Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Trauma Arthur


__ADS_3

"Bagaimana bisa tante ikut dengan kita, Zeta?" bisik Caroline.


"Ibu tahu tentang Kak Arthur dan adik Bu Jasmine."


"Hah? Bagaimana bisa?"


"Carol, apakah ingin menambah puding?" tanya ibu dengan senyuman ramah miliknya.


"Tentu, Tante. Semua yang Tante buat sangat lezat," balas Caroline sembari berlari ke arah ibu yang berada di depan kami.


Aku mengamati wajah ibu yang lagi-lagi menunjukan senyum miliknya dengan tulus. Aku tidak tahu apakah ibu benar-benar tahu tentang semua ini daridulu atau tidak. Aku tidak tahu lagi mana kebenaran dan kebohongan yang sudah kami sekeluarga ucapkan. Sangat menyedihkan saat semua kebenaran tiba-tiba diragukan menjadi sebuah kebohongan hanya karena satu kesalahan.


Kemarin, setelah Stephanie selesai memberikan informasi tentang Bu Jasmine, tiba-tiba ibu memanggilku dan tanpa perlu aku tanya ibu menceritakan semua tentang penyebab trauma Arthur. Apa yang ibu ceritakan sama dengan informasi yang Paman Stephan dan Stephanie berikan, tidak ada kekurangan dan tidak ada kelebihan, seolah ibu memang sudah tahu semua itu dari lama dan menunggu saat dimana aku atau William mencari tahu lebih dalam. Aku rasa William tidak akan pernah mencari tahu tentang masalah ini karena dia juga bagian dari trauma milik Arthur.


"Kamu yakin semua akan baik-baik saja? Kita mengunjungi seseorang yang bahkan bisa menolak kunjungan kita," ucap Stephanie begitu kami keluar dari mobil.


"Bu Jasmine memberikan alamat ini kepadaku, bukankah itu bisa dianggap sebagai sebuah undangan?"


"Hanya kamu," balas Stephanie sembari menghentikan langkah kakinya, membuatku langsung menoleh ke arahnya.


"Hidupku tidak pernah menjadi milikku, Steph,” timpalku begitu menyadari adanya perubahan pada raut wajahnya.


"Aku akan mengajak Carol pergi begitu kita sampai di pintu tempatnya dirawat."


Aku hanya mengangguk dan kembali melanjutkan langkah kami menuju ruangan tempat adik Bu Jasmine dirawat. Langkah kaki kami terhenti begitu melihat Bu Jasmine sudah berada di depan pintu, seolah beliau tahu akan kedatangan kami. Beliau langsung menyambut ibu begitu melihat wajahku. Aku tidak tahu apakah yang diinginkan olehnya memang Arthur atau justru diriku.


"Akhirnya kamu datang, Zeta."


"Maaf sudah membuat Ibu menunggu."


"Silakan, masuk."


Bu Jasmine membuka pintu ruangan dimana adiknya dirawat, menunjukan seorang perempuan dengan rambut hitam panjang sedang berdiri di depan jendela sembari tangannya menari-nari di udara mencari sebuah kebebasan. Ruangan perawatan ini penuh dengan lukisan-lukisan. Para kolektor pasti akan tertarik dengan lukisan abstrak penuh luka yang terpasang di setiap sudut ruangan ini.


"Bolehkah saya berbincang sebentar dengan anak Anda?" tanya Bu Jasmine begitu kaki kananku menginjak ruangan.


"Tentu," balas ibu, kembali dengan sebuah senyum tulus.


"Steph dan Carol bisa tetap bersama dengan saya, bukan?" lanjut ibu setelah menyadari kedua sahabatku hanya berdiri di luar ruangan.


"Tentu. Saya juga berharap Steph dan Carol bisa menjadi teman adik saya,” balas Bu Jasmine, membuat ibu dan kedua sahabatku langsung masuk ke dalam ruangan.


Bu Jasmine langsung mengajakku pergi lewat tatapan matanya. Aku hanya mengikuti beliau berjalan ke ujung bangunan yang hanya berjarak 5 meter dari ruangan tempat adik beliau di rawat. Beliau memasukan beberapa koin ke mesin penjual minuman. Aku rasa alasan beliau memilih tempat ini karena mesin penjual minumannya.


"Apa kamu mau?"

__ADS_1


Aku menggeleng dan langsung duduk di kursi samping mesin penjual minuman.


"Banyak orang yang mencari keberadaan Olivia," ucapnya sembari membuka kaleng soda di tangannya.


"Dan Ibu mengira yang mencarinya Keluarga Allison?" balasku.


"Akan lebih baik jika keluargamu yang mencarinya. Hingga saat ini Ibu tidak tahu siapa yang mencari Olivia."


"Kak Arthur, apa yang Ibu inginkan darinya?" tanyaku ingin menyudahi basa-basi ini.


"Olivia selalu membenci Ibu karena kedua orang tua kami selalu membandingkan kami berdua. Jarak usia kami cukup jauh dan tetap kedua orang tua kami membandingkan kami berdua seolah kami lahir di tahun yang sama. Olivia selalu mengganggap remeh dirinya dan tidak ingin menunjukan siapa dirinya karena dia takut orang-orang akan mengetahui siapa kakaknya. Dia tidak ingin dibanding-bandingkan lagi dengan kakaknya. Apa yang kamu tahu tentang Olivia, Zeta?"


"Zeta tidak mengetahui apapun tentangnya."


Bu Jasmine tertawa kecil begitu mendengar jawabanku. Beliau menghembuskan nafas sebelum menenggak seluruh isi soda dan memainkan kalengnya menciptakan sebuah nada. Aku berdiri lalu masukkan koin ke dalam mesin penjual minuman dan memberikan sekaleng soda kepadanya. Beliau mengambilnya dan membuang kaleng kosong di tangannya.


"Dia bertemu seseorang yang membuatnya percaya dengan kemampuan seninya. Perlahan, Olivia mulai melangkah keluar dari ruangan yang dia kunci dan berjalan bebas menuju muse-nya. Dan muse Olivia adalah Arthur, cinta pertama dan terakhirnya."


"Olivia juga cinta pertama dan terakhir Kak Arthur hingga saat ini."


"Cinta yang menyakitkan."


"Apa maksud Ibu?"


"Seseorang menyamar menjadi Arthur, seseorang mengirimkan surat atas nama Arthur. Olivia mempercayai begitu saja surat yang diterimanya hanya karena nama ‘Arthur’ tertulis. Ibu akui jika Olivia bodoh karena tidak mengecek kebenaran dari surat yang diterimanya padahal dia memiliki banyak kesempatan untuk menanyakan perihal surat itu secara langsung kepada Arthur. Olivia pergi menuju tempat yang dituliskan di dalam salah satu surat yang diterimanya, dia tidak tahu jika dia sedang menuju tempat dimana impian dan hidupnya akan hilang untuk kedua kalinya."


"Ibu menghubungi Arthur setelah 1 jam tidak mendapatkan kabar dari Olivia. Arthur langsung pergi menuju tempat dimana Olivia berada bersama dengan William. Berbeda dengan William yang lebih memilih menunggu pengawal mereka datang, Arthur langsung menerobos masuk ke dalam gudang kecil di belakang sekolahnya dan melihat kondisi mengerikan Olivia. Tidak hanya satu orang, tetapi sepuluh orang mencoba menyentuh Olivia dan begitu mereka melihat Arthur mereka semakin menjadi-jadi untuk menyentuh Olivia. Kesepuluh orang itu adalah orang yang memusuhi Keluarga Allison. Mereka memusuhi Keluarga Allison tetapi mereka menyakiti orang lain hanya untuk membuat salah satu anggota Keluarga Allison menderita. Mereka memanfaatkan orang lain untuk menyakiti yang lainnya. Mereka memukuli Arthur yang mencoba menolong Olivia dan mereka membuat Arthur tidak berdaya sembari menyaksikan Olivia yang terus menangis meminta pertolongan, pertolongan yang keluar tidak hanya dari mulutnya tetapi juga dari matanya."


"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanyaku setelah Bu Jasmine berhenti bercerita selama satu menit.


"William berhasil masuk ke dalam gudang bersama dengan pengawalnya. Para pengawal langsung menolong Arthur dan Olivia tetapi mereka tidak bisa menolong amarah Arthur yang sudah membabi buta. Arthur mengambil pistol yang dibawa para pengawal dan menembaki kesepuluh orang itu, dua diantaranya meninggal. William yang mengaku menembak kesepuluh orang itu karena dia tahu jika Arthur yang mengaku maka ayah kalian tidak akan menolong Arthur."


Sekarang semuanya masuk akal, alasan dimana para pengawal tidak lagi membawa pistol dan alasan dimana kasus ini sangat tertutup. Tentu ayah dan ibu tahu tentang semua ini, mereka hanya tidak tahu lebih lanjut mengenai alasan dibalik penembakan yang terjadi. Arthur menutup rapat mulutnya dan hanya mengatakan kesepuluh orang itu membawanya ke gudang lalu memukulinya. William yang melihat bagaimana Arthur berusaha menutupi alasan dibalik penembakan itu, tentu akan menghormati dan melakukan apa yang Arthur lakukan.


Sekarang yang menjadi pertanyaanku adalah dimana kedelapan orang yang masih hidup itu berada?


"Kejadian itu membuat Olivia memiliki trauma terhadap laki-laki termasuk Arthur. Dia mengatakan sangat membenci dan menyesal telah mengenal Arthur. Sejak saat itu Arthur tidak pernah menunjukan wajahnya di hadapan Olivia. Dan sekarang setelah perlahan Olivia bisa menerima kejadian itu, dia sangat ingin bertemu dengan Arthur. Ibu mencoba meminta Arthur untuk menemuinya tetapi Arthur selalu menolak dan memberi alamat ini kepadamu adalah satu-satunya jalan yang terpikirkan oleh Ibu."


"Boleh Zeta bertanya?"


"Kemana perginya delapan orang itu?" balas Bu Jasmine seperti baru saja membaca pikiranku.


Aku mengangguk.


"Hanya William yang tahu dan mungkin ayah kalian."

__ADS_1


“Boleh Zeta kembali bertanya?”


“Tentu.”


“Apa yang akan Ibu lakukan jika Kak Arthur tidak ingin kembali baik kembali menjadi dirinya yang dulu ataupun kembali ke dalam hidup Kak Olivia?”


“Ibu tidak akan melakukan apapun, Olivia yang akan membuat Arthur kembali kepadanya," jawabnya dengan yakin, keyakinan yang bahkan aku sebagai adiknya tidak bisa miliki.


Ting.


'Waktu kunjungan sudah berakhir, dimana kamu?'


"Waktu kunjungan sudah berakhir?" tanya Bu Jasmine begitu aku menutup handphone.


"Ya dan terima kasih karena membuat Zeta tidak bisa menemui adik Ibu."


"Sama-sama," balasnya sembari memberikan senyum bercanda miliknya.


Aku dan Bu Jasmine berjalan menuju lobi, tempat dimana ibu dan kedua sahabatku saat sedang menungguku. Bu Jasmine sempat mengintip ke dalam ruangan Olivia sembari memberikan senyum, sepertinya Olivia melihat beliau. Tepat saat kami sampai di lobi, kedua tangan Stephanie dan Caroline sudah diisi dengan kanvas berisi lukisan, lukisan yang tidak menunjukan kesedihan apapun.


"Apa Olivia memberikan lukisan itu?" tanya Bu Jasmine sembari mengusap lembut kanvas lukisan itu.


"Iya, Ibu."


Aku tidak akan bisa mengikuti pembicaraan ketiga orang itu, lebih baik aku menghampiri ibu yang sedang berbincang dengan salah satu manajer di tempat ini. Ibu mengeluarkan kartu namanya dan selembar cek, sesuatu yang tidak akan ibu lakukan dengan tangannya sendiri jika bukan karena suatu hal penting telah terjadi. Aku mengamati wajah ibu dan tidak menemukan apapun selain senyum ramah dan tanpa beban miliknya. Apakah itu benar-benar senyum milik ibu atau senyum itu hanya sebuah kepura-puraan?


Sebelum kami pergi, ibu sempat berbincang selama 1 menit dengan Bu Jasmine. Aku yakin ibu mengatakan sesuatu yang akan memberikan dampak besar, melihat dari bagaimana Bu Jasmine bereaksi setelah mendengar apa yang ibu ucapkan. Aku hanya berharap, apa yang ibu ucapkan tidak akan menyakiti siapapun.


"Olivia gadis yang cantik dan manis. Ibu ingin dia menjadi menantu Ibu," ucap ibu begitu kami masuk ke dalam mobil, membuat Caroline tersedak.


"Bagaimana pendapat kalian tentang Olivia?" tanya ibu sembari menoleh ke arah Stephanie dan Caroline.


"Gadis yang cantik dan manis," balas Caroline.


"Itu yang baru saja Tante ucapkan."


"Hehehe."


"Apa Ibu tidak masalah memiliki menantu yang pernah dilecehkan oleh sepuluh pria?" tanyaku membuat Stephanie langsung menginjak kakiku dan membuat Caroline menjatuhkan snack di tangannya.


"Apa itu salahnya? Sepuluh laki-laki itu yang salah karena telah merusak seorang gadis. Zeta, jangan pernah menanyakan pertanyaan seperti ini lagi saat kamu juga tahu itu bukan salahnya," balas ibu sembari memberi perintah kepada supir untuk segera melajukan mobil.


"Olivia menceritakan semua yang terjadi kepadanya. Dia sudah berdamai dengan masa lalunya," ucap Stephanie sebelum akhirnya ikut bergabung dengan obrolan ibu dan Caroline.


Berdamai dengan masa lalu...

__ADS_1


Apakah seseorang yang sudah berdamai dengan masa lalunya akan mengumumkan hal itu kepada orang yang baru pertama kali ditemuinya?


...-----...


__ADS_2