Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Permintaan Tolong


__ADS_3

"Kedua pamanku berusaha untuk membuatku dan Carlista menjauh dari Keluarga Tindall. Mereka ingin menghilangkan semua jejak yang kami tinggalkan."


"..."


"Zeta, aku tidak pernah menginginkan menjadi bagian dari keluarga itu karena sejak awal keberadaanku di dunia ini, aku bukan bagian dari mereka. Sekuat apapun aku memohon kepada mereka untuk membiarkanku dan adikku hidup, mereka tidak mengabulkannya. Bahkan saat Tuhan yang lebih berkuasa dari mereka saja bisa mengabulkan doaku untuk hidup, mereka tidak mengabulkan permintaanku dan terus mencoba menghilangkan diriku. Aku tidak menginginkan pengakuan ataupun harta apapun dari mereka. Bahkan saat dimana kakekku menutupi kematian kedua orang tuaku, aku hanya bisa membiarkan hal itu terjadi tanpa berusaha melawannya. Aku menerima semua yang mereka katakan tentang kematian kedua orang tuaku tanpa ada satupun penolakan yang aku berikan. Aku menerimanya.”


"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanyaku begitu Natasha berhenti berbicara.


"Bunuh aku sebelum mereka membunuhku."


"Kak Arthur," ucapku saat tahu Arthur berdiri dari tempatnya duduk.


"Zeta, cukup untuk hari ini," balas Arthur dengan raut wajah cemas.


Aku juga ingin berhenti untuk hari ini tetapi aku takut jika aku berhenti sekarang maka aku tidak akan bisa melanjutkannya kembali esok hari. Aku takut tidak akan memiliki kesempatan lainnya. Apa yang Arthur cemaskan saat ini juga sesuatu yang aku cemaskan. Aku masih mengingat saat dimana traumaku dan gangguan panikku kembali muncul, saat itu juga tubuhku sepenuhnya akan diambil alih oleh kondisi mentalku. Aku harus bisa membuat kondisi mentalku tidak menjadi parah atau aku akan mengulangi kejadian 7 tahun lalu saat aku mencoba untuk bunuh diri, sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak sekolah dasar.


Aku menatap sekilas Arthur, seolah memberitahunya jika aku masih sanggup mendengarkan cerita-cerita ini. Aku masih bisa mendengarkan keinginan seseorang bahkan jika keinginannya adalah sebuah kematian. Dan aku bukan lagi Zeta 7 tahun yang lalu. Aku sudah banyak berubah, jika aku masih menjadi Zeta 7 tahun yang lalu, aku pasti sudah masuk ke rumah sakit saat dimana aku tahu Ken menyukai perempuan lain. Aku pasti sudah akan mencoba bunuh diri karena tahu laki-laki yang aku sukai tidak menyukaiku. Entah sejak kapan aku bisa mengendalikan kondisi mentalku sebaik ini.


"Apa yang akan aku dapatkan dengan membunuhmu?" tanyaku membuat Natasha terkejut.


"...."


"Kamu yang memintaku untuk membunuhmu dan sekarang kamu takut?"


"Kunci ini."


Natasha memegang kunci kecil yang dia jadikan sebagai bandul kalung. Dia lalu melepaskan kalung berwarna perak dari lehernya dan langsung memberikannya kepadaku. Terdapat huruf T di tengah kunci berwarna emas ini. Aku rasa huruf T melambangkan Tindall.


"Kedua pamanku mencari kunci itu, kunci yang akan membawa mereka ke tempat dimana semua rahasia Keluarga Tindall berada. Semua dokumen perjanjian, laporan keuangan, emas batangan, dan rahasia kelam lainnya, semua ada di tempat yang terkunci oleh kunci itu. Kunci itu bisa membawamu mendapatkan semua informasi tentang korupsi ataupun kejahatan yang telah dilakukan Keluarga Tindall. Keluarga Allison akan bisa mendapatkan seluruh Perusahaan Tindall dengan kunci itu. Apakah semua itu sepadan dengan keinginanku?"


"Mereka masih menjadi keluargamu, bukankah apa yang kamu berikan kepadaku sama halnya dengan menjual keluargamu?" balasku membuat Natasha tersenyum pahit.


"Apakah ada keluarga yang saling mencoba membunuh satu sama lain? Mereka membunuh kedua orang tuaku, mereka membuatku dan adikku hidup tanpa kedua orang tuaku. Mereka berlindung dibalik orang tua mereka yang juga merupakan kakek dan nenekku. Mereka membuat adikku kehilangan pendengarannya dan membuatnya menderita karena tidak bisa hidup dengan fasilitas yang sebelumnya kami miliki. Mereka membuat adikku dibenci teman-temannya dan membuatnya tidak bisa merasakan masa kecil yang dilindungi kedua orang tuaku. Mereka bisa tidur dengan nyenyak setiap harinya setelah kejahatan yang mereka perbuat. Satu tahun yang lalu mereka menculik Carlista dan membuatnya hampir dilecehkan, anak kecil sepertinya hampir dilecehkan, Zeta. Dan satu bulan yang lalu mereka membuatku meminum racun. Kejahatan apalagi yang akan mereka lakukan? Aku sudah tidak sanggup menerima semua ini. Zeta, kumohon."


"Diantara adikmu dan Felix, siapa yang akan kamu pilih untuk menemanimu?"


"Aku tidak akan memilih adikku. Aku ingin adikku hidup selayaknya anak di usianya, merasakan kasih sayang sebuah keluarga dan hidup dengan semua fasilitas yang dibutuhkannya. Aku tidak ingin adikku menderita dengan hidup bersamaku. Aku ingin dia bahagia dengan sebuah keluarga."


"Apakah kamu bukan keluarganya?"


"Aku tidak bisa membiarkannya hidup bersama dengan kakak yang hampir membunuh seseorang."


"Apa maksudmu?" tanyaku terkejut.


"Zeta, cukup. Hentikan untuk hari ini," ucap Arthur sembari menarik tanganku, membuatku langsung berdiri dari tempatku duduk. Saat tubuhku mulai mengikuti tarikan Arthur, Natasha ikut menarik tangan kiriku, membuatku tidak tahu harus mengikuti siapa.


"Satu minggu yang lalu Sera mengirimkan beberapa orang ke apartemenku dan membuat mereka melecehkanku sehingga Felix akan jijik denganku dan akhirnya meninggalkanku. Aku dilecehkan oleh 2 orang secara bergantian selama 3 jam. Selama 3 jam aku berada di neraka, neraka yang bahkan aku tidak tahu kenapa aku harus masuk ke dalamnya. Aku terus meminta tolong selama 3 jam itu, tetapi tidak ada satupun orang yang datang menolongku. Apartemen kecil itu, apartemen yang setiap harinya bisa aku dengar suara teriakan, suara musik, ataupun suara nyanyian tetanggaku tiba-tiba berubah menjadi apartemen yang tidak bisa mendengar permintaan tolongku. Setelah kejadian itu, setiap kali aku keluar dari apartemen, tetanggaku mencoba melecehkanku dan bahkan mencoba melecehkan Carlista. Hal ini karena Sera menyebarkan berita jika aku seorang pelacur yang akan melayani siapapun. Aku mencoba untuk membunuh diriku tetapi Tuhan tetap membiarkanku hidup di dalam neraka ini. Bahkan sekarang aku merasa diriku sangat menjijikkan dan aku ingin melepas semua yang melekat di tulangku karena aku masih bisa merasakan sentuhan menjijikan kedua orang itu."


"..."

__ADS_1


Sunyi, ruangan ini menjadi sangat sunyi. Hanya suara detak jam dan AC yang terdengar di ruangan besar ini, ruang rawat inap yang bahkan lebih luas dari apartemen tempat Natasha tinggal. Ruangan yang semula aku kira hanya akan menjadi tempat kami berbicara satu dua kalimat berubah menjadi ruangan dimana seseorang menceritakan rahasia yang mungkin ingin dia tutupi seumur hidupnya.


Arthur sudah melepaskan pegangan tangannya saat dimana Natasha mengatakan dirinya telah dilecehkan. Arthur sangat membenci semua kekerasan dan pelecehan yang diterima wanita. Hal itulah yang membuatnya dan William terus melindungiku, perlindungan yang terkesan overprotektif karena mereka tidak ingin kejadian buruk menimpaku. Kejadian yang setiap saat bisa aku terima.


"Dua hari setelah kejadian itu, Sera menemuiku dan memintaku untuk memberitahu Ken bahwa kamulah yang mem-bully-ku sehingga di masa depan Ken tidak akan berulah kepadanya. Aku yang saat itu dipenuhi dengan amarah langsung menusuk perutnya dengan pisau. Aku benar-benar ingin membunuhnya saat itu juga tetapi aku kembali tersadar akan menjadi siapa diriku jika aku benar-benar membunuhnya. Aku bisa lolos karena paman juga tahu apa yang sudah Sera lakukan kepadaku. Aku benar-benar ingin mati, Zeta."


"Apa Felix tahu semua itu?" tanya Arthur, membuatku cukup terkejut melihat perubahan di intonasi bicaranya yang menjadi lebih lembut.


"Dia tahu dan karena itu membuatku semakin tidak ingin berada di dunia ini. Membuatku tidak ingin bersama dengannya sekaligus membuatku ingin bergantung kepadanya karena dia masih menerimaku."


"..."


"Aku akan menjadi tokoh antagonis itu, tokoh yang memang aku ciptakan. Aku akan menceritakan semuanya kepada Ken. Aku meminta maaf untuk semua yang telah aku lakukan kepadamu. Aku tahu aku telah membuat hubungan kalian hancur, aku akan menanggung semua itu. Karena itu aku mohon kepadamu untuk membunuhku, Zeta."


"Aku tidak peduli tentang hal itu, aku atau kamu yang menjadi tokoh antagonis. Aku tidak peduli, karena masing-masing dari kita memang sudah menjadi tokoh antagonis dengan peran yang berbeda. Sembuhkan dirimu dahulu. Aku akan membunuhmu, aku berjanji akan membunuhmu."


"Terima kasih."


Seorang perawat masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kondisi Natasha. Sepertinya perawat yang sekarang berada 3 meter dari tempatku berdiri terkejut melihat keberadaanku dan Arthur di ruangan ini karena perawat itu sempat memundurkan tubuhnya. Bahkan sekarang perawat itu hanya berdiri diam di depan pintu.


"Kak Arthur, ayo kita keluar," ucapku sembari menarik lengan hoodienya dan mulai berjalan pelan.


"Siapa yang melecehkanmu?"


Pertanyaan Arthur membuatku menghentikan langkah kakiku. Wajah Arthur bukan lagi wajah seseorang yang dingin, dia menunjukan sedikit kehangatan dan kelembutan. Aku tidak pernah melihat Arthur yang membuka hatinya kepada orang lain karena cerita kemalangan mereka sebelum ini. Aku rasa cerita tentang pelecehan yang Natasha terima cukup membuat Arthur sedikit marah sehingga akhirnya membuka dirinya. Amarah yang sebenarnya dia takutkan akan dia keluarkan jika suatu saat sesuatu terjadi kepadaku.


“Ernest dan Freddy."


Menyebutkan dua nama yang telah melecehkannya pasti bukan hal yang mudah dan mungkin membuat dia mengingat kembali kenangan yang tidak pernah ingin dia ingat. Kenangan yang juga tidak pernah diinginkannya hadir dalam hidupnya.


Arthur menarik tanganku setelah keheningan selama 1 menit di ruangan ini. Dia meminta perawat untuk memperhatikan setiap luka yang ada di tubuh Natasha dan juga meminta semua dokter spesialis untuk memeriksanya. Perawat itu sedikit terkejut dengan perintah yang tiba-tiba keluar dari mulut anak pemilik rumah sakit ini. Seperti biasa, Arthur mengabaikan wajah terkejut perawat itu dan langsung berjalan keluar ruangan sembari menarik tubuhku mendekatinya.


Felix sudah menyambut kami begitu pintu terbuka. Dia memberikan senyum pahit miliknya, seperti tahu apa yang baru saja Natasha ceritakan kepada kami. Hal seperti itu bukan hanya menyakiti korban tetapi juga orang-orang di sekitar korban. Dia pasti merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dan melindungi seseorang yang sudah membawanya kembali dari ambang keputusasaan. Melihat karakternya, bisa dipastikan dia selalu menyalahkan dirinya sendiri setelah kejadian yang menimpa Natasha dan aku rasa butuh waktu bagi Natasha untuk bisa menceritakan semuanya kepada Felix. Aku tidak tahu seberapa besar rasa sakit yang harus mereka berdua lalui hanya karena saling mencintai satu sama lain. Dan aku juga tidak tahu seberapa besar keberanian yang mereka miliki hingga bisa menjadi sumber kekuatan untuk masing-masing luka yang mereka miliki tanpa mereka sadari seperti saat ini.


"Natasha membuat album ini," ucap Felix sembari memberikan sebuah kotak kepadaku begitu aku duduk di ruang tunggu bangsal VIP.


Aku menerima kotak berukuran sedang itu dan memangkunya. Aku tidak memiliki keinginan ataupun rasa penasaran untuk melihat isi kotak ini. Duniaku saat ini seperti masih belum sepenuhnya kembali, aku masih seperti berada di ruangan bersama dengan Natasha.


"Album itu belum selesai dan aku rasa Natasha juga tidak bisa menyelesaikannya."


"Kenapa?" balasku setelah diriku setengah kembali ke saat ini.


"Hanya kamu yang bisa menyelesaikannya."


"Kenapa kamu tidak menceritakan semua yang dialami Natasha termasuk pelecehan yang dia dapat?" potong Arthur.


"Butuh banyak air mata yang dia teteskan untuk bisa menceritakan kejadian itu kepadaku. Dia juga menjadi berhati-hati denganku. Dia merasa aku sama halnya dengan laki-laki yang telah melecehkannya. Air mata yang dia keluarkan, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja dan menceritakan semua yang telah terjadi pada Natasha kepada kalian. Kejadian itu bukan hanya membuat trauma untuk Natasha tetapi juga untuk diriku yang tidak bisa melindunginya disaat dia membutuhkanku. Trauma yang dia alami sangat besar hingga membuatku tidak bisa mengabaikan setiap air mata yang sudah dia keluarkan hanya untuk memberitahu kalian apa yang sudah dia lalui."


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku setelah Arthur hanya diam tidak menimpali jawaban yang Felix berikan.

__ADS_1


"Menuruti semua keinginannya."


"Bahkan jika dia menginginkan kematian?"


"Aku akan mengikutinya."


"Aku harap kamu memegang ucapanmu,” ucap Arthur dengan serius lalu berjalan meninggalkan kami.


Baru kali ini aku melihat Arthur menunjukan dirinya yang sebenarnya kepada orang lain. Selama ini dia hanya bertindak sebagai kakakku dan juga sebagai anak kedua Keluarga Allison tanpa pernah menunjukkan dirinya yang sebenarnya di depan publik. Saat ini dia seperti seseorang yang sudah pernah berada di posisi Felix. Seseorang yang sudah pernah melihat ataupun mendampingi korban pelecehan. Berulang kali aku mendapati Arthur yang sedang berusaha melawan dirinya, melawan perasaan di masa lalu menguasai dirinya. Aku rasa trauma yang dia alami berkaitan dengan pelecehan, pelecehan yang dialami oleh seseorang yang berharga dalam hidupnya di masa itu, di masa yang mungkin aku dan kedua orang tuaku tidak tahu.


"Saat Natasha mencoba mengatakan yang sebenarnya kepada Ken. Aku mohon kamu juga ikut bersama dengannya. Ken tidak akan menyerang seseorang dengan membabi-buta tetapi Ken juga tidak akan bisa menahan amarahnya. Dia tidak akan menyakiti orang lain, dia justru akan menyakiti dirinya sendiri, menganggap dia tidak layak untuk siapapun. Aku mohon, bantu Ken untuk tidak menyakiti dirinya sendiri."


"Maafkan aku Zeta."


"Pilihan apapun yang kalian pilih, hubungan kami tetap akan berada di fase ini, kalian hanya satu diantara variabel yang Tuhan kirimkan."


Buk!!! Buk!!!


Suara teriakan dan pukulan terdengar. Aku dan Felix langsung berlari ke arah sumber suara dan sudah mendapati Arthur sedang memukuli beberapa orang. Tidak ada yang berusaha melerai perkelahian ini, bahkan para pengawal juga diam tidak mencoba memisahkan Arthur. Aku terus berusaha melihat wajah orang yang sedang dipukuli Arthur tetapi tetap saja aku tidak bisa karena kerumunan ini.


Bagaimana bisa bangsal VIP menjadi ramai seperti ini?


Aku memberikan isyarat kepada Paman Stephan untuk melerai tetapi paman hanya diam memberikan gelengan kepala sebagai jawaban seolah perkelahian ini adalah sesuatu yang seharusnya terjadi.


Bagaimana bisa Arthur yang 5 menit sebelumnya cukup tenang tiba-tiba sekarang sudah memukuli wajah orang lain?


"Bagaimana bisa orang menjijikan seperti kalian ada di dunia ini!!!! Apa melecehkan perempuan menjadi hal yang begitu mengasyikan untuk kalian?!!!!!!" teriak Arthur penuh amarah dengan tangannya terus memukuli orang-orang dihadapannya.


"Sera," panggil Felix lirih dan terkejut.


Aku langsung mendapati wajah Sera yang pucat pasi melihat apa yang sedang terjadi. Siapa sangka Sera juga dirawat di rumah sakit ini. Sekarang aku tahu siapa yang sedang dipukuli oleh Arthur dan alasan kenapa Arthur memukuli mereka.


"Kak Arthur!!!" teriakku membuat pukulan Arthur terhenti.


"Jangan hentikan aku, Zeta. Aku akan membunuh mereka."


"Kenapa membunuh mereka saat mereka belum merasakan penderitaan yang dialami oleh Natasha?" tanyaku membuat kerumuman yang berisi anak-anak Sekolah Elizabeth menelan ludah mereka. Dua laki-laki itu dan Sera pasti sudah saling menceritakan apa yang mereka lakukan kepada Natasha. Sangat menjijikan melihat wajah ketakutan mereka saat dimana mereka menertawakan apa yang dialami Natasha.


"Zeta," panggil Sera lirih.


"Menyuruh Natasha untuk mengatakan kepada Ken jika aku yang mem-bully-nya saat dimana kamu dan adikmu memohon-mohon agar kalian bisa mengaku sendiri kepada Ken. Haruskah aku menunjukan berapa wajah yang kamu miliki?"


"Itu…itu," jawab Sera gagap.


"Kak Arthur, ayo pergi. Jangan menghabiskan tenaga Kakak hanya untuk orang-orang seperti mereka."


Arthur berdiri dari atas perut Freddy, laki-laki yang sekarang wajahnya penuh dengan luka. Sama halnya dengan Ernest, dia juga memiliki luka yang tidak kalah banyaknya dengan Freddy. Beberapa anak yang berada di kerumunan perlahan menjauhkan diri mereka, mencoba tidak terlibat dengan masalah yang sedang terjadi. Tipikal orang yang hanya ingin menyelamatkan diri mereka sendiri.


"Aku akan pastikan kalian menderita," ucap Arthur sembari menarik tubuhku diikuti oleh para pengawal meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2