
Bunyi alunan piano membangunkanku. Aku langsung mengambil jam di meja samping tempat tidurku yang menunjukan angka 03:05 am. Alunan piano yang kencang semakin terdengar, membuatku mencoba menyadarkan diriku agar tidak kembali tidur. Setelah yakin kesadaranku sudah sepenuhnya kembali, aku berjalan keluar dari kamar menuju sumber suara. Mendengar dari permainan yang dimainkan, sepertinya ibu yang sedang memainkan piano terlebih Moonlight Sonata yang sedang mengisi rumah ini.
Tepat saat aku membuka pintu kamarku, kedua kakakku juga membuka pintu kamar mereka dan membuat kami bertiga saling bertukar pandang. Aku melangkahkan kakiku keluar kamar, sedangkan kedua kakakku memutuskan untuk tetap berada di dalam kamar mereka. Aku rasa mereka tahu jika ibu sedang memikirkan suatu hal hingga akhirnya memutuskan untuk bermain piano di pagi buta dan tentunya kehadiran mereka tidak akan membuat ibu bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya. Ibu memang lebih sering mengungkapkan isi hatinya kepadaku dibandingkan kepada kedua kakakku.
Perlahan aku mulai menuruni tangga menuju lantai pertama. Aku sempat melihat ke luar rumah selama beberapa detik dan melihat beberapa lampu kamar pelayan yang menyala. Tidak mungkin suara alunan piano sekeras ini tidak membangunkan mereka. Aku rasa ibu tidak memainkan piano yang berada di ruang musik tetapi piano yang berada di ruang keluarga karena jika ibu memainkan piano yang berada di ruang musik maka tidak akan ada suara apapun yang terdengar. Aku langsung mendapati ibu yang sedang membabi buta memainkan piano di hadapannya, memainkan sonata kesukaannya dan juga sonata yang paling aku benci. Aku memutuskan untuk tetap diam bersandar di salah satu pilar hingga permainan ibu selesai, aku tidak ingin mengganggu ibu yang sedang meluapkan emosinya.
Hanya ada satu hal yang aneh, kemana ayah disaat alunan piano ini bisa membangunkan para pelayan yang berada di luar rumah sedangkan ayah berada di dalam rumah?
Tangan lembut ibu berhenti memainkan piano, padahal sonata yang ibu mainkan belum selesai. Beliau tiba-tiba membanting tutup piano di hadapannya dengan cukup keras dan menangkupkan kedua tangannya sembari mendongakkan kepalanya ke atas, seperti seseorang yang sedang berdoa. Alih-alih berdoa, aku lebih menganggap ibu sedang marah kepada Tuhan karena tatapan yang ibu berikan adalah tatapan penuh amarah. Ini kali pertama aku melihat tatapan ibu yang penuh dengan amarah. Sesuatu yang benar-benar buruk pasti sudah terjadi.
Aku kehilangan momentum untuk mendekati ibu.
"Apa Ibu membangunkanmu?" tanya ibu begitu mendapatiku berdiri di pilar samping piano sembari menunjukkan senyum canggung.
"Zeta rasa Ibu membangunkan hampir seluruh orang di rumah ini," balasku dengan canggung dan cukup ragu.
"Benarkah?"
"Apakah ayah tidak terbangun?" tanyaku sembari mengangguk.
"Ayahmu masih sibuk dengan proses akuisisi perusahaan..."
"Ibu sudah tahu semua?" potongku.
"Tentu, bahkan saat Zeta tidak menceritakan apapun, Ibu tetap akan tahu."
Ibu berjalan mendekatiku dan menarik tubuhku duduk di sofa. Beliau menyalakan lampu, membuatku bisa dengan jelas melihat air matanya yang belum sepenuhnya terhapus di pipinya. Ibu memang baru kembali dari Wales kemarin malam. Baik aku maupun kedua kakakku tidak menyambut kedatangan beliau karena kami bertiga sudah tidur lelap dan siapa sangka ibu justru memberikan sambuatan kepada kami di pagi buta.
Aku mengambil tissue di depanku dan memberikannya kepada ibu, membuat ibu sedikit tertegun sebelum akhirnya mengusapkan tissue ke pipinya, membuat tidak ada lagi air mata di wajahnya.
"Apa sesuatu terjadi?" tanyaku setelah memastikan ibu sudah baik-baik saja.
"Menurut Zeta apa alasan Ibu sangat menyukai Moonlight Sonata?"
"Karena Moonlight Sonata mencontohkan salah satu cara melampiaskan perasaan sedih akibat kehilangan cinta dengan cara yang elegan. Ibu pernah memberi tahu Zeta hal ini."
__ADS_1
"Karena Ibu mengalami cinta segitiga itu.
"Apa maksud Ibu?" tanyaku tidak mengerti dengan jawaban berbeda yang ibu berikan.
"Ayah, Ibu, dan satu orang wanita terjebak dalam cinta segitiga. Jika Beethoven tidak berhasil mendapatkan cinta wanita yang dia cintai, Ibu berhasil mendapatkan laki-laki yang Ibu cintai. Berbeda dengan Beethoven yang sudah tahu dari awal jika dia tidak akan pernah mendapatkan cintanya, Ibu justru terlambat menyadarinya dan baru menyadarinya sekarang jika Ibu juga tidak akan pernah mendapatkan cinta ayahmu."
"Apa yang sedang coba Ibu katakan? Ayah sangat mencintai Ibu, bahkan banyak orang yang iri de…"
"Alvin, Ryuzaki Nakamoto, dia adalah anak kandung ayahmu yang lahir 2 bulan sebelum William," potong ibu menciptakan keheningan.
"..."
"Ayahmu menginginkan hubunganmu dengan Ken berakhir dan juga tidak menginginkan hubunganmu berlanjut dengan Alvin karena kalian berdua sedarah."
"Katakan pada Zeta jika Ibu saat ini sedang berbohong."
Ibu melangkahkan kakinya meninggalkanku, menuju kamarnya. Aku mengepalkan kedua tanganku, mencoba untuk tetap tenang. Tidak mungkin laki-laki yang mengisi hatiku saat ini, laki-laki yang mengajariku arti sebuah mimpi, laki-laki yang mengajariku bahwa tidak selamanya menunggu adalah sebuah bentuk cinta, laki-laki yang membuatku mengetahui isi hatiku, tidak mungkin dia kakak kandungku. Dan tidak mungkin ayah berselingkuh di belakang ibu.
Tidak mungkin Tuhan menciptakan takdir sekejam ini, bukan?
"Wanita itu adalah ibu kandung Alvin. Wanita yang kita temui saat itu adalah saudara kembarnya. Alvin diangkat menjadi anak tantenya karena hingga saat ini tantenya tidak memiliki seorang anak dan Keluarga Nakamoto membutuhkan penerusnya.”
"..."
"Zeta?" panggil ibu pelan setelah melihatku hanya diam tidak mengatakan apapun.
"Semua ini bohong bukan?"
"Ibu bertemu dengan wanita itu, wanita yang selalu mengisi hati ayahmu bahkan saat ayah bersama dengan kita. Dia memberikan hasil tes DNA kepada ibu. Dan apa kamu tahu hal yang paling menyakitkan, Sayang?”
"Bisakah Zeta mendengarkan kalimat berikutnya tidak sekarang?" tanyaku sembari berdiri dari tempatku duduk.
"Ibu Ken, Tante Lily, dia meninggal karena memergoki ayahmu dan ayah Ken berselingkuh. Tante Lily mencoba memberitahu Ibu apa yang terjadi tetapi kecelakaan yang merenggut nyawanya justru terjadi hanya selang 1 jam setelah dia memergoki semua foto ayahmu dan suaminya sedang berselingkuh. Kecelakaan itu diatur oleh ayahmu dan juga oleh ayah Ken."
Ucapan ibu membuatku berdiri diam tidak melanjutkan langkah kakiku meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa ayah melakukan semua itu?
Bagaimana bisa seorang ayah yang selalu mengatakan mencintaiku tiba-tiba berubah menjadi seorang ayah yang tidak aku kenali?
Aku tidak peduli jika ayah berselingkuh, tetapi bagaimana bisa ayah membunuh seseorang?
Bagaimana bisa ayah membunuh seorang ibu bagi seorang anak kecil yang saat itu baru berusia 7 tahun?
Bagaimana bisa ayah membuat Ken kehilangan ibunya?
Aku...
Aku...
Aku benar-benar kemalangan yang Tuhan kirimkan untuk Ken.
"Apa yang harus Zeta lakukan?" tanyaku sembari menangis.
"Apa yang harus Zeta lakukan?" tanyaku sekali lagi membuat ibu datang memelukku dengan sangat erat.
"Ibu akan melindungimu. Ibu berjanji akan melindungimu."
"Tidak ada yang bisa melindungi Zeta saat ini. Bahkan Ibu sekalipun. Sangat menyakitkan semua ini untuk Zeta," ucapku sambil menangis di pelukan ibu.
"Maafkan Ibu."
__ADS_1
...-----...