
Alunan nada piano semakin cepat mencapai klimaksnya. Jari-jari yang selama ini menemani jam istirahatku mulai memainkan tuts-tuts piano dengan cepat dan semakin cepat. Bagi seseorang yang mengatakan memainkan piano hanya untuk mengisi waktu luangnya, permainan yang saat ini dia mainkan sangat berbeda dengan ucapannya. Bahkan kali ini permainannya sangat berbeda jauh dari permainan Moonlight Sonata yang dia mainkan terakhir kali di konser. Kali ini dia memainkan Piano Sonata No. 18 in D Major K 576 dan sekarang dia sudah masuk ke bagian akhir.
Kenapa keluarga Nakamoto tidak mengizinkan seseorang dalam keluarganya untuk menjadi musisi?
Alvin terus memainkan tuts-tuts piano dengan senyum di wajahnya. Sebuah senyum yang berisi kepuasan dan sebuah senyum yang mengintimidasi. Aku tidak akan pernah bisa melampaui permainan miliknya. Semakin aku mendengar permainannya semakin aku tahu jarak diantara kami sangat jauh. Sejujurnya ini kali pertama aku melihat senyum yang dia tunjukkan saat ini. Dia seperti menyatu dengan piano yang dia mainkan.
Beberapa orang mulai berbisik saat permainan mulai mendekati akhir, sebagian orang memuji permainan menakjubkan ini dan sisanya bertanya-tanya siapa laki-laki yang berada di atas panggung. Kutengokkan kepalaku ke kanan, cukup terkejut untukku mendapati sepasang mata sudah menatapku. Kusenggolkan kakiku ke arah Arthur, dia mengalihkan pandangannya ke panggung sebelum akhirnya kembali menatapku.
"Berhenti menatapku," bisikku.
"Menurutmu apa yang akan terjadi jika setelah ini Alvin mengumumkan siapa dia sebenarnya?"
Sebuah buku kecil mendarat di atas kepala Arthur, membuat kami berdua mengalihkan perhatian kami ke kursi di atas tempat kami duduk. Nichole, tunangan Caroline, memberikan senyum ramah dan lambaian tangan. Arthur sangat membenci Nichole karena dia selalu memprioritaskan Caroline dibandingkan basket. Hal itu membuatnya selalu ingin memukul Nichole. Tepat sebelum Arthur berdiri dari tempatnya duduk, aku langsung memegang pundaknya, mencegahnya berdiri.
"Tunggu 1-3 menit lagi, jangan membuat keluarga Allison terkesan tidak menghormati karya seni," ucapku.
Arthur hanya mendesah pelan dan mengambil buku kecil yang Nichole berikan kepadanya. Aku ikut membaca judul buku kecil itu. 'Yayasan Seni Nakamoto', judul buku kecil itu, judul yang sangat tidak menarik. Tepat saat aku akan menikmati kembali alunan-alunan nada, Arthur memegang tanganku dan menyodorkan buku kecil itu kepadaku.
'Untuk kali pertama setelah 50 tahun pendirian Yayasan Seni Nakamoto, salah satu anggota keluarga Nakamoto yaitu cucu dari pendiri Yayasan Seni Nakamoto sendiri bergabung bersama 100 seniman lainnya untuk bersaing mendapatkan beasiswa'
"Bukankah ini foto Alvin?" tanya Arthur diikuti dentingan akhir piano.
Kualihkan pandanganku ke arah panggung dan sekali lagi melihat Alvin yang sekarang tersenyum, bukan senyum penuh kepuasan yang dia tunjukkan. Senyum lega karena permainan yang dia tunjukkan sudah berakhir. Seseorang sepertinya, berapa banyak aturan keluarga yang sudah dia langgar hanya untuk bisa bermain piano?
"Permainannya sudah sekelas musisi dunia dan dia sudah banyak memenangkan berbagai perlombaan internasional. Seorang pewaris dan musisi dunia sepertinya memilih masuk sekolah kita. Bukankah itu aneh?" tanya Nichole.
"Kamu akan membom sekolah dengan berita ini?" balas Arthur.
Aku masih tetap menatap ke arah panggung dan hanya diam mendengarkan pertengkaran kedua laki-laki tidak dewasa itu. Tepat setelah Alvin membungkukkan tubuhnya, seorang wanita seusia ibuku naik ke atas panggung. Hanya dengan melihat wajahnya satu kali, aku bisa langsung tahu siapa wanita itu. Wajahnya sangat mirip dengan Alvin, terutama bagian hidung dan mulutnya.
"Aku rasa, keluarganya sendiri yang akan mengeluarkan bom itu," ucapku membuat Arthur dan Nichole langsung mengikuti arah pandanganku.
"Wow,” gumam Nichole sembari bertepuk tangan.
"Selamat malam, saya rasa permainan terakhir cukup menyita perhatian banyak orang. Saat pertama kali saya melihat daftar musisi yang akan bermain di acara amal ini, saya sangat tidak menduga jika anak laki-laki saya juga akan bermain. Saya kira saya tidak akan pernah melihat permainan langsung miliknya karena dia selalu melarang saya datang setiap kali dia berlomba," ucap wanita itu sambil tertawa kecil yang kemudian diikuti tawa orang-orang yang berada di ruangan ini.
__ADS_1
"Setelah hari ini, sekolah akan menjadi medan perang,” ucap Nichole.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Keluarga Parker, Keluarga Nakamoto, dan Keluarga Allison. Satu orang yang membatalkan pertunangan dan dua orang yang tiba-tiba menjadi dekat, bukankah itu kombinasi yang menarik?"
"Diam, Nichole," geram Arthur.
"Apa maksudmu?" tanyaku sekali lagi tidak tahu kemana arah pembicaraan ini.
"Kamu benar-benar tidak tahu?" tanya Nichole terkejut sembari menatapku dan Arthur bergantian.
"Nichole," panggil Arthur dengan nada marah.
"Kak Arthur?" panggilku bingung.
"Ahhhh.... aku tidak berusaha menutup-nutupi apapun darimu. Aku baru tahu pagi ini."
"Tahu tentang apa?"
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan semua informasi yang baru saja aku terima. Suara tepuk tangan kembali terdengar, aku bahkan tidak tahu alasan ruangan ini dipenuhi dengan tepuk tangan. Aku tidak tahu apa saja yang diucapkan oleh wanita atau Ibu Alvin hingga bisa membuat ruangan ini dipenuhi dengan suara tepuk tangan. Fokusku hanya pada Alvin yang entah bagaimana dia juga sedang menatapku, aku rasa hanya perasaanku saja. Tidak mungkin Alvin bisa menemukanku diantara ratusan orang yang ada di dalam ruangan ini.
Ting....
'Aku menemukan surat perjanjian perjodohan kita. Aku akan memberi tahumu lebih lanjut besok di sekolah.'
Ah...sepertinya hidupku tidak akan tenang.
...-----...
"Ini pasti Zeta, seperti yang Alvin bilang, kamu sangat cantik."
Hanya senyum dan uluran tangan yang bisa aku berikan. Melihat dari dekat, Ibu Alvin atau Nyonya Nakamoto sangat mirip dengan Alvin. Beliau juga sangat elegan, seperti seorang putri kerajaan yang selalu diajarkan tata krama. Aku rasa bukan hanya aku yang bisa merasakan betapa elegannya beliau, ibuku juga bisa merasakannya.
"Apa permainanku bagus?"
__ADS_1
Pertanyaan Alvin membuatku memundurkan tubuhku menjauhinya tanpa sadar dan membuat beberapa orang menatapku bingung. Sepertinya Alvin tahu jika aku sedikit takut kepadanya saat ini. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan memberikan sebuah lollipop kepadaku. Seperti tahu pikiran dan tubuhku yang sedang kalut, Arthur langsung mengambil permen itu dan mengajak berbicara Alvin.
"Maafkan aku, seharusnya aku memberitahumu lebih awal. Keluarga kita sudah menolaknya selama lebih dari 10 tahun dan tiba-tiba kesempatan datang," ucap William ikut duduk di sampingku.
"Apa Zeta benar-benar adik Kakak? Atau Zeta hanya alat bisnis?"
"Zeta," panggil William dengan terkejut.
"Apa setelah ini akan ada berita mengenai pertunanganku dengan Alvin?"
"Selama surat perjanjian itu masih ada, kamu tidak akan bisa lepas dari Ken. Aku membiarkannya mendekatimu karena tatapan matamu kali pertama melihatnya bermain piano, itu tatapan yang belum pernah aku lihat dan dia bahkan bisa membuatmu memiliki impian."
William membuka minuman dingin yang dia bawa dan memberikannya kepadaku. Dia mengambil kembali sekaleng minuman dari dalam saku jaket miliknya. Cukup lama dia memainkan kaleng itu sebelum akhirnya membukanya dan meneguknya. Berbeda denganku yang justru meletakkan minuman pemberiannya ke kursi di sampingku. Aku tidak ingin meminum sesuatu yang manis.
"Aku masih menolak rencana ini dan masih mencoba mendiskusikannya dengan ayah. Aku selalu ingin kamu menemukan cinta sejatimu, bukan cinta yang dipaksakan seperti ini. Kamu bukan alat bisnis, Zeta. Kamu adalah hidup kami dan karena itu semua orang tahu bagaimana cara menarik perhatian Keluarga Allison untuk masuk ke dalam bisnis mereka, cukup membawa namamu dan kebahagiaanmu, hanya itu, maka Keluarga Allison akan memulai bisnis dengan siapapun. Jika menurutmu Alvin bukan seseorang yang kamu cari, kamu bisa memberitahuku dan aku akan mengupayakan segala hal untuk membawamu kabur dari keluarga ini."
"Apa Zeta terlihat mencintainya?"
"Daripada cinta, aku lebih melihat jika kamu akhirnya menemukan dirimu. Kamu menemukan hidupmu, kamu menemukan impianmu, dan akhirnya kamu menemukan cintamu. Apa kamu tahu, ini juga kali pertama dalam hidupku bisa membuka diriku secepat ini kepada seseorang dan seseorang itu adalah Alvin. Seperti kami sudah lama saling mengenal dan kami memang ditakdirkan untuk dekat."
"Zeta kira kakak tahu dia dari 10 tahun yang lalu."
"Aku baru benar-benar mengenalnya saat dia akan masuk ke sekolah kita, sebelumnya kita berdua hanya saling menyapa setiap kali bertemu di acara."
"Dia juga menghadiri acara.."
"Konsekuensi dari permainan piano miliknya adalah hidupnya," potong William.
"..."
"Dia bisa bermain piano sepuas hatinya dan selama apapun dia mau tetapi pada akhirnya dia tetap harus kembali sebagai 'Pewaris Keluarga Nakamoto'. Pada akhirnya kehidupan yang benar-benar dia jalani hanyalah bermain piano. Mungkin saat ini, bermain piano dan dirimu."
William meletakkan tangannya ke atas kepalaku dan mengelus lembut rambutku.
"Jangan pernah mengatakan jika kamu hanya alat bisnis lagi. Aku tidak menyukainya," lanjutnya.
__ADS_1
...-----...