
Perasaan saat dirimu tidak diharapkan untuk hadir di sebuah acara perayaan, aku akhirnya paham bagaimana perasaan itu. Tatapan orang-orang yang sekarang menatapku seolah aku adalah hama yang ingin mereka basmi entah karena aku bagian dari Keluarga Allison atau karena aku datang ke acara ini tanpa adanya undangan.
“Wah… mereka hanya mengundang teman-teman Natasha,” ucap Caroline pelan.
Aku tidak peduli siapa yang diundang diacara kekanak-kanakan ini, aku hanya membenci fakta dimana acara ini dipesan atas namaku. Kulangkahkan kakiku menuju pegawai yang sibuk menyajikan makanan. Sekarang bukan hanya benci yang aku rasakan, bagaimana bisa bukan hanya namaku yang Ken gunakan tetapi semua hal tentangku dia gunakan hanya untuk membuat acara ulang tahun Natasha. Semua makanan yang saat ini sedang disajikan adalah makanan kesukaanku dan dekorasi acara ini menggunakan warna biru kesukaanku.
“Bukankah itu makanan kesukaanmu?” tanya Caroline masih dengan suara pelan diikuti senggolan lengan Stephanie.
“Permisi, dimana manajer yang bertanggung jawab?” tanyaku kepada salah satu pegawai yang lewat.
Pegawai itu hanya diam menatapku, seperti kebingungan harus menjawab apa. Pegawai itu perlahan berjalan mendekat ke arahku dan menepuk lembut tanganku sembari menunjuk sebuah ruangan. Aku mengikuti arah tangan pegawai itu hingga tersadar bahwa sepasang alat bantu dengar ada di kedua telinga pegawai itu.
“Terima kasih,” ucapku sembari memberikan bahasa isyarat.
__ADS_1
Tepat saat aku akan membuka ruangan yang ditunjuk pegawai itu, pintu ruangan sudah terbuka dan muncul wajah seseorang yang sangat aku kenal. Aku rasa Ken tidak terkejut melihatku ada di hadapannya saat ini, dia seperti sudah menduga aku akan mendatangi tempat ini. Tanpa sepatah kata, Ken langsung pergi dari hadapanku seolah dia marah karena aku telah melakukan kesalahan. Saat ini yang seharusnya marah adalah aku bukan dia.
Seorang wanita paruh baya mendatangiku dan menyuruhku untuk masuk ke dalam ruangan. Wajah wanita itu sangat lembut, membuat semua amarah yang memuncak di dalam diriku hilang begitu saja. Wajahnya mengingatkanku pada ibuku, wajah yang selalu tersenyum hingga saat tidak tersenyumpun aku masih bisa melihat sebuah senyum terukir di wajahnya. Wanita itu memberiku sebuah kertas berisi penuh tulisan. Sepertinya tempat ini berisikan orang-orang tuna rungu melihat sepasang alat bantu dengar juga menghiasi telinga wanita ini. Kuambil kertas yang disodorkan wanita itu.
‘Terima kasih sudah bersedia mengadakan pesta untuk ulang tahun adik Natasha. Ken sudah menceritakan banyak hal, dia mengatakan jika seorang perempuan baik hati bersedia menyiapkan pesta ulang tahun untuk adik Natasha. Ken juga mengatakan perempuan itu akan datang ke acara ini. Tidak ada lagi kata yang bisa saya ucapkan, sekali lagi terima kasih sudah membuatkan pesta ini. Natasha sendiri melakukan pekerjaan paruh waktu ditengah sekolahnya untuk membuat pesta kecil tetapi tetap saja Natasha juga membutuhkan uang tambahan untuk keperluan sekolahnya. Begitu saya tahu ada seorang perempuan seperti Anda, saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Sekali lagi terima kasih..’
“Maaf,” ucapku pelan.
Wanita itu diam menatapku, bertanya apa yang baru saja aku ucapkan. Aku hanya menggelengkan kepala dan langsung berdiri dari tempatku duduk untuk keluar ruangan. Sekarang aku sudah tahu dan paham kenapa Ken bisa jatuh cinta pada Natasha. Ketika hidupku selalu penuh dengan kemewahan dan selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, disisi lain ada seorang perempuan yang berjuang untuk hidupnya dan juga hidup keluarganya. Dan aku disini justru menghakimi hidup perempuan yang sudah berjuang mati-matian itu.
“Kenapa?” tanya Caroline untuk sekian kalinya mendesak aku untuk membuka mulutnya.
“Aku akan menyerah dengan Ken.”
__ADS_1
“Hah?” ucap Stephanie dan Caroline serempak.
“Dan kalian berdua jangan membuat gosip yang tidak benar tentang Natasha.”
“Kamu baik-baik saja?” tanya Caroline sembari memeriksa tubuhku.
Aku tidak tahu apakah saat ini aku baik-baik saja atau tidak. Sekali lagi aku merasa menara keangkuhan yang sudah lama aku ciptakan tiba-tiba runtuh begitu saja. Aku baru menyadari betapa angkuhnya diriku saat ini. Mungkin Tuhan mengirimkan Natasha ke dalam hidup Ken untuk memberikan pelajaran kepadaku bahwa tidak selamanya aku akan mendapatkan semua yang aku mau dan aku bukanlah perempuan kuat seperti yang selama ini aku kira karena diluar sana masih banyak perempuan-perempuan kuat lainnya.
Kemesraan yang selama ini Ken tunjukkan di depan umum bukanlah sebuah kepura-puraan, semua itu bentuk perlindungan yang bisa dia berikan kepada Natasha. Hanya aku yang menganggap semua itu sebagai bentuk kepura-puraan miliknya karena aku tidak ingin mengakui adanya perempuan lain yang bisa membuat Ken tersenyum dengan lepas dan penuh kebahagiaan. Keangkuhanku membuatku menutup mata dan menganggap semua ketulusan Ken untuk Natasha sebagai sebuah kepura-puraan.
Saat ini, aku bisa melihat senyum tulus milik Ken untuk kali pertama dalam hidupku. Senyuman yang selama ini Ken berikan untukku hanyalah senyuman sopan santun yang aku terjemahkan sebagai senyum penuh ketulusan dan kasih sayang. Sangat menakutkan ketika sebuah keangkuhan menjadi satu dengan hidup seseorang.
Dan pada akhirnya, akulah yang berpura-pura….
__ADS_1
...-----...