
"Ayah masih berada di ruang kerja kakek."
William memberikan secangkir cokelat panas kepadaku. Begitu dia sampai, dia tidak mengeluarkan satupun kalimat maupun air mata. Dia hanya menunjukan ekspresi datar dan dingin yang biasa dia berikan. Kalimat yang baru saja dia ucapkan kepadaku adalah kalimat pertama yang dia keluarkan selama dia menginjakan kaki di rumah ini. Aku rasa itulah benteng pertahanan miliknya agar tidak ikut terjatuh. Benteng yang mungkin akan membunuhku lebih dahulu tetapi benteng itulah yang menyelamatkannya hingga saat ini.
Berbeda dengan William yang lebih memilih untuk tidak menunjukan emosi apapun, Arthur sudah lebih dari 2 jam mengurung dirinya di dalam kamar. Dia tidak mengizinkan satupun orang untuk masuk. Beberapa kali suara tangis terdengar dari kamarnya dan lagi-lagi tidak ada satupun orang yang berani masuk untuk menemaninya, termasuk aku. Tidak akan ada satu orangpun yang bisa menenangkan seseorang yang sedang merasakan penyesalan karena rasa penyesalan itu akan semakin membesar dengan adanya simpati dari orang lain.
"Kakek sudah memukuli ayah selama dua jam. Sepertinya besok di pemakaman orang-orang akan lebih bergunjing tentang alasan luka di tubuh ayah," ucap William sembari menyeruput cokelat panas dari cangkir di tangannya.
"Aku rasa kakek akan mendengarkanmu jika kamu memintanya berhenti memukili ayah," lanjutnya.
"Jauh di dalam lubuk hati ayah, ayah tahu jika beliau pantas menerima semua pukulan itu. Ayah bisa saja meminta pengawal untuk menghentikan kakek tetapi ayah tidak akan melakukan hal itu," balasku, tidak ingin ikut campur urusan ayah.
"Benarkah?" balas William dengan sinis.
__ADS_1
Aku mengambil cangkir dari tangan William dan meletakannya ke meja samping tempat kami duduk, bersama dengan cangkir milikku. William menatapku lembut dan langsung menatap langit malam yang sendu begitu aku membalas tatapannya. Aku memegang kedua pipinya dan meletakan dahinya ke atas bahuku. Sesuatu yang selalu dia lakukan setiap kali dia merasa kesulitan. Dia tidak akan mungkin bisa melakukan hal ini sekarang. Hanya ini yang bisa aku berikan kepadanya.
"Menangislah seolah esok adalah akhir."
Tubuh William bergetar dan air mata mulai membasahi bahuku.
"Aku bukan anak yang baik. Aku selalu mengabaikan ibu dan lebih memilih untuk mempelajari bisnis Keluarga Allison. Aku selalu menolak ajakan ibu dan lebih memilih menghabiskan waktuku mencari kelemahan perusahaan lain. Aku tidak pernah melindungi ibu.."
"Kakak melindungiku dan melindungiku sama halnya dengan melindungi ibu," potongku.
"..."
"Aku tidak pernah memihak ibu bahkan saat ayahlah yang melakukan kesalahan. Bahkan, setelah aku tahu semua kebenaran tentang ayah, aku masih membelanya dan menyakiti perasaan ibu. Aku...."
__ADS_1
"Kamu laki-laki terhebat pertama yang ibu lahirkan, Kak."
"Tidak."
"Iya dan Kakak harus membuktikannya."
"..."
"Tanpa perlu mengatakannya, ibu sudah tahu jika kita sangat mencintainya. Ibu tidak pernah menyesal memberikan cintanya walaupun pada akhirnya ibu tidak mendapatkan balasan yang setimpal dengan cinta yang diberikannya," ucapku sembari mengusap lembut rambut William.
"Apa yang harus aku lakukan setelah ini, Zeta?"
Pertanyaan yang juga aku ajukan kepada diriku. Aku bahkan tidak tahu jawaban atas pertanyaanku lalu bagaimana bisa aku menjawab pertanyaan William?
__ADS_1
Aku membiarkan William terus menangis hingga dia tertidur dan meninggalkanku sendiri di gelapnya malam.
...----...