
"Apa yang ingin Ibu katakan kepada Zeta?" tanyaku begitu nenek meninggalkan kamar ibu.
"Terima kasih sudah mau memenuhi bucket list Ibu."
"Ibu, Arthur sudah menghubungi ayah dan ayah tidak tahu menahu perihal surat perceraian itu. Besok ayah akan datang kesini untuk meluruskan kesalahpahaman."
Ibu meletakan tangan kanannya ke atas kasur di samping tempat beliau sedang berbaring, memintaku untuk duduk. Aku menghembuskan nafas dengan pelan sebelum menuruti perintahnya. Ibu mengulurkan tangan yang berisi jarum infus kepadaku, aku langsung menerima tangan ibu dan meletakkannya ke pipiku. Hangat. Sangat hangat.
Dua minggu yang lalu tanpa sengaja aku melihat bucket list milik ibu, sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat.
Membuat William menyadari arti hidupnya.
Membuat trauma Arthur hilang.
Mencari seseorang yang akan melindungi Zeta apapun yang terjadi.
Bahkan isi bucket list ibu semuanya berkaitan dengan anak-anaknya, kebahagiaan anak-anaknya.
Tanpa kusadari air mataku jatuh. Hal ini membuat ibu langsung terbangun dari tidurnya dan menatapku lembut sembari mengusap air mataku. Aku juga ingin menghapus setiap air mata yang turun dari mata beliau. Aku juga ingin menemani setiap keheningan akibat rasa sakit yang dirasakannya. Aku ingin menggantikan ibu untuk membenci ayah. Aku benar-benar ingin membenci ayah…
"Sayang?" panggil Ibu khawatir karena air mataku terus mengalir.
"Apa yang akan Ibu lakukan begitu bucket list Ibu terpenuhi?"
"Tidak ada yang ingin Ibu lakukan."
"..."
"Seperti yang sudah dan selalu Ibu katakan, Ibu tidak menyesal mencintai ayahmu. Ibu bahagia dan bersyukur bisa memberikan cinta Ibu kepada ayah kalian."
"Memberikan? Bagaimana dengan balasan yang Ibu dapatkan?" gumamku.
"Ibu berbohong jika Ibu mengatakan cinta tidak membutuhkan balasan apapun karena Ibu sangat menginginkan balasan untuk cinta yang Ibu berikan. Tetapi Zeta, cinta yang diberikan seseorang bisa menjadi sebuah beban bagi orang yang menerimanya. Ibu ingin mendapatkan balasan untuk cinta yang Ibu berikan tetapi di sisi lain Ibu menyadari jika cinta yang Ibu berikan merupakan sebuah beban tersendiri untuk ayahmu. Ibu tidak bisa melakukan apapun untuk itu."
"..."
"Ibu sangat bahagia, Zeta."
Aku mengangguk, aku tidak ingin membuat ibu terus-menerus meyakinkanku betapa bahagianya beliau. Aku hanya tidak ingin beliau terus-menerus mengatakan betapa beliau mencintai ayah. Dan aku hanya tidak ingin perasaan bahagia dan cinta yang ibu rasakan kepada ayah hilang hanya karena tidak ada satupun yang mempercayainya.
Aku hanya ingin membuat ibu merasakan hadirnya seseorang yang mempercayai cinta dan kebahagiaan yang dirasakannya, setidaknya untuk hari ini..
...-----...
Pagi hari yang cerah untukku tetapi bukan untuk Arthur. Begitu kami sampai di tempat dimana Olivia dirawat, Arthur langsung memasang wajah pahit miliknya. Melihat dirinya yang tidak terkejut membuatku yakin jika dia sudah tahu keberadaan tempat ini, bahkan mungkin dia meminta seseorang untuk selalu melaporkan keadaan Olivia kepadanya. Hal itu pasti ada campur tangan William. Aku rasa ibu hanya perlu melakukan 50% usaha untuk membuat Arthur menerima masa lalunya.
Satu hal yang selalu aku benci dari Arthur adalah bagaimana dia selalu melakukan apapun yang dia inginkan tanpa memikirkan perasaan orang lain. Dia langsung berjalan menuju ruangan dimana Olivia dirawat, tentunya membuat kami semua terkejut terlebih ibu dan Bu Jasmine karena tidak ada satupun dari kami yang mengatakan nomor ruangan Olivia dirawat.
Sekarang Arthur hanya berdiri di depan pintu tanpa ada keinginan untuk membukanya. Apa yang dia lakukan saat ini adalah batasan dari apa yang bisa dia lakukan. Dia takut akan melakukan sesuatu yang buruk jika dia melewati batas yang sudah 5 tahun dia jaga. Dia tidak ingin usahanya selama 5 tahun berakhir dengan sia-sia dan penyesalan. Tetapi, apakah dia tidak menyesal telah menjaga jarak dengan seseorang yang dia cintai?
Ibu menyusul Arthur, hanya akan membutuhkan waktu 5 menit sebelum Arthur akhirnya masuk ke dalam ruangan. Ibu memang sehebat itu dalam membujuk seseorang. Aku hanya takut kalimat bujukan ibu berubah menjadi pedang bermata dua untuk Arthur.
__ADS_1
"Apa yang Ibu harapkan menjadi sebuah kenyataan. Keluarga Allison yang selama ini mencari Olivia," ucapku, membuat Bu Jasmine mengalihkan pandangannya dari Arthur sesaat lalu berjalan menuju ruangan tempat Olivia berada.
"Kak Arthur akan baik-baik saja bukan?" tanya Caroline khawatir.
"Aku tidak tahu."
Ken menarik tubuhku, membuat Caroline terkejut karena tubuhku seperti tertarik sesuatu. Aku langsung memasang wajah sebal ke Ken dan mengikuti arah matanya yang menunjuk seseorang, Olivia. Aku rasa Olivia baru menyelesaikan sesi jalan-jalan paginya. Dia terus melihat ke arah Arthur, melihatnya seolah Arthur adalah dunia yang selama ini hilang darinya dan sekarang dia sudah menemukannya kembali.
Aku rasa hatinya sudah lama merindukan Arthur tetapi tubuhnya masih belum menerima masa lalunya. Tubuhnya bergetar ketakutan tetapi dia berusaha meyakinkan dirinya jika dia akan baik-baik saja, sesuatu yang seharusnya tidak dia paksakan karena hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk.
"Oliv?!" Bu Jasmine terkejut melihat Olivia berada di belakang kami. Teriakan Bu Jasmine membuat Arthur menoleh ke arah kami dan matanya sudah terpaku kepada sosok yang selama ini dia rindukan. Apa yang dia takutkan, apa yang dia sesalkan, apa yang dia khawatirkan, semuanya hilang begitu matanya bertemu dengan mata yang sudah lama dia rindukan.
Olivia menatapku sekilas dengan memberikan sebuah senyum. Aku tidak bisa mengartikan dengan pasti arti senyum itu, mungkin sebuah senyum perkenalan karena baru pertama kali melihatku dan Ken, mengingat sebelumnya aku hanya mengobrol dengan Bu Jasmine tanpa bertemu langsung dengannya. Dia menyapa Stephanie dan Caroline sebelum akhirnya berjalan menuju ruangannya ditemani Bu Jasmine.
"Kak Arthur akan baik-baik saja bukan?!" tanya Caroline untuk kedua kalinya.
"Mereka akan baik-baik saja," balasku sembari duduk di kursi.
"Mereka?"
"Kak Arthur dan Olivia," jawab Stephanie.
Apakah aku menatap Alvin sama seperti saat Arthur menatap Olivia?
Apakah mataku berkilauan saat menatap Alvin seperti yang mata Arthur tunjukan?
Apakah wajahku sangat bahagia saat menatap Alvin seperti yang wajah Arthur tunjukan?
Dan apakah wajahku juga menunjukkan kesedihan saat menatap Alvin seperti yang Arthur tunjukan?
Aku menoleh ke arah Ken yang sedang menatapku, lebih tepatnya sedang membaca pikiranku. Stephanie menarik tubuh Caroline menjauhi kami, tentunya dengan adanya penolakan dari Caroline sebelum akhirnya dia menyerah dengan kekuatan tangan Stephanie.
"Jika kamu bisa membaca apa yang aku pikirkan bukankah itu berarti wajahku menunjukan segalanya?" balasku membuatnya sedikit tertegun.
"Wajahmu tidak bisa menunjukan siapa yang kamu cintai. Jika wajahmu bisa menunjukannya, baik aku ataupun Kak Alvin tidak akan menderita hanya untuk mencari tahu siapa yang kamu cintai."
Kami terdiam untuk waktu yang cukup lama. Baik aku maupun Ken tidak ingin memulai kembali percapakan kami. Kami lebih memilih mengamati orang-orang yang lalu lalang sembari terbenam dalam pikiran kami masing-masing. Tanpa kusadari, mataku sedari tadi tertuju pada ruangan dimana Arthur berada. Aku ingin memastikan apakah semuanya baik-baik saja atau tidak.
"Pergilah," ucap Ken sembari memberikan sebuah kunci, kunci ruangan Olivia. Aku menggeleng dan berjalan tanpa kunci itu, aku hanya ingin melihat sekilas untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Aku tidak ingin terlibat sesuatu yang tidak membutuhkan keterlibatanku, aku tidak ingin menjadi seseorang yang usil.
"Aku tahu kamu akan selalu melihatku sebagai seorang monster."
Ucapan itu sudah cukup membuatku berhenti di depan pintu.
"Kamu bahkan tidak menyebutkan namaku, Oliv."
"Aku, namamu.."
"Namaku masih menyimpan sebuah luka untukmu bukan? Jika saja kamu tidak mengenalku kamu tidak akan mengalami hal semenakutkan dan semenyakitkan itu," potong Arthur.
"Jika aku tidak bertemu denganmu aku tidak akan pernah mengenal siapa diriku dan bagaimana lukisanku. Aku juga tidak akan mengenal cinta."
"Itu bukan cinta. Itu hanya rasa sakit, Oliv. Rasa sakit yang kita balut dengan kata cinta."
...-----...
__ADS_1
Kemarin malam...
"Bukan ayah yang mengirimkan surat perceraian itu. Ayah langsung marah begitu aku menanyakan perihal surat perceraian itu. Aku rasa orang lain yang mengirimkannya."
"Kak, apa Kakak tahu alasan Ibu meminta Kakak datang kemari?" tanyaku membuat Arthur tertegun.
"Sepertinya Kakak sudah tahu," lanjutku begitu Arthur hanya diam menatapku selama 5 detik.
"Apa yang kamu dan ibu rencanakan?"
"Aku tidak merencanakan apapun."
"...."
"Dia masih menjadi cinta Kakak dan Kakak masih menjadi cintanya hingga saat ini, apa yang akan Kakak lakukan jika dia meminta Kakak untuk kembali hadir ke dalam hidupnya?"
"Cinta? Itu hanya rasa sakit, Zeta."
"..."
"Cinta tidak akan meninggalkan rasa sakit, manusialah yang meninggalkannya."
"Dan manusia juga yang memberikan cinta, Kak."
Arthur menatapku dengan tajam selama beberapa detik hingga akhirnya tatapan itu berubah kembali menjadi tatapan penuh kehangatan. Dia mengusap lembut kepalaku, dia sedang memintaku untuk menyudahi percakapan ini. Usapan tangannya menunjukkan betapa lelahnya dia dengan semua yang terjadi saat ini dan dia memintaku untuk beristirahat hanya selama beberapa menit.
"Zeta, saat seseorang kembali bersama dengan cinta masa lalunya itu bukan hanya sekadar membangun masa depan tetapi juga menerima, merelakan, melepaskan, dan mengikhlaskan masa lalu mereka, masa lalu yang sebelumnya memisahkan mereka. Dan aku ingin menghapus masa lalu itu bukan menerimanya. Kamu sangat tahu apa arti dari menghapus masa lalu."
"Menghapus masa lalu sama dengan melarikan diri," gumamku dibalas dengan senyuman dari Arthur.
"Dan tidak ada cinta yang bertahan lama karena sebuah pelarian, Zeta."
...-----...
"Arthur, aku selalu berusaha berdamai dengan masa lalu hanya untuk bisa bersama denganmu di masa depan. Tetapi, kenapa kamu tidak berusaha seperti yang aku lakukan?"
"Apa kamu yakin kita bisa bersama di masa depan?"
"Arthur!!"
Teriakan ibu terdengar sangat jelas bahkan hingga keluar ruangan. Ada sebuah keraguan di dalam pertanyaan yang Arthur ucapkan. Jika ibu mendengarnya dengan baik, ibu bisa menggunakan keraguan itu untuk menyerang Arthur, membuatnya mengakui perasaan miliknya. Arthur adalah tipikal orang yang akan menyadari perasaannya saat seseorang menjadikan keraguan dalam dirinya sebagai sebuah senjata. Dia adalah seseorang yang menyadari perasaannya melalui keraguan yang dia tunjukan kepada orang lain, keraguan yang tidak dia sadari.
"Lalu kenapa kamu ragu jika kita memang tidak akan bisa bersama di masa depan? Kamu sendiri bahkan meragukan dirimu."
Skakmat.
Pertanyaan Olivia meninggalkan keheningan di ruangan. Aku sudah tahu akhirnya, Arthur akan menerima trauma dan masa lalunya. Dia akan kembali menerima dirinya sendiri, dirinya yang sangat mencintai Olivia dan dirinya yang tidak bisa menyelamatkan Olivia.
Sudah tidak akan ada masalah setelah ini, hanya akan ada beberapa kali argumen dan aku sangat yakin Olivia akan langsung membantah argumen itu. Aku memutuskan berjalan menjauh dari ruangan, kembali menuju tempat dimana Ken dan mungkin kedua sahabatku berada.
"Hai."
Langkah kakiku sudah terhenti jauh sebelum sapaan canggung itu muncul. Mata biru itu kembali menyapaku. Sekali lagi, seseorang yang sangat ingin aku hindari sekarang berada di depanku tanpa sebuah peringatan.
Siapa yang akan kembali tersakiti karena takdir ini?
__ADS_1
...-----...