Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Sebuah Janji


__ADS_3

"Ken sama sekali tidak memberi tahumu hasil tes miliknya?"


Aku menggeleng dengan tangan yang masih sibuk mengeringkan rambut. Arthur mengambil hair dryer dari tanganku dan memutar tubuhku menghadap ke jendela, membuatku bisa melihat langit yang masih setia menurunkan rintik hujan.


Perlahan tangan Arthur merapikan rambutku yang tidak beraturan dan mulai mengeringkannya. Belum ada satu menit sejak dia mulai serius mengeringkan rambutku, sekarang dia justru mematikan hair dryer dan menaruh handuk ke atas kepalaku. Lalu dia ikut duduk di sampingku sembari mengamati rintik hujan. Dia terus menepuk lembut punggungku, seolah memberitahu bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Aku tahu tes poligraf yang aku lakukan tidak memberikan hasil yang aku inginkan. Aku sudah tahu sejak saat Ken meminta sebuah kesempatan kepadaku, aku tahu perasaan apa yang dia miliki padaku dan tentu saja aku juga tahu dia tidak akan mengginginkan perjodohan kami batal. Keinginanku untuk melakukan tes poligraf seperti sebuah jalan baginya untuk bisa mempertahankan perjodohan kami dan bodohnya aku baru sadar sekarang.


"Kamu tidak ingin turun ke bawah?"


"Apa yang akan aku dapatkan? Aku tahu dengan pasti perjodohan ini akan tetap berlanjut."


"Kamu tidak penasaran dengan jawaban yang Ken berikan?"


"Apakah dengan mendengar jawaban miliknya bisa membuatku jatuh cinta kepadanya, Kak? Jika iya, aku akan turun sekarang."


"Aku bertemu dengannya karena sebuah kesengajaan yang diatur oleh kedua orang tua kami. Aku melukai perasaannya dengan sengaja karena sebuah kesalahan yang bahkan tidak dia lakukan. Dan aku tidak ingin berpisah dengannya karena sebuah kesengajaan yang bisa aku hindari."


"..."


"Dia mengatakan hal itu kepada ibu dan ibu langsung memeluknya. Dia mendapatkan kembali kepercayaan ibu hanya dengan 3 kalimat itu."


"Zeta lapar, Zeta turun sekarang," ucapku sembari meletakkan handuk kecil di atas kepalaku ke atas tempat tidur.


Arthur mengikutiku begitu kakiku menyentuh lantai hingga sekarang saat kami berdua tiba di ruang makan. Ruang makan yang sebelumnya ramai sekarang hanya berisikan dua pelayan yang sedang membereskan piring-piring bekas makanan. Arthur berjalan menuju dispenser dan mengambil minum, sepertinya dia tidak ingin membuat kedua pelayanan itu menjadi canggung sehingga buru-buru membersihkan meja makan. Aku mengikuti Arthur mengambil segelas air minum lalu berjalan keluar dari ruang makan.


"Ambil ini," ucap Arthur sembari memberikan gelas miliknya kepadaku dan mempercepat langkahnya meninggalkanku. Mau tidak mau aku harus ikut mempercepat langkah kakiku karena aku tidak ingin tiba-tiba tersesat di rumahku sendiri. Bukan tersesat dalam hal tempat tetapi tersesat dalam hal suasana canggung jika aku bertemu dengan para pelayan.


Suara mulai terdengar begitu aku memasuki area taman. Suara tawa milik ibu dan Ken terdengar, suara tawa mereka seperti sedang menunjukkan kepada dunia betapa bahagianya mereka saat ini. Aku menghentikkan langkah kakiku karena tidak yakin bisa masuk ke dalam percakapan mereka. Tepat saat aku akan kembali melangkahkan kakiku untuk mencari Arthur, aku menabrak sebuah punggung yang langsung membuat hidungku sakit.


Buk!


"Aww," rintihku membuat sebuah tangan langsung menutup mulutku.


Bagaimana bisa aku mengikuti Arthur lalu tiba-tiba sekarang William yang berada di depanku?

__ADS_1


"Apa sedang kamu lakukan disini?" tanyanya sembari mendorong tubuhku ke dinding, sepertinya William tidak ingin ibu ataupun Ken tahu keberadaan kami.


"Ah, aku mengikuti Kak Arthur," balasku dengan takut.


"Aku tidak melihat dia di sekitar sini."


William kembali mendorong tubuhku ke arah dinding begitu melihat ibu dan Ken yang berjalan ke arah kami, lebih tepatnya ke arah kursi lebar yang berada tepat di depan kami.


"Kenapa Tante sangat menyukai berjalan di bawah rintik hujan dan salju?" tanya Ken membuatku dan William memfokuskan perhatian kami ke percakapan mereka. Sekarang William ikut menyandarkan tubuhnya ke tembok, sama sepertiku.


"Karena langit yang posesif akhirnya mengizinkan hujan atau salju bertemu dengan tanah," balas ibu sembari tersenyum, senyum yang mengisyaratkan kesedihan.


"Hmm, apakah langit itu Paman Allison, salju itu Zeta, dan tanah itu Ken?"


Pertanyaan Ken sontak membuat William mengepalkan tangannya dan berniat berjalan ke tempat mereka, sebelum akhirnya aku menahan tubuh besar miliknya dengan tenaga yang aku miliki. Aku memberikan gelengan kepala begitu William menatapku, memintaku untuk tidak menahan dirinya. Situasi saat ini sudah cukup aneh dan aku tidak ingin membuatnya menjadi lebih aneh dengan kehadiran kami yang tiba-tiba.


"Tante rasa semua itu tergantung dari bagaimana kita menginterpretasikannya," balas ibu, membuat William akhirnya kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding. Melihat sikapnya saat ini, aku rasa pusat hidupnya yang semula diriku sudah berubah menjadi ibu.


"Lalu bagaimana Tante menginterpretasikannya?"


Hening.


Hanya dengan ucapan ibu, William sudah tahu apa yang ibu ketahui tentang ayah. Hanya dengan kalimat yang baru saja ibu lontarkan, William sudah merasakan dunianya hancur. Hanya dengan sebuah senyum yang ibu berikan, William mulai membenci ayah. Dan, hanya dengan diamku, William merasa betapa tidak bergunanya dirinya.


"Tante tahu kamu sudah bertemu dengan wanita itu. Walaupun Zeta tidak menceritakannya, Tante tahu tentang pertemuan kalian. Hanya saja Tante tidak tahu percakapan apa yang kalian lakukan."


"Maafkan Ken."


"Karena kita sudah ada di topik ini, bisakah Tante mengatakan sesuatu?"


"Tentu."


"Saat kamu merasa bosan dengan Zeta, merasa tidak bisa mencintainya lagi, dan merasa bahwa duniamu tidak lagi diisi olehnya, maka kembalikan dia kepada Tante atau kepada kakaknya dan jangan pernah bermain di belakangnya. Tante lebih memilih dia merasakan sakit karena kehilangan cinta tulus milikmu dibandingkan dia harus terus merasakan cinta penuh kebohongan darimu. Cukup Tante yang merasakan rasa sakit ini, cukup Tante yang menanggung semua karma yang telah paman perbuat, cukup Tante. Tante tidak ingin Zeta merasakannya dan karena itu Tante mengambil semua rasa sakit ini agar Zeta tidak perlu merasakannya di masa depan."


"Tante, Ken akan selalu..."

__ADS_1


"Tante tidak memintamu untuk berjanji akan mencintainya seumur hidupmu karena perasaanmu adalah milikmu. Tetapi Tante ingin memintamu berjanji untuk tidak menduakannya karena itu adalah kewajibanmu sebagai seorang suami di masa depan. Bisakah Ken melakukan itu?" potong Ibu.


"Ken berjanji."


"Ayo masuk ke dalam, hujan semakin lebat."


Hening.


Hanya suara nafas milikku dan William yang terdengar. Tidak ada satupun dari kami yang ingin memulai percakapan, bukan karena kami tidak tahu bagaimana membuka sebuah percakapan setelah mendengar semua ini tetapi karena kami tidak ingin melukai satu sama lain. Aku akan menerima dengan lapang dada jika William marah kepadaku karena semua ini memang salahku tidak memberitahunya.


Hening. Sudah lebih dari 5 menit kami hanya menatap hujan di depan kami.


"Kapan kamu tahu semua ini?" tanyanya membuatku terkejut.


"Saat ibu memainkan piano di pagi hari."


"Masuklah, udara semakin dingin."


"Kak..”


"Kumohon?" pintanya dengan tatapan sendu, tatapan paling sendu yang pertama kali dia tunjukkan kepadaku.


"Ibu belum tahu tentang anak kedua. Ibu hanya tahu tentang Alvin."


"Apa kamu tahu apa yang ingin aku lakukan saat ini, Zeta?"


Aku menggeleng.


"Aku ingin memutar kembali waktu disaat ibu menangis seorang diri. Aku ingin menemani ibu dan rasa sakitnya. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa mengobati hatinya tetapi setidaknya aku ingin menemani beliau. Aku bahkan tidak akan pernah bisa melakukan hal itu, Zeta. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menemani dan menangis bersama dengan ibu karena jika aku melakukannya maka pertahanan terakhirku akan hancur. Aku sangat membenci diriku, Zeta. Sangat membenci.”


"..."


"Kumohon masuklah ke dalam."


"Kak, kumohon jangan menyakiti diri Kakak."

__ADS_1


...-----...


__ADS_2