Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Donor


__ADS_3

"Bukankah sudah waktunya Kak Oliv keluar dari tempat rehabilitasi?" tanya Caroline dengan polosnya begitu kami keluar dari mobil.


"..."


"Aku akan membawa Carol masuk ke dalam rumah. Jika Kak Arthur ingin kembali ke tempat rehabilitasi, pergilah," ucapku sembari menarik tubuh Caroline masuk ke dalam rumah.


Sekarang masih pukul 1 siang, waktu yang masih panjang untuk Arthur bisa membuat kenangan baru dengan Olivia. Dia terpaksa pulang begitu melihatku dan Paman Stephan berada di tempat rehabilitasi. Aku tidak tahu apa yang membuatnya ikut pulang bersama denganku saat dimana matanya masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Olivia.


"Zeta, aku akan pulang malam. Maafkan aku," ucap Arthur lalu berlari menuju tempat parkir mobil.


"Wahh, Kak Arthur benar-benar...."


"Carol, bisakah kamu tidak menanyakan topik sensitif seperti itu kepada Kak Arthur?" potongku.


"Ahh, maaf, aku kira Kak Arthur memang sudah ingin Kak Oliv keluar dari tempat rehabilitasi."


"Dokter belum mengizinkannya."


"Kenapa?"


"Ada sesuatu yang hanya disampaikan kepada keluarga dan aku bukan bagian dari keluarga Kak Oliv. Aku tidak tahu alasannya."


Aku dan Caroline kembali melanjutkan langkah kaki kami masuk ke dalam rumah begitu mobil yang membawa Arthur sudah tidak terlihat.

__ADS_1


"Hmmm, Zeta?" panggil Caroline dengan nada hati-hati.


"Ya?"


"Kumohon jangan beritahu Steph jika aku berada disini. Kumohon," ucapnya dengan wajah memelas. Aku mengabaikannya dan terus berjalan, membuat Caroline terus merengek kepadaku.


Langkah kakiku terhenti begitu melihat sosok yang tidak seharusnya berada di rumah ini. Langkah Caroline ikut terhenti, dia sama terkejutnya denganku begitu melihat Alvin sedang berbincang dengan kakekku dan Ken. Hal yang lebih mengejutkan dari ini adalah kakek yang membiarkannya masuk ke dalam rumah ini.


Alvin menatapku, membuat kakek mengikuti arah tatapannya dan mendapati cucunya sedang diam membatu. Kakek berjalan mendekatiku, beliau menepuk lembut bahuku lalu meminta Caroline untuk membantunya mengambil sesuatu. Caroline hendak menolak permintaan kakek tetapi kakek sudah menarik tubuhnya meninggalkanku yang masih berdiam diri membalas tatapan Alvin.


"Aku akan meninggalkan kalian berdua, jika kalian mau," ucap Ken mengakhiri tatapanku dengan Alvin.


"Tidak, kamu bisa tetap disini," balasku sembari berjalan menuju sofa dimana Ken duduk.


Alvin kembali menatapku untuk waktu yang lama, menciptakan kembali keheningan di ruangan ini. Tatapan matanya beralih ke pergelangan tanganku, pergelangan yang sudah terhias kembali dengan gelang peninggalan Tante Lily. Dia tersenyum pahit begitu melihat gelang di pergelangan tanganku. Aku membenci senyum yang dia tunjukkan saat ini, senyum yang tidak seharusnya dia tunjukkan kepadaku.


"Apa yang Kakak lakukan dengan berada di tempat ini?" tanyaku, ingin segera menyelesaikan percakapan ini.


Alvin kembali menatapku, dengan tatapan lembut miliknya, tatapan yang sudah tidak aku rindukan seperti dulu. Tatapan yang dia berikan sekarang kepadaku hanya meninggalkan luka yang semakin dalam, luka yang tidak ingin aku rasakan.


"Kenapa kamu mau menjadi pendonor untuk Sina?" tanyanya sembari meletakkan beberapa dokumen ke atas meja. Aku tidak tahu jika berita ini akan sampai ke telinganya secepat ini. Jika dia saja sudah tahu, aku yakin William juga sudah mengetahui tentang keputusanku untuk mendonorkan sumsum tulang belakangku. Lalu, kenapa William tidak mengatakan apapun kepadaku hingga sekarang?


"Ibuku menginginkannya."

__ADS_1


"...."


"Aku memang membenci ikatan takdir yang membelenggu keluarga kita. Aku membenci ayah, aku membenci ibu Kak, tetapi aku tidak bisa membenci Kakak ataupun Sina karena kalian berdua juga korban dari takdir ini. Dan aku tidak bisa mengabaikan keinginan terakhir ibuku."


"Dan kamu menyetujui semua ini?" tanya Alvin kepada Ken, membuat Ken hanya diam menatap Alvin.


"Kamu adalah orang yang akan mendampingi Zeta, kamu adalah orang yang akan bertanggung jawab atas Zeta, dan kamu adalah orang yang akan paling dibenci oleh kakak-kakak Zeta atas semua keputusanmu yang berkaitan dengannya. Seharusnya kamu tidak mengizinkan Zeta melakukan donor," lanjutnya.


"Hidup Zeta, tubuh Zeta, keinginan Zeta, impian Zeta, dan harapan Zeta akan selalu menjadi miliknya bahkan setelah kami menikah. Aku juga ingin menolak keputusan Zeta, tetapi apakah dengan melakukan hal itu lantas membuat Zeta bahagia?"


"...."


"Sama halnya dengan Kak Alvin yang hingga saat ini masih mencintai Zeta dan menginginkan kebahagiaan untuknya, aku juga menginginkan hal yang sama. Tetapi, kebahagiaan Zeta hanya bisa dilihat dan dicari dari dalam diri Zeta. Aku tidak ingin mengambil keputusan dimana aku hanya melihat orang lain bukannya melihat Zeta. Zeta yang akan menerima konsekuensi dari keputusan yang aku ambil, lalu kenapa aku harus melihat orang lain?"


"Ken, hentikan," potongku begitu melihat raut wajah Alvin berubah dari yang sebelumnya tenang menjadi terkejut bercampur dengan kesedihan.


"Aku rasa, aku belum mencintai Zeta seperti kamu mencintainya."


Alvin merapikan kembali dokumen-dokumen di atas meja. Dia tidak menatapku lagi, lebih tepatnya menghindar untuk menatapku. Dia berdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali menatapku.


"Maafkan aku jika keputusan yang aku buat tidak akan membuatmu bahagia, Zeta."


"Apa maksud Kakak?" tanyaku begitu Alvin berdiri dari atas sofa.

__ADS_1


Alvin hanya membalas pertanyaanku dengan sebuah senyum kecil lalu langsung pergi keluar. Hal ini meninggalkan beribu pertanyaan di dalam diriku. Dan meninggalkan rasa takut untukku.


...-----...


__ADS_2