Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : 2 Langkah


__ADS_3

Luka yang ada di wajah Ken dan Arthur disebabkan olehku. Ken ingin menemuiku, tentu saja Arthur tidak akan memberikan izin dengan mudah kepadanya. Hal itu yang membuat Ken akhirnya menantang Arthur, sejujurnya aku lega Ken hanya meminta sebuah pertandingan biasa bukan di black room. Jika melihat dari luka yang ada di wajah mereka, semua yang melihatnya pasti akan mengira Arthur yang menjadi pemenangnya tetapi siapa sangka orang dengan luka paling banyaklah yang menjadi pemenang.


Ken memberitahuku jika dia bisa menjatuhkan Arthur satu kali maka dia menjadi pemenangnya. Aku rasa perlahan Arthur sudah tidak sekeras dulu karena jika dia masih Arthur yang dulu, dia baru akan mengakui Ken sebagai pemenang setelah berhasil mengalahkannya, sesuatu yang sangat mustahil bagi Ken untuk bisa mengalahkan Arthur.


"Maafkan aku."


"Berapa kali kamu akan meminta maaf?" balasku sembari berdiri dari tempatku duduk sebelum akhirnya tanganku ditahan oleh Ken.


"Aku tahu siapa yang membunuh ibuku. Buku diary milik ibuku, aku sudah membaca semuanya. Aku melanggar janji yang kita buat."


Aku terdiam, tidak berani membalas ucapannya ataupun melihat wajahnya. Aku tahu cepat atau lambat kebenaran akan terungkap, entah dengan jalan yang baik ataupun dengan jalan yang buruk. Sekarang aku tahu dengan pasti alasan kenapa Ken tidak bisa membalas perasaanku kepadanya. Aku juga menjadi tahu dengan pasti semua alasan dibalik perilakunya yang kasar kepadaku.


Bagaimana bisa seseorang berlaku baik kepada anak dari pembunuh ibunya?


"Seharusnya yang aku benci adalah ayahmu dan bukannya dirimu. Bahkan sepertinya rasa benci yang aku berikan kepadamu lebih besar dibandingkan rasa benci yang aku berikan kepada ayahku sendiri saat dimana kamu tidak tahu apapun. Maafkan aku."


Aku melepaskan tangan Ken dengan paksa dan berjalan menjauhinya 5 langkah. Kuputar tubuhku menghadap ke arah Ken setelah hanya diam mengamati langit. Aku tidak bisa membaca ekspresi wajah Ken saat ini karena luka di wajahnya mulai membengkak, membuat wajah tampan miliknya untuk sekian kalinya tertutupi.


"Maafkan aku, seharusnya aku memberitahumu jika aku juga sudah tahu jika ayahku ikut membunuh ibumu," ucapku akhirnya memecah hening.

__ADS_1


Balasanku membuat Ken terkejut karena aku tahu kebenaran dibalik kematian ibunya. Dia memberikan tatapan tidak percaya dengan mulut yang berulang kali mencoba mengularkan sepatah dua patah kata. Aku memberikan senyuman pahit sebelum menatap kembali langit yang mulai berubah menjadi kelabu. Bahkan langitpun ikut meramaikan rasa sakit yang akan keluargaku rasakan.


"Apa maksudmu?" tanya Ken.


"Di hari peringatan kematian tante, aku tidak sengaja membaca buku diary terakhir miliknya dimana tante menyebutkan tentang perselingkuhan paman dan semua hal berbau firasat akan kematiannya. Dan dua minggu yang lalu, saat dimana kamu tahu kebenaran tentang ayahku, aku sudah tahu hal itu sebelumnya dari ibuku. Ibuku bukan hanya memberitahuku tentang perselingkuhan ayah tetapi juga kebenaran dibalik kematian tante. Aku tidak bisa mengatakannya kepadamu karena takut," ucapku terhenti.


Ken menatapku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu begitu ucapanku terhenti.


"Aku takut kamu akan membenci ayahmu sekali lagi dan membuatmu menganggap semua kasih sayang ayahmu adalah kepalsuan."


Ken berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan mendekat ke arahku.


"Ayo pertahankan jarak ini. Jangan mendekat lebih dari ini," lanjutku membuat Ken mengepalkan tangannya dan tersenyum kecil.


Kami berdiam diri untuk waktu yang cukup lama hingga akhirnya Arthur menelepon Ken dan menyuruh kami untuk duduk. Ken menghembuskan nafasnya dengan pelan begitu mendengar perintah dari Arthur. Dia mencoba memegang tanganku tetapi tangannya justru mengambang di udara yang langsung dia kepalkan lalu dia berjalan menuju bangku tempat dimana sebelumnya kami duduk.


Ken menatapku sembari tangannya menyuruhku untuk ikut duduk dengannya. Aku menatap sekilas ke lantai 2, tempat dimana Arthur sedang mengawasiku dan bertukar pandang dengannya selama beberapa saat sebelum akhirnya aku ikut duduk bersama dengan Ken.


Kami kembali terdiam untuk waktu yang lama. Tidak ada satupun dari kami yang ingin membuka percakapan. Masing-masing dari kami tenggelam dalam pikiran kami.

__ADS_1


"Apa kamu tahu Zeta?" tanya Ken sembari menjongkokkan tubuhnya di bawah tubuhku, membuatku bisa melihat dengan jelas wajahnya.


"..."


"Wanita simpanan ayahku adalah wanita yang merawatku selama ini. Tante Anastasia, dia adalah wanita simpanan ayahku dan wanita yang membuat ibuku kehilangan nyawanya. Tetapi apa kamu tahu apa yang lebih menyakitkan, Zeta?"


"..."


"Aku menyayangi wanita itu sama seperti aku menyayangi ibuku."


"..."


"Apa yang harus aku lakukan jika ibuku menanyakan kepadaku kenapa aku begitu menyayangi wanita yang menjadi alasan dibalik kematiannya?"


Air mata menetes dari kedua mata Ken. Tanpa kusadari kedua tanganku sudah meraih wajahnya dan menyapu air mata yang membasahi pipinya. Kami berpandangan untuk waktu yang lama, membuatku tahu apa yang dia inginkan dariku. Aku menutup kedua matanya dengan telapak tangan kananku. Aku bisa merasakan kedua matanya yang perlahan menutup dan air mata yang terus jatuh. Aku selalu melakukan hal ini setiap kali Ken menangis saat kami masih kecil. Ken tidak pernah menyukai saat orang lain tahu jika dia sedang menangis dan selalu ingin menyembunyikan air mata miliknya. Saat dimana dia tidak ingin air matanya diketahui orang lain, dia juga ingin ada orang yang mengusap dan menghapus air matanya. Hanya dengan menutup kedua matanya dengan tanganku, dia merasa seseorang sedang mengusap dan menghapus air matanya serta menutupi fakta dimana air mata menetes dari matanya.


Sebenarnya seberapa banyak kenangan yang sudah kami hancurkan?


...-----...

__ADS_1


__ADS_2