Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Ibu


__ADS_3

Aku sudah menghubungi kakek dan nenek, mereka masih berada di rumah teman mereka saat aku menghubungi mereka tetapi untuk saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Ken juga sudah membagi tugas dengan Stephanie, Caroline, dan sekretarisnya untuk menghubungi orang-orang yang bekerja di rumah kakek. Semua yang sudah ditelepon mengatakan mereka berada di rumah atau di perjalanan atau sedang berjalan-jalan. Sesuatu yang tidak aku harapkan sebagai sebuah jawaban.


Aku masih mencoba menelepon ibu dan telepon rumah, tidak ada yang mengangkatnya. Ketakutan terbesar dalam hidupku, apakah Tuhan akan membuatku menghadapi ketakutan itu?


Saat dimana aku mengetahui bucket list milik ibu, aku sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi tetapi aku mengabaikannya. Diriku di masa depan mungkin akan menyesal dengan keputusan yang aku buat tetapi diriku di masa ini tidak menyesali apapun karena setidaknya aku bisa melihat senyum terbaik di dalam hidup ibu. Aku tidak tahu apa yang sekarang aku rasakan. Dadaku sangat sesak, pikiranku kacau balau, hatiku terus-menerus mengulangi doa yang sama, dan tubuhku perlahan mulai menunjukkan ketakutan.


"Nihil, tidak ada satupun yang berada di rumah," ucap Ken sembari mengepalkan tangannya.


Stephanie menatapku dengan khawatir. Aku membalas tatapannya dengan sebuah senyum pahit dan langsung mengalihkan perhatianku ke jalanan yang masih dibasahi air hujan. Aku menutup kedua mataku selama beberapa detik dan kembali mencoba menghubungi ibu.


"Halo?!" seruku begitu telepon terangkat.


"Ibu? Apa Ibu baik-baik saja?" tanyaku begitu mendengar suara sesuatu jatuh. Ken, Stephanie, dan Caroline langsung menutup telepon mereka lalu menatapku penuh harap. Aku mengangguk, membuat mereka bertiga langsung menghembuskan nafas lega.


"Tentu. Ibu sedang menunggu ayah di depan pintu."


"Zeta akan menemani Ibu hingga ayah datang. Zeta mohon Ibu tetap bersama dengan Zeta."


"Tentu, Sayang. Apakah kamu sudah sampai di London?"


"Penerbangan dibatalkan. Zeta sedang menuju rumah."


"Benarkah? Ibu akan memanaskan makan malam jika begitu."


"Tidak perlu. Zeta hanya ingin Ibu menemani Zeta di telepon."


"Baiklah, tetapi jika Ibu tiba-tiba tidak menjawab berarti Ibu sudah tertidur. Ibu sangat lelah."


"Tidak, Ibu harus menjawab semua yang Zeta katakan."


"..."


"Apa Ibu mencintai Zeta?" tanyaku sembari menahan tangis.


"Ibu sangat mencintaimu. Ibu bisa mengobarkan apapun untuk Zeta, William, dan Arthur."


"Apa Ibu bahagia?"


"Ibu selalu bahagia Zeta. Ibu bersyukur Tuhan memberikan kehidupan ini kepada Ibu."


"..."


"Zeta?"


"Iya?"


"Jangan pernah menyalahkan orang lain ataupun Tuhan untuk semua yang telah terjadi."


"...."

__ADS_1


"Moonlight Sonata, apa Zeta ingin mendengarnya?"


"Tentu."


Suara langkah kaki yang berat terdengar. Ibu seperti memaksakan dirinya berjalan menuju ruang musik. Jarak antara pintu depan dengan ruang musik cukup jauh dan langkah kaki yang aku dengar saat ini bukanlah langkah kaki seseorang yang kondisi fisiknya baik-baik saja.


"Apa Ibu baik-baik saja?" tanyaku setelah lebih dari 10 menit hanya mendengar suara langkah kaki dan nafas yang semakin berat.


"Tentu, Ibu akan memainkan Moonlight Sonata sekarang."


Alunan musik mulai terdengar. Aku tidak bisa fokus pada alunan musik yang ibu mainkan dan lebih terfokus pada paman yang sedang berusaha membuka pintu gerbang rumah. Ken menatapku, memintaku untuk terus berbicara dengan ibu. Aku tidak mungkin tiba-tiba memotong permainan piano ibu, aku tidak bisa melakukannya.


"Nona, pintu gerbang tidak bisa dibuka secara manual. Fitur keamanan tingkat tinggi diaktifkan. Sepertinya hanya Tuan Phillip yang bisa membukanya."


Tidak.


Aku melangkahkan kakiku keluar dari mobil menuju pintu gerbang. Hanya mereka yang terdaftar dalam fitur keamanan yang bisa membuka pintu gerbang ini. Aku bahkan tidak tahu siapa saja yang bisa membuka fitur ini.


Ting.


Aku mendekatkan handphone ke telingaku untuk mendengar permainan piano ibu yang semakin tidak beraturan. Ibu memainkan nada-nada dengan penuh rasa sakit dan penyesalan. Baru kali ini aku bisa merasakan penyesalan dalam permainan piano ibu. Baru ini aku bisa melihat bentuk penyesalan milik ibu. Penyesalan dalam nada-nada ini membuatku merasa sesak, membuatku seperti ikut merasakan penyesalan yang ibu rasakan. Aku bahkan tidak tahu penyesalan apa yang ibu rasakan hingga bisa membuat permainan pianonya berubah seperti ini tetapi penyesalan itu sampai kepadaku.


"Ibu?" panggilku begitu suara piano tidak terdengar lagi.


"Ibu?!"


"Ibu?! Zeta mohon jawab Zeta."


"Zeta, kamu bisa membuka gerbangnya. Iris mata dan sidik jarimu sudah didaftarkan," ucap Ken sembari mengambil handphone dari tanganku.


"Kembalikan handphone-ku. Aku harus berbicara dengan Ibu," pintaku sembari berusaha mengambil kembali handphone milikku.


"Zeta, buka gerbangnya!" perintah Ken, menyadarkan diriku dari ketakutan.


Aku berjalan menuju tempat identifikasi iris mata dan sidik jari. Iris mataku tidak bisa dikenali karena air mata yang terus berjatuhan. Berapa kalipun aku menghapus air mataku, air mata lain akan menggantikannya.


"Aku tidak bisa membukanya, Ken!!" teriakku sembari menangis.


Ken langsung menghampiriku, mengusap air mataku, dan menggenggam erat tanganku. Dia mendorong perlahan tubuhku agar iris mataku bisa teridentifikasi. Begitu iris mataku teridentifikasi, Ken langsung meletakan ibu jariku ke atas pemindai lainnya. Setelah semua selesai, dia memasukan kode yang mungkin dia dapat dari kakek.


"Selamat datang."


Pintu gerbang langsung terbuka begitu suara AI terdengar. Ken kembali membawaku ke dalam mobil. Tanpa perlu menunggu perintah, Paman Stephan langsung melajukan mobil menuju rumah utama.


"Semua akan baik-baik saja," ucap Stephanie sembari memelukku, membuatku semakin takut.


Aku langsung berlari menuju pintu rumah begitu mobil berhenti. Ken ikut mengejarku, begitu juga dengan kedua sahabatku dan paman. Tanganku langsung lemas begitu akan membuka pintu rumah, aku tidak sanggup membuka pintu di depanku. Aku tidak ingin kemungkinan terburuk yang aku pikirkan terjadi. Aku...


"Semua akan baik-baik saja," ucap Ken sembari memegang tanganku dan membuka pintu bersama denganku.

__ADS_1


Warna yang pertama kali aku lihat begitu pintu terbuka adalah merah. Tidak ada yang bisa mengabaikan tetesan darah yang berada di lantai depan pintu. Ken berusaha menutup kembali pintu rumah tetapi aku menahannya.


"Aku tidak akan baik-baik saja, Ken," ucapku kepada mereka sembari meneteskan air mata dan melangkah masuk ke dalam rumah. Rumah yang sebelumnya terasa sangat hangat sekarang berubah menjadi dingin. Aku sudah tidak merasakan jika rumah ini adalah 'rumah' yang aku kenali.


Aku berjalan mengikuti tetesan darah. Tidak perlu mengikuti tetesan darah ini lagi, aku sudah tahu dimana akhir dari darah ini berada. Ruang musik.


"Tidak,” ucap Ken begitu membuka pintu ruang musik.


Ken langsung memeluk tubuhku, membuatku tidak bisa melihat isi ruang musik. Stephanie dan Caroline menunjukan ekspresi cukup terkejut. Mereka berdua langsung melihat ke arahku yang juga sedang menatap mereka, membuat mereka langsung berusaha merubah ekspresi wajah mereka. Sedangkan paman sudah masuk ke dalam ruang musik untuk memeriksa kondisi ibu. Cukup lama paman memeriksa kondisi ibu, paman juga sudah menghubungi 911 untuk meminta pertolongan sembari memberikan pertolongan pertama kepada ibu.


Sepuluh menit berlalu dan petugas 911 sudah datang. Mereka langsung memeriksa kondisi ibu. Mereka berlalu lalang keluar masuk membawa beberapa peralatan kesehatan yang berada di mobil ambulans. Salah satu petugas juga menghubungi dokter senior di rumah sakit untuk memastikan tindakan yang sebelumnya paman berikan dan petugas lainnya lakukan sudah benar atau tidak. Dan tidak ada yang salah dari semua tindakan yang petugas berikan maupun pertolongan pertama yang paman berikan. Tidak ada yang salah.


"Sudah tidak ada denyut nadi. Darah yang keluar terlalu banyak," ucap salah satu petugas lemas.


"Ken," panggilku putus asa.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu."


"Dia ibuku, Ken."


"Kumohon, Zeta," pintanya dengan nada memelas kepadaku.


"Aku juga memohon padamu, Ken. Dia ibuku."


Ken melepaskan pelukannya dengan ragu. Stephanie mencoba mencegahku, dia memintaku dengan terus menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. Aku ikut menggeleng dan memberikan sebuah senyum pahit sebelum akhirnya memutar tubuhku ke arah dimana ibu berada.


Tanpa kusadari kakiku sudah berjalan menuju tempat dimana ibu terduduk dengan darah yang menghiasi pakaiannya. Sekarang terlihat seperti ibu mengenakan darah sebagai pakaiannya. Aku mencoba mencari nadi milik ibu dan tidak menemukan denyut apapun. Hanya darah milik ibu yang aku dapatkan mengotori jari-jariku.


"Nona," panggil Paman dengan sangat pelan.


"Ibu berjanji tidak akan meninggalkan Zeta dan akan melindungi Zeta. Kenapa Ibu mengingkarinya?" ucapku sembari menyentuh wajah ibu yang sudah sangat dingin.


"Kenapa Ibu meninggalkan wajah penuh kebahagiaan seperti ini?!!!" tanyaku begitu melihat wajah ibu yang tidak menunjukan satupun rasa sakit.


"Bagaimana dengan Kak William dan Kak Arthur?"


"Kak William belum mengetahui arti hidupnya. Ibu belum memenuhi bucket list Ibu. Zeta mohon bangun."


"Ibu!!!!!" panggilku dengan sangat putus asa.


"Zeta tidak akan bisa hidup tanpa Ibu. Ibu belum selesai mengajari Zeta cara merajut. Zeta masih belum bisa merajut baju untuk anak-anak Zeta. Zeta masih belum bisa memasak untuk calon suami dan anak-anak Zeta. Zeta belum bisa membedakan bumbu-bumbu masak. Zeta masih belum menunjukan semua permainan piano Zeta. Masih banyak hal yang ingin Zeta bagikan dan lakukan bersama Ibu. Dan Zeta belum bisa hidup tanpa Ibu. Zeta tidak bisa hidup tanpa Ibu. Zeta mohon....."


"Zeta," panggil Ken sembari memeluk tubuhku, memeluk tubuh yang sudah tidak memiliki alasan untuk hidup lagi.


"Ibu...Ibu...Ibu bahkan belum melihat Zeta memakai gaun pengantin milik Ibu."


"Ibu, apa yang harus Zeta lakukan sekarang?" tutupku sembari menangis di dalam pelukan Ken.


...-----...

__ADS_1


__ADS_2