
"Ayah akan menunggumu di rumah."
Kalimat terakhir yang ayah ucapkan sebelum meninggalkanku berdua dengan Ken di ruang makan. Ken menatapku sebentar, aku rasa dia sedang meminta izin kepadaku untuk mengejar ayah. Aku hanya mengangguk dan Ken langsung berlari mengejar ayah.
Aku menatap kosong tempat dimana biasanya kakek dan nenek duduk setiap kali kami menyantap makanan. Hingga saat ini, nenek masih dirawat di rumah sakit dan kakek menemaninya. Lebih tepatnya kakek ingin menghindari ayah sehingga lebih memilih berada di rumah sakit. Salahku memang tetap berada di rumah ini bahkan setelah satu minggu kematian ibu. Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini begitu saja, sesuatu menahanku untuk terus berada di rumah ini.
Berbeda denganku, William sudah kembali ke London satu hari setelah pemakaman ibu. Dia mengatakan ingin mengurus sesuatu yang berkaitan dengan ibu. Aku menebak, dia ingin menata kembali rumah. Dia pasti akan meletakkan banyak barang peninggalan ibu dan foto-foto ibu di dalam rumah. Sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan karena hanya akan memperbesar luka yang dirasakannya. Atau mungkin dia ingin membuat ayah terus teringat ibu.
Arthur sendiri masih berada disini. Dia masih menemaniku di rumah ini walaupun dia selalu pergi di pagi hari dan kembali di malam hari. Dia menghabiskan harinya bersama dengan Olivia. Dia sudah menemukan kembali sosok yang bisa membuatnya nyaman dan sosok yang bisa membuatnya melupakan sejenak rasa kehilangan ibu walaupun akhirnya sepanjang malam aku masih bisa mendengar tangisnya yang merindukan ibu.
"Ada yang ingin bertemu dengan Nona," ucap salah satu sekretaris kakek menyadarkanku dari lamunan.
Aku tidak membuat janji dengan siapapun dan juga kedua sahabatku sudah kembali ke London tepat setelah pemakaman ibu selesai. Aku juga meminta mereka untuk tidak kembali ke Wales untuk menemuiku selama beberapa minggu ke depan. Aku tidak tahu siapa yang ingin menemuiku. Aku hanya mengangguk dan meminta sekretaris itu membawa orang yang ingin menemuiku ke ruang makan.
"Lama tidak bertemu, Nona."
Sekretaris keluarga Nakamoto atau sekretaris yang diutus ibu ke keluarga Nakamoto. Aku melihatnya datang ke rumah saat pemakaman ibu. Dia bersama dengan ibunya datang menemui kakek. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan hingga membutuhkan waktu 2 jam tetapi bisa aku pastikan salah satu topik pembicaraan mereka berkaitan dengan kisah cinta tragis dan perselingkuhan yang harus dirasakan oleh ibu.
"Aku rasa satu minggu bukan waktu yang lama," balasku sembari memperbaiki posisi dudukku agar lebih nyaman.
"Bagi Anda untuk bertemu kembali dengan saya mungkin bukan waktu yang lama tetapi saya rasa bagi Anda untuk menjalani hari-hari tanpa Nyonya Zelia selama satu pekan adalah waktu yang sangat lama, bahkan mungkin bisa terasa sudah satu tahun."
Benar. Sangat benar. Aku hanya tersenyum tipis dan memintanya untuk duduk. Dia lalu mengeluarkan dan meletakkan dokumen-dokumen tebal ke hadapanku, layaknya seorang penjual yang sedang menawarkan dagangannya.
__ADS_1
"Apakah kamu datang sebagai sekretaris Keluarga Nakamoto atau sebagai orang kepercayaan ibu?"
"Keduanya, Nona."
"Beri tahu aku apa yang harus aku dengar."
"Nyonya Sei meminta saya menyampaikan dokumen kecocokan sumsum tulang belakang milik Nona Zeta dengan Nona Sina. Jika Nona ingin marah kepada saya, saya akan berterima kasih karena tidak seharusnya saya datang membahas hal ini saat Nona masih berduka. Awalnya saya tidak ingin menuruti perintah dari Nyonya Sei tetapi saya teringat permintaan dari Nyonya Zelia di hari kematiannya."
Sekretaris itu menghentikkan kalimatnya begitu melihatku mengambil salah satu dokumen, dokumen rekam medis Sina. Ada begitu banyak data tentang kondisi Sina yang semakin hari semakin memburuk. Aku rasa Nyonya Sei sudah tidak memiliki pilihan lain selain memohon dengan cara seperti ini, cara yang bahkan tidak beliau lakukan ketika menemui ibu.
"Apa permintaan ibu?" tanyaku sembari meletakkan kembali dokumen ke atas meja.
Wanita di hadapanku mengeluarkan sebuah surat dengan ragu ke atas meja. Surat yang dibungkus dengan amplop bertuliskan nama ibu di atasnya. Aku mengambil surat itu, masih tersegel dengan rapat.
"Tidak mungkin surat ini sampai di hari kematian ibu. Setidaknya kamu telah menyimpan surat ini selama 5 hari," lanjutku.
Sekretaris itu terdiam selama beberapa menit sebelum akhirnya mengeluarkan alat perekam. Suara yang tidak asing mulai mengisi ruangan, membuatku ingin kembali ke masa dimana aku masih bisa mendapatkan banyak nasehat dan amarah dari pemilik suara itu. Sangat menyesakan untuk hanya mendengarkan suara ibu.
"Zeta tidak tahu jika dia memiliki seorang adik. Jika dia tahu dia pasti akan sangat terkejut karena mengetahui ayahnya masih memiliki hubungan dengan wanita itu bahkan setelah kelahirannya. Aku meminta kepadamu, datangi dia, berikan dia pemahaman tentang adiknya, terutama tentang adiknya yang membutuhkan sumsum tulang belakang miliknya. Jangan memaksanya untuk melakukan donor, cukup beri dia pemahaman jika adiknya membutuhkan dirinya. Dia tidak akan bisa mencintai adiknya begitu saja tetapi dia juga tidak akan bisa membenci adiknya tanpa alasan. Kumohon padamu, berikan pemahaman kepadanya bahwa adiknya tidak memiliki kesalahan apapun dalam takdir yang menimpa kami sekeluarga. Jangan membuat dia memiliki alasan untuk membenci adiknya."
Sekretaris menghentikan rekaman itu. Dia menatapku, mencoba membaca pikiranku atau mungkin perasaanku saat ini. Sayangnya, aku bukan lagi Zeta yang bisa dibaca dengan mudah. Aku bukan lagi Zeta yang menginginkan bantuan orang lain untuk membuatku bisa mengekspresikan diriku. Aku hanya Zeta yang tidak ingin diketahui oleh dunia.
"Saya...," ucapnya begitu keheningan memenuhi ruang makan.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu tidak mengatakan kepada ibu jika aku sudah mengetahui semua hal tentang Sina. Terima kasih karena sudah melindungi ibuku. Terima kasih karena tidak meninggalkan luka sebelum kematian ibuku. Mulai saat ini, kamu bebas untuk menjadi sekretaris Keluarga Nakamoto seutuhnya atau kembali menjadi bagian Keluarga Norvin," potongku.
"Nona mengatakan hal yang sama seperti Nyonya. Beliau membebaskan saya saat dimana saya tidak pernah merasa sedang dikurung."
Hanya senyuman kecil yang aku berikan sebagai jawaban, membuatnya merasa pertemuan kali ini sudah berakhir. Dia meninggalkan nomor teleponnya jika sesuatu terjadi kepadaku atau jika aku menginginkan sesuatu darinya. Aku rasa aku memang akan membutuhkannya selang beberapa hari ke depan.
Aku kembali memfokuskan perhatianku pada surat. Surat yang sepertinya akan sangat aku benci dan tidak akan pernah aku baca untuk kedua kali.
'Zeta, cinta yang menyelamatkan Ibu..
Ibu tidak tahu harus menuliskan apa dalam waktu yang singkat ini. Saat kamu membaca surat ini, Ibu berharap kamu sudah mendengar dan mengetahui semuanya, terutama tentang adikmu. Ibu harap kamu berusaha untuk memahami semua yang terjadi. Ibu tidak akan menyalahkanmu jika kamu memang tidak bisa memahami semua ini. Ibu hanya ingin kamu menerima semua ini, menerimanya sebagai bagian dari hidupmu.
Dia, adikmu, membutuhkanmu Sayang. Dia membutuhkan bagian dari hidupmu yang juga merupakan bagian dari Ibu agar dia bisa tetap hidup. Ibu tidak akan memaksamu untuk mendonorkan apa yang dibutuhkan oleh adikmu, bahkan untuk memberitahumu, ibu merasa malu. Ibu merasa saat ini Ibu ikut campur dalam proses pembuatan keputusanmu.
Ibu hanya ingin kamu tetap melakukan apa yang benar bahkan jika kamu membencinya.
Ibu mencintaimu dan akan selalu menjadi bagian dari hidupmu.'
Saat dimana aku mendengar rekaman suara ibu yang tidak menginginkan darahnya ikut mengalir dalam tubuh Sina, aku sudah memutuskan untuk tidak melakukan donor. Aku juga tidak ingin darah yang ibu wariskan kepadaku berada di dalam keturunan wanita yang sudah menghancurkan keluarga kami. Aku tidak ingin menyelamatkannya tetapi kenapa dan bagaimana bisa ibu menuliskan surat seperti ini? Surat yang tidak menunjukkan satupun kebencian kepada wanita yang sudah menghancurkan hidup dan cintanya, bagaimana bisa?
"Zeta?" panggil Ken menyadarkanku dari lamunan. Aku menatapnya, tidak hanya menatapnya tetapi juga menatap 3 orang yang masuk bersama dengannya. Tante Emily, Dokter Margareth, dan Dokter Esme sekarang berada di depanku sembari tersenyum lembut. Ken pasti yang meminta Tante Emily untuk membawa kedua dokter itu ke Wales begitu tahu aku tidak bisa lagi tidur dengan nyenyak bahkan setelah meminum obat tidurku.
"Zeta harap tidak ada yang menanyakan apakah Zeta baik-baik saja atau tidak karena jawabannya sudah jelas."
__ADS_1
...-----...