
Sudah dua hari berlalu dan aku hanya berdiam diri di dalam kamar. Aku tidak menanyakan kelanjutan home schooling yang akan aku jalani karena saat ini ayah sedang sibuk mengurus hal lain. Hal lain yang berkaitan dengan Natasha. Ayah juga kemarin menemui Natasha secara langsung dan aku rasa ayah sudah membuat keputusan untuk menolongnya melihat bagaimana saat ini ayah sedang mengumpulkan berbagai macam dokumen untuk mengakuisisi Perusahaan Tindall. Banyak orang-orang kantor yang datang ke rumah dan membuat beberapa pelayan di rumah merasa tidak nyaman, termasuk diriku.
Arthur juga masih berada di rumah sakit hingga saat ini. Ayah memutuskan membawa Arthur ke rumah sakit karena tidak ingin aku melihat kondisinya. Ayah bahkan melarangku mengunjungi Arthur, aku yakin beliau baru memberiku izin untuk menemui Arthur saat kondisinya sudah membaik dan aku tidak tahu kapan kondisinya akan membaik. Hanya ayah, ibu, dan William yang tahu bagaimana kondisi Arthur saat ini. Ibu sendiri hingga sekarang masih berada di Wales dan hanya menghubungi Arthur melalui video call. Aku rasa sekembalinya ibu dari Wales, ibu akan langsung memberikan ultimatum kepada ayah untuk tidak pernah menggunakan kembali black room.
Tok.. tok..
Kuhentikan gerakan tanganku yang sedang merajut lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya. Wajah yang sudah aku rindukan selama 3 hari lamanya akhirnya muncul di hadapanku. Stephanie langsung memelukku begitu pintu terbuka. Begitu melihat Stephanie memelukku, Caroline langsung mendorong tubuh Stephanie dan ikut memelukku. Aku sangat merindukan mereka.
"Boleh kita masuk ke kamarmu?" tanya Caroline setelah selesai memelukku yang hanya kubalas dengan anggukan. Caroline menumpahkan berbagai macam snack dari tas kertas yang dibawanya ke atas tempat tidurku. Seperti biasa, dia sudah membuat kamarku menjadi miliknya hanya dalam hitungan detik.
"Maafkan aku," ucap Stephanie membuat Caroline dan aku berhenti memakan snack di hadapan kami.
"Aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu," balasku.
"Tidak, seharusnya aku tidak pernah mengatakan kalimat itu dan seharusnya aku juga tahu jika Paman Allison tidak mungkin mencoba melakukan sesuatu kepadaku."
Aku tidak tahu harus membalas apa ucapan Stephanie. Aku hanya bisa mendekatkan tubuhku ke arahnya dan kembali memeluknya. Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya saat cita-cita yang sudah dibangun sejak lama tiba-tiba dihancurkan karena aku baru memiliki sebuah cita-cita beberapa minggu yang lalu. Tetapi aku tahu bagaimana rasanya saat sebuah impian tiba-tiba dihancurkan begitu saja oleh orang yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Aku tahu bagaimana menyakitkannya hal itu dan aku paham alasan Stephanie sempat membenciku. Aku mungkin akan melakukan hal yang sama jika berada diposisi Stephanie, saat tiba-tiba sekolah yang menjadi satu-satunya cita-cita, impian, dan harapan miliknya direbut oleh keluarga sahabatnya.
"Terima kasih sudah mengirimkan surat perjanjian itu. Jika kamu tidak mengirimkannya mungkin aku akan terus terjebak menjadi orang lain. Terima kasih, Zeta."
Kemarin malam tiba-tiba William memberikanku surat perjanjian yang dibuat oleh ayah dengan Paman Chester. Sepertinya dia tahu jika hubunganku dengan Stephanie menjadi buruk setelah berita Elizabeth High School berada di bawah kendali Grup Allison. William memang tidak menunjukan semua isi surat perjanjian, dia hanya menunjukan isi yang sama dengan yang ayah katakan kepadaku jika Paman Chester hanya ingin melihat bagaimana perjuangan Stephanie untuk tetap ingin mengurus Elizabeth High School di masa depan. Dan aku rasa, William juga mendapatkan izin dari ayah untuk menunjukan sepenggal isi surat perjanjian itu kepadaku.
"Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena sudah mau mendengarkan dan mempercayaiku." balasku sembari melepas pelukan.
"Bisakah kita berhenti membahas hal-hal ini?" tanya Caroline sembari menyodorkan snack lainnya kepadaku dan Stephanie.
"Ah.. aku melupakan satu hal, untuk home schooling sudah bisa berjalan dari kemarin tetapi untuk peraturan resminya akan diumumkan minggu depan. Kamu baik-baik saja Zeta?" tanya Stephanie sembari menyuapkan satu chips udang ke mulutku.
"Aku rasa ayah lebih ingin aku fokus pada permainan piano dan pengobatan mentalku."
"Jangan bilang apa yang Ken lakukan membuat...."
"Aku rasa, aku juga kembali meminum obat untuk mengatasi gangguan panikku," potongku.
"Kak Alvin menanyakan keberadaanmu, apa kamu tidak memberitahunya?" sekarang giliran Caroline yang bertanya. Untuk urusan percintaan dan pergosipan memang hanya Caroline yang bisa melakukannya di saat seperti ini.
"Aku tidak menghubungi siapapun dan aku rasa kalian tahu keberadaanku setelah memaksa Kak Will."
Hanya senyuman jahil yang Stephanie dan Caroline berikan. Aku berdiri dari tempat tidur dan berjalan mengambil alat rajutku. Aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan saat Stephanie berada disini, dia sangat ahli dalam hal merajut. Dia sering memberikan hadiah untukku berupa sweeter, sarung tangan, ataupun tas hasil rajutannya. Aku kembali duduk di atas tempat tidur lalu mengambil bungkus snack dari tangan Stephanie dan menggantinya dengan hakpen.
"Serius Zeta???!!"
Aku mengangguk dan memberikan senyum kepadanya. Aku dan Caroline fokus memakan camilan di depan kami. Selain camilan, Caroline juga sibuk dengan komik Conan kesukaannya dan aku sibuk memperhatikan tangan Stephanie yang sangat lihai membuat rajutan. Jika ibu melihat bagaimana mahirnya Stephanie merajut, sudah bisa aku pastikan ibu akan membanding-bandingkan kami berdua dan akan terus memuji Stephanie selama satu minggu penuh untuk membuatku terus berlatih.
Ting.
Caroline menendang pelan kakiku, memberitahuku jika handphone-ku berbunyi. Aku hanya melambaikan tangan, memberitahunya untuk mengabaikan bunyi notifikasi itu. Aku masih tetap memperhatikan gerakan tangan Stephanie dan beberapa kali mempraktekkannya di udara. Aku bisa merajut udara dengan sangat baik tetapi tidak dengan benang.
Satu tendangan kecil kembali diberikan kepadaku dan aku kembali mengabaikannya.
Aku malas untuk membuka handphone-ku karena aku tahu hujatan-hujatan anonim yang terus aku terima setelah hari dimana Elizabeth High School menjadi bagian dari Grup Allison. Aku tidak menyalahkan mereka yang mengirim hujatan itu, aku hanya takut jika ayah atau William mengetahui hal ini, mereka akan mencari siapa yang mengirimkan hujatan-hujatan itu dan memberikan pelajaran. Aku lebih takut kemalangan yang akan mereka terima nantinya walaupun aku tahu setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Tetapi, tanggung jawab yang ayah dan William berikan bukanlah tanggung jawab pada umumnya.
Tendangan-tendangan kecil secara beruntun kembali Caroline berikan kepadaku. Saat aku mencoba untuk kembali masa bodo, Caroline sudah menyodorkan handphone milikku ke depan wajahku. Membuatku langsung bangun dari posisiku karena melihat tulisan 'ayah' di layar handphone-ku.
'Zeta boleh menemui Arthur.'
'Kenapa Zeta tidak membaca pesan ayah?'
'Zeta?'
Aku langsung membalas pesan dari ayah sebelum ayah mengirimkan seseorang untuk mengecek kondisiku di kamar. Akhirnya, aku bisa bertemu dengan Arthur setelah dua hari ini semua aksesku untuk berhubungan dengan Arthur diputus. Aku rasa sekarang kondisi Arthur sudah lebih baik atau bahkan sudah sangat baik hingga ayah membiarkanku menemuinya.
__ADS_1
'Terima kasih, aAah. Zeta sedang bersiap.'
Aku loncat dari tempat tidurku dan mengambil pakaian dari dalam almari, membuat kedua sahabatku bingung dengan tingkahku yang tiba-tiba berubah. Aku tidak mempedulikan tatapan penuh tanda tanya milik mereka dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Tidak butuh waktu lama untukku berganti pakaian, hanya membutuhkan 3 menit. Aku langsung keluar dari kamar mandi dan mengambil tas kecil milikku.
"Kamu meninggalkan kita berdua?" tanya Stephanie kebingungan, menghentikan tanganku yang mencoba menutup pintu kamar.
"Aku boleh menemui Kak Arthur. Kalian mau ikut?"
Begitu mendengar pertanyaanku, kedua saudara kembar itu langsung membereskan barang-barang mereka dalam waktu 1 menit. Caroline bahkan masih sempat membawa beberapa snack di tangannya sebelum mengikutiku keluar dari kamar menuju halaman depan. Aku langsung melihat Paman Stephan dan beberapa pengawal lainnya. Ayah pasti sudah memberi perintah kepada mereka untuk mengantarkanku ke rumah sakit tempat Arthur dirawat. Caroline memutuskan untuk duduk di kursi depan, membiarkanku dan Stephanie duduk berdua di kursi belakang.
"Aku hampir lupa menanyakan sesuatu, aku juga tidak melihat Kak Arthur dan katamu tadi kamu boleh menemui Kak Arthur. Apa sesuatu terjadi kepadanya?" tanya Caroline dengan mulut penuh makanan. Stephanie memukul pelan kepala Caroline, memintanya untuk menghabiskan makanan di dalam mulutnya sebelum berbicara.
"Kak Arthur di rumah sakit," jawabku.
"Hah? Bagaimana bisa?!" tanya kedua saudari kembar itu kompak, membuat Paman Stephan tertawa kecil, tawa yang belum pernah ditunjukan kepadaku.
"Bertanding dengan ayahku di black room."
"Apa itu black room?" tanya Caroline penasaran.
Aku rasa tidak ada black room di keluarga mereka, mengingat mereka perempuan yang tidak mungkin berlatih tanding dan mereka bukan tipikal anak yang melawan orang tua. Stephanie sepertinya tahu maksud dari black room, melihat dari reaksinya yang cukup terkejut. Dia memegang tanganku sebentar, seolah memintaku untuk tidak menjawab pertanyaan saudarinya. Paman Stephan juga sempat melihatku sekilas dari kaca spion depan sebelum akhirnya memberikan tatapan yang memintaku untuk tidak menceritakan apapun lebih lanjut. Sesuatu seperti black room adalah rahasia di setiap keluarga dan tidak sedikit keluarga yang menganggap black room sebagai ruang aib karena disanalah banyak terjadi penyiksaan. Walaupun hal itu berbeda dengan black room Keluarga Allison yang digunakan sebagai ruangan untuk meningkatkan peringkat.
Black room di keluarga lain seperti sebuah tempat penyiksaan bagi mereka yang melanggar aturan atau melakukan kesalahan besar. Keluarga lain tidak akan menerima modifikasi apapun dari black room dan jika mereka tahu Arthur baru keluar dari black room mereka pasti akan menganggap Arthur baru saja melakukan kesalahan besar.
"Carol, jangan memberitahu siapapun tentang Arthur dan black room. Jika sesuatu bocor, aku akan membunuhmu," ucap Stephanie diikuti tarikan sabuk pengaman yang dikenakan Caroline membuat Caroline sedikit terkejut dan menganggukkan kepalanya.
"Paman, apakah luka bakar Paman sudah sembuh?" tanya Caroline mencoba mengalihkan topik, dia sangat pandai dalam hal itu.
"Saya tidak bisa menyebutnya sebagai luka bakar."
"Seperti yang diharapkan dari pengawal Keluarga Allison. Bagaimana jika Paman berhenti mengawal Zeta dan pindah menjadi pengawalku?"
"Ahhh...,” rengek Caroline membuat paman kembali tertawa kecil.
Aku mengalihkan pandanganku ke jalanan di luar begitu mendengar rengekan Caroline. Rintik hujan perlahan turun, sepertinya sebentar lagi musim gugur berakhir dan digantikan dengan musim hujan. Baru kemarin rasanya aku melihat bunga-bunga bermekaran. Aku harus mulai menyiapkan pakaian yang hangat.
Suara obrolan Caroline dan Paman Stephan masih mengisi mobil, setidaknya membuat suasana lebih hidup. Aku bahkan tidak mengerti alasan mengapa paman sangat menyukai pekerjaannya mengawalku. Mungkin bagi Caroline jawaban paman perihal reinkarnasi hanya sebatas gurauan tetapi bagiku apa yang paman ucapkan adalah sebuah keseriusan. Aku tidak tahu tentang masa lalu paman dan aku juga tidak pernah mencoba menanyakannya karena sepertinya paman tidak ingin mengingat kembali masa lalunya dimana masa lalunya berkaitan dengan alasannya menjadi pengawalku.
"Zeta?"
Panggilan pelan Stephanie membuatku berhenti mengamati rintik hujan dan berganti mengamati Stephanie yang saat ini sedang memegang album yang dibuat Natasha. Aku lupa jika aku meninggalkan album itu di mobil dan tentunya para pekerja yang membersihkan mobil tidak akan membuangnya begitu saja saat melihat namaku tertulis di atas kotak tempat album itu berada. Hanya saja, kenapa mereka tidak memberikannya kepadaku dan tetap meninggalkannya di mobil?
"Bisakah kamu memasukannya kembali?" tanyaku mencoba menghindari tatapan matanya yang mencoba mencari jawaban, jawaban yang aku sendiri tidak tahu.
Stephanie memasukan kembali album itu ke dalam kotak dan meletakkannya dengan hati-hati di bawah kursi mobil. Beruntung Caroline masih sibuk mengobrol dengan paman dan dia juga menyalakan radio di mobil dengan volume yang cukup keras. Jika Caroline tahu hal ini, dia akan membuat keributan.
"Aku belum pernah melihat tatapan Ken yang seperti itu."
"Bisakah kita membahasnya nanti?"
"Zeta, aku rasa kamu cinta pertama dalam hidup Ken. Dan masih menjadi cinta dalam hidupnya."
"Steph," panggilku dengan nada memohon kepadanya untuk berhenti membahas hal ini, aku masih belum ingin membahas apapun yang berkaitan dengan Ken dan perasaanku.
"Dia tidak menyadari cinta pertamanya. Dia melewatkan cinta pertamanya. Dan dia menjadikan cinta lainnya untuk menyadarkan dirinya tentang cinta pertamanya. Cinta pertama yang membuatnya tumbuh."
"Steph," panggilku sekali lagi dengan nada yang meninggi, membuat Caroline menolehkan kepalanya ke arah kami dan tentunya membuat paman ikut mengamati kami berdua.
"Maaf, aku akan berhenti disini."
Caroline dan Paman tahu ada sesuatu yang terjadi diantara kami berdua tetapi mereka berdua sama-sama tidak berani menanyakan sesuatu itu. Kami melanjutkan perjalanan dengan suasana yang cukup canggung. Bahkan Caroline tidak membuka mulutnya kembali untuk mencoba mencairkan suasana, dia hanya diam sembari memakan snack yang dibawanya dengan tenang. Sedangkan Stephanie sama denganku, mengamati rintik hujan yang semakin lebat.
__ADS_1
"Nona, saya akan menyusul Nona setelah memarkirkan mobil. Akan ada beberapa pengawal yang mengikuti Nona," ucap paman begitu sampai di pintu rumah sakit.
"Hati-hati dengan jalan yang licin, Paman," balasku sebelum membuka pintu mobil dan berjalan keluar.
Stephanie memberikan lollipop kesukaanku. Aku mengambilnya dan langsung menyubit pinggangnya, membuat dia sedikit menjauhkan badannya dariku. Caroline hanya diam mengamati tingkah kami, tentunya dengan sebungkus besar snack yang dibawanya. Caroline masih setia menghabiskan snack miliknya. Sebenarnya dia hanya diizinkan untuk memakan snack satu bulan sekali jadi dia tidak ingin membuang-buang waktunya.
"Lantai berapa?" tanya Caroline begitu kami masuk ke dalam lift.
"27."
"Wahh, kenapa ruang VVIP selalu berada di lantai paling atas?"
"Pemandangan yang diberikan lebih baik di malam hari, bisa melihat kota dalam satu kali pandang," jawabku asal.
"Benarkah?"
"Kamu percaya padaku?"
Pintu lift terbuka di lantai 15 dan seorang perempuan masuk ke dalam lift. Perempuan yang dari penampilannya cukup anggun, dia mengenakan dress berwarna kuning muda dengan kardigan berwarna putih, sepatu kets berwarna hitam, dan tangan kanan yang terpasang gips. Perempuan itu menekan tombol 20. Jika tidak salah lantai 20 adalah tempat konsultasi para pasien VIP dengan tenaga kesehatan yang menanganinya.
Hening, tidak ada suara apapun sejak perempuan ini masuk ke dalam lift. Berulang kali Caroline menyikut lenganku, memintaku untuk membuka sebuah percakapan. Aku hanya menggeleng dan menyuruhnya untuk menikmati suasana yang hening ini. Caroline hanya menghembuskan nafasnya dan menurutiku. Berbeda denganku dan Caroline yang mencoba menikmati perjalanan ke lantai 27, Stephanie dan beberapa pengawal memberikan tatapan penuh curiga kepada wanita yang berdiri tepat di sampingku. Aku terus mengamati Stephanie, mencari tahu apakah ada yang salah tetapi tetap tidak menemukan apapun.
Ting.
Lift berhenti di lantai 20 dan perempuan itu keluar dari lift. Sebuah sapu tangan jatuh dari tas miliknya, membuatku langsung mengambil sapu tangan itu. Tepat saat pintu lift akan tertutup, satu orang pengawal menahan pintu lift, seperti tahu aku ingin mengembalikan sapu tangan ini kepada perempuan itu.
"Tunggu, Anda menjatuhkan sapu tangan ini," teriakku membuat perempuan manis itu berhenti dan berjalan mendekatiku.
"Terima kasih, sapu tangan ini sangat berharga untukku. Sekali lagi terima kasih."
Perempuan itu pergi meninggalkanku yang diam terpaku karena melihat nama 'Nakamoto' di ujung sapu tangan perempuan itu. Dan ada sebuah sulaman bunga edelweiss dimana bunga itu juga ada di cincin yang Alvin berikan kepadaku.
Apakah dia bagian dari Keluarga Nakamoto?
"Nona?"
"Ah, maafkan aku."
Aku masuk kembali ke dalam lift yang disambut dengan tatapan penuh waspada dari Stephanie.
"Zeta, lift ini adalah lift khusus untuk Keluarga Allison dan mereka yang memiliki saham besar di rumah sakit ini."
Benar juga apa yang Stephanie katakan, aku baru menyadarinya. Sepertinya itu alasan kenapa Stephanie dan beberapa pengawal memberikan tatapan penuh waspada kepada perempuan itu. Kualihkan pandanganku ke arah pengawal di belakangku, mereka sedang sibuk memeriksa sesuatu, sesuatu yang pasti ada kaitannya dengan perempuan tadi. Aku menatap Caroline, memintanya mencoba mengganti topik pembicaraan.
"Bisa saja dia pemilik saham terbesar," balas Caroline.
"Di usia semuda itu?"
"Apa maksudmu muda?"
"Dia berusia 15 tahun."
"Darimana kamu tahu?"
"Dokumen yang dia bawa bertuliskan identitasnya."
Ting..
Aku mendorong tubuh Stephanie keluar dari lift. Dia masih mencurigai perempuan berusia 15 tahun itu, sesuatu yang mungkin akan dia ceritakan kepada William atau mungkin pengawalku yang akan memberitahu hal ini kepada William. Sebenarnya aku juga cukup curiga terlebih melihat nama Nakamoto di sapu tangan miliknya tetapi aku sedang tidak ingin menambah beban pikiranku. Begitu aku keluar dari lift, tubuhku diam mematung di depan lift karena dua orang pengawal tidak ikut keluar dari lift. Saat aku bertanya alasannya, mereka hanya mengatakan ada sesuatu yang harus mereka lakukan. Sepertinya sesuatu itu berkaitan dengan perempuan itu, entahlah. Fokusku saat ini adalah bertemu dengan Arthur.
...-----...
__ADS_1