Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Perpisahan


__ADS_3

"Bisakah kita mencari jam di toko lain?!!" rengek Rachel untuk kesekian kalinya.


Ini sudah ketiga kalinya kami berpindah toko jam karena tidak ada jam yang sesuai dengan keinginan Rachel. Rengekan yang dia keluarkan juga sudah menjadi keenam kalinya yang aku lihat di depan mataku sendiri. Beberapa pegawai toko juga sudah mencoba mengeluarkan koleksi terbaik mereka tetapi tetap saja tidak ada satupun yang dia sukai. Aku tidak tahu jam yang dia cari memang selangka itu atau dia hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Alvin, lebih seperti dia ingin memonopoli Alvin saat ini dan menunjukkan kepadaku jika sampai kapanpun Alvin akan selalu memilihnya.


Alvin menghembuskan nafas panjang lalu meminta maaf kepada pegawai toko karena tidak jadi membeli jam yang hampir semua modelnya sudah berada di atas meja. Jika saat ini ada William atau Arthur, mereka pasti sudah membeli beberapa jam karena merasa para pegawai bekerja keras dengan mengeluarkan dan menjelaskan tentang semua jam. Aku rasa Alvin bukan orang yang gemar mengeluarkan uang tanpa alasan yang pasti dan untuk sesuatu yang tidak dia sukai.


"Ada toko jam di lantai 3, kalian bisa pergi ke sana. Aku akan meminta toko itu untuk melayani hanya kalian bertiga," ucapku akhirnya mencoba menghidupkan kembali suasana yang hampir mati.


"Bagaimana denganmu?" tanya Alvin.


"Aku tertarik dengan beberapa jam di toko ini. Aku akan menyusul setelah...."


"Ayoo, kumohon? Hmmm?" potong Rachel kembali dengan nada imut yang dibuat-buatnya.


Alvin tersenyum sebentar kepadaku sebelum akhirnya meninggalkanku seorang diri di ruang VIP toko jam ini. Aku kembali mengamati jam tangan dan mengambil salah satunya secara acak. Aku tidak ingin berlama-lama memilih dan akhirnya tidak bisa menentukan apa yang aku harus aku beli. Aku juga sebenarnya tidak ingin berlama-lama berada di toko ini. Aku sudah lelah dan ingin pulang.


"Bisakah saya mendapatkan selembar kertas dan sebuah pena?" tanyaku sembari memberikan kotak jam dan kartu debit milikku ke manajer toko.


"Akan kami ambilkan, ada lagi yang Nona Allison ingginkan?"


"Nona Allison?" tanyaku membuat manajer toko terkejut.


"Sepertinya semua toko di mall ini sudah tahu tentang kedatanganku. Tidak masalah, Anda tidak perlu takut," lanjutku setelah melihat wajah manajer di depanku berubah pucat. Aku tidak tahu jika Paman Stephan akan melakukan hal seperti memberitahu seluruh mall tentang kedatanganku. Sebenarnya, aku sempat menduga paman akan melakukan hal seperti ini untuk membantunya menemukanku jika aku tiba-tiba tidak berada di jangkauan matanya.


"Maafkan saya."


"Tidak ada yang salah disini tetapi jika Anda merasa bersalah bisakah saya meminta tolong lagi?"


Manajer dan pegawai toko kembali melihatku dimana sebelumnya mereka terus membungkukkan badan mereka dan membuat wajah mereka menatap lantai.


"Bisakah mencarikan saya awetan bunga marigold? Saya akan sangat berterima kasih."


"Baik, Nona. Dan ini untuk kertas serta pena yang Nona minta."


"Terima kasih."


"Kami akan meninggalkan Nona jika Nona menginginkan waktu seorang diri."


"Sepertinya saya benar-benar orang yang mudah dibaca," balasku sembari tertawa kecil, membuat manajer dan pegawai toko mau tidak mau juga harus memberikan tawa kecil mereka sebelum meninggalkanku.


'Hi, saat Kakak membaca surat ini saat itu juga Kakak sudah tahu jawaban apa yang akan aku berikan. Kakak mungkin akan berpikir kata cinta yang aku berikan kepada Kakak di sekolah saat itu adalah kebohongan setelah membaca surat ini tetapi aku tidak pernah berbohong apapun kepada Kakak dan Kakak tahu akan hal itu. Kebohongan yang aku lakukan kepada Kakak adalah saat aku menulis surat ini. Aku berharap Kakak menganggap kebohongan yang aku berikan melalui goresan huruf ini sebagai sebuah kebenaran.


Maafkan Zeta karena tidak bisa memberikan jawaban yang Kakak inginkan, jawaban yang sudah Kakak nantikan selama hampir 3 bulan lamanya. Maafkan Zeta karena tidak bisa memberikan alasan yang rasional kepada Kakak, alasan yang mungkin sangat Kakak inginkan saat ini. Sekali lagi maafkan Zeta...


Maaf.


Hanya satu kata itu yang bisa Zeta berikan sebagai sebuah alasan karena Zeta lebih memilih untuk mencintai diri Zeta dibandingkan Kakak.


Terima kasih.


Hanya dua kata kata itu yang bisa Zeta berikan sebagai sebuah balasan karena Zeta bisa memilih untuk mencintai diri Zeta dibandingkan Kakak.


Selamat tinggal.


Dan hanya dua kata itu yang bisa Zeta berikan sebagai salam perpisahan karena Zeta menginginkan adanya jejak perpisahan dengan Kakak.'


"Maafkan Sina."

__ADS_1


Aku langsung melipat kertas dan meletakannya ke dalam kotak jam begitu mendengar suara serak milik Sina. Gadis kecil itu berdiri di samping kursi tempatku duduk dengan mata berair. Aku meletakkan kotak jam ke atas meja lalu berdiri menghampiri Sina dan menyuruhnya untuk duduk di sampingku.


"Maafkan Sina," ucapnya sekali lagi dengan air mata mengalir, membuatku memberikan sapu tangan milikku kepadanya.


"Untuk apa?" tanyaku setelah Sina lebih tenang.


"Seharusnya Sina tahu jika semua kebenaran ini tidak hanya menyakitkan untuk Kak Alvin tetapi juga untuk..." ucapnya terhenti.


"Sina bisa memanggilku kakak,” ucapku setelah tahu alasan dia berhenti mengucapkan kalimatnya.


"Untuk Kak Zeta. Sina..."


"Sina, aku juga akan memilih hal yang sama denganmu. Aku akan lebih memilih seorang kakak yang sudah aku temui dari saat aku lahir dibandingkan seorang kakak yang baru aku temui bahkan tidak ada 1 hari. Aku akan lebih memilih untuk melindungi hati Kak Alvin."


"Lalu bagaimana dengan Kakak? Siapa yang akan melindungi hati Kak Zeta?" tanyanya membuatku tertegun.


"Seseorang di luar sana."


"Maafkan Sina. Maafkan Ibu Sina yang membuat semua hal ini. Seharusnya Sina tidak pernah terlahir ke dunia ini. Maafkan Sina. Maaf."


Aku tidak bisa mendengar lagi kalimat yang Sina ucapkan. Hanya kata maaf yang berulang kali aku dengar. Aku sudah tahu dari awal jika aku tidak akan pernah bisa membenci siapapun. Aku juga sudah tahu dari awal jika aku akan menganggap Sina sebagai adikku. Aku tahu, aku tidak boleh melakukan hal ini tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan tangis seorang gadis berusia 15 tahun yang saat ini sedang membutuhkan sebuah kehangatan. Kehangatan yang mungkin belum pernah dia rasakan sebagai seorang adik. Kehangatan yang selalu dia rindukan walaupun dia belum pernah merasakannya.


Aku memang sudah tahu dari awal jika Sina tidak pernah mendapatkan satupun kasih sayang dari ayah. Dia hanya mendapatkan kasih sayang dari ayah tirinya, ayah yang belum tahu kebenaran tentang dirinya yang bukan anak kandungnya. Aku tahu bagaimana ketakutan yang dia rasakan setiap harinya, khawatir akan kebenaran tentang dirinya terungkap. Aku tahu semua itu dan aku mengabaikannya. Aku memperlakukan dia seperti yang dia ingin diperlakukan sebagai seorang gadis yang tangguh. Tetapi, dia sama denganku yang sangat rapuh. Dia sama denganku yang tidak menginginkan adanya kebenaran lain dalam hidupku.


"Simpanlah gelang ini," ucapku sembari memberikan gelang tali berwarna merah, gelang yang mulai diberikan oleh ayah saat aku berusia 4 tahun dan ayah terus memberikannya setiap tahun sesuai dengan ukuran pergelangan tanganku yang bertambah.


"Apa ini?" tanyanya sembari mengusap air matanya.


"Gelang yang selalu ayah berikan kepadaku setiap tahun. Anggap dengan gelang ini, kamu akan merasakan kehadiran ayah. Kasih sayang, cinta, kehangatan, dan pelukan yang ayah berikan kepadaku, semuanya terekam dalam gelang ini. Simpan gelang ini dan aku harap kamu bisa merasakan semua hal yang belum pernah kamu rasakan dari ayah."


"Bagaimana dengan Kakak?"


"Kakak tidak membenci ayah?"


Hanya senyuman yang aku berikan sebagai jawaban.


'Bagaimana bisa aku membenci ayah saat dimana ibu menganggap semua mimpi buruk ini sebagai sebuah kebahagiaan?'


Aku tidak mungkin memberikan jawaban seperti itu kepadanya atau rasa bersalah yang ada di dalam dirinya akan semakin besar. Perbuatan bodoh yang dilakukan oleh ayah benar-benar menyakiti banyak orang. Perbuatan tidak bertanggung jawab yang ayah lakukan membuat orang lain yang bertanggung jawab. Bagaimana bisa seorang pria yang dewasa secara usia dan pikiran melakukan hal seperti ini?


Sina sedang memakai gelang pemberianku ke tangannya. Dia bahkan sudah bisa kembali menunjukkan senyum hanya karena sebuah gelang yang saat ini mungkin sudah tidak berharga lagi untukku. Apa yang akan dia lakukan jika ayah memberikan kasih sayangnya kepadanya?


"Sina?" panggilku.


"Ada apa Kak?" balasnya dengan mata berbinar, tentunya karena gelang merah berhasil terpasang di tangannya.


"Bolehkah Kakak meminta tolong?"


"Tentu."


"Berikan cincin ini kepada perempuan yang Kak Alvin pilih. Berjanjilah membuat perempuan itu memakai cincin ini tanpa pernah melepaskannya," ucapku sembari mengeluarkan kotak berisikan cincin Keluarga Nakamoto yang Alvin berikan kepadaku.


"Kak Alvin memberikan cincin ini?" tanyanya terkejut sembari mengambil kotak di tanganku.


"Dia memberikan cincin ini kepadaku tanpa ada maksud apapun. Kak Alvin hanya spontan memberikannya kepadaku."


"Kak…,” ucapnya pelan.

__ADS_1


"..."


"Kak Alvin tidak pernah memberikan cincin ini kepada siapapun. Cincin ini sama halnya dengan nyawa Kak Alvin. Dia pernah mengatakan akan memberikan cincin ini hanya kepada perempuan yang dia cintai. Dia tidak peduli dengan siapa akhirnya dia menikah tetapi pemilik cincin ini adalah satu-satunya perempuan yang akan dia cintai seumur hidupnya. Sina tidak bisa membantu Kakak walaupun Kakak mengatakan Kak Alvin memberikan cincin ini secara spontan tanpa maksud apapun karena Kakak sudah menjadi pemilik cincin ini. Kakak yang harus mengembalikannya sendiri. Maafkan Sina."


"..."


"Kakak boleh membenci Ibu Sina karena sudah membuat takdir menyakitkan seperti ini. Kakak bahkan boleh membenci Sina tetapi Kakak tidak boleh membenci Kak Alvin."


"..."


"Siapapun yang memiliki cincin dari ahli waris Keluarga Nakamoto maka ahli waris itu akan selalu melindungi orang itu bahkan dengan nyawanya. Kakak tidak boleh membenci Kak Alvin karena kebencian itu berarti Kakak tidak menginginkan Kak Alvin dalam hidup Kakak dan itu berarti Kak Alvin harus menghilang dari dunia ini. Jangan pernah sekalipun mengatakan jika Kakak membenci Kak Alvin bahkan saat Kakak mengembalikan cincin ini. Sina mohon."


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


...-----...


Aku meninggalkan kencan begitu pembicaraanku dengan Sina berakhir. Sudah lebih dari sepuluh panggilan yang handphone-ku terima dan tidak ada satupun yang aku terima. Sebelumnya aku juga meminta Paman Stephan untuk memberikan kotak jam tangan kepada Alvin begitu aku memutuskan untuk mengakhiri kencan hari ini. Sepertinya telepon yang terus berdatangan dikarenakan Alvin sudah membaca surat yang aku tuliskan. Aku takut saat aku menjawab telepon darinya maka hatiku akan kembali luluh. Aku tidak ingin mencintai seseorang yang tidak ditakdirkan untukku. Aku tidak ingin mencintai kakakku sendiri...


"Paman, Zeta ingin berjalan di bawah rintik hujan," ucapku saat paman memayungiku.


"Nona akan sakit."


"Zeta mohon, biarkan Zeta berjalan di bawah rintik hujan."


"Tidak, Nona."


"Paman, Zeta ingin menangis tetapi Zeta tidak bisa karena orang-orang akan tahu jika Zeta sedang menangis."


"Kami akan berjalan 3 meter di belakang, Nona," balas paman mengalah sembari menghembuskan nafas panjang.


Rintik hujan kembali jatuh di atas kepalaku. Aku mendongakkan kepalaku ke atas dan satu tetes air jatuh tepat di pipiku, membuatnya mengalir bersamaan dengan air mata milikku. Sangat menyakitkan untuk menangis dengan cara seperti ini. Rasa sakit yang aku rasakan tidak bisa aku keluarkan dengan leluasa melalui tangisan. Rasa sesak yang berada di dalam dadaku justru semakin bertambah dengan cara seperti ini.


Hujan semakin lebat, membuat tubuhku perlahan dibasahi oleh air dan membuat tangisku semakin tidak terlihat. Aku terus berjalan tidak tahu arah, aku hanya berjalan kemana kakiku membawaku. Selagi Paman Stephan tidak menahanku, aku rasa berjalan tanpa arah seperti ini tidak menjadi masalah.


"Kamu akan jatuh sakit."


Dua laki-laki dengan payung hitam di tangan mereka menghadangku, menghentikan langkah tidak tahu arahku. Aku menatap mata lembut miliknya yang langsung membuatku menangis dengan keras. Aku menjatuhkan tubuhku ke tanah, membuat Arthur langsung berjalan mendekatiku dan memayungiku sedangkan Ken tetap berada di tempatnya berdiri sembari terus melihat ke arahku dengan khawatir.


"Aku tidak bisa membencinya. Aku tidak bisa membencinya Kak, dia adik kita," ucapku sembari memegang lengan Arthur dengan sangat erat, membuat payung yang dipegangnya jatuh dan air hujan membasahi kami berdua.


"Aku tahu."


"Aku mencintainya, aku sangat mencintainya. Apa yang harus aku lakukan?"


"..."


"Aku tidak bisa hanya meninggalkan 'selamat tinggal' kepadanya, Kak. Aku tidak..."


"Hentikan. Kamu hanya akan berakhir menyalahkan dirimu sendiri," potong Arthur sembari memeluk erat tubuhku.


"Sama seperti saat kalian tidak sengaja bertemu, anggap perpisahan ini sebagai sebuah ketidaksengajaan," lanjut Arthur.


"Bagaimana bisa setelah semua kenangan yang kami buat?"


"Banyak manusia diluar sana yang berpisah dengan alasan yang tidak masuk. Ada yang mengatakan sudah tidak saling mencintai, sudah bosan, atau ada yang berubah dalam diri mereka saat dimana mereka masih bisa mempertahankan kenangan masa depan yang dapat mereka bangun bersama dan mereka lebih memilih untuk berpisah. Tetapi Zeta, kamu berbeda dengan mereka, kamu sudah tidak bisa mempertahankan kenangan masa depan kalian. Kenangan milik kalian sudah berhenti saat kamu tahu kebenaran yang terjadi. Jika kamu memaksa, maka luka dan rasa sakit yang tercipta akan semakin besar. Seperti yang sudah aku katakan, anggap perpisahan ini sebagai sebuah ketidaksengajaan sama seperti saat kalian pertama kali bertemu."


"..."

__ADS_1


"Maafkan aku yang tidak bisa melindungi hatimu. Maafkan aku yang selalu mengatakan akan melindungimu. Maafkan aku karena belum bisa menjadi kakak yang bisa melindungimu dengan baik, Zeta. Sekarang kita pulang karena ada sesuatu tentang hasil poligraf milikmu dan Ken."


...-----...


__ADS_2