Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Gaun


__ADS_3

"Tante sangat cantik. Kamu benar-benar tidak ingin melihatnya?"


Stephanie memberikan kunci ruangan dimana ibu berada. Ini sudah ketiga kalinya seseorang datang kepadaku dan memberikan kunci. Aku sudah mengatakan kepada kakek jika aku tidak akan datang ke acara pemakaman ibu dan kakek menyetujuinya tanpa menanyakan apapun. Berbeda dengan kakek, semua orang di keluargaku berusaha membujukku untuk hadir di acara pemakaman ibu. Mereka mengatakan hal yang sama, 'jangan sampai kamu menyesal karena tidak melihatnya untuk kali terakhir'.


"Penyesalanku adalah tidak bisa melindungi senyumnya," gumamku membuat Ken yang sedari tadi hanya duduk di sampingku menghentikan makannya.


"Zeta yang memakaikan gaun itu ke tante," ucap Ken akhirnya ingin menyudahi acara bujuk-membujuk ini.


"Ahh, benarkah?!" balas Caroline terkejut.


"Pantas orang-orang kebingungan saat melihat tante sudah sangat cantik," lanjutnya.


"Apa kamu juga yang memilih gaunnya?" tanya Arthur tiba-tiba muncul dan merebut piring milikku yang masih penuh berisi makanan.


Ken menyodorkan piring miliknya lalu memberikan sendok dan garpu baru kepadaku. Aku menatap kosong piring di depanku hingga akhirnya menyadari empat orang yang sedang menatapku dengan khawatir. Aku mengangkat wajahku lalu meminta Stephanie dan Caroline untuk duduk sembari mengambil kunci yang Stephanie berikan. Kedua saudari kembar itu langsung duduk begitu kunci berada di tanganku. Aku tahu banyak pertanyaan yang ingin mereka tanyakan tetapi dibalik banyaknya pertanyaan itu mereka lebih ingin memastikan jika aku baik-baik saja dan mereka sudah tahu jika aku tidak baik-baik saja.


Aku mulai memakan 'sisa' makanan yang tidak Ken habiskan. Aneh menyebutnya sebagai 'sisa' saat Ken baru memakan beberapa suap. Lebih aneh lagi adalah aku yang masih bisa memakan sesuatu untuk mengisi perutku saat dimana seharusnya aku berada di samping ibu. Sepertinya beberapa orang sudah bergosip dan memberikanku gelar 'anak durhaka'.


"Aku yang memilihnya tetapi kakek yang memberikan pilihan," jawabku setelah 1 menit mengabaikan pertanyaan Arthur.


"Gaun pengantin putih yang ibu kenakan di pernikahannya dengan ayah dan gaun pengantin berwarna merah muda yang tidak pernah ibu gunakan, apa itu pilihannya?"


Aku mengangguk. William dan Arthur sudah menerka gaun seperti apa yang akan dikenakan ibu tetapi mereka belum tahu secara pasti mana diantara dua pilihan itu. Tidak ada satupun yang mencegah ataupun mengomentari pilihan baju kakek karena semua tahu jika saat ini tidak ada satupun yang memiliki hak atas diri ibu selain kakek dan nenek. Tidak ada satupun, bahkan ayah sekalipun tidak memiliki suara apapun atas ibu saat ini.


"Kenapa kakek tidak memberikan pakaian terbaik untuk ibu dan lebih memilih kedua gaun pengantin itu?" celoteh Arthur dengan nada kecewa. Sama dengannya, aku juga sangat ingin memberikan gaun terbaru dan terbaik untuk ibu tetapi semua keputusan sudah ada di tangan kakek.


"Karena kedua gaun itu adalah pakaian terbaik bagi ibu," balasku.


"..."


"Ibu sangat menyukai gaun putih pernikahannya dengan ayah. Ibu selalu memberitahu nenek jika ibu ingin memakai gaun itu setiap hari," lanjutku begitu Arthur tetap diam sembari sesekali melihatku.


"Lalu kenapa kamu lebih memilih gaun berwarna merah muda yang bahkan tidak pernah ibu sentuh lagi setelah pernikahannya?"


"Kak Arthur, bukankah sekarang sudah saatnya Kakak pergi ke tempat pemakaman?" potong Ken ingin menyudahi pembicaraan ini karena dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang Arthur ajukan dan dia tidak ingin aku mengulangi kembali kalimat yang aku ucapkan saat memilih gaun merah muda dibandingkan gaun putih.

__ADS_1


"Aku ingin memotong ikatan takdir antara ibu dan ayah."


"Zeta," panggil Ken sembari menatap tajam ke arahku, memintaku untuk tidak mengatakan apapun lagi.


"Makanan ini terlalu manis. Aku akan memberi tahu koki begitu acara pemakaman selesai," balas Arthur begitu suasana berubah. Begitu Arthur berdiri, Stephanie dan Caroline juga ikut berdiri. Aku rasa mereka berdua memang menunggu salah satu dari kami pergi ke tempat pemakaman.


Haruskah aku memperparah suasana saat ini?


"Aku tidak ingin ibu bertemu kembali dengan ayah di kehidupan lainnya. Cukup di kehidupan ini ibu bertemu dengan ayah. Aku hanya berharap ayah tidak akan mengenali ibu dengan pakaian itu, pakaian yang dibenci ayah hingga ibu tidak bisa memakainya," ucapku membuat semua yang ada di ruang makan terdiam membatu.


"Zeta, aku harus pergi ke pemakaman sekarang. Kita bicarakan hal ini nanti lagi," sahut Arthur.


"Bahkan jika aku tidak terlahir kembali sebagai anak ibu, itu tidak akan menjadi masalah selama ibu tidak bertemu kembali dengan ayah."


"Apa sekarang kamu membenci ayah?" balas Arthur sembari menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Kak Arthur!!" teriak Ken dan Stephanie bersamaan.


"Apa aku tidak boleh membencinya?" tanyaku dengan mata yang perlahan menjatuhkan air mata.


"Lalu kenapa jika dia ayahku?"


"Ingat kembali siapa dirimu, Zeta. Ibu tidak pernah mengajarkan kita untuk membenci seseorang. Ibu tidak pernah mengajarkan kita untuk menyalahkan takdir. Ibu selalu mengajarkan kita untuk bersyukur atas semua hal yang Tuhan berikan, termasuk jika di dalamnya ada rasa sakit. Ibu selalu mengajarkan untuk terus mengingat semua kebaikan yang sudah orang lain lakukan dan melupakan setiap keburukannya. Zeta, bukan ini yang ibu mau."


Seseorang yang sepanjang malam menangis dan menyalahkan dirinya sendiri, apakah pantas mengatakan semua itu?


Ah, benar juga. Arthur tidak menyalahkan orang lain, dia hanya menyalahkan dirinya sendiri. Dia masih mengikuti semua yang ibu ajarkan. Sangat berbeda denganku yang perlahan mulai membenci orang-orang di sekitarku.


Aku mengeluarkan sebuah handphone dari dalam saku jaket hitamku lalu meletakannya ke atas meja. Ken langsung menarik tubuhku ke arahnya, membuatku berhadapan-hadapan dengannya. Dia menunjukan ekspresi khawatir yang bercampur dengan ketakutan. Dia terus menatapku sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, memaksaku untuk tidak melakukan apa yang ada di dalam otakku saat ini. Aku melepaskan pegangan tangan Ken dan menghadapkan tubuhku ke arah Arthur, membuat Arthur yang sebelumnya berdiri akhirnya duduk kembali. Aku tidak berani menatap Arthur dan langsung membuka handphone, membuka sesuatu yang akan lebih baik tersembunyi untuk waktu yang lama.


"Hai? Hallo? Hai?" suara ibu mengucapkan salam dengan nada yang berbeda-beda terdengar memecah keheningan.


"Hai Tayloy, apakah aneh memanggilnya dengan Taylor? Tidak, itu adalah nama panggilan yang aku buat untuknya dan itu juga nama yang ada di dalam dirinya, tidak aneh. Ah.. aku harus mengulanginya. Hai, Taylor, kamu masih ingat bukan jika hari ini adalah hari pertama kali kita bertemu? Bisa dibilang hari ini adalah anniversary lain dari hubungan kita. Aku selalu ingin merayakan hal-hal seperti ini tetapi kamu selalu sibuk dan kemarin saat aku berjalan-jalan menemani ibu, aku melihat seseorang sedang membuat pesta anniversary. Aku iri dan cemburu pada mereka. Dan disini aku ingin mencoba merayakannya. Apakah kamu menyukainya? Apakah sangat telat merayakannya sekarang? Apakah aneh baru merayakannya sekarang? Ah, seseorang mengetuk pintu. Aku harap aku tidak lupa apa yang baru saja aku ucapkan." Ibu menutup kalimatnya dengan sebuah hembusan nafas penuh semangat.


"Haruskah aku tahu kebenarannya hari ini? Haruskah aku tahu untuk kesekian kalinya jika kamu tidak pernah mencintaiku? Haruskah aku tahu kebohongan tentangmu di hari dimana aku jatuh cinta kepadamu? Haruskah aku mulai menyalahkan seseorang? Tidak, aku mengajarkan anak-anak untuk tidak pernah menyalahkan siapapun atas apa yang menimpa mereka. Aku tidak boleh memberikan contoh yang buruk."

__ADS_1


"Tetapi, aku tidak bisa. Aku ingin menyalahkan seseorang. Haruskah aku menyalahkan diriku sendiri?"


Suara tangis milik ibu mulai terdengar. Tangisan dalam hening yang cukup lama dan menyakitkan. Hanya dengan mendengar tangisan ibu, sudah cukup membuatku mengetahui seberapa besar luka yang dia rasakan. Luka yang selalu dia tutup-tutupi.


"Aku tidak akan masalah jika kamu hanya menemuinya, tetapi kenapa kamu sampai harus memiliki anak darinya? Aku sudah kalah dari awal, bukan? Aku berjuang untuk perlombaan yang bahkan tidak pernah dimulai. Kenapa? Kenapa? Apakah aku sangat menyedihkan di matamu? Apakah aku begitu tidak menarik di matamu? Apakah aku bisa mengatakan semua ini kepadamu? Aku tidak akan pernah bisa mengatakan semua hal ini dan aku hanya akan terus tersenyum ke arahmu. Cinta bodoh ini, cinta yang aku rasakan bahkan tidak berkurang setelah mengetahui semua ini. Apa yang harus aku lakukan untuk membencimu? Bisakah aku membencimu?"


"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Hari ini aku baru menyadari jika aku mencintaimu dengan cara yang salah dan aku takut Zeta akan melakukan hal yang sama kepada Alvin, kepada kakaknya. Aku takut Zeta akan merasakan rasa sakit yang luar biasa. Aku rela mengambil semua rasa sakit ini tetapi apakah Zeta akan tetap baik-baik saja bahkan setelah semua rasa sakit miliknya aku ambil? Lalu bagaimana dengan William dan Arthur, apakah mereka akan baik-baik saja? Tidak, aku tidak perlu mencemaskan mereka. Mereka pasti akan lebih memilihmu yang merupakan ayah mereka bahkan setelah mereka tahu semua yang terjadi. Mereka sudah ditakdirkan menjadi penerus Allison, penerus dirimu. Rasa benci yang mungkin akan muncul pada diri mereka tidak akan sebesar rasa benci milik Zeta. Aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Mereka akan baik-baik saja. Aku harus lebih mengkhawatirkanmu jika rasa benci dalam diri Zeta muncul. Kamu hanya harus menerima rasa benci itu karena rasa benci miliknya bisa jadi adalah rasa benci milikku untukmu. Kamu hanya harus menerima rasa benci itu."


"Haruskah aku menyerah sekarang? Tidak, Zeta masih membutuhkanku. Anak-anak masih membutuhkanku. Walaupun hanya sehari, aku harus terus hidup untuk mereka, untuk mengajarkan kepada mereka lebih banyak hal. Walaupun akan sulit dan akan banyak suara-suara di dalam diriku, aku harus mengatasinya. Aku memang sudah menyerah kepada cinta yang aku miliki untukmu tetapi aku tidak bisa menyerah terhadap cinta yang ada dalam hidupku. Bahkan jika aku tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi, aku masih memiliki anak-anakku dan kedua orang tuaku. Aku tidak pernah menyesal telah mencintaimu, Taylor."


"Dan maafkan aku, jika aku diberi kesempatan untuk hidup kembali, aku tidak akan memilihmu kembali. Aku tidak ingin merasakan rasa sakit ini selama bertahun-tahun lagi. Maafkan aku hanya bisa mencintaimu hingga batas ini. Maafkan aku karena telah mencintaimu seolah kamu hanya milikku. Dan maafkan aku yang telah menyakitimu dengan cintaku. Setelah ini, kamu tidak akan lagi merasakan rasa sakit karena cinta saat dimana seharusnya cinta bisa membawa kebahagiaan untukmu. Maafkan aku, Taylor Henry Arthur Allison.”


"Mulai saat ini, perasaanku sudah mati. Inti dari hidupku sudah hilang dan aku tidak tahu sampai kapan aku akan bertahan."


...-----...


"Ibu sudah meninggal jauh dari sebelum ini. Ibu sudah meninggal di hari pertama pernikahannya."


"Hentikan disini atau aku akan membencimu, Zeta."


"..."


"Ayah?" panggil Arthur terkejut.


"Kak Will, Paman," ucap Stephanie dan Caroline pelan.


"Ayah akan menerima semua kebencian yang kamu berikan kepada Ayah, Zeta. Ayah hanya memohon satu hal, jangan tinggalkan Ayah."


"..."


"Ken, Paman mohon jaga Zeta untuk saat ini."


"Bisakah hanya satu kali saja Zeta melihatmu mengeluarkan air mata karena ibu, Ayah?"


...-----...

__ADS_1


__ADS_2