
"Sejak kapan Kak Alvin menyukai piano?"
"Sejak aku lahir?"
"Aku serius, Kak."
"Ibuku seorang pianis saat beliau masih kecil tetapi kakekku tidak pernah setuju dengan apa yang disukai ibuku karena itu ibuku menutup rapat keinginannya menjadi pianis. Dan baru-baru ini aku memunculkan sebuah harapan baru untuk ibuku. Aku rasa kamu bisa menebak sejak kapan aku menyukai piano."
Alvin langsung terdiam begitu mengatakan semua hal itu. Dia kembali duduk di atas bangku piano dan kembali memainkan Fur Elise untuk kedua kalinya. Setiap kali dia memainkan Fur Elise, dia akan meninggalkan kesan yang berbeda karena emosi yang dia tuangkan juga berbeda setiap kali dia bermain piano. Partitur yang sama tetapi meninggalkan kesan yang berbeda, harus aku akui dia lebih dari sekadar profesional dan mendengar apa yang baru saja dia ucapkan, aku rasa dia juga ingin menjadi pianis.
Kulangkahkan kakiku mendekati bangku piano dan tanpa kusadari aku sudah duduk di samping Alvin. Perlahan jari-jari mungil tanganku ikut memainkan tuts-tuts piano. Hal itu membuat Alvin tersentak dan berhenti memainkan piano, membiarkan jari-jari mungilku mengambil alih permainannya. Aku tidak tahu apa yang sedang aku lakukan saat ini, aku merasa aku ingin memainkan nada-nada ini sesaat setelah Alvin mulai menyentuh tuts-tuts piano, seakan piano di depanku memanggilku untuk bermain dengannya.
Apakah ini yang dia rasakan setiap kali akan memainkan piano?
"Hei, sejak kapan kamu bisa bermain piano?" tanyanya begitu aku selesai bermain.
"Sejak aku lahir?" balasku sambil tersenyum.
Jawabanku membuat sebuah pukulan lembut mendarat di dahiku. Untuk kali pertama dalam hidupku, aku membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupku secepat ini. Mungkin banyak yang beranggapan aku melakukannya sebagai bentuk pelampiasan atau pelarian setelah semua yang Ken lakukan kepadaku tetapi bagiku apa yang aku lakukan saat ini adalah sesuatu yang memang harus aku lakukan karena aku tahu di masa depan aku akan sangat menyesal telah melewatkan kesempatan ini. Entah apa yang merasukiku hingga tahu jika aku akan menyesal di masa depan. Entahlah, aku hanya merasakannya.
Alvin menarik kedua tanganku dan meletakkannya di atas tuts-tuts piano. Dia juga meletakkan kedua tangannya di atas tanganku dan mulai menuntun jemariku menari di atas piano. Dia memainkan lagu Twinkle Twinkle Little Star, lagu yang sudah sangat lama aku lupakan dan tidak terpikirkan olehku jika aku akan memainkan versi pianonya.
"Apa kamu ingin ikut denganku pergi hari Sabtu ini?"
Aku menarik tanganku dari tangannya, membuatnya terdiam.
"Bukankah aku pernah mengatakan untuk tidak berbicara saat bermain piano? Suara Kakak sama sekali tidak terdengar," ucapku menjawab tatapan bingung miliknya.
"Ah....dasar anak kecil. Apa kamu mau ikut denganku pergi hari Sabtu ini?"
__ADS_1
"Kemana?"
"Suatu tempat."
"Hmmm?"
"Aku akan mengirimkan informasi lebih lanjut. Sekarang bel tanda istirahat selesai sudah terdengar, lebih baik kita kembali ke kelas. Aku tidak ingin menjadi alasan kamu dimarahi guru lagi."
Aku hanya membalas Alvin dengan sebuah senyuman. Aku membantu Alvin merapikan kembali ruang musik yang berantakan karena kami berdua. Sudah satu minggu aku selalu menghabiskan jam istirahatku bersama Alvin di ruang musik. Alvin menepati jadinya untuk memainkan semua lagu yang ada di buku musik miliknya karena berhasil mencetak 20 poin saat latih tanding basket. Dia selalu memainkan lagu-lagu yang ada di dalam buku musiknya secara urut dan selalu melarangku untuk melihat lagu berikutnya. Dia mengatakan ingin memainkan lagu-lagu itu tanpa tahu kapan seharusnya dia akan memainkannya. Lebih seperti dia ingin sebuah kejutan dan dia selalu mengakhiri permainannya dengan Fur Elise atau Moonlight Sonata.
"Mereka disini," ucap Alvin begitu membuka pintu ruang musik.
Stephanie dan Caroline sudah berdiri di depan pintu ruang musik. Mereka menatap tajam ke arahku, sepertinya mereka sudah tahu kemana aku pergi selama satu minggu ini. Jika bukan William yang memberi tahu mereka, maka sudah pasti Arthur yang memberi tahu mereka. Salahku juga langsung menghilang setiap jam istirahat dan membuat mereka berdua menghabiskan jam istirahat hanya berdua atau dengan teman gosip mereka tetapi melihat tatapan tajam mereka, sepertinya mereka selalu menghabiskan waktu istirahat mereka berdua dengan mencariku. Kulangkahkan kakiku mendekati mereka dan sesaat sebelum aku ingin memeluk Stephanie, Alvin mendorongku pelan dan menggantikanku terkena pukulan buku Caroline.
"Wow, cukup sakit. Aku rasa Zeta akan kesakitan jika menerima pukulan ini," ucap Alvin sembari menatapku dan mengambil tumpukan buku di tanganku.
Tanpa menghiraukan ucapan maaf Caroline, Alvin sudah berjalan menuju kelas dengan tumpukan buku milikku di tangannya. Hal itu sudah cukup membuatku dan dua anak kembar ini langsung ikut berjalan mengikutinya. Sesekali Stephanie dan Caroline menyenggol lenganku, sekarang mereka menggerakkan mulut mereka bertanya apakah Alvin marah pada mereka yang kujawab dengan gelengan kepala sembari tersenyum kecil.
Aku selalu ingin bertanya pada Alvin alasan dia selalu mengabaikan orang lain. Dia selalu mengabaikan Stephanie, Caroline dan juga Arthur. Hanya aku dan William yang tidak pernah dia abaikan. Aku berasumsi dia sama dengan William yang memiliki trust issue tetapi bagaimana bisa seseorang yang memiliki trust issue sepertinya langsung bertingkah akrab denganku yang merupakan seseorang yang belum pernah dia temui sebelumnya. Dan aku berakhir dengan hipotesis bahwa dia dalam mode hemat energi sehingga menghiraukan orang lain dan hanya beberapa yang dia tanggapi.
"Belajar yang rajin dan jangan berpikiran negatif saat aku tidak membalas pesanmu," ucap Alvin begitu sama di depan kelasku
"Hah?"
"William memberi tahuku."
"...."
"Bye," ucapnya sembari mengusap rambutku.
__ADS_1
William benar-benar bermulut besar.
Tidak cukup mengawasiku dan melaporkan semua hal tentangku ke Arthur, sekarang dia juga membagikannya ke Alvin. Aku masih ingat tiga hari yang lalu saat Alvin belum membalas pesan yang aku kirimkan untuknya. Aku bertingkah seperti dunia akan hancur dan membuat seisi rumah kebingungan dengan sikapku. Sebenarnya aku hanya menanyakan alasan dia memberikan cincin kepadaku dan dia tidak membalas pesanku selama tiga jam.
Selama waktu itu, aku berulang kali naik turun tangga, mengacak-acak kamar William dan Arthur, dan tentunya memporak-porandakan dapur yang akhirnya membuat semua pelayan di rumahku kewalahan. Semua hal itu bahkan tidak membuatku mendapatkan jawaban dari pertanyaanku. Alvin hanya membalas dengan emotikon senyum dan membuatku berpikir telah melakukan kesalahan karena pesanku yang panjang lebar hanya dibalas dengan sebuah emotikon. Tentunya aku menceritakan hal ini ke kedua kakakku karena hanya mereka laki-laki yang mungkin tahu isi pikiran Alvin. Siapa sangka, William menceritakan hal ini ke Alvin.
"Zeta, kamu benar-benar jatuh cinta pada Kak Alvin?" tanya Stephanie begitu kami duduk.
"Apa maksudmu?" balasku sembari meletakkan tumpukan buku di tanganku ke dalam laci.
Banyak hal yang berubah sejak Ken memberikan pengumuman di depan umum perihal hubungan kami berdua. Aku awalnya mengira teman-teman akan menatap kasihan kepadaku atau bahkan mencoba berpura-pura menghiburku, ternyata aku salah karena teman-teman lain bersikap seperti biasa seolah-olah pengumuman itu tidak pernah terjadi. Seperti mereka memang tahu tidak ada hal yang terjadi diantara aku dan Ken sehingga pengumuman itu bukanlah hal yang mengejutkan.
Hubungan Ken dan Natasha juga semakin diakui. Beberapa orang yang sering memandang sebelah mata Natasha, termasuk guru-guru, sekarang mereka memperlakukannya dengan sangat baik. Aku rasa title 'pacar anak Keluarga Parker' memiliki dampak yang besar dalam hidupnya.
Ken sendiri, aku tidak tahu bagaimana keadaannya setelah kejadian itu. Dia tidak berangkat ke sekolah selama 2 hari dan saat dia kembali masuk sekolah, aku melihat banyak lupa lebam mengisi tubuhnya. Sudah bisa dipastikan dia melakukan sparing dengan ayahnya. Setiap kali dia menginginkan sesuatu atau setiap kali dia berbuat masalah pasti dia akan selalu melakukan sparing dengan ayahnya yang berujung hanya ayahnya yang memberikan pukulan dan Ken hanya menjadi samsak hidup. Tetapi, sekarang semua sudah kembali normal dan dia juga semakin berani menunjukkan hubungannya dengan Natasha. Aku juga harus bersyukur karenanya aku terbebas dari julukan 'perempuan yang setia menunggu' karena pada kenyataannya aku sama sekali tidak suka menunggu.
Sebenarnya aku tidak bisa menyebut semuanya kembali normal karena William dan Arthur sekarang menjadi pembenci nomor 1 Ken. Mereka berdua bahkan hampir mengeluarkan Ken dari klub basket jika saja aku tidak mengambil tindakan. Aku tahu betapa kesalnya mereka kepada Ken tetapi mau tidak mau semua ini tetap menjadi masalahku dengan Ken dan aku tidak ingin kedua kakakku ikut campur. Aku tidak ingin mendapat julukan baru sebagai adik yang selalu dilindungi kakaknya. Walaupun setiap saat aku selalu dilindungi keduanya sampai-sampai semua teman-teman kakakku menghubungiku untuk menanyakan keberadaanku karena sudah pasti dimana ada aku disitu juga ada kakak-kakakku.
"Selamat siang anak-anak. Sepertinya kalian masih kurang jam istirahatnya," ucap Bu Katie membuka pelajaran konseling.
Pernyataan Bu Katie hanya dibalas tawa oleh teman-teman sekelas. Bu Katie jauh berbeda dengan guru lainnya yang terkesan killer, selain masih cukup muda beliau juga selalu mendengarkan apa yang dikeluhkan para siswa dan tentunya memberikan tanggapan akan keluhan itu. Hal itu membuatnya disukai hampir oleh semua siswa di sekolah ini.
"Ibu akan membagikan selembar kertas berisikan cita-cita dan keinginan kalian di masa depan. Ibu akan menunggu sampai minggu depan. Silakan mencari di dalam diri kalian, apa yang ingin kalian lakukan, apa yang membuat kalian bahagia, dan apa harapan kalian di masa depan."
Harapan?
Apa harapan yang aku tulis tahun lalu?
...-----...
__ADS_1