Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Permulaan


__ADS_3

"Aku akan pergi ke ruang VIP dahulu. Arthur, jaga Zeta," ucap William begitu keluar dari mobil.


"Tanpa kamu katakan, aku akan menjaganya."


Arthur langsung menarik tanganku meninggalkan William yang masih menatap kami hingga akhirnya dia tidak bisa lagi melihat kami karena tembok yang menghalangi. Aku hanya mengikuti langkah kaki Arthur, langkah yang menyesuaikan langkahku. Aku ingin tahu perempuan seperti apa yang bisa meluluhkan hatinya. Aku akan sangat iri kepada perempuan itu.


Untuk kali pertama, aku juga bisa melihat pengawal yang selama ini menjagaku. Mereka sudah tidak lagi bersembunyi. Sepertinya Ayah memberikan perintah baru kepada mereka, perintah yang mungkin akan mempengaruhi interaksiku dengan orang lain.


"Kenapa aku merasa jika suatu hal buruk akan terjadi kepadaku melihat bagaimana ayah dan William bereaksi?" tanyaku membuka percakapan.


"William tahu jika Ken menghubungi anggota kedisiplinan yang membenci Keluarga Allison. Ken, dia mengatur rencana untuk menyakitimu."


"..."


"Zeta, sejauh mana Ken harus bertindak hingga kamu membencinya?"


"Aku tidak bisa membenci dia."


"Aku kira hatimu sudah menjadi milik Alvin."


"Hatiku tetap menjadi milikku untuk selamanya, Kak. Walaupun begitu, hatiku sekarang perlahan bergerak menuju Kak Alvin. Akan tetapi kenangan yang ada di dalam hatiku sebagian besar berisikan Ken. Bagiku dia tetap teman masa kecilku."


Seseorang menarik tubuhku begitu kakiku melangkah masuk ke ruang kelas. Seseorang yang dengan lembut menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Seseorang yang mengatakan akan menjadi kakak yang posesif untukku sementara waktu.


"Maukah kamu menemaniku sebentar?" tanyanya.


"Apa sesuatu terjadi di dalam kelas?" tanya Arthur.


"Steph dan Carol sedang membersihkan papan tulis dan juga meja milik Zeta."


Aku menarik tubuhku dari pelukannya. Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, aku sudah tahu kondisi ruang kelas saat ini. Alvin tidak akan lagi menghalangiku bahkan jika saat ini aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kelas. Aku memutuskan untuk duduk bersandar pada dinding depan kelas berbeda dengan Arthur sudah langsung masuk ke dalam kelas begitu mendengar ucapan Alvin. Alvin ikut duduk menyandar pada dinding seberang tempatku duduk, membuat kami saling berhadapan.


Kuamati tangannya yang kotor oleh tinta. Aku rasa bukan hanya dua sahabatku saja yang sedang membersihkan ruang kelas. Laki-laki di hadapanku juga ikut membersihkannya, bahkan sepertinya dia yang paling banyak membersihkan kekacauan yang mungkin dibuat oleh Ken. Aku mendekatkan tubuhku kepadanya dan mengeluarkan sapu tangan dari saku bajuku. Aku menumpahkan air ke atas sapu tangan itu dan mengusapkannya ke tangan Alvin. Tangan yang ukurannya lebih besar dari tanganku. Alvin hanya diam melihat sapu tangan di tanganku mulai menyapu kotoran di tangannya.


"Apa yang harus aku lakukan jika aku tidak bisa menunggumu?" tanyanya membuatku menghentikan apa yang sedang aku lakukan.


"Maafkan aku."

__ADS_1


Kami kembali terdiam, mengisi kembali lorong ini dengan keheningan. Aku kembali membersihkan tangan Alvin. Dia langsung menggenggam tanganku begitu aku selesai membersihkan tangannya. Tangan besarnya benar-benar menutupi seluruh tanganku yang mungil. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dengan tangan lainnya. Sesuatu yang sangat aku kenal.


"William memberitahuku jika kamu juga menyukai Botan Rice Candy, terutama saat kamu tidak tahu suasana hatimu," ucapnya sembari memberikan Botan Rice Candy ke tanganku.


"Kenapa kamu menyukai permen ini?" lanjutnya.


"Saat itu adalah kematian pamanku, aku tidak tahu emosi seperti apa yang harus aku tunjukkan dan aku juga tidak tahu perasaan seperti apa yang mengisi hatiku. Saat itu, nenekku memberikanku permen ini dan membuatku menyadari perasaan kehilangan karena kematian pamanku. Sejak saat itu, setiap kali aku tidak tahu apa yang aku rasakan, aku akan memakan permen ini. Walaupun ada saat-saat dimana aku memakannya tanpa alasan."


"Aku akan meminta kursi tambahan," ucap Arthur dengan penuh amarah, membuatku melepaskan genggaman tangan Alvin.


"Kak Arthur?" panggilku begitu melihat Arthur mencoba berlari menuju ruang guru.


"Aku tidak ingin kamu duduk di atas kursi dan meja itu," balasnya sebelum aku bisa menanyakan pertanyaanku.


"Maka Ken akan membuatnya lebih buruk," balasku setelah menerka apa yang terjadi.


Mendengar perkataanku, Arthur langsung berhenti dari apa yang sedang dia coba lakukan dan membiarkanku masuk ke dalam kelas. Stephanie langsung berlari ke arahku dan memelukku. Pelukan yang cukup menghangatkan. Aku menyusuri ruang kelas dengan mataku untuk mencari Caroline karena dia tidak ikut berlari ke arahku dan aku mendapati ada 2 orang lainnya di ruangan ini, Thomas dan Nichole.


'Pembully', '******', 'Mati saja!', 'Allison fu*k', 'Pergi ke neraka!', 'Zetan \= Zeta + Satan'


Stephanie melepaskan pelukannya dan menggantinya dengan tatapan sedih miliknya. Aku hanya mengusap lembut rambutnya, mengisyaratkan jika aku baik-baik saja. Kulangkahkan kakiku menuju jendela, sepertinya semua properti selain dinding di kelas ini berisi kata-kata umpatan untukku. Hanya meja dan kursi tempatku duduk yang menggunakan spidol permanen sehingga sulit untuk menghapusnya.


"Wow, sudah kembali seperti semula ruangan ini."


Aku langsung berjalan mendekati Arthur yang ingin memukul pemilik suara itu. Arthur langsung mengepalkan tangannya begitu aku menghentikkan langkah kakinya menuju Ken. Kepalan tangannya semakin kuat, membuat tangannya menjadi pucat. Aku langsung menyentuh kepalan tangan itu, mencoba membuat Arthur menjadi tenang kembali walaupun aku tahu semenjak Ken menamparku, dia tidak pernah tenang dan amarah selalu menguasainya.


"Apa kamu tidak akan menyesali semua ini?" tanya Alvin sembari duduk di kursi milikku.


"Hahaha, menyesal? Untuk apa aku menyesali membully seorang pembully?"


"Arthur," panggilku begitu Arthur kembali ingin mendekati Ken.


"Ken!!!" teriak Caroline.


"Ada apa Keluarga Chester?" balas Ken dengan menyebutkan nama dari pihak ayah kedua saudar kembar itu, membuat Caroline maju hendak memukul Ken yang langsung dihalangi Stephanie.


Suasana saat ini benar-benar buruk. Sebentar lagi pukul 8 pagi dan para siswa akan mulai berdatangan. Aku tidak ingin untuk kedua kalinya mereka menyaksikan hal memalukan seperti ini.

__ADS_1


"Aku harap di masa depan kamu tetap memiliki kepercayaan dan kesombongan seperti ini,” ucap Alvin dengan wajah menahan amarah.


"Apa yang membuat pewaris Nakamoto sangat menyukai anak perempuan Allison?"


"Apakah kamu benar-benar tidak pernah sekalipun menyukai Zeta?"


"Kamu tidak menjawab pertanyaanku."


"...."


"Hah, sepertinya kamu tidak akan memberikan jawaban kepadaku. Di masa lalu, di masa sekarang, dan di masa depan, kamu bisa memiliki Zeta. Aku tidak menginginkan perempuan sepertinya."


Caroline hampir melempari Ken dengan penghapus yang dipegangnya sebelum akhirnya Nichole menahannya. Nichole langsung membawa Caroline keluar dari ruang kelas. Thomas juga ingin mengajak Stephanie keluar tetapi Stephanie terus menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan kiriku yang masih bebas sedangkan tangan kananku masih memegang tangan Arthur.


"Jika begitu, tanda tangani surat ini," ucap Alvin sambil berdiri dari tempatnya duduk menuju tempat Ken berdiri.


"Alvin! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Arthur membuat Stephanie semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Aku sedang memastikan di masa depan laki-laki ini tidak akan bisa masuk kembali ke kehidupan Zeta," balas Alvin.


"Itu bukan hakmu...."


"Apakah nama Nakamoto, Elizabeth, Allison, dan Edmund belum cukup untuk menjadi saksi?" potong Alvin.


Alvin meletakkan selembar kertas di atas meja. Dia juga meletakkan sebuah pena yang biasa digunakan ayah ataupun William saat akan menandatangani dokumen perjanjian. Tanpa ada sebuah keraguan, Ken langsung mendatangi surat itu. Dia bahkan tidak membaca lebih lanjut isi surat yang baru saja dia tanda tangani. Begitu selesai menandatangani surat itu, Ken sekali lagi menberikan tatapan penuh amarah dan kebencian miliknya kepadaku.


Bisakah aku juga memberikan tatapan itu kepadanya?


Alvin berjalan mendekatiku dan memberikan surat itu kepadaku. Ah... surat itu bukan antara dirinya dengan Ken tetapi antara diriku dengan Ken. Melihat apa yang Alvin lakukan, Arthur langsung memberikan tatapan lega dan tepukan kecil ke pundak Alvin. Alvin hanya mengangguk begitu tangan Arthur menyentuh pundaknya. Sekarang, dia menyodorkan sebuah pena kepadaku. Aku hanya menggeleng.


"Aku akan menandatanganinya di rumah," jawabku.


Kami berlima, termasuk Thomas, langsung pergi meninggalkan ruang kelas. Meninggalkan Ken seorang diri dalam keheningan. Dan meninggalkan Ken yang penuh amarah mengisi ruangan ini.


"Aku harap kepercayaan diri dan kesombongan berlebih yang kamu miliki tidak akan menyerangmu di masa depan," ucap Stephanie sebelum meninggalkan ruangan.


...-----...

__ADS_1


__ADS_2