
“Apa yang kamu lakukan?” teriak Arthur begitu melihat Ken membuka pintu mobil dan duduk di sampingku.
“Aku malas menunggu jemputan,” jawabnya.
“Aku tidak ingin kamu mengotori mobilku,” timpal William.
“Ayah memintaku untuk bermain ke rumah kalian.”
Kututup novel yang sedari tadi sedang aku baca dan membuka pintu mobil yang membuat ketiga laki-laki itu kebingungan. Kubuka pintu depan, tempat Arthur duduk dan menarik tubuhnya keluar. Dia langsung paham maksudku dan berjalan menuju tempat biasa aku duduk.
“Ah…. apa kamu sudah membenciku?”
“Tidak, aku hanya malas duduk di samping orang berkeringat,” jawabku.
Aku menutup rapat mulutku kembali, tidak mempedulikan semua pertanyaan-pertanyaan yang Ken ajukan. William dan Arthur yang menjawabnya menggantikanku, walaupun jawaban mereka lebih terdengar seperti sebuah sindiran. Melihat sikapnya yang sekarang membuatku tidak tahu siapa diantara kami berdua yang sedang berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Aku merasa baik aku dan dia sama-sama berpura-pura. Aku hanya tidak tahu siapa yang saat ini sedang berpura-pura sedang bahagia.
“Apa kamu bahagia dengan perempuan pujaan hatimu itu?” tanya Arthur sinis.
Tidak ada jawaban.
“Jawab perta…….Oh.. bukankah itu Alvin?” ucap Arthur.
Aku langsung mengalihkan pandanganku pada seorang laki-laki yang sedang memberikan makanan kepada pengemis. Dia terus tersenyum selagi memberikan makanan itu, dia bahkan ikut duduk dan makan dengan pengemis itu. Dia hanya memakan dua suap makanan di tangannya dan melanjutkan perjalananya menggunakan sepeda.
__ADS_1
“Kamu benar-benar melihat dia seperti dulu kamu melihat Ken,” ucap Arthur lagi-lagi memecah hening dan membuat suasana menjadi canggung, terlebih untuk Ken.
“Aku tid….” ucapku terhenti begitu melihat sebuah kepala di samping William.
“Hai, aku kira aku salah lihat.”
William membuka kaca mobil dan membuat kami bisa melihat wajah Alvin dengan jelas. Sepertinya alasan dia hanya memakan dua suap makanannya adalah karena melihat mobil William. William memberikan selembar tiket kepada Alvin. Sekilas aku membaca tulisan ‘Violin Concert’. Alvin tersenyum ke arahku sembari menerima tiket dari tangan William.
Apakah William yang membelikannya? Tetapi untuk apa?
“Maukah kamu pergi denganku?” tanyanya sembari menatap lembut mataku.
“Ah…. untukku?” tanyaku terkejut.
“Terima kasih, tetapi aku tidak suka violin,” ucap Ken dengan nada mengejek.
“Oh… kalian masih berteman dengan baik.”
Entah kenapa aku merasa nada yang Alvin ucapkan saat ini bukanlah nada yang cukup enak untuk didengar. Aku tidak tahu ini hanya perasaanku saja atau memang Alvin mengeluarkan nada sinis yang dia balut dengan nada yang ramah. Seperti dia ingin memberikan sesuatu yang buruk tetapi dia lapisi sesuatu itu dengan hal yang baik agar tidak terlalu terlihat niatnya.
“Kenapa tidak?” jawab Ken tidak kalah sinis.
“Menggelikan, melihatmu yang memamerkan kemesraan di depan umum dan sekarang bersama dengan perempuan lainnya,” timpal Alvin membuat kami semua terdiam.
__ADS_1
Aku rasa Alvin tipikal seseorang yang akan mengembalikan apa yang diterimanya. Tetapi aku cukup terkejut melihat seseorang sepertinya bisa mengatakan hal-hal yang cukup menyinggung orang lain. Sebenarnya aku tidak tahu apapun tentangnya untuk bisa memberikan penilaian seperti ini.
Kulihat William dan Arthur yang ikut terdiam mendengar ucapannya. Suasana benar-benar menjadi canggung. Tanpa kusadari, aku menyodorkan sebuah lollipop ke arah Alvin, membuatnya bingung. Aku juga ikut bingung dengan apa yang baru saja aku lakukan. William juga menatapku dengan tidak percaya dan memintaku untuk segera melakukan sesuatu dengan lollipop yang sudah terjulur ke arah Alvin.
“Aku sangat menyukai lolilop ini.”
“Terima kasih. Aku akan menunggumu besok minggu pukul 8 malam. Ah… William dan Arthur bisa ikut walaupun untuk tiket aku tidak bisa memberikannya hehe,” ucapnya sembari menerima lollipopku.
Hanya anggukan yang aku berikan sebagai jawaban. Tepat sebelum dia akan mengayuh sepeda miliknya, dia kembali memberikan satu lembar tiket konser violin. Kali ini aku berhasil mengambil tiket itu tanpa adanya gangguan. Setelah memastikan aku memegang tiket, Alvin buru-buru mengayuh sepedanya dan melambaikan tangan ke arah kami. Sekali lagi aku tidak tahu apa yang merasukiku, aku membalas lambaian tangannya dan tersenyum ke arahnya.
Kami berempat diam membisu, tidak ada yang ingin memecah keheningan ini. Aku sangat tahu apa yang sekarang ada di pikiran kedua kakakku. Saat ini, diriku bukanlah diriku yang mereka kenal, bahkan aku sendiri tidak tahu siapa diriku saat ini. Alvin seperti seseorang yang bisa mengendalikanku sama seperti ayah. Aku merasa baik Alvin dan ayah memiliki aura yang sama dimana aku tidak bisa berkutik di hadapan mereka. Tetapi, daripada aura yang Alvin miliki, sepertinya aku lebih terjebak oleh mata biru miliknya. Mata biru yang sejak awal menarikku untuk terus menatapnya dan mencari tahu kisah yang ada di dalamnya.
Kuamati selembar tiket di tanganku. Untuk seseorang yang bermain piano dengan sangat baik, kenapa dia memilih konser violin?
“Itu lollipop terakhir milikmu, apa kamu mau membeli lagi?” tanya William akhirnya memecah hening.
“Bibi sudah membeli 1 minggu yang lalu.”
“Zeta, jangan pernah memberikan lollipop kesukaanmu kepada laki-laki lain selain kakakmu.”
Ucapan terakhir William kembali membuat keheningan dan kecanggungan di dalam mobil. Tidak ada satupun yang mencoba mencairkan suasana. Aku tidak tahu alasan William memberikan nasehat seperti itu dan juga aku tidak tahu arti tatapan milik Ken saat ini kepadaku.
...-----...
__ADS_1