
Sudah tiga kali aku keluar masuk kamar untuk melihat apakah Arthur sudah kembali ke kamarnya atau belum dan untuk ketiga kalinya aku masih mendapati kamar Arthur yang gelap gulita. Sekarang pukul 9 malam dan sudah 5 jam setelah Arthur masuk ke dalam ruang kerja ayah.
Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada Arthur dan apa yang Arthur lakukan saat ini, yang aku tahu saat ini Arthur tidak dalam kondisi yang baik. Aku juga sudah berusaha untuk masuk kembali ke ruang kerja ayah tetapi William selalu menghalangiku. Apa yang William lakukan membuatku berpikir jika aku menerobos paksa ruang kerja ayah maka akan lebih banyak hukuman yang Arthur dapatkan. Dan William juga memberitahuku jika 2 jam yang lalu Arthur sudah tidak berada di ruang kerja ayah.
Aku menutup pelan pintu kamar Arthur dan kembali menuju kamarku. Aku kembali mengecek handphone milikku dan tetap belum ada balasan apapun dari ibu. Aku mengadukan semua yang terjadi kepada ibu, berharap ibu bisa menolong Arthur dari hukuman yang akan ayah berikan. Sepertinya ibu cukup sibuk mengurus nenek hingga tidak membuka handphone miliknya. Aku menghembuskan nafas dengan berat lalu melemparkan handphone milikku ke atas tempat tidur dan ikut melemparkan tubuhku ke atas tempat tidur. Aku menenggelamkan kepalaku ke boneka beruang besar dan berteriak, aku berharap boneka ini bisa menutupi suara teriakan putus asa milikku.
Tok.. tok..
Aku langsung beranjak dari tempatku berbaring begitu mendengar suara ketukan pintu. Aku berjalan mendekati pintu dan membukanya. William sudah berada di depan pintu dengan dua buah gelas berisikan susu hangat. Dia memberikan salah satu gelas kepadaku yang langsung aku ambil.
"Ikut denganku," ucap Arthur sembari menyodorkan tangannya, memintaku untuk menggenggam erat tangannya. Aku menyambut genggaman tangannya dan membiarkan langkah kakiku mengikuti setiap langkah kakinya.
William membawaku masuk ke dalam lift. William menekan nomor 4 dan membuat lift langsung bergerak menuju lantai 4. Rumah kami terdiri dari 5 lantai dengan lantai 1 dan 2 sebagai tempat yang paling sering kami gunakan. Lantai 3 lebih berisi sebuah ruangan besar tempat dimana ayah melakukan pertemuan bersama dengan rekan bisnisnya apabila ayah sedang malas pergi ke kantor dan juga terdapat ruang penyimpanan makanan dan minuman, seperti sebuah swalayan kecil, serta sebuah restoran kecil tempat dimana para pelayanan ataupun pengawal makan. Aku dan Arthur juga sering mencoba makanan di restoran kecil dalam rumahku hingga kami berhenti karena malas dan lelah harus ke lantai 3.
Lantai 4 berisikan fasilitas-fasilitas kebugaran, baik tempat fitness, kolam renang, tempat bilyard, dan tempat khusus untuk latih tanding. Di lantai 5 sendiri hanya berisikan ruangan-ruangan dimana saat ada anggota yang sakit dan perlu dirawat inap akan langsung dibawa ke lantai 5, karena hal itu aku dan kedua kakakku sangat jarang ke rumah sakit karena di rumah kami sudah disediakan klinik kecil untuk kami dengan fasilitas yang baik. Rumah kami juga memiliki basemen yang berisikan mobil-mobil koleksi ayah dan William.
Ting.
Pintu lift terbuka, William menarik tubuhku untuk mengikutinya sekali lagi. Sekarang aku tahu apa yang terjadi kepada Arthur. Saat ini dia pasti sedang latih tanding dengan pelatihnya hingga dia tidak memiliki satupun energi. Aku mulai menyapu ruang latih tanding mencoba mencari keberadaan Arthur. Aku hanya menemukan para pengawal yang sepertinya juga baru selesai melakukan latih tanding. Para pengawal juga langsung memberikan salam kepada kami disaat keringat masih bercucuran. Aku sangat membenci status sosial seperti ini.
"Paman Stephan sepertinya sudah selesai latih tanding dengan semua pengawal."
"Apa maksud Kakak?" tanyaku terkejut.
"Paman harus melawan setengah pengawal di rumah ini sebagai hukuman karena menutupi pertemuanmu dengan Natasha dan harus melawan setengahnya lagi jika Paman masih ingin mengawalmu. Jadi, seluruh pengawal yang harus Paman lawan?" balas William dengan sebuah senyum kecil tersinggung di bibirnya.
Aku tidak tahu kenapa dia harus memberikan sebuah senyum kecil saat mengatakan hal itu, membuatnya terlihat menikmati hukuman yang diberikan kepada paman.
"Aku tersenyum karena aku tahu aku juga akan mendapatkan hukuman yang sama jika melakukan kesalahan," lanjut William seperti baru saja mendengar isi pikiranku.
Saat aku hendak berjalan mendekati Paman Stephan, William menarik tanganku dan sorot matanya menunjuk sebuah ruangan. Aku dan beberapa pengawal mengikuti arah pandang William. Black room adalah ruangan dimana dua orang akan bertanding dan salah satu orang harus terluka parah hingga akhirnya pertandingan bisa dihentikan.
__ADS_1
Paman Stephan dan pengawal lainnya selalu menghindari black room karena konsekuensi yang akan didapatkan sangat besar walaupun imbalan yang diterima juga akan besar. Di black room para pengawal bisa naik 3 tingkatan jika bisa mengalahkan lawan yang berada 1 tingkat di atasnya. Hanya Paman Stephan yang pernah masuk ke black room saat pertama kali bekerja untuk Keluarga Allison, saat itu Paman ingin mengawalku dan berakhir dengan menantang pengawal yang saat itu ditugaskan untuk mengawalku. Setelah itu, tidak pernah ada satupun yang berani menantang dan masuk ke black room. Dan sekarang Arthur berada di ruangan itu.
Aku kembali menyapu ruangan ini, mencari pengawal yang mungkin tidak ada di ruangan ini dan berada di dalam black room. Tetapi, mendengar ucapan William dimana Paman Stephan harus mengalahkan semua pengawal di rumah ini, sudah pasti bukan pengawal biasa yang sedang berlatih tanding dengan Arthur. Aku kembali menyapu ruangan ini untuk ketiga kalinya hingga mendapati William yang sedang menatapku dengan pahit.
"Dia berlatih tanding dengan ayah."
Tidak. Tidak mungkin.
"Zeta!!" teriak William begitu aku berjalan menuju black room.
"Arthur yang memintanya."
"Bagaimana mungkin?" tanyaku ketakutan.
"Ayah menghukum Arthur dengan membuatnya menjauhimu selama 1 bulan. Arthur tidak menginginkan hukuman seperti itu dan lebih memilih black room."
"Kenapa? Kenapa?!"
"Tanyakan hal itu kepada Arthur. Untuk sekarang, jangan melakukan apapun."
Ayah memang tidak akan mungkin membuat Arthur terluka parah tetapi ayah menguasai berbagai jenis bela diri. Bahkan rumor yang beredar mengatakan jika ayah pernah mengalahkan Paman Stephan di black room dan karena itulah paman tidak pernah lagi ingin masuk ke black room. Walaupun semua itu hanya rumor tetapi baik ayah maupun paman tidak ada satupun yang menginformasi kebenarannya, seakan ingin membuat kami mempercayai apa yang memang kami percayai.
"Zeta, selama ini Arthur selalu menjadi bayang-bayangku. Dia selalu dikenal sebagai sebutan 'anak kedua', tidak ada yang mencoba memanggil namanya. Dia tidak pernah marah ataupun kesal karena hal itu tetapi saat dimana dia tidak bisa bersama denganmu saat itulah dia akan mengeluarkan emosi miliknya. Emosi yang tuasnya berada di tanganmu. Saat bersama denganmu, dia bahagia karena dia dikenal sebagai seorang kakak yang baik. Dia tidak masalah dikenal sebagai 'kakak kedua Zeta', dia bahagia sudah dikenal sebagai kakakmu."
"Tetap saja..."
"Kakek Phillip ingin mewariskan perusahaan kepada Arthur," potong William.
"Apa maksud Kakak?"
"Selama 10 tahun perusahaan kakek dikendalikan oleh Bibi Anne, tidak pernah ada pengumuman resmi bahwa Bibi Anne dan anak-anaknya yang akan mewarisi perusahaan. Bibi Anne juga tidak pernah menuntut apapun dan meminta semua tanggung jawab perusahaan cepat dilepaskan darinya. Tidak ada ambisi dan persaingan di keluarga pihak ibu. Ayah tahu cepat atau lambat kakek pasti akan meminta Arthur untuk menjadi pewaris perusahaan tetapi ayah tidak menyangka akan secepat ini. Saat dimana orang-orang hanya menganggap Arthur sebagai cadanganku, saat itulah kakek mencoba membuat Arthur menjadi pewaris. Kakek membeli banyak saham perusahaan atas nama Arthur dan menjadikan Arthur pemegang saham terbesar.”
__ADS_1
"...."
"Dibandingkan menjadi bayang-bayang diriku, aku lebih menyukai Arthur berdiri di atas kakinya sendiri dan dikenal sebagai 'Arthur'. Tetapi, aku rasa Arthur lebih menyukai menjadi bayang-bayang diriku karena hanya dengan begitu dia bisa terus bersamamu."
"Apa Kakak sedang memintaku membuat Kak Arthur berhenti bersama denganku?"
"Tidak, apapun yang kamu katakan dan lakukan tidak akan mempengaruhi Arthur. Hanya dia sendiri yang bisa mengubah pilihannya."
"..."
"Yang ingin aku katakan adalah Arthur bisa membuang semua saham yang berada di tangannya hanya agar bisa bersama denganmu. Dia tidak peduli dengan kekayaan ataupun kekuasaan yang berada di tangannya. Dia hanya mempedulikanmu, Zeta. Kamu adalah pedang bermata dua untuk Arthur dan juga untukku."
"Zeta," ucapku terhenti begitu William mulai mengusap rambutku dengan lembut.
"Ken atau Alvin, Kakak mohon jangan tergesa-gesa dalam membuat keputusan karena keputusan yang kamu buat akan kembali mempengaruhi Keluarga Allison."
Aku tidak pernah berpikir jika cinta masa SMA-ku yang aku kira akan penuh dengan berbagai macam warna dan rasa ternyata sebuah cinta yang bisa membawa kebahagiaan dan kesengsaraan secara bersamaan. Aku tidak pernah tahu masa-masa SMA yang aku kira akan diisi dengan kenangan indah berubah menjadi masa-masa SMA yang ingin aku lalui dengan cepat tanpa perlu adanya kenangan apapun. Aku tidak pernah tahu jika selama ini hidupku menjadi pusat dari kehidupan kedua kakakku. Bahkan saat dimana aku mengira kedua kakakku mencari cinta di masa SMA mereka, ternyata aku salah, mereka tidak pernah mencari cinta mereka tetapi mereka melindungi cinta yang aku bangun.
Apakah aku begitu egois karena baru menyadarinya sekarang setelah semua yang terjadi?
Suara bantingan pintu terdengar cukup keras, membuatku dan William langsung melihat ke black room. Ayah sedang merapikan pakaian taekwondo miliknya yang berantakan. Dari jarak 3 meter ini, aku bisa melihat ada beberapa noda merah di baju milik ayah. Aku rasa noda merah itu bukan milik ayah tetapi milik Arthur. Wajah ayah juga tidak menunjukan adanya luka. Wajah beliau masih sama seperti saat aku bertemu dengannya tadi sore. Ayah memanggil beberapa dokter yang sedari tadi berjaga di depan ruangan.
William masih menahanku, memintaku untuk tidak masuk ke ruangan tempat dimana Arthur berada. Tepat saat beberapa pengawal mencoba membawa tubuh Arthur, ayah menemukan keberadaanku dan William, membuat beliau meminta para pengawal menurunkan kembali tandu yang berisikan Arthur di atasnya. Ayah memberi isyarat kepada William, isyarat yang aku ketahui maksudnya.
"Maafkan aku," ucap William sembari menutup kedua mataku dengan tangan besar miliknya, membuatku tidak bisa melihat apapun.
"Maafkan Zeta yang egois," ucapku sembari menangis.
William menurunkan tangannya lalu menatap sebentar mataku sebelum akhirnya dia berdiri di atas lututnya dan memelukku. Membuatku yang masih duduk bersandar di dada bidang miliknya. William mengeratkan pelukannya, membuatku bisa mencium aroma tubuhnya. Aroma yang sudah menemaniku sejak aku lahir ke dunia ini.
"Mencintai orang lain adalah hadiah dari Tuhan tetapi mencintai keluarga adalah kewajiban terindah dari Tuhan, bukan?"
__ADS_1
Aku mengangguk.
...-----...