
Hari masih siang dan hujan sudah turun. Hujan menciptakan kehangatan bagi mereka yang menyalakan penghangat ruangan dan menciptakan kedinginan bagi mereka yang berada di jalanan. Dan disini aku tidak merasakan kehangatan maupun kedinginan, seolah tubuhku sudah mati rasa.
Ibu sedang menyiapkan makan malam dibantu Stephanie dan Caroline. Kakek dan nenek memiliki urusan dengan teman-teman mereka, urusan yang terkesan mendadak untukku tetapi tidak untuk mereka. Arthur tidak ikut pulang dengan kami dan masih menemani Olivia, sepertinya dia sedang mengganti hari-hari dimana mereka berpisah. Ken sedang meminta pesawat untuk kembali ke London. Sedangkan aku sedang diam mengamati hujan.
Aku ingin kembali ke London bersama dengan ayah dan ibu setelah menyelesaikan kesalahpahaman perihal surat perceraian tetapi pihak sekolah memaksa seluruh siswa untuk datang ke sekolah. Polisi sedang menyelidiki dugaan bullying sebagai bagian dari kematian Natasha dan mereka memanggil para siswa sebagai saksi. Melihat bagaimana polisi melibatkan masalah bullying, aku rasa ayah tidak ikut campur dalam penyelidikan secara menyeluruh. Ayah hanya sekadar memberikan bukti besar dan selebihnya kerja keras polisi atau mungkin seseorang melaporkan adanya bullying.
Penyelidikan ini sudah berjalan selama 2 minggu dan hari ini adalah hari terakhir penyelidikan. Jika aku dan Ken tidak datang ke sekolah hari ini maka pihak kepolisian akan meminta kami datang langsung ke kantor polisi, sesuatu yang akan lebih merepotkan.
"Pesawat sudah menunggu, kita bisa berangkat sekarang jika kamu mau."
"Ken?" panggilku tanpa kusadari.
"Ya?"
"Jika suatu saat Natasha kembali dan dia ingin masuk ke dalam hidupmu, apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku membuat otakku langsung memproses apa yang baru saja keluar dari mulutku.
"Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika hal itu benar-benar terjadi tetapi aku sudah berjanji untuk tidak bermain di belakangmu dan aku akan menepati janji itu.
"Berikan kepadaku," ucapku sembari memberikan telapak tangan kananku kepada Ken, membuatnya kebingungan.
"Aku tahu kamu selalu ingin membuatku memakai kembali gelang peninggalan tante," lanjutku.
Hari dimana aku mengembalikan gelang pemberian Tante Lily adalah hari dimana Ken juga ingin memberikannya kembali kepadaku. Sejak saat itu, dia selalu membawa gelang itu, kemanapun dan kapanpun dia pergi, dia selalu menjaga gelang itu dan menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya kembali kepadaku. Aku tahu hal itu dan berpura-pura tidak tahu karena aku tidak ingin kembali terikat pada sesuatu yang belum ditakdirkan untukku.
Ken mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Dia meraih tanganku dan memakaikan gelang. Ada yang berbeda dengan gelang yang sekarang berada di pergelangan tanganku. Dia menambahkan sesuatu pada gelang di tanganku, sesuatu yang bisa dia tambahkan dan sesuatu yang tidak seharusnya dia tambahkan.
"Kamu gila? Bagaimana bisa kamu mengukir namaku di gelang ini? Gelang ini adalah gelang yang akan diwariskan...."
"Kenapa?" balas Ken begitu aku menghentikan ucapanku.
"Lupakan."
"Kamu yang akan mewariskannya ke calon menantu kita di masa depan."
"Hentikan" ucapku dengan nada marah.
"Kamu yang memulainya."
"Ken!!"
__ADS_1
"Zeta!!"
Ken dan aku langsung mencari sumber suara yang memanggil namaku. Sumber suara yang sedang berlari menuju arah kami dengan tergesa-gesa. Caroline mencoba menyandarkan tubuhnya kepadaku tetapi Ken langsung menghalanginya dan mendorong tubuhnya menjauhiku.
"Sera, dia tiba-tiba menyebutkan namamu sebagai orang yang melakukan bullying kepada Natasha. William sudah mencoba agar berita ini tidak keluar tetapi Keluarga Tindall memberikan informasi palsu kepada wartawan dan sekarang situasi benar-benar tidak terkendali."
"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Ken sembari menarik tanganku berjalan mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"Mereka memutuskan untuk diam karena berita perceraian orang tua Zeta juga sudah tersebar luas. Semuanya memilih untuk tetap diam hingga mereka tahu sisi mana yang akan lebih menguntungkan," jawab Caroline dengan terengah-engah.
...-----...
Caroline menyenggol lenganku dan memberikan tatapan penuh tanda tanya kepada Ken. Caroline dan aku terus mengamati Ken yang sedang memasukan barang-barang milikku ke dalam koper. Dia bahkan tidak mengemas barang-barang miliknya dan fokus mencari barang-barang milikku.
"Aku akan kembali lagi kesini. Berhenti mengemas barang-barangku," ucapku sembari mencegah Ken untuk memasukan lebih banyak barang-barang milikku ke dalam koper.
"Apa sesuatu terjadi?"
Pertanyaan tiba-tiba ibu berhasil membuat kami bertiga terkejut, Caroline bahkan berteriak.
"Zeta harus kembali ke sekolah. Ibu tidak masalah sendirian?"
"Apa maksud Zeta sendirian? Ada banyak pelayan di rumah ini."
"Pulang? Apa sekarang rumah ini sudah menjadi rumah bagi Zeta?"
"..."
"Maaf atas pertanyaan Ibu," ucap ibu begitu melihat perubahan di wajahku.
"Dimanapun akan menjadi rumah bagi Zeta asalkan Ibu berada di dalamnya."
"Ibu akan mengemas beberapa makanan untuk Carol," ucap ibu sembari berjalan kembali menuju dapur.
"Ibu, ayah juga sebentar lagi akan tiba."
"Ibu tahu," balas ibu sembari memberikan sebuah senyum, senyum yang membuat hatiku tidak nyaman.
...-----...
__ADS_1
"Cuaca sangat tidak bersahabat, kita tidak bisa terbang sekarang."
"Bisakah kita kembali pulang?" tanyaku.
"..."
"Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi di bandara, Ken. Aku rasa 2 jam sudah cukup untuk menunggu. Masalah bullying juga tidak akan selesai saat ini juga."
"Baiklah, aku akan menghubungi sekretarisku dahulu."
Aku kembali mengamati pesawat-pesawat yang masih terparkir di landasan dan orang-orang yang mulai turun dari pesawat. Banyak penerbangan yang dibatalkan karena cuaca tidak mendukung, hujan semakin lebat disertai dengan angin. Sepertinya Tuhan lebih menginginkanku bersama dengan ibu dibandingkan berada di lingkungan yang hanya akan membuatku kesulitan bernapas.
Kualihkan perhatianku pada seseorang yang sedang berbincang dengan Ken, seseorang yang sangat aku kenal. Sejak kapan Paman Stephan sudah berada di bandara ini? Apakah ayah yang meminta paman untuk mengawasiku begitu ayah sampai di rumah?
"Apa yang Paman lakukan disini?" tanyaku mengejutkan Ken dan Paman Stephan.
"Penerbangan Tuan Allison dibatalkan. Tuan Allison masih berada di London,” balas paman tanpa basa-basi.
"Apa maksud Paman? Zeta menghubungi ayah 3 jam yang lalu dan ayah mengatakan sebentar lagi akan sampai di Wales."
"Setelah mengatakan hal itu sesuatu terjadi dan Tuan meminta saya untuk tetap berangkat ke Wales sesuai dengan jadwal."
"Sesuatu apa?!"
"Zeta," panggil Ken mencoba membuatku tetap bisa mengendalikan diri.
"Masalah dengan Nyonya Sei."
Aku langsung memutar tubuhku dan berjalan mengambil semua barang-barang yang aku letakan di atas kursi. Ken menghampiriku dan langsung mengambil semua barang-barang di tanganku lalu memberikannya kepada pengawalnya. Dia memegang erat tanganku, berusaha memenangkanku.
"Ayo kita pulang," ucapnya sembari menarik tubuhku berjalan mengikutinya.
"Zeta, Sera tidak pernah menyebutkan namamu kepada polisi. Ibumu, maksudku Tante Zelia yang meminta para wartawan dan jurnalis menuliskan berita omong kosong itu," ucap Stephanie terengah-engah begitu melihatku.
"Steph baru mendapatkan informasi ini dari William," timpal Caroline begitu menyadari perubahan raut wajahku.
"Berita perceraian?" tanyaku.
"Banyak yang sudah tahu tetapi bukan Tante yang menyebarkannya, bukan pula Paman."
__ADS_1
"Ken, cari tahu semua kontak orang-orang yang bekerja di rumah kakek dan hubungi mereka, tanyakan keberadaan mereka," ucapku dengan nada penuh ketakutan.
...-----...