
Dalam hidupku, aku hanya mencintai 2 orang laki-laki di luar keluargaku. Orang pertama yang aku cintai selain kakak-kakakku adalah Ken. Aku tidak menyadari jika aku sangat mencintainya hingga dia membuat sebuah jarak yang cukup untuk memisahkan kami. Aku baru menyadari betapa aku mencintainya saat dia perlahan menjaga jarak denganku. Perasaan yang tumbuh karena aku sudah terbiasa dengannya membuatku menganggapnya hanya sebagai perasaan cinta biasa. Aku selalu merasa tenang karena pada akhirnya aku dan dia sudah dijodohkan dan akan menikah.
Tetapi aku salah…
Ken mencintai perempuan lain, perempuan yang membuatku sadar jika perasaan yang aku miliki untuknya bukan hanya sebuah perasaan biasa tetapi juga rasa kasihan dan bersalah kepadanya. Aku menutupi perasaanku begitu Ken mendekat untuk kali pertama setelah dia membuat jarak. Dia kembali menjadi Ken yang aku kenal tetapi disaat yang sama aku menjadi seseorang yang tidak aku kenal. Aku menutupi perasaanku, menganggapnya sebagai sebuah rahasia. Tetapi, diriku yang dulu adalah seseorang yang sangat mudah dibaca. Hanya butuh waktu 2 bulan untuknya menyadari perasaan yang aku miliki dan membuatnya kembali membuat sebuah jarak. Jarak yang saat itu aku tahu dengan pasti tidak akan bisa aku hilangkan selama sisa hidupku. Tetapi pada akhirnya jarak yang dibuat oleh Ken, membuatku mencintai orang lain dalam waktu singkat. Jarak yang dia buat, untuk kali pertama dalam hidupku aku bersyukur karenanya.
Aku mencintai Alvin, kali ini bukan karena sebuah kebersamaan yang terus menerus terjalin. Dalam waktu singkat, Alvin membuatku mengerti tentang dunia, mimpi, keinginan, harapan, dan kesedihan. Kakak-kakakku menganggap kisah cintaku dan Alvin hanyalah kisah cinta pertama yang tidak akan pernah berhasil dan tebakan mereka tepat. Cinta yang terjalin dengan cepat, cinta yang tidak sempat dibangun dengan pondasi yang kokoh, dan cinta yang berakhir dengan cepat meninggalkan luka yang begitu pedih dan berlangsung lama.
Disaat semua orang berpikir aku akan melangkah maju, menemukan cinta yang lainnya. Takdir berkata lain. Cinta yang pertama kali hadir dalam hidupku kembali menjadi cinta yang akan menemaniku hingga akhir hidupku. Bagi mereka yang tidak tahu kisah diantara aku dan Ken, hanya akan menganggap pernikahan kami sebagai sebuah keharusan dan bisnis yang sudah terjalin akibat pertemanan kedua orang tua kami. Tetapi, bagi mereka yang tahu bagaimana jalannya kisah kami, mereka sangat menyayangkan keputusan kami untuk bersama. Bagi mereka, keputusan yang kami ambil hanya akan menyakiti satu sama lain. Dan tentunya mereka tidak salah, karena pada akhirnya kami memang menyakiti satu sama lain sebelum kami menemukan perasaan kami.
“Apa?! Kalian kehilangan Tuan Muda?!”
“Aku akan menyusul kalian setelah mengantar Nona Zeta, hubungi pusat untuk tahu letak handphone Tuan Muda,” lanjut Tuan Stephan.
Aku tahu dimana Ken berada. Aku tahu dengan pasti tetapi sekarang aku juga tahu jika dia tidak ingin diganggu. Haruskah aku melangkah atau haruskah aku mundur, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mencintainya kembali adalah pilihan yang bisa aku hindari tetapi aku tetap memilih untuk mencintainya. Aku tetap memilih untuk peduli padanya. Sepertinya aku tidak akan bisa mundur, aku sudah terjebak di dalam pilihan yang aku buat.
“Bisakah Paman mengantarkanku ke taman bermain dimana terakhir kali aku dan Ken kesana?”
Tuan Stephan menutup telepon yang sedari tadi terhubung. Untuk kali pertama aku membuka mulutku pada pengawal setelah 3 tahun lamanya. Mereka tidak seterkejut yang aku bayangkan. Aku rasa mereka sudah sering mendengar suaraku sehingga mereka tidak terlalu terkejut. Terlebih akhir-akhir ini aku sering berbicara dengan orang lain.
“Baik.”
Mobil berbalik arah menuju tempat yang aku inginkan. Saat Ken sudah menemukan tempat yang membuatnya bisa membuang pikiran gundah miliknya, dia akan terus ke tempat itu hingga menemukan tempat lain yang baru. Dia selalu melakukan hal itu bahkan saat kami masih kecil. Kebiasaan yang sudah sangat lama ada di dalam dirinya tetapi kebiasaan itu tetap tidak diketahui oleh orang lain. Kebiasaan itu hanya aku yang tahu.
__ADS_1
Salju turun dengan lebat begitu kami sampai di taman. Kualihkan pandanganku ke taman, aku bisa melihat punggung laki-laki yang sekarang sedang bermain dan mengobrol dengan seorang anak kecil.
“Nona, boleh saya bertanya?” tanya Tuan Stephan sebelum aku membuka pintu mobil.
Tuan Stephan, atau seharusnya aku menyebutkan sebagai Paman Stephan, menatapku seperti seorang ayah yang sedang menatap anaknya. Bagaimanapun, Paman Stephan sudah bersamaku sejak usiaku 7 tahun. Wajar jika dia menganggapku sebagai anaknya.
“Keputusan yang akan Nona ambil, apakah itu akan membuat Nona bahagia?”
Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Pertanyaan yang bahkan tidak pernah ingin aku tanyakan pada diriku sendiri karena aku belum tahu pasti jawabannya tetapi sekarang aku sudah siap untuk menjawab pertanyaan itu. Hanya anggukan yang aku berikan sebagai jawaban. Aku tahu, mulai sekarang aku akan bahagia. Aku akan memulai hidupku kembali.
“Terima kasih, Nona.”
...-----...
“Kamu tidak kedinginan?” tanyaku.
“Bisakah kakak bicara berdua dengannya?” tanyaku sambal menunjuk ke arah Ken.
Sebuah anggukan dengan senyum merekah di bibir diberikan sebagai jawaban. Anak kecil itu mengambil tas miliknya yang dia letakkan di ayunan dan melangkah pergi meninggalkan kami. Kutengokkan wajahku ke arah Ken yang sekarang menempelkan bola salju ke wajahku. Sepertinya dia baik-baik saja, percuma aku khawatir dan menyusulnya.
“Sampai wajahku berantakan, aku akan membunuhmu.”
“Kamu tahu, aku membencimu,” ucapnya sembari menjauhkan bola salju dari wajahku.
__ADS_1
“Apa karena cincin? Aku sama terkejutnya denganmu. Aku tidak tahu jika cincin itu sudah kembali kepada pemiliknya.”
“Kamu menatapnya.”
Sekarang giliran aku yang terdiam mematung. Aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang aku tunjukkan padanya hingga membuat dia tertawa sangat keras. Dia membuang bola salju di tangannya dan meletakkan tangannya ke pipiku.
“Jangan menatapnya seperti tadi. Aku cemburu.”
“Bukan karena cincin?”
“Aku tahu jika cincin itu masih menjadi bagian dalam hidupmu. Aku hanya membenci diriku yang belum bisa menerima hal itu. Aku benar-benar ingin kamu melupakan semua hal tentangnya dan berlari ke arahku seperti saat dulu kamu meminta tolong padaku. Kamu hanya melihat ke arahku dan itu sudah cukup untukku.”
“Aku menatapnya karena dia berbohong,” ucapku akhirnya.
Ken mengangkat tangannya dari pipiku. Dia mengambil hot pack dari tasnya dan meletakkannya di kedua tanganku. Dia juga meniupi tanganku seolah dia tidak merasakan dingin yang aku rasakan. Dia bahkan tidak menanggapi ucapanku. Kukecup kening miliknya yang sedari tadi sejajar dengan mulutku. Untuk kesekian kalinya aku membuat terdiam.
“Aku tidak boleh mencium suamiku?” tanyaku mencoba menghilangkan kecanggungan yang muncul.
“Aku benar-benar membencimu.”
“Aku tahu,” ucapku sembari meletakkan salju di atas kepalanya.
Aku akan bahagia.
__ADS_1
Aku benar-benar akan bahagia dengan keputusan yang aku buat.
...-----...