
Untuk kali pertama setelah kematian ibu, aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku rasa tubuhku sudah mencapai batas lelah sehingga akhirnya aku bisa menikmati kembali tidurku. Kuamati Caroline yang masih tidur dengan lelap di sampingku, sepertinya dia sama denganku yang juga sangat lelah hingga akhirnya tertidur dengan pulas terlebih dia kemarin baru datang dari London.
Kemarin malam, sekitar pukul 9 aku rasa, tiba-tiba Caroline masuk ke kamarku dan memintaku untuk tidak mengusirnya. Dia mengatakan tidak bisa tidur di kamar tamu seorang diri, selain karena dingin juga karena dia takut. Semalam memang hujan turun dengan lebat dan penuh dengan kilatan, Caroline sangat takut dengan kilat.
Kualihkan perhatianku pada jam yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi, tidak biasanya baik Ken maupun Arthur belum membangunkanku. Aku menyelimuti kembali tubuh Caroline dan berjalan keluar kamar.
Rumah sangat sepi, tidak seperti biasanya. Pelayan yang biasanya sudah berlalu lalang membersihkan rumah juga belum menunjukkan wajah mereka. Aku memutuskan berjalan menuju ruang makan, satu-satunya tempat yang tidak akan kosong terlebih di jam sarapan seperti ini. Pasti akan ada satu dua orang walaupun bisa jadi aku hanya akan menemukan kakek, setidaknya aku menemukan adanya kehidupan lain di rumah ini.
"Kak Will? Steph?" panggilku terkejut begitu menginjakkan kaki di ruang makan.
Aku berjalan menuju salah satu kursi di samping Arthur. Aku tidak tahu jika William dan Stephanie berada di rumah ini, bahkan aku tidak mendengar kabar apapun jika mereka berdua akan datang ke Wales. Aku yakin sesuatu telah terjadi.
"Kemana semua orang?" tanyaku begitu Ken mengambil roti dari tanganku. Aku menatapnya heran sebelum akhirnya memberikan sisa roti di ditanganku kepadanya. Dia mengoleskan selai ke atas rotiku dan meletakkannya ke piringku. Aku tahu dia memang orang yang sangat baik kepada pasangannya tetapi aku belum terbiasa dengan sikapnya yang seperti ini kepadaku. Dia seperti menjadi orang lain.
"Nenek sudah pulang dari rumah sakit dan beliau ingin ketenangan di rumah," jawab Arthur.
"Kenapa aku tidak tahu apapun?"
"Aku juga tidak tahu. Aku bahkan tidak terbangun saat nenek dan kakek pulang dari rumah sakit," balas Ken sembari mengusap bibirku yang belepotan dengan selai.
"Mereka nenek dan kakekmu?"
Pertanyaan William langsung membuat suasana berubah menjadi canggung. Ken hanya tersenyum sembari melanjutkan memakan rotinya. Dia sangat tahu jika William belum bisa menerimanya kembali seperti dahulu. Dia sangat tahu hal itu dan karena itu dia selalu mencoba tidak menimbulkan masalah atau membuat suasana hati William menjadi buruk. Tentunya, dia juga menerima semua kalimat buruk yang William berikan kepadanya. Dia menerima amarah yang William tunjukkan kepadanya dengan sangat baik. Sangat baik hingga membuat William tambah marah kepadanya.
"Carol belum bangun?" tanya Stephanie memecah kecanggungan.
"Kemarin malam hujan lebat. Aku rasa dia baru benar-benar bisa tidur dengan pulas setelah hujan cukup reda."
"Bisakah hentikan basa-basi ini? Zeta juga sudah disini, cepat beritahu alasan kamu tiba-tiba datang ke Wales."
Aku langsung menatap Arthur yang sedang beradu tatapan dengan William. Tebakanku benar, sesuatu pasti terjadi.
"Alvin, dia akan mengumumkan semua yang terjadi di Keluarga Nakamoto dan Keluarga Allison."
"Hanya itu?" balas Arthur tidak bersemangat, dia membenci semua hal yang berhubungan dengan Keluarga Allison dan tentunya Keluarga Nakamoto.
"Bukan 'hanya itu'. Dia akan memberitahu dunia siapa sebenarnya dirinya. Dia ingin menghancurkan Keluarga Nakamoto dan Keluarga Allison. Ayah tidak peduli akan hal itu selama Zeta tidak mencoba meminta ayah untuk menghentikan apa yang Alvin coba lakukan. Ayah tidak peduli bahkan jika perusahaan hancur."
"Kamu akan memanfaatkan Zeta untuk kesekian kalinya?"
"Kak Arthur," panggilku pelan, menyadari pembicaraan ini akan berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk dari sekadar perkelahian.
"Belum ada satu bulan setelah kematian ibu dan kamu sudah memikirkan citra perusahaan. Apakah ibu tidak memiliki arti apapun untukmu? Dan sekarang aku benar-benar berpikir jika Zeta hanyalah alat bisnis untukmu."
"Kak Arthur," panggilku untuk kedua kalinya.
"Apa yang akan Alvin lakukan sangat berdampak untuk perusahaan. Mereka yang bekerja untuk perusahaan, mereka yang tidak tahu apapun, mereka bisa ikut terdampak. Kamu tidak mungkin membiarkan hal ini terjadi bukan? Aku tahu kamu cukup peduli, Zeta."
__ADS_1
"William!!!" teriak Arthur sembari membanting piring, membuat bunyi pecahan terdengar cukup nyaring karena keheningan di rumah ini.
"Aku tidak peduli dengan cinta yang kamu miliki untuk perusahaan. Aku juga tidak peduli jika perusahaan akan hancur. Tetapi, bisakah satu kali ini saja kamu menunjukkan perasaanmu? Tunjukkan perasaan yang kamu miliki untuk ibu, cintamu untuk ibu, kehilanganmu untuk ibu, tidak bisakah kamu menunjukkannya? Satu kali saja. Hanya satu kali. Tidak bisakah ibu menjadi hal terpenting dalam hidupmu? Tidak bisakah walau hanya satu kali saja?!"
Ucapan Arthur membuat Stephanie dan Ken diam mematung, sama halnya denganku. Aku tahu cepat atau lambat, Arthur akan menunjukkan betapa dia membenci sikap William yang selalu menyembunyikan perasaannya. Aku tahu Arthur hanya ingin William bisa lebih mengekspresikan dirinya tetapi dengan mengatakan semuanya sekarang hanya akan membuat William semakin menyembunyikan perasaannya. Perasaan yang hanya bisa dia tunjukkan kepadaku dan ibu.
"Zeta, aku tidak peduli jika kamu akan menghubungi ayah atau Alvin, aku hanya harap kamu bisa menghentikkan apa yang akan Alvin lakukan," balas William, semakin membuat suasana bertambah buruk. Kali ini, Arthur bahkan berdiri dari tempatnya duduk dan memegang kerah William.
"Kak Arthur," panggilku sembari berdiri dari tempatku duduk.
"Satu kali ini saja, kumohon gunakan hatimu bukan rasionalitasmu. Tidak bisakah kamu melihat Zeta yang sedang menahan perasaannya untuk Alvin? Tidak bisakah kamu melihat bagaimana mereka menderita karena perasaan yang mereka miliki? Tidak bisakah kamu melihat jika mereka berdua sedang saling berusaha melupakan semua perasaan yang pernah ada atau mungkin masih ada? Tidak bisakah kamu satu kali saja mencintai Zeta bukan dengan caramu yang hanya menyakitinya?"
Arthur melepaskan tangannya dari kerah William.
"Jika Keluarga Allison memang lebih penting daripada kepergian ibu dan rasa sakit yang Zeta rasakan, maka tetaplah menjadi dirimu yang seperti ini dan jangan pernah merubah dirimu," ucap Arthur sembari berjalan keluar. Aku rasa dia akan langsung pergi menuju tempat rehabilitasi Olivia karena hanya tempat itu yang sekarang bisa memberikan ketenangan untuknya.
Hening.
William memberikan sebuah dokumen kepadaku, dokumen yang bisa aku tebak isinya. Dokumen berisikan foto-foto pertemuan ayah dengan Nyonya Sei, beserta dengan keterangan kapan, dimana, dan apa yang dibicarakan dalam pertemuan mereka. Dokumen yang juga berisi kebenaran tentang siapa Alvin dan Sina, beserta tes DNA yang membuktikan kebenaran diri mereka.
Dokumen yang juga sudah Alvin kirimkan ke salah satu media tetapi berhasil diambil kembali oleh William, melihat bagaimana selembar kertas berisikan berita sudah ditulis oleh reporter yang selalu bekerja untuk Keluarga Allison, hanya tinggal menunggu persetujuan saja untuk berita di tanganku ini bisa diterbitkan. Sepertinya, reporter yang menulis berita ini merubah keputusannya dan lebih memilih untuk memberikan semua yang dia miliki kepada William.
"Kali ini, Alvin akan melakukan wawancara langsung. Kumohon, demi ibu."
William memegang punggung tanganku sembari memberikan tatapan penuh rasa sakit miliknya. Dia menghembuskan nafas panjang sembari berdiri dari tempatnya duduk lalu mengusap lembut kepalaku hingga akhirnya meninggalkan ruang makan. Ken merebut semua kertas yang berada di tanganku dan membuangnya jauh-jauh dariku.
"Kak William, apakah dia benar-benar.."
"Maaf."
"Zeta?! Kenapa kamu tidak membangunkanku?!" teriak Caroline memecah keheningan di rumah ini. Keheningan yang nenekku inginkan sepertinya tidak akan bertahan lama dengan adanya Caroline di rumah ini.
"Steph?!" panggil Caroline dengan terkejut sekaligus ketakutan.
"Zeta, bukankah aku sudah bilang untuk merahasiakan jika aku ada disini?!" lanjutnya.
"Kamu kira aku tidak tahu?! Aku sudah tahu dari saat kamu pergi," balas Stephanie sembari berjalan menuju Caroline lalu memegang telinga kirinya, membuat Caroline mengaduh beberapa kali. Stephanie membawa Caroline keluar dari ruang makan. Aku rasa, Caroline akan mendapatkan banyak kuliah umum dari saudara kembarnya itu.
"Kamu tidak akan menanyakan apa yang akan aku lakukan?" tanyaku kepada Ken.
"Tidak. Aku hanya berharap kamu tidak akan menyakiti dirimu. Aku akan memberitahu koki untuk memasakkan sesuatu," balasnya sembari berjalan meninggalkanku seorang diri di ruang makan.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku memang tidak ingin melibatkan orang yang tidak tahu apapun dan tidak bersalah ke dalam lingkaran takdir ini tetapi aku juga tidak ingin melibatkan diriku lebih dalam pada takdir ini. Rasa sakit yang sudah aku terima, aku tidak bisa menerima lebih dari rasa sakit ini. Aku takut akan melakukan suatu hal buruk begitu rasa sakit yang aku rasakan bertambah. Aku benar-benar takut akan pikiran yang aku miliki...
...-----...
Di hari kematian ibu..
__ADS_1
"Apa nenek baik-baik saja?" tanyaku begitu melihat kakek berjalan masuk ke ruang kerja beliau.
"Hanya membutuhkan istirahat. Apa yang Zeta inginkan?"
"Zeta tidak bisa menghadiri pemakaman ibu. Zeta rasa Zeta harus meminta izin kepada Kakek."
"Apa itu juga yang kamu inginkan, William?"
Pertanyaan kakek langsung membuatku memutar tubuhku, hanya untuk menemukan William sedang berdiri di depan pintu sembari menatapku dengan tatapan kosong. Dia berjalan masuk ke ruang kerja kakek dengan langkah yang menurutku cukup berat, sama denganku saat menginjakkan kaki kemari. Dia juga membawa setumpuk dokumen di tangannya, membuat kakek menatapnya penuh tanda tanya.
"Awalnya William akan meminta hal yang sama dengan Zeta tetapi William berubah pikiran," ucapnya sembari duduk di sampingku, menghadap kepada kakek.
"Kakek, ayo hancurkan Keluarga Allison. Semua dokumen, semua bukti, sudah William bawa. Kakek hanya perlu menggunakan semua ini di waktu yang tepat," lanjutnya dengan penuh semangat, semangat yang terkesan dipaksakan.
Kakek hanya diam sembari menatap kosong ke arah tumpukan dokumen yang William letakkan di atas meja. Aku tidak bisa membaca apa yang sedang kakek ataupun William pikirkan, mereka berdua seperti sama-sama sedang menutupi perasaan mereka dan tidak ingin ada satupun orang yang bisa menemukan perasaan sebenarnya milik mereka. Setidaknya itu yang aku rasakan.
Aku tidak ingin terlibat lebih jauh dalam percakapan ini. Aku ingin segera keluar dari ruang kerja kakek. Sekarang aku benar-benar merasa sesak, sangat sesak hanya dengan melihat tumpukan dokumen di depanku. Aku tidak peduli jika akhirnya kakek menyetujui keinginan William. Aku rasa apa yang Kakek rasakan sudah cukup menjadi alasan untuk menghancurkan Keluarga Allison, keluargaku sendiri. Tetapi, apakah Keluarga Allison bisa dihancurkan semudah ini?
"William," panggil kakek dengan suara berat miliknya.
"Ya Kakek?"
"Apa menurutmu ini yang ibumu inginkan?"
"..."
"Bagaimana menurutmu, Zeta?" tanya kakek begitu keheningan mulai mengisi ruangan ini. Pertanyaan yang membuatku semakin tidak ingin terlibat lebih jauh lagi.
"Ibu tidak menginginkan apapun. Ibu hanya ingin mencintai ayah dengan benar bahkan setelah kematiannya. Ibu tidak ingin cinta yang ibu tinggalkan untuk ayah kembali menciptakan sebuah beban bagi ayah. Ibu hanya ingin mencintai ayah dengan cara yang benar. Cara yang benar menurut ayah," balasku akhirnya setelah kakek terus memaksaku lewat tatapan mata beliau.
"William, ibu kalian akan terus mencintai ayah kalian bahkan jika dia terlahir kembali dia akan tetap memilih ayah kalian. Menghancurkan Keluarga Allison sama halnya menghancurkan ibu kalian."
"Di surat yang ibu tinggalkan untuk William, ibu mengatakan akan terus mencintai ayah hanya hingga hari kepergiannya. Bukankah itu berarti cinta yang ibu berikan kepada ayah sudah berakhir?" balas William menunjukkan keinginannya untuk menghancurkan Keluarga Allison atau mungkin menunjukkan keras kepalanya.
Surat?
Kenapa aku tidak tahu apapun mengenai surat?
"Tidak, itu hanya satu diantara kebohongan yang ibu kalian berikan. Hanya dengan begitu kalian tidak akan terlalu membenci ayah kalian."
"Zeta, bisa tinggalkan aku dan kakek?"
Aku mengangguk dan berjalan keluar ruangan. Raut wajah William, aku tidak bisa menggambarkannya dengan pasti, aku merasa ada sebuah kelegaan di dalam dirinya. Sebuah kelegaan yang dia cari dari saat dia tahu berita mengenai kematian ibu.
"Kakek..."
"William, ibumu ingin kamu menjadi pewaris Keluarga Allison. Dia ingin kamu mempertahankan apa yang memang menjadi milikmu, dia tidak ingin kamu melepaskan semuanya hanya karena kepergiannya. Saat dimana hati Kakek dipenuhi oleh kebencian terhadap ayahmu, ibumu justru mengatakan, 'ayah, dia adalah laki-laki yang aku pilih, laki-laki pertama yang aku pilih dalam hidupku, aku tidak ingin merasa jika pilihanku adalah sebuah kesalahan, kesalahan untukku, untuk kedua orang tuaku, dan juga untuk anak-anakku. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku mencintainya ayah bahkan setelah semua yang terjadi dan aku harap ayah juga bisa tetap mencintai pilihanku'. Kakek memang membenci ayahmu, bahkan Kakek mengganggap kematian ibumu disebabkan oleh ayahmu tetapi Kakek tidak bisa membenci pilihan ibumu. Kakek tidak bisa membenci pilihan cinta anak perempuan Kakek. Kakek harap kamu juga bisa melakukan hal yang sedang Kakek paksakan ini. Jangan membenci ayahmu karena ayahmu bagian dari pilihan ibumu, pilihan yang sangat dicintainya," potong kakek mengakhiri sebuah kebencian yang perlahan tumbuh di dalam hati William, dan mungkin hatiku.
__ADS_1
Aku benar-benar takut William akan semakin menutup dirinya...
...-----...