Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Puzzle


__ADS_3

"Ibu ingin mendengar perkembangan kondisi Zeta," ucap Ibu sembari meletakan piring berisi buah ke atas meja. Detik berikutnya ibu mengusap pelan rambutku sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tempatku sedang melakukan konsultasi bersama Dokter Margareth dan Dokter Esme.


"Mainkan ini, Dokter rasa kamu tidak akan membuka mulutmu seperti sebelumnya," ucap Dokter Esme sembari mengeluarkan berbagai macam puzzle dari dalam tasnya.


Sejujurnya aku tidak paham dengan metode yang beliau gunakan. Beliau tidak memaksaku untuk berbicara maupun menceritakan semua yang aku rasakan. Beliau bahkan tidak pernah sekalipun menanyakan kabarku. Beliau seperti sedang memberikan kebebasan untukku, kebebasan untuk tetap menyimpan trauma masa lalu atau melangkah keluar dari trauma itu.


Melihat banyaknya mainan yang selalu aku mainkan saat masih kecil, aku rasa beliau sedang membuatku mengingat tentang masa kecilku sehingga aku bisa terbuka sedikit demi sedikit untuk menceritakan masa kecilku. Bukannya terbuka, aku justru fokus pada setiap mainan yang dibawa olehnya mulai dari rubik, playdough, puzle, dan mainan lainnya. Aku mengambil sebuah puzzle bergambarkan sepasang burung merpati dan langsung menjatuhkan semua kepingan puzzle ke atas meja. Dokter Margareth yang sedang menikmati buah terkejut mendengar suara kepingan puzzle yang jatuh. Aku kembali mengambil puzzle lainnya, kali ini bergambar potret sebuah keluarga bahagia. Sekali lagi aku menjatuhkan kepingan puzzle ke atas meja. Dan aku kembali mengambil puzzle lainnya.


"Kamu harus menyelesaikan puzzle ini. Akan sulit bagimu jika kepingan antar puzzle bercampur," ucap Dokter Esme tepat saat tanganku akan menjatuhkan kepingan puzzle untuk ketiga kalinya.


"Ingatan masa kecil Zeta, apakah Zeta hanya menghilangkan atau Zeta memanipulasinya?" tanyaku membuat kedua dokter di depanku terdiam melihat perubahan tiba-tiba dalam diriku. Dokter Margareth bahkan memasang wajah heran dengan mulut membentuk huruf O dan jari telunjuk kirinya menutupi bibir bawahnya. Berbeda dengan Dokter Margareth, Dokter Esme hanya terkejut selama beberapa detik yang ditandai dengan matanya sedikit membesar dan kemudian memberikan senyum kepadaku.


Dokter Esme mengambil papan puzzle yang berada di sampingku lalu memasang beberapa kepingan puzzle. Begitu memasang 5 kepingan puzzle, beliau memberikan tanda kepadaku untuk memasang kepingan lainnya. Aku menghembuskan nafas dengan cukup keras sebelum akhirnya mengikuti permainan beliau. Aku membenci fakta bahwa semua puzzle yang dibawa olehnya memiliki tema keluarga ataupun pasangan, benar-benar tidak sesuai dengan kondisiku saat ini. Aku menyelesaikan puzzle bergambar keluarga ini dalam waktu 5 menit dan langsung beralih dengan puzzle sepasang burung merpati.


"Zeta melakukan keduanya," ucap Dokter Esme begitu aku menyelesaikan puzzle bergambar merpati.


"Ingatan yang Zeta hilangkan apakah itu ingatan sebelum kematian paman?"


"Benar."


"Ingatan yang Zeta hilangkan apakah itu juga merupakan alasan dibalik kematian paman?"


"Benar."


"Ingatan yang Zeta manipulasi apakah ingatan saat dimana Zeta menemukan Paman yang sudah tidak bernyawa di kamarnya?"


"Benar."

__ADS_1


"Lalu, apakah ada orang lain yang meminta Zeta menghilangkan ingatan itu?"


"..."


Dokter Esme tetap menutup mulutnya bahkan setelah 5 menit aku menanyakan pertanyaan itu. Dokter Margareth juga berulang kali menendang kaki beliau, memintanya untuk segera menjawab pertanyaanku sebelum aku menerjemahkan diamnya menjadi hal yang tidak-tidak. Aku memang sudah menerjemahkan diamnya sebagai sebuah jawaban saat dimana beliau hanya diam menatapku selama 3 detik setelah aku mengajukan pertanyaan itu.


'Ya', itu adalah jawaban yang aku terjemahkan dari diamnya. Aku sudah menduga jauh sebelum ini jika ada seseorang yang juga bertanggung jawab atas alasanku menghilangkan ingatan yang menyebabkan trauma untukku. Aku tahu jika mentalku tidak sekuat mental ayahku karena ibu juga memiliki beberapa kondisi mental yang beliau turunkan kepadaku dan juga kepada Arthur. Beruntung, William tidak mendapatkan hal yang sama karena dia yang akan menjadi masa depan Keluarga Allison. Akan tetapi selemah-lemahnya kondisi mentalku, aku tidak akan pernah menghapus kenangan yang ada di dalam hidupku karena ibu selalu mengajariku untuk menyimpan dan bersyukur atas setiap kenangan yang telah aku buat. Aku tidak tahu apa yang membuatku begitu yakin dengan hal ini mengingat saat itu aku masih cukup kecil. Satu hal yang membuatku yakin adalah membutuhkan waktu 2 tahun sebelum akhirnya aku menghilangkan kenangan tentang kematian paman. Jika kondisi mentalku memang selemah itu, aku sudah menghilangkan kenangan itu di hari kematian paman.


"Dokter Esme?" panggil Dokter Margareth pelan sembari menyenggol lengan Dokter Esme.


"Zeta sudah mendapatkan jawabannya," balasnya sembari menghindari tatapan mataku.


"Anda tetap harus menjawabnya, Dokter,” bisik Dokter Margareth.


"Apakah Tante Emily tahu tentang ingatan yang Zeta hilangkan?" tanyaku memotong percakapan perihal etika kerja ini.


"Kamu sudah tahu semuanya bukan?" balas Dokter Esme.


"Zeta hanya menebaknya. Kenapa membutuhkan waktu 2 tahun bagi Zeta hingga akhirnya menghilangkan ingatan itu? Dan kenapa Tante Emily secara suka rela bekerja di Rumah Sakit Allison saat dimana tante sangat ingin keluar dari jeratan Keluarga Allison? Bukankah kedua hal itu sudah cukup aneh?"


"Sejak kapan kamu tahu?"


"Junior high school."


"Lalu kenapa kamu tidak mencari tahu lebih lanjut tentang ingatanmu?"


"Karena Zeta masih belum ingin melihat betapa gelapnya Keluarga Allison tetapi sekarang Zeta ingin tahu lebih banyak tentang seberapa gelap keluarga ini."

__ADS_1


"..."


"Dokter Margareth?" panggilku.


"Ya?" jawabnya dengan terkejut.


"Tante pernah mengatakan kepadaku apapun yang terjadi tante akan selalu ada untuk Zeta. Bisakah Dokter memberitahu beliau jika Zeta membutuhkannya?"


"Ah.. huh? Baik."


"Apa sesuatu terjadi?" tanya Dokter Esme begitu aku merapikan puzzle-puzzle yang dibawa olehnya.


"Sesuatu selalu terjadi setiap detiknya, Dok."


"Bukan itu maksud Dokter..."


"Apa dokter tahu bagaimana cara membuktikan dua orang tidak saling mencintai?" tanyaku memotong ucapan Dokter Esme.


Lagi-lagi pertanyaanku membuat kedua dokter ini diam mematung. Aku menunggu 1 menit hanya untuk mendapatkan keheningan. Aku beranjak dari tempatku duduk, mencoba mengakhiri pertemuan hari ini. Melihatku yang berjalan ke arah pintu membuat kedua dokter itu buru-buru merapikan barang bawaan mereka.


"Ah... tes kebohongan? Tes poligraf?" ujar Dokter Margareth dengan nada tidak yakin.


"Ah..," ucapku bersamaan dengan Dokter Esme.


"Terima kasih, Dok," ucapku sebelum membuka pintu ruangan dan berjalan keluar.


Begitu aku membuka pintu, beberapa pelayan yang sedang membersihkan area sekitar ruangan terkejut melihatku sudah keluar bersama dengan kedua dokterku. Aku hanya tersenyum sembari meminta satu dua pegawai untuk membersihkan ruangan yang baru saja aku pakai. Biasanya aku akan menghabiskan 2 jam di dalam ruangan itu tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulutku tetapi hari ini hanya membutuhkan waktu 30 menit. Mereka yang sudah tahu kebiasaan ini tentunya akan terkejut dan bertanya-tanya alasan dibalik waktu pertemuan yang singkat ini. Akupun masih bertanya-tanya alasan kenapa tiba-tiba aku membuka mulutku dan mengeluarkan semua perkiraanku, perkiraan yang berubah menjadi sebuah fakta.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2