
Sudah 2 pil obat tidur yang aku minum dan aku tetap terjaga. Sekarang pukul 3 dini hari dan pemakaman ibu akan dimulai pukul 8 pagi. Pemakaman yang semula tertutup dan hanya akan dihadiri keluarga, berubah menjadi pemakaman yang bisa dihadiri oleh siapapun, terutama oleh mereka yang ingin menunjukan simpati penuh rasa ingin tahunya. Aku masih belum mengetahui alasan kenapa kakek tiba-tiba merubah acara pemakaman ibu dan tidak ada satupun yang menanyakan alasan itu kepada kakek. Lebih tepatnya tidak ada satupun yang ingin melukai perasaan kakek sekali lagi.
Ting.
'Apa kamu sudah tidur?'
Aku meletakan kembali handphone milikku ke atas tempat tidur tanpa memberikan balasan apapun. Sepertinya akan lebih baik jika aku pergi ke dapur lalu meminum segelas susu hangat untuk membantuku tidur. Aku berjalan menuju pintu lalu membukanya dan sudah mendapati Ken duduk di depan pintu kamarku. Dia terkejut begitu melihatku keluar kamar, melihat bagaimana dia langsung berdiri begitu melihatku. Aku rasa dia sudah lama berada di depan kamarku untuk memastikan jika aku baik-baik saja.
"Aku membangunkanmu?"
Aku menggeleng lalu menutup pintu kamar. Detik berikutnya aku duduk bersandar pada pintu kamar. Ken ikut duduk kembali, berhadap-hadapan denganku. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Botan Rice Candy.
"Kamu tidak menunjukan emosi apapun setelah paman sampai kesini," ucapnya sembari menyuapkan permen di tangannya ke mulutku.
Aku memakan permen dalam diam, tidak mengeluarkan satupun kata. Ken juga tidak mencoba membuka kembali percakapan. Dia lebih memilih ikut diam bersama denganku sembari mengamatiku, memastikan aku tidak sedang merasakan rasa sakit yang begitu besar ataupun sedang merencanakan hal bodoh.
Seseorang menyalakan lampu di ruang keluarga, membuat Ken berpindah duduk ke sampingku. Aku bisa melihatnya karena ruang keluarga berada di lantai bawah dan kamarku berada di lantai dua, aku bisa melihat dengan jelas kondisi di ruang keluarga melalui celah di dinding tempat sebelumnya Ken menyandarkan badannya.
"Apa yang ingin kamu sampaikan Steph?"
Pertanyaan Arthur membuatku berusaha mencari keberadaan Stephanie. Ken dan aku cukup terkejut begitu mendengar nama Stephanie terucap karena kami hanya melihat sosok William dan Arthur.
"Nyonya Sei, atau Tante Sei? Beliau datang ke rumah ini 1 jam setelah aku dan yang lain ke bandara."
"Kamera CCTV mati. Bahkan polisi juga masih mencari kebenaran dibalik kematian ibu. Darimana kamu mengetahui hal ini?" balas William masih dengan nada tenang miliknya.
"Kamera mobil."
"Polisi sudah mengambil semua kamera mobil di rumah ini," gumam William.
"Tidak semua mobil Kak. Mereka melewatkan mobil antik yang diletakan di depan halaman rumah, mobil yang kemarin kita, maksudku Zeta, aku, Carol, dan Ken gunakan saat menonton film."
"...."
"Dan, baik Tante Zelia maupun Nyonya Sei berbicara di dalam mobil itu. Semua pembicaraan, video percakapan, semua terekam."
"Dimana isi kamera itu?" tanya Arthur.
"Disini," balas Stephanie sembari meletakan laptop yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja dan dia langsung menyalakan laptopnya.
__ADS_1
"Aku belum mendengarkan apapun, aku baru melihat sebentar dan menemukan wajah Nyonya Sei. Aku merasa Kakak yang pantas melihatnya. Jika Kakak merasa aku tidak berhak mendengar isi percakapannya, aku bisa pergi sekarang."
"Tidak, tetap disini."
...-----...
"Aku yang mengirimkan surat perceraian itu."
"Bukankah sudah cukup? Berapa lama kamu akan melakukan ini kepada keluargaku?"
"Hingga aku berhasil menyelamatkan anakku."
"Anak? Apa kamu sekarang ingin Alvin menjadi pewaris Allison?"
"Bukan Alvin."
"..."
"Aku melahirkan anak terakhir untuk Allison."
"Apa maksudmu?" suara ibu bergetar dan penuh kebingungan.
"Hamada Sina, anak yang orang-orang kira anak dari suamiku adalah anak Allison."
"..."
"Hentikan."
"Zeta, sumsum tulang belakangnya cocok dengan adiknya. Bisakah kamu membujuknya untuk menjadi pendonor bagi adiknya? Aku rasa Allison tidak akan membiarkan anak perempuan kesayangannya menjadi pendonor kecuali Zeta sendiri yang memintanya."
"Adik?"
"Ayolah Zelia, sama sepertimu yang selalu ingin melindungi anak-anakmu, aku juga ingin melindungi anakku, menyelamat anakku."
"Apa kamu tidak malu melakukan hal menjijikan seperti itu?"
"Apa maksudmu menjijikan?"
"Kamu menjebak Allison hingga kamu akhirnya melahirkan Alvin. Hal yang aneh adalah kamu tidak meminta pertanggung jawaban apapun kepada Allison, seolah kamu ingin memanfaatkan anak yang kamu lahirkan sebagai pengikat agar Allison tidak pergi dari hidupmu. Apakah anak kedua yang kamu lahirkan juga kamu gunakan untuk mengikat Allison? Apakah kamu menggunakan jebakan yang sama hingga akhirnya bisa melahirkan kembali anaknya?"
__ADS_1
"Tidak, kami melakukannya karena saling mencintai."
"Mencintai? Dengan memberikan obat kepadanya?"
"...."
"Aku tahu kalian berdua masih saling mencintai, aku tahu hal itu. Tetapi, setidaknya Allison berusaha membangun keluarga kecil kami, tidak sepertimu yang masih selalu menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Kamu yang melepaskannya saat dia ingin memperjuangkanmu. Berhenti menjadi benalu dalam keluarga kami, kumohon. Haruskah aku berlutut di hadapanmu?"
"Aku hanya menginginkan sumsum tulang belakang milik Zeta."
"Aku tidak akan membiarkan Zeta memberikannya. Aku tidak akan membiarkan darahku mengalir di dalam tubuh anakmu."
"Allison tidak pernah mencintaimu. Dia menikahimu hanya karena kasihan melihat seorang wanita terus-menerus terbaring di rumah sakit karenanya. Dia hanya kasihan padamu."
"Apa dia mengatakannya kepadamu?"
"Ya."
"Kamu berbohong. Allison tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu terlebih kepadamu."
"Kamu terlalu percaya diri, Zelia. Kapan kamu akan menerima kenyataan jika Allison tidak pernah mencintaimu dan tidak akan pernah mencintaimu?"
"Haruskah aku mempercayai ucapan seseorang yang bahkan Taylor coba singkirkan?"
"...."
"Aku tahu banyak hal, Sei. Aku hanya berpura-pura tidak tahu. Baik aku ataupun kamu, tidak ada yang mendapatkan cinta dari Taylor. Hentikan semua ini."
"Jika kamu terus seperti ini, aku akan menghancurkan keluargamu berkeping-keping, Zelia."
"...."
"Apa kamu tersenyum?"
"Sei, keluargaku sudah hancur berkeping-keping."
...-----...
Hening. Hening. Hening. Tidak ada satupun yang mengeluarkan suara begitu rekaman berhenti.
__ADS_1
Aku menyandarkan kepalaku ke bahu Ken lalu memejamkan kedua mataku. Sekarang aku bisa tidur.
...-----...