
Tante Emily langsung melemparkan botol kosong yang sebelumnya berisi obat-obatan ke atas meja dengan penuh amarah. Dokter Margareth hanya diam menyaksikan amarah tante bersama dengan Ken yang juga sedang mengambil botol-botol yang berjatuhan. Aku juga tidak tahu kapan aku menghabiskan semua obat-obatan itu. Aku hanya tahu bagaimana rasanya tidak bisa tidur hingga tanpa sadar menghabiskan obat-obat itu.
"Kita akan melakukan tes menyeluruh untuk melihat kadar obat-obat itu di dalam tubuhmu apakah mencapai toksisitasnya atau tidak," ucap Tante Emily masih dengan penuh amarah.
Dokter Esme kali ini mengambil sikap, beliau meminta Tante untuk duduk bersama dengan Dokter Margareth dan Ken tetapi Tante menolak dan bersikeras untuk ikut andil dalam sesi konseling hari ini. Aku rasa Tante hanya ingin mengomeliku, menggantikan ibu.
"Apa yang kamu inginkan, Zeta?" tanya Dokter Esme begitu berhasil menenangkan bibi.
"Tidur dengan nyenyak," balasku sembari memberikan tatapan kosong.
"Hanya itu?"
"Kebencian."
"Siapa yang ingin kamu benci?"
"Tuhan."
"Kenapa?"
"Haruskah aku menceritakan semua kisahku yang sudah Dokter ketahui?"
Hening.
Aku mengeluarkan surat yang baru beberapa menit lalu aku baca. Aku memberikan isyarat melalui mata agar Dokter Esme membuka surat itu, dengan ragu beliau membuka surat di tangannya. Hanya diam yang beliau berikan sebagai respon setelah membaca surat itu. Beliau juga langsung meletakkan kembali surat itu ke atas meja, sama sepertiku beliau tidak ingin membaca surat itu untuk kedua kalinya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dokter Esme begitu tatapan penuh rasa penasaran diberikan kepadanya baik dari Tante Emily ataupun Dokter Margareth.
Pertanyaan yang baru saja diajukan berhasil membuat Tante mendekatiku. Tante langsung mengambil surat dan membacanya. Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya Tante duduk di samping Dokter Esme.
"Jangan lakukan itu," ucap Tante Emily dengan nada memerintah ya.
"Tante apakah ada seseorang yang tidak pernah menyalahkan Tuhan atas takdir yang menimpanya selain ibu?"
Tante Emily hanya terdiam sembari menatapku dengan tatapan sendu. Tatapan yang berhasil menyadarkanku kembali akan kehilangan yang aku alami. Tatapan yang tidak ingin aku dapatkan dari beliau.
"Zeta ingin membenci ayah tetapi Zeta tidak bisa melakukan itu karena ibu selalu mengatakan sangat bersyukur bisa memberikan cintanya kepada ayah. Zeta juga ingin membenci wanita yang sudah menghancurkan hidup ibu tetapi ibu meminta Zeta untuk menerima anak dari wanita itu. Ibu bahkan memberikan izin kepada Zeta jika Zeta ingin mendonorkan sumsum tulang belakang milik Zeta. Tante, apakah semua ini masuk akal? Ibu ingin Zeta menyelamatkan anak dari wanita yang membuatnya hancur."
"Zeta juga sangat ingin membenci Tuhan atas semua takdir malang ini tetapi ibu selalu mengajarkan kepada Zeta untuk tidak pernah membenci Tuhan atas semua takdir yang menimpa Zeta ataupun keluarga kami. Bahkan untuk memiliki perasaan benci, Zeta tidak bisa. Lalu, apa yang harus Zeta lakukan dengan perasaan ini? Perasaan yang sudah sangat menyesakkan."
Begitu aku menyelesaikan kalimatku, Ken ikut mendekatiku dan mengambil surat dari tangan Tante. Dokter Margareth hanya diam melihat semua ini tanpa ada keinginan ikut membaca surat yang membuat suasana di ruangan ini menjadi sangat berat. Aku rasa beliau hanya ingin melakukan tugasnya sebagai dokter penanggung jawabku tanpa ingin terlibat lebih jauh dalam masalah Keluarga Allison.
"Zeta," panggil Ken sembari memasukkan surat ditangannya ke dalam saku bajunya.
"Aku tahu, kamu tidak akan pernah mengizinkanku."
"Tidak. Kamu akan melakukan ataupun tidak melakukan donor, aku akan mendukung keduanya. Aku akan mendukung semua yang kamu lakukan selama hal itu bisa membuatmu tidak merasakan rasa sakit dan penyesalan," ucapnya sembari menghadapkan tubuhnya ke arahku.
__ADS_1
"Ken!!" teriak Tante Emily sembari berusaha menarik tubuh Ken menghadap beliau yang berakhir dengan kegagalan karena tubuh Ken yang lebih besar dan kuat dibandingkan Tante.
"Bisakah Tante menyembunyikan hal ini dari ayah, Kak Will, dan Kak Arthur?" tanyaku.
"Tidak. Tante tidak akan mengizinkanmu. Tidak akan pernah."
"Zeta ingin pergi melarikan diri dari Keluarga Allison tetapi Zeta rasa pelarian Zeta hanya akan dipenuhi rasa penyesalan. Tante Emily, Zeta tidak ingin merasakan penyesalan lagi untuk kesekian kalinya. Sangat menyakitkan dan menyesakkan. Semua ini membuat Zeta ingin menyerah."
Tante Emily kembali terduduk. Beliau menatapku masih dengan tatapan tidak percaya. Aku membalas tatapan beliau dengan penuh keyakinan, membuatnya langsung menghembuskan nafas panjang.
"Tante akan selalu berada di sisimu," ucapnya menyerah.
"Terima kasih," ucapku.
...-----...
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?"
Pertanyaanku membuat Caroline terkejut hingga jatuh ke lantai. Dia menatapku tidak percaya, dia seperti sedang menerka-nerka apakah perempuan di depannya ini benar Zeta yang dia kenal. Aku mengulurkan tanganku kepadanya, membuatnya semakin yakin dengan kehadiranku. Dia menerima uluran tanganku dengan penuh keraguan.
"Bukankah aku memberi tahumu untuk tidak datang ke Wales selama beberapa minggu?"
"Aku tidak datang untuk menemuimu," balasnya sembari merapikan pakaiannya.
"Kak Arthur?"
"Jika kamu masih menyukainya, kenapa kamu melepaskannya dan memilih bertunangan dengan laki-laki lain?"
Caroline hanya diam menatapku. Aku menghembuskan nafas pelan dan duduk di sofa yang berada tepat di depan kami. Niatku datang ke tempat ini adalah ingin melihat Olivia dan menemui Arthur tetapi siapa sangka aku justru mendapati sahabatku sedang memata-matai kakakku sendiri. Sudah menjadi rahasia umum diantara kami jika Caroline menyukai Arthur, perasaan yang tidak pernah terbalaskan hingga sekarang.
Caroline menarik tubuhku yang sudah nyaman berada di atas sofa. Dia membawaku ke tempat dimana para pasien biasanya menghabiskan waktu mereka sembari menikmati rerumputan hijau dan langit biru. Sayangnya, sekarang sudah masuk musim dingin dan tentunya langit sudah tidak sebiru musim-musim lainnya. Aku mengikuti Caroline dengan tidak bersemangat hingga dia tiba-tiba berhenti dan menarik tubuhku ke belakang pohon, membuat bahuku menabrak pohon dengan keras.
"Aku hanya ingin memastikan jika Kak Arthur baik-baik saja. Dia tidak pernah menunjukkan perasaannya," ucapnya dengan tatapan terus mengarah pada dua orang yang sedang bermain ayunan. Dua orang yang merupakan Arthur dan Olivia. Aku mengikuti Caroline yang masih mengamati Arthur, berbeda dengannya yang sedang mengamati kebersamaan kedua orang itu, aku lebih memilih untuk mengamati mata Arthur yang masih cukup sembab. Mata yang bagi orang lain adalah mata yang normal tetapi bagiku dan juga William mata yang sekarang Arthur miliki adalah mata penuh air mata.
...-----...
Kemarin malam...
'Halo Sayang,
Jika saat ini kamu membaca surat ini berarti Ibu sudah tidak bisa lagi menjawab semua rasa ingin tahumu. Ibu sudah tidak bisa lagi menemanimu melakukan berbagai kerandoman. Dan Ibu sudah tidak bisa lagi menghapus semua rasa sakitmu.
Maafkan Ibu, Arthur. Mungkin kamu akan bertanya-tanya kenapa Ibu meminta maaf kepadamu tetapi hanya ini yang bisa Ibu lakukan, meminta maaf kepadamu, untuk semua rasa cinta yang Ibu berikan kepada Zeta. Ibu tahu saat kamu masih di sekolah dasar, kamu selalu iri dengan semua rasa sayang dan perhatian yang Ibu berikan kepada Zeta. Maafkan Ibu yang tidak bisa adil kepadamu saat itu. Maafkan, Ibu.. Maafkan Ibu yang bahkan untuk sekarang tetap egois dengan lebih memilih kebahagiaan Ibu dibandingkan kebahagiaanmu.
Arthur, Ibu memiliki dua permintaan. Satu, hiduplah dengan penuh rasa cinta. Jangan lagi menutupi perasaan yang kamu miliki. Saat Ibu menuliskan surat ini, Ibu tidak tahu apakah Ibu sudah berhasil memenuhi bucket list Ibu untuk mempertemukanmu dengan perempuan yang selalu dan selama ini kamu cintai tetapi jika saat ini kamu sudah bertemu dengannya, Ibu mohon untuk menjaganya seperti kamu menjaga Zeta. Dan berhenti membohongi perasaanmu karena itu hanya akan meninggalkan luka.
Permintaan kedua Ibu adalah jangan membenci ayahmu, apapun yang terjadi. Cukup Zeta yang membencinya, Ibu mohon kamu jangan membencinya. Berbeda dengan kamu yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan ayah dan William, Zeta lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ibu dan dia memahami perasaan Ibu lebih dari siapapun. Saat Ibu tidak bisa menunjukkan perasaan benci Ibu untuk ayahmu, Zeta-lah yang akan melakukannya.
__ADS_1
Ibu mencintaimu dan menyayangimu bahkan setelah kepergian Ibu, Arthur.
Hingga hari kepergian Ibu, Ibu juga akan selalu mencintai ayahmu.
Mataharimu yang mulai tenggelam,
Ibu'
Aku tidak sengaja menemukan sebuah surat saat akan menyuruh Arthur makan. Aku memasukkan kembali surat milik Arthur ke dalam amplop dan meletakkannya di atas meja, mengembalikannya seperti semula. Sekarang aku tahu alasan Arthur berdiam diri dan menangis di dalam kamar sepanjang malam. Dia tidak bisa menunjukkan perasaannya, perasaan yang sudah muncul begitu dia tahu kebenaran tentang ayah. Dia harus menekan rasa benci yang ada di dalam hatinya.
Aku berjalan keluar dari kamar Arthur. Aku tidak ingin dia memergokiku membaca surat yang tidak seharusnya aku baca. Jika dia tahu, aku rasa dia tidak akan bisa lagi menahan semua perasaan tersembunyi yang ada di dalam hatinya.
"Ibu, aku sangat merindukanmu. Bahkan setelah aku menuruti apa yang ibu mau, aku tetap tidak bisa melepaskan ibu. Aku....aku..."
Siapa sangka orang yang membuat kami khawatir karena belum memasukkan apapun ke dalam perutnya sepanjang hari ini ternyata sedang duduk di halaman belakang rumah, tempat yang jarang disentuh orang lain.
"Aku ingin membenci ayah, Ibu. Aku sangat ingin membencinya tapi kenapa, kenapa aku tidak bisa?"
Hanya suara tangis yang terdengar detik berikutnya.
"Arthur mohon, beritahu Arthur apa yang harus Arthur lakukan ibu. Arthur mohon...."
...-----...
"Kak Will yang tidak pernah menunjukkan perasaannya," ucapku setelah kembali sadar dari lamunan dan membuat Caroline langsung menatapku dengan bingung.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanyaku setelah membuat Caroline hanya terdiam.
"..."
"Kenapa kamu menyerah pada Kak Arthur?"
"Zeta, ada sesuatu di dunia ini yang memang sudah ditakdirkan menjadi milikku apapun rintangannya dan ada sesuatu di dunia ini yang memang tidak ditakdirkan menjadi milikku bagaimanapun aku memperjuangkannya. Kak Arthur adalah sesuatu yang sangat aku perjuangkan tetapi tidak ditakdirkan untukku. Ada kalanya menyerah lebih baik," balasnya sembari menyandarkan tubuhnya ke pohon.
"Apa yang kamu lakukan saat ini tidak menunjukkan jika kamu sudah menyerah."
"Aku memang menyerah untuk berada di sisinya tetapi hal itu bukan berarti aku juga menyerah untuk melihatnya bahagia. Aku hanya menyerah pada sesuatu yang memang tidak akan pernah bisa aku dapatkan."
Aku menepuk lembut pundak Caroline dan kembali mengamati Arthur yang sedang melemparkan candaan kepada Olivia. Aku tahu jika tidak selamanya waktu bisa menyembuhkan sebuah luka tetapi setidaknya aku tahu jika waktu bisa memberikan sebuah memori baru, memori yang perlahan akan mengurangi beban dan rasa sakit dari sebuah luka.
Aku rasa, mulai detik ini aku tidak akan pernah bisa memberitahu Arthur perasaan milikku yang sebenarnya. Aku tidak ingin menambah luka dan tentunya menambah kebencian yang ingin dia rasakan. Aku tidak ingin dia ikut menutupi perasaannya seperti yang aku lakukan.
Dia akan baik-baik saja..
Aku harap..
...-----...
__ADS_1