
"Kenapa kamu tidak membalas pesanku?!" tanya Arthur begitu aku masuk ke dalam mobil.
"Aku tidak ingin melihatmu hanya berdua dengan Alvin di masa mendatang," ucap William begitu masuk ke dalam mobil.
"Apa yang terjadi dengan kalian?” timpal Arthur dengan wajah kebingungan begitu melihatku dan William masuk ke dalam mobil dengan suasana yang cukup suram.
"Mereka berdua tidur di lapangan dengan bergandengan tangan."
"Hei!!! Zeta!!!" teriak Arthur.
Siapa yang akan menyangka jika aku dan Alvin akan tertidur di atas rumput hijau itu selagi menikmati senja. Aku terbangun gara-gara William yang tiba-tiba berbaring diantara tubuhku dan Alvin. Dia langsung memberikan tatapan menakutkan begitu aku bangun dari tidurku. Dia juga langsung menarik tubuhku menjauhi Alvin tanpa mencoba mengucapkan sepatah dua patah kata kepada Alvin. Meninggalkan Alvin yang kebingungan seorang diri di tengah lapangan. Dan juga, aku tidak membalas pesan Arthur karena kondisi moodku buruk saat pertama kali dia mengirimkan pesan dan juga bersama degan Alvin membuatku mengabaikan semuanya. Bahkan aku juga melupakan saat dimana seharusnya aku mencari William di ruang VIP.
Sungguh, siapa yang akan menyangka jika aku akan tertidur di tengah lapangan?
"Aku tidak akan mengulanginya lagi," jawabku setelah terus menerus mendapatkan tatapan menakutkan dari kedua kakakku.
"Apa yang tidak akan kamu ulangi?!" tanya William dan Arthur bersamaan. Mereka berdua memang selalu kompak jika menyangkut diriku.
"Keduanya. Aku akan selalu membalas pesan kedua kakakku dan aku tidak akan tidur berdua di lapangan dengan bergandengan tangan."
"Sepertinya kita harus membuat sebuah perjanjian di atas kertas," ucap Arthur.
"Kenapa?" rengekku.
"Aku akan mengaturnya," balas William.
"Kalian tidak ingin melihatku menikah?"
"Sekarang belum saatnya," balas William dan Arthur berbarengan untuk kedua kalinya.
William langsung menyalakan mesin mobil dan melajukannya meninggalkan sekolah yang masih dipenuhi beberapa anak karena kegiatan ekstrakurikuler. Aku terus melihat jalanan yang dipenuhi mobil-mobil, pemandangan yang tidak pernah aku sukai karena membuatku merasakan betapa sibuknya kota ini. Beberapa kali William melihat ke arahku melalui kaca spion depan. Dia ingin membuka percakapan tentang apa yang terjadi hari ini tetapi dia ragu karena melihatku yang sedang menikmati perjalanan, lebih tepatnya pura-pura menikmati jalanan.
"Kenapa Kakak dan ayah melakukan hal itu?" tanyaku begitu tidak tahan lagi dengan lirikan William yang terus menerus menggangguku.
"Agar tidak ada lagi orang yang akan menyakitimu di masa depan."
"Aku rasa bukan hanya tidak berani menyakitiku tetapi juga tidak berani berteman denganku."
"Karena mereka memang tidak pantas berteman denganmu."
"Lalu, bagaimana dengan Stephanie?"
"Ayah memberikan semua yang Paman Chester minta. Semua yang ada di berita tidak selalu sebuah kebenaran. Keluarga Elizabeth akan terus mengurus sekolah itu."
__ADS_1
"Seharusnya Kakak mencegah ayah. Sekolah itu adalah impian Stephanie."
"...."
"Dan mereka yang mem-bully-ku, haruskah sampai mengakuisisi perusahaan keluarga mereka dan memutus kerja sama dengan mereka yang tidak mau diakuisisi?"
"Zeta...,” panggil Arthur begitu menyadari perubahan suasana yang semakin buruk.
"Jika di masa depan seseorang mengambil impianku, apa yang akan Kakak dan ayah lakukan?" lanjutku tidak mempedulikan panggilan peringatan Arthur.
"Mereka pantas mendapatkannya,” balas William menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Lalu, apakah pegawai mereka juga pantas mendapatkannya? Saat dimana mereka tidak terlibat dalam bullying yang terjadi kepadaku?"
"Zeta, Grup Allison hanya mengakuisisi, kita tidak melakukan pemecatan masal dan kita memutus kontrak sesuai dengan kontrak yang mereka tanda tangani."
"Tetapi pemecatan masal itu akan terjadi di masa depan bukan? Dan pemutusan kontrak itu akan berakhir dengan kebangkrutan perusahaan itu, bukan? Dalam waktu satu tahun ini?" balasku membuat Arthur menggelengkan kepalanya.
Hening. Bahkan di dalam keheningan ini, aku sudah tahu semua jawaban dari pertanyaanku. Aku tidak pernah menyangka keheningan akan menjadi sebuah jawaban yang paling aku benci.
"Apa Kakak tahu jika anak-anak mulai menatapku dengan takut seolah melihat predator yang siap memangsa mereka kapanpun aku mau. Aku juga semakin takut dengan diriku sendiri. Cara ayah dan Kakak melindungiku membuatku tidak ingin dilindungi."
"Zeta," panggil Arthur sekali lagi, berharap kali ini aku tidak melanjutkan kembali pembicaraan ini.
"Maafkan aku," ucap William yang menutup percakapan kami dan menciptakan keheningan disisa perjalanan kami.
...-----...
Hari ini kedua orang tuaku dan William pergi mengunjungi kakek dan nenek dari keluarga ibu. Semalam ketika makan malam, ibu memberitahu jika nenek jatuh sakit dan menginginkan semua anggota keluarga untuk berkumpul. Sebenarnya baik aku maupun Arthur tidak masalah jika harus ikut mengunjungi kakek dan nenek yang berada di Wales tetapi ayah menyuruh kami untuk tetap berada di rumah. Ibu juga tidak mencoba bernegosiasi dengan ayah agar mengizinkan kami berdua ikut bersama mereka sehingga mau tidak mau aku dan Arthur ditinggalkan begitu saja di rumah yang besar ini. Sejujurnya aku sedikit curiga jika mereka akan membahas sesuatu yang berkaitan dengan 'ahli waris' dan karena hal itulah ibu tidak mempersalahkan untuk meninggalkanku dan Arthur. Apapun itu, aku hanya berharap nenek cepat sembuh.
Sekarang masih pukul 6 pagi dan aku sudah selesai bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Aku juga sudah meminta koki di rumah menyiapkan makanan hanya untuk Arthur karena aku masih sangat kenyang. Sepanjang malam aku memakan semua snack yang ada di kamarku tanpa henti, aku juga mengambil beberapa snack lain yang ada di tempat penyimpanan makanan. Aku merasa bersalah dengan apa yang aku ucapkan kemarin kepada William. Aku tahu jika William melakukan semua itu hanya untuk melindungiku. Dan ibu juga sudah pernah mengatakan baik ayah maupun William melindungiku dengan cara berbeda, dengan cara yang mungkin aku benci tetapi dengan cara itulah mereka menunjukkan cinta dan kasih sayang mereka.
Aku mengambil kertas harapan yang William berikan kepadaku beberapa hari yang lalu dan mulai menggoreskan tulisan di atasnya. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk selesai menuliskan harapan pertama yang aku inginkan dari William. Aku langsung memasukkan semua barang-barang sekolah ke dalam tasku dan berjalan keluar kamar begitu semua keperluanku sudah aku masukkan ke dalam tas. Aku berjalan menuju kamar William untuk meletakan kertas harapan ini.
Krik, kubuka pintu kamar William.
Seperti yang aku harapkan dari William, dia tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Kebiasaan yang selalu ayah benci mengingat begitu banyaknya dokumen yang ada di kamarnya tetapi kebiasaan itu cukup membantu para pelayan di rumah ini ketika membersihkan kamarnya. Kebiasaan yang saat ini juga aku syukuri karena belum dia ubah.
Tok.. tok..
Aku langsung memutar tubuhku ke arah suara ketukan pintu dengan wajah terkejut. Wajah menyebalkan Arthur yang aku lihat begitu memutar tubuhku. Dia berjalan mendekat kepadaku dan langsung mengambil kertas harapan yang sudah aku letakkan di atas meja kerja William.
"Maafkan aku atas semua yang aku katakan kemarin. Ayo kita makan malam. Ini harapanmu?"
__ADS_1
"Berikan kembali kertas itu!!!" teriakku sembari melompat-lompat, berusaha mengambil kertas harapan yang berada di tangan kanan Arthur.
"Seberapapun menyakitkannya ucapanmu dan seberapapun menyebalkannya tingkah lakumu, William tidak akan pernah membencimu. Jangan buang kertas harapanmu untuk sesuatu yang sudah pasti kamu dapatkan," balas Arthur sembari merobek kertas di tangannya dan memasukannya ke tempat sampah.
"Kak Arthur!!!" panggilku sembari mencoba mengambil sobekan kertas di dalam tempat sampah yang tentunya langsung dihalangi oleh Arthur.
"Aku akan memberitahumu sebuah cerita," ucapnya sembari membuatku duduk di atas kursi kerja William dan dia berjongkok di depanku.
"Selama ini William selalu pergi ke ruang VIP bukan? Dia mencoba mengurangi jumlah perusahaan yang akan terkena dampak dari apa yang ditimbulkan Ken. Semua teman angkatanku juga diam tidak ikut campur itu karena William yang menyuruh mereka. William bahkan berusaha bernegosiasi dengan ayah perihal sekolah milik Keluarga Elizabeth karena dia tahu betapa berharganya sekolah itu untukmu walaupun pada akhirnya dia gagal. Dia tidak peduli selelah apa dirinya, yang dia pedulikan hanya dirimu, Zeta. Aku memang tidak selalu menyukai caranya menyelesaikan semua masalah tetapi aku selalu menyukai tekadnya untuk melindungimu. Melindungi satu-satunya adik perempuan yang dia miliki."
"..."
"Karena itu tidak bisakah kamu memprioritaskan impianmu dan cintamu untuk keluarga ini dibandingkan cintamu untuk Alvin?"
"Kami berdua cemburu melihatmu bisa menunjukan senyum dengan leluasa kepada Alvin tetapi tidak kepada kami. William bahagia kamu bisa menemukan cinta tetapi jauh di dalam hatinya dia juga menginginkan kamu mencintainya. Dia tidak peduli jika kamu tidak mencintainya sebesar dia mencintaimu, dia hanya ingin kamu menerimanya dan menerima dirimu sebagai bagian dari Keluarga Allison. Keluarga yang kamu benci dan keluarga yang sangat mencintaimu.”
"Maafkan Zeta."
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Zeta. Aku juga membenci keluarga ini tetapi dibandingkan rasa benciku, aku lebih memilih untuk mencintainya karena di dalamnya berisi orang-orang yang aku cintai. Aku harap kamu bisa melakukan hal yang sama denganku. Jangan pedulikan pandangan orang-orang tentang kejamnya Keluarga Allison, cukup pedulikan orang-orang di dalamnya yang sangat mencintai dan menyayangimu dengan nyawa mereka."
Arthur mengelus lembut rambutku. Aku memang selalu menunjukan betapa aku membenci semua hal tentang Keluarga Allison terlebih saat ayah dan William mencoba melindungiku. Aku tidak pernah menyadari jika apa yang aku tunjukkan kepada mereka juga menyakiti hati mereka. Aku hanya memikirkan diriku sendiri dan selalu mencoba berlari keluar dari keluarga ini. Sesuatu yang tidak seharusnya aku lakukan. Aku selalu melupakan fakta dimana jika ayah dan William tidak menolong dan melindungiku, aku tidak akan pernah bisa bertahan hingga saat ini. Pasti akan ada banyak orang yang mendekatiku hanya untuk mendapatkan informasi seputar Keluarga Allison dan akan memanfaatkanku. Aku seharusnya bersyukur, sesuatu yang belum pernah aku lakukan dengan sungguh-sungguh.
Arthur menyodorkan sebuah kertas dan spidol berwarna kepadaku. Aku menatapnya dengan bingung. Seperti tahu dengan kebingunganku, Arthur menuliskan sesuatu di kertas itu. Sesuatu yang belum pernah dia tuliskan.
'Hei Will, aku mencintaimu dan maafkan atas semua kesalahanku. Aku berjanji akan terus melindungi dan menjaga Zeta saat kamu tidak ada karena itu selesaikan tanggung jawabmu dengan tidak tergesa-gesa. Xoxo'
Sekali lagi Arthur menyodorkan kertas dan spidol ke arahku yang langsung aku sambut dengan kedua tanganku.
'Welcome home Kak!!! Maafkan Zeta atas apa yang Zeta katakan kemarin. Zeta terbawa emosi sehingga tidak mencoba melihat dari sudut pandang Kakak. Sekali lagi maafkan, Zeta ^^. Zeta juga ingin berterima kasih kepada Kak Will karena selalu melindungi Zeta apapun yang terjadi. Zeta harap ke depannya Kak Will akan terus melindungi dan menjaga Zeta. Zeta berjanji akan menuruti semua perkataan Kakak di masa depan dan maafkan Zeta untuk beberapa nasehat Kak Will yang tidak Zeta ikuti di masa lalu. Zeta akan selalu mencintai Kak William ^^'
Sebuah uluran tangan meminta kembali kertas di tanganku menyambutku begitu aku selesai menuliskan hal yang ingin aku beritahukan kepada William. Aku memberikan kembali kertas berwarna kuning muda itu kepada Arthur. Dia langsung membuat origami berbentuk hati, mengingatkanku kembali ke saat kami masih kecil.
Setiap kali kami bertengkar dan kami tidak memiliki keberanian untuk meminta maaf secara langsung, kami akan menuliskan selembar surat yang dibentuk hati. Sesuatu yang sudah lama tidak kami lakukan. Arthur lalu meletakkan surat berbentuk hati itu ke atas meja kerja William. Dia juga meletakkan sekaleng kopi kesukaan William di atas surat itu, sebuah tanda jika surat itu berasal darinya. Aku tidak mau kalah dan juga meletakan lollipop serta Botan Rice Candy ke atas surat itu.
"Ayo, berangkat."
"Kakak tidak sarapan?"
"Bukankah kamu meminta koki di rumah ini untuk tidak memasak?"
"Zeta hanya meminta untuk Zeta saja dan tetap..."
"Jika kamu tidak sarapan maka aku juga tidak akan sarapan," potong Arthur sembari mengajakku berjalan keluar dari kamar William.
__ADS_1
...-----...