Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Perjanjian


__ADS_3

“Cepat telepon supirmu,” ucap Arthur begitu mobil memasuki pintu gerbang rumah.


Tidak ada jawaban. Kulihat Ken dari kaca spion depan, dia diam tidak mencoba menjawab perintah Arthur baik melalui mulut ataupun tindakannya. Arthur sudah hampir akan memukul Ken dan begitu melihatku menggelengkan kepala, dia langsung kembali duduk ke posisi awal. Kembali kualihkan pandanganku ke depan dan melihat mobil jemputan Ken sudah ada di halaman depan rumahku.


“Sepertinya Paman sudah tidak ingin melihatku,” ucap Ken membuat William menghentikan mobil tiba-tiba.


“Ada apa?” tanya Arthur.


“Ayahmu masih belum tahu apa yang kamu lakukan?” tanya William.


“…”


“Jawab," perintah Willian dengan tegas.


“Tidak, dia sudah tahu dan karena itu aku ikut kalian.”


Tanpa basa-basi William kembali menancapkan gas, membuatku dan Arthur terkejut. Aku sama sekali tidak paham maksud percakapan William dan Ken, mungkin bukan hanya aku tetapi juga Arthur melihat dari wajahnya yang kebingungan. Begitu William memarkir mobil, dia langsung menarik tubuhku keluar dari mobil dan membawaku ke dalam rumah. Aku mencoba melepas tangan William tetapi dia justru mengeratkan pegangan tangannya dan membuat lenganku sakit. Kutatap Arthur yang sekarang sepertinya sudah paham situasi yang terjadi.


“Sakit, Kak.”


Begitu mendengar ucapanku, William melepaskan eratan tangannya di lenganku. Dia menatap tajam ke arahku dan langsung berjalan keluar ke tempat Ken dan Arthur. Aku berjalan mendekat ke arah jendela untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tepat saat William sampai di depan Ken, dia memberikan tinju ke wajah Ken. Aku hanya bisa menutup mulutku dengan kedua tanganku. Tepat saat William akan mengayunkan tinju keduanya, sebuah telapak tangan sudah menutupi kedua mataku yang membuatku tidak bisa lagi melihat apa yang sedang terjadi.


“Ayah?” panggilku pelan.


“Ayah tidak masalah jika nantinya kamu akan membatalkan perjodohan ini,” ucap ayah sembari memutar tubuhku ke arahnya.


Perlahan ayah menurunkan tangan yang menutupi kedua mataku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sesuatu yang buruk pasti baru saja terjadi dan satu hal yang pasti semua ini berkaitan dengan apa yang telah Ken lakukan. Aku belum bisa memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi. Satu hal yang aku tahu, ayah menginginkanku untuk masuk ke dalam kamarku saat ini. Kulangkahkan kakiku menuju kamarku di lantai dua. Tepat sebelum kuinjakkan kakiku ke anak tangga, aku berlari ke arah ayah dan memeluknya.


“Ayah akan selalu menjadi cinta pertama dalam hidup Zeta,” ucapku sebelum benar-benar meninggalkan ayah.


Aku tidak tahu seberapa besar pengaruh perjodohan antara aku dengan Ken akan memberikan efek baik untuk kedua keluarga dan juga kedua perusahaan. Selama ini, aku hanya tahu bagaimana persahabatan orang tuaku dengan orang tua Ken sangat erat dan aku tidak yakin hanya dengan pembatalan perjodohan akan berakibat pada persabahatan mereka. Di zaman sekarang, perjodohan bukan lagi hal yang lazim dan banyak remaja sepertiku dan Ken yang mencoba mencari cinta sendiri.


...-----...


“Jangan pernah berhubungan lagi dengan Ken!”


“Bisakah mengetuk pintu dahulu sebelum masuk?!” teriakku terkejut.


“Maaf.”


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku.

__ADS_1


Aku tidak mengharapkan pertanyaanku akan dijawab, cukup tahu jika pertanyaanku didengar sudah merupakan hal yang baik ditengah amarah yang buruk ini. Arthur memasuki kamarku dengan hati-hati. Kuhembuskan nafasku pelan dan berjalan ke arah William sembari membawa kotak P3K. Hal yang sampai sekarang membuatku selalu bertanya-tanya, kenapa orang yang memukul juga ikut terluka dibagian tangan yang digunakan untuk memukul? Apakah sebuah karma instan?


Kuambil punggung tangan William dan mengobati luka yang ada di atasnya. Arthur hanya melihat sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding dan membuatku ikut mengamati apakah ada luka di tangannya. Seperti tahu aku sedang mencari luka di tangannya, dia mengangkat lengannya dan menggerak-gerakkannya seolah memberi tahuku jika dia baik-baik saja dan tidak ada luka di tangannya.


“Perjodohan antara kamu dan Ken bukan lagi rahasia dikalangan keluarga elit lainnya. Bahkan aku yakin satu sekolah sudah tahu, mereka hanya menyembunyikannya karena tahu apa akibat jika menyebarkan hal yang belum dikonfirmasi oleh keluarga Allison,” ucap William saat aku akan beranjak dari tempatku duduk.


“Lalu?” tanyaku tidak penasaran karena aku juga sudah tahu hal ini dari sahabat kembarku.


“Paman sudah tahu apa yang Ken lakukan dan menyuruh Ken untuk meminta maaf kepada kita.”


“Aku tidak paham apa hubungan hal itu dengan perjodohan ini.”


“Zeta, ayah dan paman membuat sebuah perjanjian. Perjodohan hanya bisa dibatalkan saat kamu dan Ken sama-sama menyetujuinya, jika hanya salah satu pihak yang ingin membatalkan maka itu tidak sah dan pertunangan bahkan pernikahan tetap dapat dilakukan.”


“Aku tidak pernah tahu tentang perjanjian ini," jawabku tidak peduli.


“Karena ayah dan paman meyakini kalian saling mencintai dan tidak mengira hal seperti ini akan terjadi,” timpal Arthur.


“…”


“Saat kemarin ayah bertanya kepada Ken apakah paman tahu apa yang Ken lakukan, hal itu untuk memastikan bahwa pertunangan kalian bisa dibatalkan di masa depan. Tetapi sekarang, paman sudah tahu apa yang Ken lakukan dan membuat perjanjian dengan Ken. Kedepannya pertunangan kalian tidak akan bisa dibatalkan karena hanya kamu yang mungkin ingin membatalkannya dan Ken dengan perjanjian yang dia buat dengan ayahnya tidak akan pernah membatalkan pertunangan kalian.”


“Tunggu, pasti ada kondisi dimana pertunangan bisa dibatalkan hanya oleh salah satu pihak bukan?” tanya Arthur menyudahi diamnya.


“…”


“Zeta, Keluarga Allison dan Keluarga Parker bukanlah keluarga yang mudah dibatalkan perjanjiannya.”


“Aku akan menuruti keinginan Kakak.”


...-----...


Aku sudah mencoba menanyakan kepada ayah perihal perjanjian yang ayah dan paman buat tetapi jawaban ayah sangat tidak memuaskan. Ayah hanya menjawab agar aku tidak khawatir dan semua akan baik-baik saja. Aku tidak punya pilihan lain selain diam dan mengikuti semua yang ayah dan kakakku minta. Saat ini ibu sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jepang dan aku juga sudah mencoba menghubunginya tetapi sampai saat ini belum ada balasan. William dan Arthur juga tetap menutup rapat mulut mereka setiap kali aku meminta detail perjanjian.


Bukankah akan lebih baik jika aku tahu isi perjanjiannya?


Tok…Tok…


“Siapa?” tanyaku.


“Baaaa!!!”

__ADS_1


Stephanie dan Caroline langsung berlari menuju tempat tidurku. Mereka sudah membuat kamarku menjadi milik mereka hanya dalam waktu 1 detik. Mereka selalu bermain ke rumahku di akhir pekan atau saat mereka sedang ada masalah di rumah. Aku rasa saat ini mereka sengaja bermain ke rumahku karena mereka sempat membawa makanan dan komik kesukaan mereka. Aku mengambil boneka kelinci kesayanganku dari tempat tidur sebelum bonekaku ikut kotor karena semua makanan yang dibawa mereka.


Tunggu, haruskah aku bertanya kepada mereka tentang perjanjian antara keluargaku dan keluarga Ken?


“Steph, Carol,” panggilku pelan.


“Hmmm?” jawab mereka berdua serempak.


“Apa kamu pernah mendengar dimana keluarga kita menyimpan surat-surat penting?”


“Aku tahu untuk keluargaku tetapi aku tidak tahu untuk keluargamu. Kenapa?” jawab Stephanie.


Benar juga, tidak mungkin mereka tahu dimana Keluarga Allison menyimpan surat-surat penting. Jika mereka saja tahu, sudah pasti para musuh Keluarga Allison membobol tempat itu dan mencuri semua surat-surat. Hanya William yang tahu pasti tentang perjanjian ini, sepertinya hanya pewaris keluarga yang tahu dimana letak penyimpanan surat-surat berharga.


“Carol, apa kamu juga tahu?”


“Tentu tidak, apa aku yang akan menjadi pewaris?” jawab Caroline sembari melemparkan cokelat kepadaku.


“Kenapa?” lanjut Caroline.


Hanya gelengan kepala yang aku berikan sebagai jawaban. Mungkin untuk saat ini memang lebih baik aku tidak tahu apapun. Beruntung Stephanie dan Caroline tidak menginterogasiku lebih lanjut. Aku meletakkan boneka kelinci yang sedari tadi aku pegang ke atas meja belajar dan mengambil sebuah novel. Berbeda dengan dua sahabatku, aku lebih menikmati sebuah novel dibandingkan komik. Aku merasa saat membaca novel, imajinasiku tidak dibatasi oleh apapun. Aku bisa berimajinasi semauku dari kalimat-kalimat yang ada di dalam novel. Berbeda dengan komik, dimana sudah terpampang jelas gambar dan setiap kalimat para tokoh. Bagaimanapun setiap orang memiliki kesukaannya masing-masing dan aku tidak boleh menghakiminya.


Aku memutuskan membaca novel milikku di meja belajar sembari sesekali melihat keluar jendela. Daun-daun sudah mulai berguguran, sebentar lagi musim dingin. Musim yang sangat aku benci hingga saat ini karena dinginnya bisa membuat tubuhku membeku. Diakhir musim gugur saja udara sudah cukup dingin bagaimana dengan musim dingin.


“Wahhhhh!!!!” teriak Caroline mengagetkanku.


Aku menghampiri Caroline yang saat ini sibuk menunjukkan informasi di handphone miliknya kepada Stephanie. Melihat ekspresi dua anak kembar ini, aku yakin hal yang mengejutkan baru saja terjadi. Belum sempat aku menanyakan informasi apa yang mereka dapatkan, mereka sudah menatapku dengan tatapan terkejut, bingung, dan tidak percaya.


“Ada gosip baru tentangku?” tanyaku sembari mengambil handphone dari tangan Caroline.


“Apa kamu tahu Zeta?” ucap Caroline sembari mencoba merebut kembali handphone miliknya.


“Apa saat ini Ken menggunakan namaku untuk menyiapkan pesta Natasha?” tanyaku tidak percaya.


Kukembalikan handphone milik Caroline dan bergegas mengambil tas. Aku tidak masalah jika Ken mencampakkanku ataupun membuangku tetapi saat dia menggunakan namaku agar dia selamat dari ayahnya, aku tidak bisa menerimanya. Seseorang yang dulu sangat membenci orang lain yang menggunakan namanya untuk kepentingan mereka justru sekarang dia menggunakan namaku, sungguh perubahan yang menyebalkan.


“Tunggu, Zeta,” teriak Stephanie.


“Kalian mau tetap berada di sini atau ikut denganku?”


“Ah…. tunggu sebentar.”

__ADS_1


Selembar tiket jatuh saat aku membuka laci meja rias untuk mengambil lipbalm. Aku benar-benar melupakan tentang tiket yang Alvin berikan. Semua ini gara-gara perjanjian konyol perjodohanku dan sekarang masalah ini. Argh…..


...-----...


__ADS_2