
Saat ini wanita yang memiliki usia yang sama dengan ibuku sedang menikmati hidangan di restoran bintang lima ini dengan sangat lahap seolah tidak ada yang terjadi atau mungkin wanita ini sedang mengisi energinya. Sama denganku yang hanya diam menatap makanan di depanku, Ken juga melakukan hal yang sama. Berulang kali dia melihat ke arahku, mencoba membaca perasaanku saat ini, perasaan yang aku harap tidak seorangpun tahu. Wanita ini dengan elegan mengelap bibirnya dengan lap putih di atas meja dan meminum wine untuk mengakhiri acara makannya.
Wanita ini atau ibu kandung Alvin sekarang memberikan tanda kepada pelayan untuk mengambil piring kami dan menyajikan hidangan penutup setelah memastikan baik aku maupun Ken tidak akan menyentuh piring di depan kami. Pelayan langsung datang dan mengambil piring-piring di hadapan kami setelah memastikan kembali jika aku dan Ken benar-benar sudah selesai yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Ken. Sekali lagi, Ibu Alvin meminum wine dan menatap tajam ke arahku begitu selesai.
"Melihat dari sikap Zeta, sepertinya Zeta sudah tahu siapa Tante."
"Ibu kandung Kak Alvin," jawabku membuat Ken kembali melihat ke arahku.
"Alvin tidak tahu jika Tante adalah ibu kandungnya, dia hanya tahu jika Tante adalah adik dari ibunya yang tidak lain adalah saudari kembar Tante. Perkenalan nama Tante adalah Seiya Nakamoto, Zeta bisa memanggil Tante dengan sebutan Tante Sei."
"..."
"Boleh Tante bertanya sesuatu?"
"Silakan,” jawabku datar.
"Darimana Zeta tahu semua ini? Tante hanya mengirimkan surat-surat kepada William."
Ucapannya berhasil membuatku membalas tatapan tajam miliknya. Seolah puas karena aku membalas tatapannya, Tante Sei kembali meminum wine miliknya, kali ini hingga habis.
Jadi, William sudah tahu semua hal tentang kebenaran ini. Aku ingin tahu kapan pertama kali dia tahu semua ini atau apakah saat ini dia masih meragukan kebenaran ini hingga tidak memberitahuku dan Arthur. Atau, dia saat ini sedang mencoba mencari bukti atas kebenaran ini.
"Apa tidak masalah jika anggota Keluarga Parker mendengarkan pembicaraan kita?"
"Dia teman baik Zeta."
"Baiklah, sepertinya dia juga calon pendamping hidup Zeta."
"..."
"Zeta tahu bukan jika Zeta tidak bisa bersama dengan Alvin karena dia adalah kakak kandung Zeta?"
Tanpa kusadari aku sudah mengepalkan kedua tanganku. Begitu mendengar perkataan Tante Sei, Ken langsung diam mematung sebelum akhirnya dia melihat kedua tanganku yang mengepal dan bergetar. Dia menarik jari kelingkingku dan mengaitkannya dengan jadi telunjuk miliknya. Aku langsung menatapnya yang saat ini sedang tersenyum, senyum yang memberikan sebuah kekuatan kepadaku.
Aku kembali mengalihkan pandanganku kepada wanita di depanku yang saat ini sedang meletakkan berbagai macam dokumen yang dibawa oleh seorang wanita muda berusia 20 tahunan yang sepertinya sekretarisnya. Banyak dokumen yang berada di atas meja, beberapa aku bisa menebak isinya karena ada sebuah tulisan di bagian awal dokumen itu. 'Laporan Tes DNA', siapapun bisa menebak apa isi dokumen itu hanya dengan melihat judulnya.
Tante Sei masih merapikan dokumen-dokumen itu hingga beberapa pelayan membawakan hidangan penutup yang berakhir dengan sekretarisnya meminta pelayan untuk menghidangkan nanti. Tanpa kusadari tanganku bergerak mencoba mengambil salah satu dokumen. Beruntung, Ken langsung memegang pergelangan tanganku, mencegahku mengambil ataupun membaca dokumen apapun.
Tante Sei kembali melihat ke arahku dan Ken secara bergantian begitu melihat bagaimana Ken mencoba melindungiku. Saat ini, beliau bahkan menyunggingkan sebuah senyum kecil, sebuah senyum yang tidak bisa aku artikan maknanya karena memiliki dua arti. Pertama, senyum lega karena setidaknya beliau tidak akan menyakiti lebih banyak orang lagi karena melihatku memiliki seseorang yang melindungiku. Kedua, senyum kecewa karena dirinya akan menyakiti anaknya dengan fakta dimana seseorang yang dicintai anaknya sudah memiliki orang lain yang bisa melindunginya.
Tante Sei mengeluarkan dokumen berisi hasil tes DNA dengan beberapa foto di dalamnya. Aku kira tidak akan ada hal lain yang membuatku terkejut tetapi aku salah, aku kembali terkejut begitu melihat ada foto dan hasil tes DNA selain milik Alvin. Ada dua hasil tes DNA dan dua foto yang baru saja dikeluarkan olehnya. Foto Alvin saat ini dan foto seorang perempuan yang pernah aku temui di lift rumah sakit. Perempuan yang saat itu menjatuhkan sapu tangan bertuliskan 'Nakomoto'. Kali ini, Ken melepaskan kaitan jarinya dan membiarkanku mengambil dokumen yang sudah disodorkan kepadaku.
Ternyata, aku memilki seorang adik. Apakah ibu juga tahu akan hal ini?
"Saat Tante bertemu dengan ibumu, dia tidak mau mendengarkan semuanya hingga akhir. Dia hanya tahu tentang Alvin yang merupakan anak dari suaminya. Dia belum sempat tahu kebenaran lain dimana suaminya juga memiliki anak lain dengan Tante. Dia Sina Nakamoto, dia adikmu."
"Apa Kak William juga tahu hal ini?"
"Dia sudah tahu semuanya, Tante mengirimkan banyak dokumen 1 bulan yang lalu kepadanya."
__ADS_1
Satu bulan yang lalu juga bertepatan dengan saat dimana Ken memperlakukanku dengan sangat buruk. Saat itu juga dia harus mengurus banyak hal untuk proses akuisisi perusahaan-perusahaan. Satu bulan yang lalu adalah waktu yang sangat sibuk baginya dan ternyata bebannya bertambah. Aku dan Arthur tidak tahu apapun tetapi selalu menyalahkannya karena sibuk dengan urusan perusahaan tanpa mementingkan kami. Dia yang menutupi semuanya dari kami, membuat kami menjadi adik yang sangat buruk. Sebenarnya, seberapa penting keluarga ini dibandingkan dirinya sendiri?
"Dia juga tahu fakta dimana Sina mengidap leukimia dan sedang membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang. Saat ini, William berada di rumah sakit karena Tante memberikan racun pada makanannya, Tante ingin mengetahui apakah sumsum tulang belakang miliknya cocok untuk Sina."
"Haruskah dengan meracuninya? Zeta tahu jika Kak William bukan anak Tante tetapi meracuninya.."
"Tante tidak memiliki pilihan lain. Ayahmu menghalangi Tante untuk meminta langsung kepadamu dan kedua kakakmu. Hanya ini pilihan yang tersisa untuk anak Tante."
"Kak Alvin juga..."
"Tidak mungkin Tante melakukannya karena dia akan menjadi penerus Keluarga Nakamoto dan Tante tidak ingin membuatnya curiga."
Saat ini aku benar-benar ingin memukul wanita di hadapanku. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya hanya membuatku semakin ingin memukulnya. Aku semakin ingin memukulnya karena nada bicara yang dia gunakan sangat tenang, bukan nada bicara seseorang yang bersalah karena sudah menghancurkan sebuah keluarga. Untuk kali pertama dalam hidupku, aku benar-benar membenci seseorang.
"Ayahmu dan Tante masih saling mencintai hingga saat ini. Kami sering bertemu untuk membahas Alvin dan Sina. Jujur, Sina juga sudah tahu siapa ayah kandungnya, sesuatu yang sebenarnya tidak ingin Tante beritahukan kepada siapapun. Apa kamu tahu Zeta? Bahkan setelah kehadiran kalian bertiga dalam hidup ayahmu, dia masih mencari Tante hingga akhirnya kami kembali memiliki anak lain."
"Hentikan," ucap Ken sembari menatap penuh amarah ke arah Tante Sei.
"Tante terpaksa melakukan ini karena kondisi Sina yang semakin parah dan membutuhkan donor sumsum tulang. Sumsum tulang Tante dan ayahmu tidak cocok. Tante terpaksa melakukan hal ini," balasnya tanpa mempedulikan ucapan Ken, membuat Ken hendak menarik tubuhku meninggalkan restoran ini yang aku balas dengan mengaitkan kelingkingku ke telunjuknya.
"Apakah Tante juga terpaksa saat berselingkuh?" tanyaku membuat Tante Sei sedikit terkejut dan membuka sedikit mulutnya. Sekretaris yang sedari tadi berada di belakangnya juga sekarang disuruh pergi. Sepertinya dia cukup malu setelah mendengar pertanyaanku.
"Ayahmu dan Tante bertemu disebuah pertemuan keluarga. Saat itu Keluarga Allison dan Keluarga Nakamoto adalah dua keluarga yang memiliki pengaruh cukup besar walaupun sekarang Keluarga Allison berada di atas Keluarga Nakamoto. Kami saling jatuh cinta pada pandangan pertama, ayahmu bahkan sempat meminta kepada ayah Tante agar bisa menikahi Tante. Tetapi saat itu Tante masih ingin mengejar pekerjaan Tante, masih ingin meneruskan ambisi Tante. Ambisi yang ternyata membuat Tante kehilangan laki-laki yang Tante cintai. Siapa sangka ayahmu justru menikah dengan wanita lain, mengorbankan cinta kami."
"..."
"Ambisi berubah menjadi penyesalan. Penyesalan berubah menjadi rasa iri. Dan rasa iri ini membuat Tante menggoda ayahmu bahkan setelah pernikahannya. Dan kami tetap berhubungan bahkan setelah kami sama-sama sudah menikah. Rahasia yang kelam bukan?"
"..."
"Ayo pergi, Ken."
"Zeta, terima kasih sudah mengajari Alvin arti cinta dan bagaimana mencintai dengan benar. Terima kasih sudah hadir dalam hidupnya sebagai seorang perempuan. Mulai saat ini, Tante harap kamu hanya akan menjadi seorang adik di dalam hidupnya," ucap Tante Sei sebelum aku meninggalkan meja makan dan berjalan keluar restoran.
Aku juga tahu saat dimana ibu memberitahuku semua hal ini, maka aku sudah tidak akan bisa melihat Alvin lagi sebagai seorang laki-laki dan juga Alvin tidak boleh lagi melihatku sebagai seorang perempuan. Kami berdua tidak boleh memiliki perasaan yang saat ini kami rasakan. Perasaan ini, harus bisa kami buang jauh-jauh lalu kembali menjalani kehidupan seolah kami tidak pernah memiliki perasaan untuk satu sama lain, seolah aku tidak pernah membiarkannya masuk ke dalam hidupku dan dia tidak pernah mencoba masuk ke dalam hidupku.
"Zeta," panggil Ken membuatku melepaskan pegangan tanganku.
"Kumohon, kumohon, kumohon," ucapku sembari menarik tubuh Ken, membuatku menangis di pelukannya.
Saat dimana aku menyadari jika Alvin tidak ditakdirkan untukku, aku tidak merasakan perasaan menyakitkan ini. Saat dimana aku menyadari jika ayah yang begitu ibuku cintai ternyata mengkhianatinya, perasaan menyakitkan ini muncul. Cinta pertama dalam hidupku, cinta kedua dalam hidup ibuku, dan pahlawan pertama dalam hidup kedua kakakku, kami dikhianati oleh orang yang sama. Orang yang selalu memberikan cintanya kepada kami, cinta yang akhirnya aku tahu banyak kebohongan di dalamnya. Orang yang selalu melindungi kami sekeluarga, perlindungan yang akhirnya aku tahu hanya sebuah cara agar kami tidak mengetahui semua kebenaran ini.
Ken mendorong pelan tubuhku, dia menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan tubuhku. Dia mengusap air mataku dengan jarinya, jari yang sudah lama tidak menghapus air mataku. Sekali lagi dia memberikan sebuah senyuman kepadaku, senyum untuk menguatkanku.
Bagaimana bisa aku menerima senyum itu saat aku juga tahu jika dalang dibalik kematian ibunya adalah ayahku?
"Nona."
Suara pelan seseorang mengalihkan perhatianku dan Ken. Sekretaris Tante Sei sekarang berdiri di depan kami, membuat Ken langsung memasang badannya menutupi tubuh mungilku. Melihat sikap defensif yang kami tunjukkan membuat sekretaris itu hanya diam mematung. Beberapa kali sekretaris itu mencoba mendekat tetapi langkahnya selalu terhenti ketika Ken ikut memundurkan dirinya bersama denganku. Ken memegang salah satu lenganku dan mendorong pelan tubuhku mengikuti langkahnya, sesuatu yang dulu sering dia lakukan setiap kali aku di bully di sekolah dasar, tentunya saat belum ada yang tahu identitasku dan Ken yang sebenarnya.
__ADS_1
"Nyonya Zelia sudah tahu mengenai perselingkuhan ini bahkan dari hari pertama pernikahannya," ucap sekretaris itu mencoba menghancurkan tembok 'defensif' yang aku dan Ken buat.
"..."
"Saya adalah anak dari Agatha Wycliff, sekretaris terdahulu Nyonya Zelia yang diutus untuk menjadi mata-mata di Keluarga Nakamoto."
Aku melepas pegangan tangan Ken dari lenganku dan berjalan keluar dari balik tubuh besar Ken. Aku menatap cukup lama wanita berusia 20 tahunan ini, seorang wanita yang mengaku sebagai anak dari Agatha Wycliff. Aku sangat mengenal nama dan marga itu. Nama yang selalu ibu ceritakan sebagai sosok pengasuhnya sedari kecil dan marga yang selalu melayani Keluarga Norvin dari generasi ke generasi.
Aku memang belum pernah melihat wajah dari nama yang wanita ini sebutkan tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan bahwa wanita ini menyebutkan nama seseorang yang mengabdikan dirinya untuk melayani ibuku.
Ken mencoba menarik kembali tubuhku ke belakang tubuhnya setelah aku bertatapan dengan sekretaris ini selama 1 menit lamanya. Ken tidak mempercayai wanita di depan kami dan tentunya nama yang diucapkan wanita ini, Ken tidak tahu karena aku tidak pernah menceritakan hal yang berkaitan dengan keluarga ibuku kepadanya. Aku mengikuti tarikan tangan Ken tanpa sadar, membuatku melihat sebuah cincin khas milik pelayan Keluarga Norvin di jari manis wanita itu. Cincin berwarna emas polos dengan bagian depan yang terukir simbol Keluarga Norvin, sebuah singa yang mengaum yang dikelilingi bunga-bunga daisy.
"Jika ibu sudah tahu sejak hari pernikahan, kenapa ibu baru memberitahu Zeta sekarang?" tanyaku begitu yakin wanita di depanku memang menggunakan cincin pelayan keluarga ibu.
"Zeta," panggil Ken yang sekali lagi mencegahku untuk berhubungan lebih lanjut dengan sekretaris itu. Aku menatapnya sekilas lalu menggelengkan kepalaku sebagai tanda jika wanita di depan kami bukan orang jahat.
"Selama ini nyonya menutupi semua ini karena tidak ingin membuat keluarga kecilnya hancur dan membuat anak-anaknya tidak lagi mempercayai ayahnya. Nyonya rutin pergi ke psikiater selama 20 tahun pernikahannya hingga 2 hari yang lalu wanita itu menemui nyonya secara langsung di rumah Keluarga Norvin yang akhirnya membuat kakek Nona mengetahui semua kebenaran dibalik pernikahan anaknya. Ibu Nona tidak ingin anak-anaknya tahu hal ini dari orang lain walaupun sepertinya hanya Nona yang diberitahu langsung oleh nyonya."
"Jika Ibu sudah tahu dari awal pernikahan maka Ibu juga sudah tahu adanya anak lain selain Kak Alvin?"
"Tidak," jawab wanita itu sembari menggelengkan kepalanya dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Ibu saya tidak menceritakan perihal kelahiran anak kedua karena saat itu Nyonya Zelia sudah menganggap suaminya mencintai Nona Zeta dengan setulus hatinya. Ibu saya tidak ingin menghancurkan hati nyonya untuk kesekian kalinya jika tahu suaminya memiliki 2 anak yang bukan darinya," lanjutnya.
"Zeta?"
"Nona?"
Dua panggilan bersamaan yang ingin aku abaikan. Aku ingin menghilang detik ini juga. Aku ingin kembali merasakan kedamaian yang dahulu pernah aku rasakan.
Tidak.
Kedamaian yang aku rasakan hanya sebuah rasa sakit untuk wanita yang melahirkan dan merawatku. Aku tidak tahu berapa banyak kebohongan yang sudah ibu lakukan hanya untuk menutupi kebohongan yang ayah lakukan. Aku tidak tahu seberapa besar ibu menutupi keinginannya untuk mengungkapkan semua kebohongan yang telah ayah sembunyikan. Dan aku tidak bisa membayangkan seberapa besar rasa sakit yang ibu terima hanya untuk merasakan cinta penuh kebohongan yang ayah berikan, bukan yang ayah berikan kepada anak-anaknya tetapi yang ayah berikan kepada ibu.
"Di masa lalu sebelum kelahiran Nona, Nyonya Zelia pernah berusaha untuk bunuh diri. Saya takut hal itu akan kembali terulang."
Bukan hanya ibu yang mungkin ingin bunuh diri, tetapi aku juga.
...-----...
"Nona!!! Saya tidak bisa membiarkan hal ini," ucap Paman Stephan dengan nada tinggi dan tegas miliknya begitu menemukanku yang saat ini sedang duduk di sebuah taman ditemani Ken.
"Paman, jika Zeta meminta Paman untuk membunuh ayah, apakah Paman akan melakukannya?" tanyaku setelah diam beberapa saat dengan air mata yang kembali menetes dari kedua mataku, membuat paman tidak lagi memberikan tatapan penuh amarah miliknya yang sekarang digantikan dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Nona?" panggil Paman sembari memastikan jika aku baik-baik saja.
"Berjanjilah kepada Zeta, Paman."
"Tidak, Nona. Saya tidak akan membuat janji apapun."
__ADS_1
"Jangan pernah mencoba menyelamatkan Zeta lagi. Zeta mohon, biarkan Zeta hancur."
...-----...