista memiliki alat bantu dengar cadangan?" tanyaku ke Felix.


"Dia hanya memiliki satu," balasnya dengan ekspresi cukup terkejut mendengar pertanyaanku.


"Haruskah aku memanggil dokter THT?"


Kualihkan pandanganku ke arah Arthur yang sedang berjalan mendekat ke arah kami dengan balutan di lengannya. Lengan panjang bajunya juga berubah menjadi lebih pendek, seperti yang aku harapkan darinya. Dia tidak pernah menyukai melepas bajunya di tempat umum, dia akan lebih memilih bajunya digunting daripada dia melepaskan baju yang dia kenakan walaupun saat ini dia juga mengenakan kaos di balik kemejanya.


Aku melemparkan hoodie milikku ke arahnya. Dia langsung memakai hoodie besar milikku lalu bergabung denganku bermain puzzle dengan Carlista. Aku melihat sekilas ekspresi terkejut Felix karena kami berdua bisa akrab dengan Carlista, sepertinya Carlista anak yang sulit akrab dengan orang asing atau seperti dugaanku dia memiliki trauma yang membuatnya tidak bisa langsung mempercayai orang asing.


"Jadi, haruskah aku memanggil dokter THT?" tanya Arthur sekali lagi setelah menyelesaikan puzzle dan melakukan high five dengan Carlista.


"Apakah Tante Emily yang menangani Natasha?"

__ADS_1


"Yap, Tante bilang 5 menit lagi akan keluar dari IGD dan mengurus pemindahan Natasha ke bangsal rawat inap."


"Baiklah."


"Dia tadi berterima kasih denganku, dengan suara mungilnya," lanjutku.


"Sepertinya dia memang lebih menyukaimu dibandingkan aku."


"Sepertinya kalian menyukai Carlista terlepas apa yang sudah terjadi atau semua ini hanya pencitraan karena kalian sedang di tempat umum?"


Wajah Arthur berubah begitu mendengar ucapan Felix. Pandangan orang lain terhadap Keluarga Allison memang tidak akan bisa berubah, mereka akan selalu melihat Keluarga Allison sebagai kelurga yang keras dan tidak pandang bulu saat seseorang menyakiti salah satu anggota keluarganya. Mereka hanya melihat sisi menakutkan itu dari keluargaku tanpa mencoba melihat sisi lain dari diri kami yang juga kami perlihatkan di depan umum. Mereka hanya menganggap sisi lembut keluarga kami sebagai sebuah pencitraan di hadapan media bahkan saat kami tidak mencoba menutupi apapun yang kami rasakan saat tidak ada media yang mengikuti kami.


"Kak Arthur," panggilku mencoba membuatnya tetap tenang.


"Aku bisa meminta mereka untuk memindahkan Natasha dari rumah sakit ini, kamu ingin melihatnya?"


"Kak," panggilku. Kali ini aku menarik tubuh Arthur menjauhi Felix. Padahal sebelumnya Felix tidak mencari masalah denganku, ada apa dengannya tiba-tiba mencari masalah dengan Arthur?


"Maafkan aku. Aku hanya merasa aneh melihat kalian memperlakukan Carlista dengan baik terlepas dari apa yang sudah terjadi."


"Jangan samakan anak kecil dengan orang dewasa. Mereka masih polos belum ternoda dengan pikiran jahat orang dewasa."


"Oh... Tante Emily!!!" teriakku berusaha mengubah suasana.


Tante Emily langsung berjalan mendekatiku, beliau adalah adik perempuan ayah atau anak terakhir dari kakek dan nenekku. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang memilih menjadi pengusaha, tante lebih memilih mengejar impiannya menjadi seorang dokter.


Tante tahu jika dia hanya akan menjadi pengganti ataupun bayang-bayang dari saudara laki-lakinya dan karena itu beliau lebih memilih menjadi dokter untuk melepas bayang-bayang Keluarga Allison walaupun pada akhirnya beliau tetap bekerja di rumah sakit milik Keluarga Allison. Sebenarnya bisa aku bilang Rumah Sakit Allison ada karena tante yang menjadi seorang dokter. Kakek mencoba untuk membuatnya tetap berada di dalam lingkup Keluarga Allison apapun yang terjadi dan kakek berhasil dengan membangunkan sebuah rumah sakit.


"Baru kemarin Tante melihatmu di rumah dan sekarang kembali bertemu di rumah sakit," ucap tante sembari memelukku. Aku membalas pelukannya yang baru aku terima satu hari sebelumnya saat tante tiba-tiba datang ke rumah untuk membahas sesuatu dengan ayah, sesuatu yang sepertinya ada kaitannya dengan rumah sakit ini.


"Temanmu baik-baik saja, dia hanya demam tapi Tante akan tetap melakukan pemeriksaan menyeluruh setelah demamnya turun. Kamu bisa menemuinya 30 menit lagi karena Tante baru saja memberikan obat untuknya."


"Baik," balasku sembari memberikan hormat.


Aku mengikuti jari telunjuk Tante yang menunjuk ke arah Arthur. Arthur hanya menghembuskan nafasnya dan langsung memeluk Tante.


"Arthur membenci dokter pribadi," ucap Arthur pelan begitu Tante melepas pelukannya.


"Walaupun kamu membenci dokter pribadi yang ayahmu berikan, Tante harap kamu tidak menyiksanya dengan tidak menghubunginya setiap kali kamu sakit. Ayahmu terus menekannya dan Tante rasa kamu tahu hal itu."


"Arthur akan mengubah perilaku Arthur."


"Anak baik."


Tante mengusap lembut rambut Arthur, pemandangan yang selalu aku lihat saat kami masih kecil. Semenjak ayah mewarisi semua perusahaan Allison, Tante seperti menarik dirinya keluar dari spotlight Keluarga Allison dan seperti memberikan semua spotlight untuk keluarga kami. Bukan hanya tante yang melakukan hal itu, Paman Eric, adik kedua ayah, juga melakukan hal yang sama. Sesuatu yang sangat aku benci karena aku masih ingin berinteraksi dengan seluruh anggota Keluarga Allison. Dan sesuatu yang sebenarnya cukup disukai media karena menganggap keluarga besar kami terpecah belah. Sangat ironis memang.


"Dan Zeta," ucap Tante Emily terhenti begitu menatap kedua mataku.


"Ada apa Tante?" tanyaku bingung karena Tante Emily tidak melanjutkan ucapannya.


"Ayahmu selalu memantau kamu."


"Zeta tahu hal itu."


"Ayahmu kembali mengirimkan video keseharianmu setelah Ken melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan."


"Apa maksud Tante?" tanya Arthur mencoba mengambil alih percakapan.


"Kamu tahu betapa ayahmu mencintai Zeta, bukan? Tante rasa selama Zeta menerima perlakukan yang tidak menyenangkan, alam bawah sadar Zeta terangsang dan membuka kembali sesuatu yang telah Zeta hilangkan. Hari ini adalah buktinya, Zeta kembali merasakan traumanya dengan ruang sempit, sesuatu yang sudah lama tidak Zeta rasakan."


"Lalu maksud Tante?" balas Arthur masih belum paham.


"Ayah kalian mengirim video keseharian Zeta ke Dokter Esme untuk mengetahui kondisi mental Zeta. Apa Dokter Esme tidak memberitahumu hal itu?"

__ADS_1


Arthur mengalihkan pandangannya kepadaku. Dia menatap penuh khawatir kepadaku.


"Tidak. Zeta akan mengurusnya."


"Tapi Tante rasa kali ini Zeta tidak bisa lari."


"Apa maksud Tante? Kenapa Zeta tidak bisa lari?" balas Arthur kembali.


Tante menatap bingung ke arahku dan Arthur secara bergantian. Arthur belum tahu jika aku juga sama dengannya saat pertama kali menerima pengobatan, kami berdua sama-sama menyembunyikan kenangan kami dari dokter yang menangani kami hingga akhirnya aku menyerah dan menceritakan semuanya. Arthur hanya tahu jika aku berhasil dalam pengobatan traumaku karena keterbukaanku kepada dokter.


Dia tidak tahu jika beberapa kenangan dan memori yang ada di dalam otakku saat ini sudah hilang. Tidak ada yang tahu hal itu selain kedua orang tuaku dan dokter yang menanganiku. Bahkan kedua orang tuaku tidak tahu kenangan ataupun memori seperti apa yang aku hilangkan. Hanya diriku dan dokter yang tahu tetapi untuk saat ini hanya dokter satu-satunya orang yang tahu kenangan dan memori seperti apa yang sudah aku hilangkan.


"Tante, bisakah Tante mengenalkan seorang dokter THT untuk membantu adik teman Zeta?" tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Apa anak kecil itu?"


Aku mengangguk dan berjalan ke tempat Carlista yang masih memainkan puzzle yang sebelumnya telah diselesaikan oleh Arthur. Tante langsung menyambut hangat Carlista. Tante selalu berjuang untuk memiliki seorang anak tetapi hingga saat ini Tuhan masih belum memberikan kesempatan satupun kepadanya. Tante selalu memperlakukan semua anak yang ditemuinya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan karena beliau selalu beranggapan mungkin Tuhan belum memberikan satupun kesempatan kepadanya karena caranya memperlakukan anak-anak masih belum seperti seorang ibu. Aku hanya berharap Tuhan bisa mengabulkan keinginan tante.


Tante mengeluarkan handphone dari saku bajunya dan menuliskan sesuatu dengan cepat. Bodohnya aku yang justru menggunakan buku setiap kali mencoba berbicara dengan Carlista. Bisa-bisanya aku tidak memikirkan keberadaan teknologi secanggih itu.


'Maukah ikut dengan Tante sebentar? Ada banyak makanan, mainan, dan apapun yang kamu inginkan.'


Carlista menatapku begitu membaca pesan dari Tante. Sepertinya dia mencoba bertanya kepadaku apakah Tante Emily orang yang baik dan bisa dipercaya. Aku mengambil handphone milik tante dan mulai menuliskan sesuatu.


'Tante ini adalah Tante kandung Kakak, Carlista bisa ikut dengannya. Tante akan memberikan Carlista alat bantu dengar yang baru.'


Carlista langsung berlari mengambil tasnya dan dia juga membereskan mainan miliknya yang berantakan.


"Darimana Tante tahu jika dia tidak bisa mendengar?" tanyaku.


"Hanya feeling?"


"Lalu, kenapa Tante tidak mengunakan bahasa isyarat?"


"Sepertinya Zeta juga tidak menggunakan bahasa isyarat saat berhubungan dengannya. Tante menyadari dia tidak terlalu bisa bahasa isyarat saat kamu langsung mendatanginya dan tidak menyuruhnya untuk datang kesini menggunakan bahasa isyarat. Sepertinya dia tidak terlahir sebagai tuna rungu. Apa Zeta tahu sesuatu tentangnya?"


"Zeta baru bertemu dengannya beberapa kali."


Buk!


Carlista memelukku dengan cukup keras, lebih seperti dia menghantamkan tubuhnya ke kakiku. Aku berjongkok di hadapannya dan merapikan beberapa rambutnya yang berantakan. Kali ini aku mengeluarkan handphone milikku.


'Jika ada sesuatu segera hubungi Kakak yaa? Kakak akan meletakan nomor telepon Kakak di tas bagian depan.'


Aku memasukan kartu nama milikku ke bagian depan tas Carlista. Tidak lupa, aku juga memberikan jari kelingkingku kepadanya untuk berjanji menghubungiku jika sesuatu terjadi. Dia langsung mengaitkan jari telunjuk miliknya dan tersenyum lembut sebelum akhirnya berjalan mendekati Tante.


"Zeta menitipkan Carlista ke Tante. Maafkan Zeta dan Kak Arthur karena sudah membuat repot Tante sepagi ini," ucapku mencoba membuat Tante tidak mengatakan apapun lagi tentang kondisiku agar Arthur tidak semakin khawatir.


"Tante senang mengatasi semua kerepotan yang kamu buat untuk Tante. Tante mungkin akan mengajaknya makan dan bermain sebentar sebelum akhirnya bertemu dengan dokter THT, setelah semua selesai Tante akan menghubungimu. Sampai jumpa."


Aku memberikan sebuah senyum dan anggukan kepada tante. Berbeda denganku, Arthur masih menatapku penuh dengan rasa ingin tahu bercampur khawatir. Dia pasti akan terus menanyakan apa maksud perkataan tante hingga dia mendapatkan jawabannya dan aku mau tidak mau harus memberikan jawaban kepadanya jika tidak ingin terus diganggu olehnya.


"Zeta, apapun yang terjadi Tante akan selalu ada untukmu," ucap Tante untuk terakhir kali sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kami.


"Zeta, aku tahu jika kamu mencoba mengalihkan pembicaraan" ucap Arthur begitu tante menghilang dari hadapan kami.


"Aku akan menceritakan semuanya tapi tidak sekarang."


Tepat saat aku membalikkan tubuhku, aku melihat wajah Felix yang nampak terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Aku melupakan keberadaan Felix saat aku memeluk tante. Padahal alasanku memanggil tante untuk membuat Arthur tidak hilang kendali dan memukul Felix. Sekarang, Felix justru melihat sesuatu yang sangat tidak ingin keluarga kami perlihatkan di depan umum.


...-----...


...-----...

__ADS_1


__ADS_2