Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Adik


__ADS_3

"Bukankah mereka berdua sangat cocok?" tanya Sina sembari mencoba menyejajarkan langkah kakinya denganku.


Aku melihat sekilas wajahnya yang kesakitan setiap kali dia mencoba melangkahkan kakinya selebar yang aku lakukan, sepertinya sepatu heels yang dikenakannya tidak cocok dengan bentuk kakinya atau dia belum terbiasa menggunakan heels. Aku memperkecil langkah kakiku, membuatnya sedikit tidak kesulitan untuk mensejajarkan langkahnya. Hal ini membuatnya menatapku sekilas dengan tatapan seseorang yang tertangkap basah sedang mengikutiku.


"Bukankah tidak nyaman untuk berjalan menggunakan heels?" tanyaku akhirnya.


"Mereka berdua bukan hanya sekadar teman masa kecil. Kak Alvin sangat mencintai Kak Rachel bahkan cintanya melebihi cinta yang diberikan kepadaku tetapi suatu hal buruk terjadi kepada Kak Rachel dan karena itu Kak Rachel memutuskan untuk menghindari Kak Alvin selama beberapa tahun.”


"Namamu Sina bukan?"


Sina menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arahku. Aku bisa dengan jelas membaca apa yang dia pikirkan dan inginkan dariku. Aku hanya melihat rasa kesal terpancar dari matanya karena aku terus-menerus mengabaikan topiknya. Aku tidak bisa memahami gadis berusia 15 tahun yang sebenarnya hanya berjarak 3 tahun dengan usiaku.


"Aku akan menganggap diammu sebagai 'ya'. Aku bisa melihat semua itu, semua yang baru kamu katakan. Mereka berdua sangat serasi dan aura diantara keduanya adalah aura yang sulit untuk dimasuki dan dirusak oleh orang luar. Dan aku tahu jika aku bagian dari orang luar itu," ucapku setelah Sina terus-menerus diam dan hanya menatapku dengan kesal.


Sina tertegun mendengar ucapanku. Dia tidak mengira aku akan mengucapkan sesuatu yang mendukung hubungan antara Alvin dengan Rachel. Sekarang aku tahu jika dia menginginkanku pergi jauh dari hidup Alvin dan membiarkan Alvin hidup bersama dengan cinta masa kecilnya. Tanpa perlu disuruh aku juga akan melakukan hal itu.


"Zeta, apa kamu lelah? Ingin beristirahat sebentar?" tanya Alvin tepat saat Sina akan membuka mulutnya, membuat Sina kembali menutup mulutnya.


"Zeta baik-baik saja. Apa yang ingin Kakak lakukan?"


"Alvin, bisakah kita pergi melihat sepatu?" tanya Rachel dengan nada yang dibuat selucu mungkin sembari memegang lengan kiri Alvin dengan dangat erat. Alvin berusaha melepaskan pegangan tangannya tetapi dia tidak berhasil karena Rachel terus berusaha untuk menempel kepada Alvin. Alvin memberikan raut wajah seseorang yang sedang tertekan dan mencoba menjelaskan bahwa apa yang sedang aku lihat saat ini tidak sama seperti apa yang aku pikirkan. Dia bahkan tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan.


"Zeta juga ingin melihat-lihat sepatu," ucapku membuat Rachel menatapku dengan sinis, seolah aku baru saja mencuri idenya padahal aku sedang membantunya untuk bisa masuk ke toko sepatu.


"Baiklah," balas Alvin disambut dengan tarikan paksa Rachel masuk ke dalam salah satu toko sepatu, meninggalkanku berdua dengan Sina.


Aku membalikkan tubuhku menghadap Sina yang masih diam mematung sembari terus mengamatiku. Dia sedang mencari tahu sesuatu, apakah aku sudah tahu semuanya sama halnya dengannya atau aku memang tidak pernah mencintai Alvin dengan tulus. Tidak mungkin aku menunjukan dengan gamblang kepadanya jika aku sudah tahu semua kebenaran tentang perselingkuhan ayah yang akhirnya melahirkan Alvin dan Sina. Sejujurnya aku ingin tahu alasan kenapa dia ingin menyingkirkanku dari hidup Alvin. Apakah karena dia tahu jika kami berdua tidak bisa bersama atau karena dia memang tidak menginginkanku menjadi cinta dalam hidup Alvin?


"Kamu memiliki segalanya, berbeda dengannya," teriak Sina membuat pengunjung mall lainnya menatap sekilas ke arah kami. Handphone milikku juga langsung berbunyi begitu Sina meneriakkan kalimat yang dia ucapkan. Aku langsung mencari dan menemukan Paman Stephan yang sedang berjalan ke arah kami. Aku memberikan gelengan pelan dan paman berhenti melangkahkan kakinya.


"Dengannya? Dia atau kamu?" tanyaku yang disambut dengan tatapan terkejut miliknya.


"Kamu sudah tahu semuanya," gumamnya.


"Tahu jika kamu adikku dan Kak Alvin kakakku?" balasku.


"..."


"Aku membaca laporan kesehatanmu, tidak secara rinci hanya secara garis besar, dan di laporan itu seharusnya hari ini kamu memiliki jadwal kemoterapi."


"Aku," ucapnya terhenti sembari mengangkat kembali wajahnya menatapku.


"Aku juga sudah bertemu dengan ibumu."


"Apa yang ibuku katakan?!" tanyanya terkejut.


"Tidak ada."


"Bohong!!!! Ibu pasti mengatakan hal yang buruk!” balasnya dengan nada yang semakin meninggi.


"Zeta!!!!" panggil Alvin, sekali lagi membuat beberapa pengunjung melihat ke arah kami. Sungguh memalukan. Aku kembali memutar tubuhku dan kali ini mendapati Alvin yang sedang melambaikan tangan. Aku memberikan isyarat kepadanya akan segera masuk ke dalam toko bersama dengan Sina.


"Aku rasa kita tidak bisa terus berdiri di jalan seperti ini," ucapku sembari berjalan meninggalkan Sina.


"Kak Alvin belum tahu apapun, jangan beritahu dia."

__ADS_1


Sina berlari pelan menghampiriku hanya untuk mengucapkan kalimat itu. Dia bahkan memegang tanganku selama beberapa detik sebelum akhirnya langsung dia lepaskan begitu aku melihat tangannya menyentuh lenganku. Dia bukan lagi sosok gadis sombong seperti saat pertama kali dia melihatku di tempat penitipan anak. Aku bisa melihat sosok anak berusia 16 tahun di dalam dirinya saat ini, sosok yang sebenarnya sedang menahan rasa sakit bukan karena penyakit yang dideritanya melainkan karena fakta akan keberadaannya di dunia ini.


"Aku tahu, aku juga tidak ingin menghancurkan lebih banyak hati lagi."


"Jangan mengatakan hal-hal yang menyakitinya saat kamu akan memintanya untuk menjauhimu."


"Aku tahu, sekarang bisa kita masuk?"


Sina langsung berjalan meninggalkanku begitu pertanyaan itu keluar dari mulutku. Langkah kakinya semakin berat, entah karena heels yang dipakainya atau karena tubuhnya yang sudah tidak bisa menahan lagi rasa sakit yang sedang dia tahan. Aku menoleh ke arah kanan dan beberapa pengawal sudah mulai mengawasi area sekitar, sepertinya Paman Stephan tidak mempercayai Sina hingga memutuskan untuk memanggil beberapa pengawal ke tempat dimana aku berada.


Ting.


Aku mencari paman diantara beberapa pengunjung dan berhasil menemukannya. Paman menggunakan bahasa isyarat menanyakan apakah aku baik-baik saja yang langsung aku balas dengan anggukan. Paman ikut mengangguk begitu melihatku mengangguk, membuatku langsung berjalan masuk ke dalam toko.


Pemandangan pertama yang aku lihat begitu masuk ke dalam toko adalah gambaran keluarga yang bahagia. Bagaimana Alvin memperlakukan Rachel berbeda dengan saat dimana dia memperlakukanku. Dia memang menunjukkan tidak begitu menyukai sentuhan ataupun tindakan berlebihan yang Rachel berikan kepadanya tetapi dia tetap membiarkan Rachel melakukan hal itu tanpa berusaha mencegahnya. Dia diam-diam menikmati apa yang Rachel lakukan kepadanya.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya salah satu pegawai yang melihatku diam cukup lama di depan pintu masuk.


"Apakah toko ini juga menyediakan kartu ucapan?"


"Kami menyediakan kartu ucapan, Nona. Kami juga menyediakan layanan pesan antar untuk kado."


"Dimana sepatu olahraga?"


"Ikuti saya, Nona."


Aku mengikuti pegawai yang berjalan semakin jauh ke dalam toko. Sebuah tangan menghentikkan langkahku, membuat pegawai yang sebelumnya berjalan cukup cepat di depanku ikut berhenti. Aku kembali bertemu dengan sepasang mata biru yang memberikan tatapan hangat miliknya untuk kali pertama di hari ini. Tatapan yang sebelumnya bisa aku lihat kapanpun aku mau tetapi untuk hari ini aku justru menyaksikan tatapan itu diberikan kepada perempuan lain.


"Kamu mau kemana?"


"Haruskah aku ikut denganmu? Aku benar-benar melupakan fakta jika kita sedang berkencan hari ini."


"Tidak usah, aku baik-baik saja. Aku juga tidak masalah Kak Alvin melupakan jika hari ini kita sedang berkencan. Aku bahagia melihat Kakak bisa tertawa lepas seperti saat ini karena bertemu dengan teman masa kecil Kakak.”


“Maafkan aku.”


“Untuk apa?” balasku sembari mengepalkan tangan.


Seharusnya aku yang meminta maaf kepadanya karena akan membuat kencan hari ini sebagai sebuah perpisahan. Seharusnya aku yang meminta maaf kepadanya karena menyembunyikan semua kebenaran tentang dirinya. Seharusnya aku yang meminta maaf kepadanya untuk rasa sakit yang akan dia rasakan di masa depan. Seharusnya, aku bertemu dengannya lebih cepat hingga banyak waktu yang bisa kami habiskan bersama sebelum akhirnya aku harus berpisah dengannya karena takdir yang tidak memihak kepada kami.


“Aku rasa sekarang Kakak harus menemani Rachel," lanjutku begitu melihat Rachel berjalan mendekat ke arahku dan Alvin. Aku tidak paham bagaimana cara kerja radar yang dimiliki setiap perempuan, hanya karena tidak melihat wajah laki-laki yang disukainya berada disekitarnya sudah bisa membuat para perempuan tahu dengan pasti dimana laki-laki yang disukainya berada.


"Kamu benar-benar tidak masalah, bukan?"


Aku mengangguk dan tepat saat aku mengangguk sebuah tangan sudah kembali menarik tubuh Alvin menjauhiku. Cepat atau lambat aku dan dia memang harus berpisah, tidak peduli apakah Tuhan yang memisahkan kami melalui orang lain atau salah satu dari kami yang harus memisahkan diri dan hanya aku yang bisa melakukan peran untuk memisahkan diri secara sukarela. Dan aku tahu, aku akan lebih memilih untuk memisahkan diri karena keinginanku sendiri dibandingkan terpaksa karena takdir Tuhan yang secara perlahan memisahkan kami. Aku tahu bagaimana aku akan berusaha menyalahkan takdir Tuhan jika bukan aku yang membuat keputusan itu walaupun aku juga tahu keputusan yang aku buat juga merupakan satu diantara banyaknya kemungkinan dari takdir yang Tuhan buat.


"Ukuran apa yang Nona inginkan?" tanya pegawai toko setelah aku memberikan sepatu berwarna cokelat kepadanya.


"Bisakah Anda mencari tahu ukuran sepatu perempuan yang masuk bersama saya?"


"Baik, saya akan mencoba mencari tahu. Mungkin Nona bisa menuliskan kalimat yang Nona inginkan terlebih dahulu?"


Aku mengangguk dan kembali mengikuti pegawai toko menuju meja kasir. Pegawai itu langsung meninggalkanku setelah memberikan kartu ucapan dan sebuah pena. Aku hanya diam mengamati kartu ucapan, tidak tahu apa yang harus aku tuliskan pada seseorang yang belum aku kenal lebih jauh dan pada seseorang yang merupakan adikku.


Ting.

__ADS_1


Kali ini aku akan membiarkan Paman mendekat kepadaku, aku juga sudah lelah harus berulang kali mencari keberadaan paman hanya untuk menyuruhnya tetap berada di tempatnya.


"Nona," panggil Paman Stephan mengagetkanku. Aku tidak mengira paman akan secepat ini berada di sampingku.


"Maaf jika saya mengangetkan Nona."


"Tidak Paman, Zeta yang memang sedang tidak fokus."


"Apa yang akan Nona lakukan dengan sepatu cokelat itu?"


"Paman, bisakah Paman melihat ke depan sebentar? Zeta akan menjawab pertanyaan Paman setelah Zeta menulis sesuatu."


Paman mengangguk dan langsung menuruti ucapanku. Aku mengambil pena yang belum aku ambil dari atas meja dan mulai menulis beberapa kalimat di atas kartu ucapan.


'Pakailah sesuatu yang nyaman untukmu. Jangan memaksakan diri untuk terlihat dewasa saat dimana kamu masih seorang gadis berusia 16 tahun.


Penyakit yang kamu miliki, kisah kelam yang kita miliki, dan seorang kakak yang sama-sama kita cintai, aku harap ketiga hal itu bukan alasan untukmu berpura-pura kuat. Menangislah, tertawalah, bersedihlah, bergembiralah sesuka hatimu bukan karena tuntutan dari ketiga hal itu tetapi karena hidupmu.'


"Nona, ini sepatu yang Nona inginkan. Haruskah saya membungkusnya dengan kertas kado?" tanya pegawai toko sembari menyodorkan kotak berisi sepatu. Aku ingin tahu cara yang pegawai ini lakukan hingga bisa mendapatkan ukuran sepatu Sina dalam waktu sesingkat ini, hanya dalam waktu 10 menit setelah aku memintanya.


"Tidak perlu, tinggalkan kotak ini disini dahulu," balasku sembari memberikan kartu debit milikku.


"Baik, Nona. Saya permisi dahulu."


"Zeta membelikannya untuk Sina. Bisakah Zeta meminta tolong kepada Paman?" ucapku begitu Paman kembali memberikan tatapan meminta penjelasan kepadaku.


"Apa yang Nona butuhkan?"


"Setelah Zeta menyelesaikan kencan ini, bisakah Paman meminta salah satu pengawal untuk memberikan sepatu ini kepada Sina?"


"Baik."


"Paman tidak ingin menanyakan alasan kenapa Zeta melakukan hal ini?"


"Tidak. Saya lebih penasaran tentang satu hal."


"Apa itu?" tanyaku ikut penasaran karena baru kali ini paman mengatakan penasaran akan sesuatu.


"Apakah Nona baik-baik saja setelah melihat laki-laki yang sebelumnya memperlakukan Nona seolah Nona adalah dunianya ternyata dia juga memperlakukan perempuan lain sama halnya dengan saat dia memperlakukan Nona?"


"Mereka bukan orang lain Paman."


"Tetap saja, Nona. Akan ada batasan saat seorang laki-laki memperlakukan perempuan yang dicintainya dengan perempuan yang hanya teman masa kecilnya."


"..."


"Nona?"


"Paman, Zeta tidak menyesali apa yang sudah Zeta lakukan termasuk membiarkan laki-laki itu masuk ke dalam hidup Zeta. Zeta rasa Zeta akan menyesal ketika Zeta tidak melakukan hal ini. Zeta sudah menyesal karena tidak bisa bertemu dengannya lebih cepat dari ini dan Zeta tidak ingin semakin menyesal, Paman.”


Paman tidak memberikan reaksi apapun atas jawaban yang aku berikan. Paman hanya menghembuskan nafas satu kali dan menatap ke arah Alvin berulang kali, memastikan jika Alvin adalah laki-laki yang bisa dipercaya. Sayangnya, sebesar apapun kepercayaan paman untuk menitipkanku kepada Alvin, Tuhan sudah memiliki kehendak lainnya.


"Paman, saat Kak Will atau Kak Arthur memberitahu suatu rahasia terkelam dalam hidup kami, Zeta ingin Paman tidak menanyakan bagaimana perasaan Zeta. Zeta hanya ingin Paman terus berada di samping Zeta apapun yang terjadi. Dan Zeta harap Paman tidak berusaha mencegah rasa sakit yang akan Zeta rasakan."


"Baik, Nona."

__ADS_1


...-----...


__ADS_2