Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Rasa Sakit


__ADS_3

"Aku mencarimu di pemakaman."


Suara yang tidak ingin aku dengar mengisi tempat dimana aku mencoba mengisolasi diriku. Alvin berhenti tepat 5 langkah dariku. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri tidak menghapus air mata yang jatuh di mataku. Dia sekuat tenaga berusaha mengabaikan rasa sakit terbesar yang sedang aku rasakan.


"Lalu, apa yang membuatmu berpikir aku ada disini?" balasku, membuatnya terkejut. Aku rasa dia mengira aku tidak akan pernah berbicara dengannya lagi terutama setelah aku kehilangan malaikat tanpa sayapku


"Zeta, sekarang aku tidak bisa membaca apa yang ada di pikiranmu," ucapnya diikuti tatapan sendu. Tatapan yang mengisyaratkan jika semuanya telah berakhir.


Sejujurnya aku tahu jika aku akan bertemu dengan Alvin entah hari ini atau lusa tetapi tetap saja aku tidak pernah berharap akan bertemu dengannya saat ini juga, saat dimana aku berusaha menahan semua rasa sakit yang aku rasakan. Aku tidak pernah berharap untuk bertemu dengan anak dari wanita yang membuat ibuku menderita di hari pemakaman ibuku. Aku tidak berharap bertemu dengannya karena begitu aku melihatnya aku takut akan sangat membencinya karena aku sudah sangat membenci kehadirannya di dunia ini.


"Kamu yakin tidak akan menyesal?"

__ADS_1


Aku ingin menutup mulutnya dan meninggalkannya.


"Satu-satunya penyesalanku adalah tidak membencimu," balasku.


"Kamu ingin membenciku?"


"Ya, aku sangat ingin membenci kehadiranmu di dunia ini."


"Kamu bisa membenciku tetapi aku mohon terima kembali cincin ini. Aku tahu perasaan yang aku miliki untukmu adalah kesalahan. Aku tahu itu."


"..."

__ADS_1


"Tetapi aku tidak bisa langsung merubah perasaan yang aku miliki untukmu. Hatiku memang milikku tetapi diantara semua hal yang aku miliki, hanya hatiku yang tidak bisa aku atur dan miliki sepenuhnya. Aku bisa mengatur perilakuku saat ini tetapi jauh di dalam hatiku aku masih sangat mencintaimu, aku mencintaimu bukan sebagai adikku. Aku masih sangat mencintaimu. Aku mencintaimu sebagai seseorang yang aku harapkan untuk hidup bersama denganku selama sisa hidupku. Aku mencintaimu sebagai..."


"Hentikan, aku mohon," potongku.


"Pernahkah kamu juga berpikir jika semua ini menyakitiku? Hanya karena aku laki-laki bukan berarti semua kebenaran ini tidak menyakitiku. Orang tua yang selama ini merawatku, mencintaiku, dan menyayangiku ternyata bukan orang tua kandungku. Adik yang selama ini aku kira sebagai sepupuku ternyata adik kandungku sendiri. Dan yang lebih menyakitkan adalah perempuan yang aku cintai juga adikku. Sama sepertimu, aku juga tidak menginginkan kehadiranku di dunia ini, kehadiran yang hanya membuat sebuah keluarga hancur. Aku membenci kehadiranku karena kehadiranku hanya menyakitimu. Aku juga membencinya. Aku membencinya, Zeta. Aku bahkan tidak bisa meminta kesempatan kedua kepadamu. Aku bahkan tidak bisa memohon kepadamu untuk memberikan kesempatan kedua kepadaku seperti laki-laki lainnya. Aku hanya harus menghilangkan perasaan yang aku miliki untukmu."


"Hentikan. Kumohon."


"Ini akan menjadi kali terakhir aku mengatakannya. Aku mencintaimu, Zeta. Aku sangat mencintaimu."


Alvin memberikan cincin edelweis miliknya kepadaku dan berjalan meninggalkanku dengan air mata yang mulai menghiasi wajahnya.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2