
"Zeta!!"
"Seseorang memanggil namamu," ucap Stephanie pelan.
Aku mencoba mencari sumber suara ditengah kebisingan di lapangan basket. Seseorang sudah menjulurkan kepalanya bahkan sebelum aku mengenali suara siapa itu. Ingin rasanya aku memukul-mukul kepala manusia di hadapanku ini.
"Ada apa Kak?" tanyaku begitu melihat William mencoba naik ke tempatku duduk.
"Kamu boleh pulang dulu. Sepertinya latih tanding kali ini akan selesai lebih lambat dan sekarang supir sudah menunggumu."
"...."
"Alvin tidak bermain hari ini. Kamu bisa pulang."
Kekuatan bersama selama 18 tahun sangat menakutkan. Hanya melihat mataku bergerak ke arah tempat para pemain bisa membuat William mengatakan jawaban dari pertanyaan yang tidak bisa aku ucapkan. Aku hanya menganggukkan kepala dan langsung mengambil tasku. Stephanie dan Caroline tidak ikut pulang denganku karena mereka memiliki agenda lainnya.
Agenda mereka adalah menemani tunangan mereka. Berbeda denganku yang sampai saat ini terus menunda pertunangan bahkan hingga akhirnya muncul pembatalan pertunangan, mereka berdua sudah bertunangan dan kedua belah keluarga sangat bangga untuk mengumumkannya ke media massa. Aku akui keberanian mereka berdua, mereka bahkan tidak mencoba untuk mengenal calon tunangan mereka saat itu lebih dalam dan langsung menyetujui pertunangannya. Bahkan aku dan Ken yang sudah saling mengenal dari kecil tetap membutuhkan banyak waktu untuk memahami perasaan kami dan mereka berdua tanpa basa-basi langsung menyetujui pertunangan dengan laki-laki yang bahkan baru mereka kenal selama 1 bulan.
Buk!!
Sebuah buku mendarat tepat di atas kepalaku.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku kesal begitu tahu siapa yang mendaratkan buku di atas kepalaku.
"Minggu ini, peringatan kematian ibuku."
Aku membencinya, membenci bagaimana bisa dia bersikap seperti tidak ada yang terjadi diantara kami berdua. Nada bicaranya bahkan sudah kembali menjadi nada bicara yang selalu dia gunakan saat masih kecil denganku.
Apa baginya aku hanya boneka yang tidak memiliki perasaan apapun setelah semua hal yang dia lakukan?
"Datanglah seperti yang selalu kamu lakukan."
Aku tidak menanggapi ucapannya dan lebih memilih mencari dimana supirku.
"Zeta," panggilnya.
"Aku akan datang jika kedua orang tuaku juga datang. Puas? Sekarang bisakah pergi dari hadapanku?" balasku akhirnya.
"Bukan acara itu, acara yang hanya kita berdua lakukan setiap tahun."
Aku terdiam, aku tidak paham lagi dengannya. Aku memilih mengabaikannya dan lebih memfokuskan perhatianku untuk menjadi dimana supirku berada. Akhirnya aku menemukan dimana supirku berada, aku berlari menujur tempat supirku.
"Nona sudah menunggu lama?"
"Tidak."
"Ah... Tuan Ken."
Kuputar tubuhku dan melihat Ken yang ternyata mengikutiku. Aku sungguh tidak paham apa yang sekarang dia inginkan. Aku melakukan semua yang dia inginkan dan tiba-tiba dia berubah seakan-akan dia tidak pernah memintaku melakukan semua hal yang saat ini sedang aku lakukan.
"Berjanjilah, kamu akan datang."
Hanya hembusan nafas yang berikan sebagai sebuah jawaban.
...-----...
"Hari ini peringatan kematian Tante Lily kamu ingat itu bukan, Sayang?"
Sebuah lengan menyentuh perutku dengan lembut, menyadarkanku dari lamunan. Kuarahkan pandanganku ke arah ibu yang sedang menatapku seolah menunggu jawaban. Sepertinya ibu baru saja menanyakan sebuah pertanyaan kepadaku saat pikiranku sedang berkelana jauh. Aku mengalihkan mataku menatap Arthur, meminta bantuannya.
"Ibu bertanya apa kamu ingat jika hari ini peringatan kematian Tante Lily," bisik Arthur.
"Ah.. Zeta mengingatnya," jawabku diikuti tatapan penuh ingin tahu dari kedua orang tuaku
"Sepertinya Zeta menjadi lebih sering melamun," ucap ayah sembari meletakkan koran yang sedari tadi sedang beliau baca.
William menatapku dengan tatapan menyebalkan miliknya. Aku tahu arti tatapan itu. Jika aku tidak menjawab pertanyaan ayah maka dia yang akan menjawabnya dan membeberkan semua hal yang terjadi kepadaku akhir-akhir ini. Sejujurnya, aku rasa ayah sudah tahu semua hal yang terjadi kepadaku, mulai dari pengumuman yang Ken buat hingga kedekatanku dengan Alvin. Sangat tidak mungkin ayah tidak mengetahui hal tersebut mengingat betapa banyak pengawal yang diam-diam ayah sewa untuk mengawasiku, William, dan Arthur.
Beberapa kali Arthur menginjak kakiku, memintaku untuk segera menjawab pernyataan ayah sebelum William menjawabnya. Aku merasa sudah kehilangan waktu yang tepat untuk menjawab atau mungkin memberikan pembelaan. Aku mengambil cangkir berisi teh chamomile dari atas meja sembari diam-diam mencuri pandang ke arah ayah yang langsung memergokiku.
__ADS_1
"Zeta hanya.. Ayah tahu bukan?"
"Bagaimana bisa Ayah tahu jika Zeta tidak memberitahu apapun kepada Ayah?"
"Ah...,” balasku putus asa.
"Zeta sedang jatuh cinta," sahut Arthur.
Kulempar novel di pangkuanku ke wajah Arthur. Dia langsung mengaduh begitu novel milikku mengenai hidung mancungnya. Dia sama sekali tidak membantuku.
"Apa Zeta ingin menonton ini bersama Ayah dan Ibu?"
Ayah meletakkan tiga lembar kertas ke atas meja. Kertas yang sangat familiar, tiket konser musik klasik. Seperti yang sudah aku tebak, ayah sudah tahu semuanya.
"Kita juga?" tanya William sesaat setelah Arthur mengambil tiket konser dari hadapanku.
"Jika kalian mau," balas ibu lembut.
"..."
"Zeta, hanya karena Ayah selalu mengawasi kalian dan Ayah tahu semua hal yang kalian lakukan, bukan berarti Ayah tidak ingin mendengar semuanya langsung dari mulut kalian. Ayah ingin kalian tetap bercerita kepada Ayah."
Perasaan bersalah perlahan muncul di hatiku. Aku tahu jika selama ini aku tidak pernah bercerita apapun kepada ayah, sebagian besar aku bercerita kepada ibu dan tiba-tiba semua keinginanku sudah terwujud. Aku berjalan ke arah ayah dan langsung memeluknya. Ayah mengusap lembut rambut panjangku dan membisikan kalimat yang selalu aku dengar setiap kali aku akan tidur. 'Ayah mencintaimu', dua kata yang bahkan tidak bisa ayah ucapkan kepada kedua kakak laki-lakiku.
Hanya 5 menit setelah pelukan itu, ayah langsung masuk kembali ke ruang kerjanya karena beberapa manajer perusahaan menghubunginya, sepertinya ada masalah di perusahaan. Ibu juga sudah mulai membereskan cemilan-cemilan di atas meja dan berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan minuman kesukaan ayah, minuman yang selalu wajib ada di ruang kerja ayah dan hanya ibu yang bisa membuatnya. William dan Arthur masih berdiam diri di ruang keluarga, sama halnya denganku yang mulai membaca kembali novel.
Ting...
'Awalnya aku ingin mengajakmu ke konser musik klasik tetapi saat aku mengecek daftar tamu, namamu sudah ada. Jangan lupa untuk datang.'
Kuambil tiket konser dari tangan Arthur, dia sedikit terkejut dengan tindakanku karena dia sedang membaca beberapa informasi yang ada di tiket konser itu.
"Sepertinya Ayah sedang mencarikanmu seorang guru dan acara ini bukan hanya konser biasa,” ucap Arthur seolah tahu apa yang sedang aku cari.
William melangkahkan kakinya mendekat ke arah kami. Dia langsung mengambil tiket yang berada di tanganku. Aku dan Arthur sama-sama menatap dia yang saat ini sedang sibuk menghubungi seseorang. Kami berpandangan sekilas dan dia langsung pergi menjauhi tempatku dan Arthur.
"Sepertinya,” ucap Arthur menyelidik.
"Konser amal, bukankah itu aneh?"
"Apa maksud Kakak?” tanyaku tidak sepenasaran seperti sebelumnya.
"Alvin mengirimimu pesan bukan?" tanyanya sembari melihat ke arah handphone-ku. Aku langsung mengambil handphone milikku dan membaliknyaa. Aku lupa bagaimana Arthur memiliki mata yang tajam. Sekarang dia hanya memberikan senyum jahil miliknya.
"Aku serius Zeta, jika Alvin bisa tambil di acara konser amal seperti itu, aku rasa dia bukan berada ditingkat kita. Dia sudah jauh berada di atas kita, mengingat Ayah sendiri yang memberikan tiket ini kepada kita."
Aku terdiam. Apa yang baru saja Arthur ucapkan sangat masuk akal. Seseorang yang bisa tampil di acara konser amal, terlebih ayah sendiri yang memberikan tiket konser ini, sudah pasti konser ini bukan untuk kalangan menengah ke bawah. Konser amal ini adalah konser sebagai ajang pamer kekayaan dan musisi yang biasanya tampil di konser amal seperti ini adalah musisi kelas dunia.
"Grup Allison berpartisipasi dalam konser amal ini."
Ucapan tiba-tiba William mengagetkanku dan Arthur. William kembali duduk di tempatnya dan sesekali menyeruput teh di cangkir miliknya. Aku dan Arthur bertukar pandang, kami berdua sangat membenci sikapnya saat ini, dia bertingkah seolah-olah sudah menjadi pewaris resmi keluarga Allison.
"Lalu?" tanya Arthur dengan sewot.
"Grup Allison bekerja sama dengan Grup Nakamoto."
"Hah?"
Aku menatap Arthur yang sedang kebingungan. Aku tahu dengan pasti kenapa William yang harus menjadi pewaris. Aku tidak bisa membayangkan jika Arthur terlahir sebagai anak pertama dan akan mewarisi semua kekayaan Keluarga Allison. Aku bahkan tidak ingin membayangkan lagi.
"Grup Nakamoto, Keluarga Nakamoto, pengusaha Jepang sekelas Keluarga Parker dan mereka menginvestasikan kekayaan mereka ke karya seni terutama musik klasik. Walaupun tidak ada satupun anggota Keluarga Nakamoto yang diizinkan menjadi pemain musik profesional tetapi hampir semua anggota Keluarga Nakamoto bisa memainkan alat musik dan bahkan kemampuan mereka hampir sama dengan musisi kelas dunia," bisikku.
"Bagaimana kamu tahu semua itu?" tanya William sembari meletakkan cangkir ditangannya ke atas meja.
Kali ini dua pasang mata menatapku. William menatapku dengan tatapan penasaran bagaimana bisa seseorang yang tidak peduli dengan hal-hal berbau kasta dan kekayaan sepertiku mengetahui hal seperti itu. Dan Arthur menatapku penasaran bagaimana bisa seseorang sepertiku memiliki pengetahuan lebih dibanding dirinya.
"Aku sedang mencari tentang perusahaan yang berkontribusi di bidang seni, terutama musik dan aku tidak sengaja menemukannya. Kakak tahu jika aku menjadi tertarik dengan piano."
"Aku tahu, tapi informasi tentang Keluarga Nakamoto tidak bisa kamu dapatkan hanya dengan mencarinya di internet."
__ADS_1
Aku melupakan fakta dimana William sangat tahu semua sumber informasi. Aku juga melupakan fakta jika wajahku akan berubah saat aku tidak menceritakan sesuatu dengan detail. Aku juga melupakan fakta jika kedua kakakku bisa membacaku dengan sangat mudah. Saat ini, Arthur sudah kembali menginjak kakiku, dia tahu jika aku tidak menceritakan lebih lanjut darimana aku mendapatkan informasi itu, William akan membunuhku.
Arthur berdeham dan beberapa kali mencoba mengalihkan perhatian William dariku. William tidak mempedulikannya dan tetap menatapku dengan tajam. William saat ini sedang khawatir denganku, dia tidak ingin aku mencoba sesuatu yang selama beberapa tahun ini dia lakukan. Dia mendapatkan banyak informasi tentang perusahaan ataupun kehidupan pribadi keluarga lainnya secara ilegal dan dia tidak ingin aku juga mengikuti jejaknya. Selama ini, William tidak pernah membiarkanku dan Arthur untuk menyentuh hal-hal gelap yang sudah dia sentuh. Dan aku juga tidak ingin dia menyentuh hal-hal itu.
"Zeta," panggil William dengan nada berat miliknya.
"Kakak tahu jika aku tidak akan pernah berhubungan dengan hal-hal seperti itu."
"Benar, Zeta tidak mungkin dan aku rasa Zeta bahkan tidak tahu bagaimana cara menghubungi orang-orang seperti itu," balas Arthur, mencoba membantuku.
"Zeta," panggil William kembali dengan nada beratnya.
"Kak Alvin, aku tahu dari dia."
"Dan apakah dia memberitahumu jika dia adalah bagian dari Keluarga Nakamoto?"
Sekali lagi, aku dan Arthur saling bertukar pandang dan terdiam untuk waktu yang lama. Aku tidak tahu jika Alvin bagian dari Keluarga Nakamoto. Dia hanya memberitahuku beberapa hal tentang Keluarga Nakamoto dan aku hanya merasa dia tahu semua hal tentang itu karena bisa jadi dia salah satu orang yang menerima beasiswa. Tunggu, kenapa aku melupakan sesuatu yang sangat penting, sangat tidak masuk akal jika William tidak berteman dengan seseorang dengan kelas yang sama dengan kami. Tentu saja, Alvin sama dengan kami.
Seorang siswa pindahan yang bisa pindah ke sekolah kami, tentu bukan seseorang dari kalangan biasa. Aku tidak terlalu memikirkan latar belakang Alvin karena aku memang tidak peduli dengan latar belakang seseorang. Dan lagi, Alvin sangat sederhana, bisa dibilang jika seseorang hanya melihat dari penampilannya, tidak akan ada yang mengira jika dia berasal dari salah satu keluarga paling berpengaruh di Jepang.
Apa Stephanie dan Caroline tahu hal ini?
"Ada apa dengan keheningan yang mencekam ini?"
Pertanyaan ibu membuat kami bertiga kembali tersadar. Arthur langsung mendekat ke arah ibu dan bermanja-manja dengannya. William lebih memilih kembali menikmati teh miliknya dengan gaya andalan miliknya. Dan aku masih diam mematung tidak melakukan apapun.
"Ibu, kenapa Ayah sangat menyukai wassail bahkan di musim panas sekalipun?" tanya Arthur mencoba basa-basi.
Ibu tertegun mendengar pertanyaan yang diajukan Arthur. Ini kali pertama seseorang menanyakan hal mengenai minuman kesukaan ayah. Selama ini, bisa dibilang kami sangat acuh dengan keluarga ini, bukan acuh sebenarnya tetapi lebih karena kami tidak ingin mencampuri urusan satu sama lain dan menghormati setiap preferensi kami baik pada makanan ataupun minuman. Hanya untuk urusan itu saja kami tidak saling mencampuri.
"Ini kali pertama Ibu mendapat pertanyaan seperti ini. Bolehkah Ibu bertanya kenapa Arthur sangat menyukai steak?"
"Hmmm, karena Arthur menyukainya, tidak ada alasan. Tunggu, tidak mungkin ini juga jawaban dari pertanyaan yang baru saja Arthur tanyakan?"
"Bisakah Ibu menjadikan itu sebagai jawaban?"
"Tidaak!!" rengek Arthur dengan nada gemas yang hanya dia keluarkan saat bersama dengan ibu, bahkan William dan aku tidak pernah mendengar nada gemas miliknya selain saat dia sedang berbincang-bincang dengan ibu
"Wassail ada setiap kali kita akan memberikan harapan ataupun doa kepada keluarga maupun kerabat bukan?"
Arthur hanya mengangguk. Percapakan ibu dan Arthur membuatku dan juga William memfokuskan diri kami kepada mereka. Aku ingin memahami ayah lebih dalam sehingga memutuskan mendengarkan percakapan ini. Untuk William, aku rasa dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan Arthur, tidak mungkin seseorang yang dalam sehari menghabiskan 12 jam miliknya bersama dengan ayah tidak me ngetahui akan hal ini. Ayah juga tidak mungkin membiarkan William tidak tahu apapun tentangnya karena bisa jadi di masa depan akan ada seseorang yang menanyakan hal mengenai 'wassail' ini kepada William dan akan sangat aneh jika William tidak bisa menjawabnya.
Aku rasa William hanya tertarik mendengarkan nada gemas dan manja milik Arthur. Saat kami bertiga masih kecil, Arthur selalu menggunakan nada seperti itu setiap kali menanyakan rasa ingin tahunya kepada William. Bisa dibilang, William adalah ayah kedua bagi Arthur dan William sadar akan hal itu. Walaupun William tidak menunjukkannya secara langsung seperti saat dia menunjukkannya kepadaku, aku tahu dengan pasti betapa dia mencintai dan menyayangi Arthur. Bahkan dahulu aku merasa ada semacam ikatan diantara mereka yang tidak bisa aku lihat dan tembus tetapi ikatan itu perlahan bisa aku lihat. Sesuatu yang membuat William menjadi sadar akan tugasnya sebagai penerus Keluarga Allison dan sesuatu yang membuat Arthur sadar jika dirinya hanyalah bayang-bayang Keluarga Allison, kedua hal itulah yang membuat 'ikatan' yang sebelumnya tidak bisa aku lihat menjadi bisa aku lihat. Aku hanya berharap ikatan itu tidak akan pernah bisa aku tembus.
"Ayah kalian tidak ingin melupakan jika dalam hidup kita juga harus memberikan harapan ataupun doa kepada orang lain. Harapan dan doa adalah hadiah yang tidak ternilai harganya. Jika Tuhan sudah mengabulkan harapan dan doa seseorang, kita tidak akan bisa berkutik. Karena itu, Ibu ingin kalian juga mengingat untuk memberikan harapan dan doa kepada orang lain. Bisa jadi harapan dan doa kalian menjadi penyelamat bagi seseorang."
"Tapi Ibu, Arthur yang bertanya kenapa Ibu menggunakan kata 'kalian'?"
Aku benar-benar ingin memukul kepada Arthur. Dia adalah perusak suasana nomor satu yang pernah aku temui dalam hidupku. Aku belum pernah melihat seseorang yang bisa merusak suasana seperti dirinya. Ibu hanya tersenyum sembari menunjuk ke arahku dan William. Arthur mengikuti arah jari telunjuk ibu dan menatapku. Dia hanya menatapku dan tidak menatap William. Ah.....
"Zeta, kenapa kamu tidak ke rumah Ken dahulu seperti sebelum-sebelumnya?" tanya Ibu, membuat kedua kakakku menghembuskan nafas.
"Ah... Zeta ingin pergi bersama dengan Ayah, Ibu, Kak Will, dan Kak Arthur."
"Zeta, Ibu tahu jika hubungan kalian berdua tidak baik, bahkan Ibu rasa sudah memburuk. Tetapi sesuatu yang sudah kalian lakukan bersama dalam 10 tahun terakhir ini sudah menjadi kebiasaan, mungkin Zeta bisa merubah kebiasaan itu tetapi apakah Ken bisa?"
"Tentu saja dia harus bisa, Ibu. Zeta bukan siapa-siapa lagi dalam hidupnya. William rasa sudah cukup Ken memberikan rasa malu untuk Zeta," ucap William tegas.
"Terkadang Ibu takut kepadamu, William. William semakin menyerupai Ayah akan ketegasannya. Tetapi William, Ibu tahu semua itu dan Ibu juga kecewa kepada Ken tetapi saat ini Ken adalah orang yang paling mengingat kematian ibunya."
"Ibu, Zeta sudah lelah," ucapku sebelum keadaan menjadi tidak terkendali.
"Zeta tidak sedang menyudahi topik ini, bukan?"
"..."
"Baiklah, Ibu tidak bisa memaksakannya. Ibu hanya ingin Zeta mengingat jika Ken akan selamanya bergantung kepada Zeta. Saat ini dia belum menyadari hal itu tetapi cepat atau lambat dia akan menyadarinya. Kebiasaan yang tidak sengaja dia ciptakan akan kehadiranmu dalam hidupnya dan kebiasaan yang juga tidak sengaja dia hancurkan, dia akan menyadari hal itu. Saat itu terjadi, Ibu hanya berharap Zeta tidak menyakiti hati Zeta dan mengorbankan diri Zeta sendiri."
Kalimat yang tidak terlalu aku pikirkan saat itu ternyata menjadi boomerang dalam hidupku. Saat itu terjadi, aku mengira jika ibu adalah seseorang yang bisa membaca masa depan.
__ADS_1
...-----...