Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Akhir yang Mendekat


__ADS_3

"Oh.. Tuhan. Ada apa dengan wajah tampan William?!" ucap Dokter Margareth dengan nada yang sebenarnya cukup dilebih-lebihkan. Dokter Margareth juga berjalan ke arah William meninggalkanku berdua dengan Dokter Esme yang mengamati tingkah kekanak-kanakan temannya. Dokter Margareth mencoba melihat luka di wajah William yang langsung ditepis oleh William.


"Anda bukan dokter saya."


"Masih sedingin ini?"


"Dokter Margareth, ayo kita pergi," ucap Dokter Esme sembari berjalan mendekati Dokter Margareth dan langsung menariknya menjauhi William.


"Ken Parker?!" teriak Dokter Margareth terkejut melihat sosok yang tidak pernah beliau kira akan ada di rumah ini.


"Kalian berdua berkelahi? Wajah kalian... Oh my, kalian bertiga berkelahi?" tanya Dokter Margareth begitu Arthur masuk. Aku juga akan memberikan respon yang sama dengannya jika hanya melihat dari wajah ketiga laki-laki yang penuh luka. Sayangnya aku tahu dengan pasti alasan dibalik luka-luka itu.


"Margareth!!!!!" teriak Dokter Esme membuat kami semua menatap ke arahnya.


"Baiklah. Ayo pergi,” balas Dokter Margareth, menyerah setelah tidak mendapatkan respon apapun dari ketiga laki-laki itu.


"Zeta, untuk hari ini Dokter tidak meresepkan obat apapun. Habiskan obat sebelumnya," ucap Dokter Esme sebelum akhirnya benar-benar pergi dari hadapan kami.


"Zeta," panggil William begitu aku mencoba melangkahkan kakiku meninggalkan ruang keluarga.


"Ya?"


"Alvin menanyakan kabarmu. Apa handphone milikmu mati?"


"Ah... aku lupa memberi makan handphone-ku."


"Aku harus membalas apa pesan darinya?"


"Bilang kepadanya aku akan menghubunginya setelah memberi makan handphone-ku."


"Baiklah."

__ADS_1


Aku benar-benar tidak tahan dengan suasana canggung ini. Aku berjalan mendekat ke arah ketiga laki-laki itu duduk lalu ikut duduk bersama mereka. Aku mengambil kotak P3K dan mengobati luka di wajah William untuk kali pertama setelah tahu wajahnya penuh dengan luka. Begitu dia menunjukan wajahnya kepadaku, dia mengatakan jika dia baru sparing dengan Paman Stephan dan tiba-tiba terjatuh. Jika aku tidak tahu apa yang terjadi tadi malam, aku pasti akan mempercayai ucapannya.


"Bukankah ibu sudah memberitahu Kakak untuk tidak membasuh wajah setelah obat dioleskan?" tanyaku sembari menutup kotak P3K dengan marah begitu selesai mengoleskan obat.


"Dan kalian berdua, kalian tidak sekolah?" tanyaku kembali dengan nada marah yang kali ini aku tujukan untuk Arthur dan Ken.


"Bukankah akan menimbulkan banyak gosip baru jika aku dan Ken pergi ke sekolah?"


Aku tidak bisa membantah jawaban yang Arthur berikan. Aku hanya memutar kedua bola mataku sebelum akhirnya berpindah tempat menuju tempat Arthur duduk dan mengobati kembali luka di bibirnya. Aku rasa dia terus menggigiti bibirnya hingga darah terus keluar dan lukanya tidak mengering. Ingin rasanya aku menempelkan plester anti air ke bibirnya.


"Bagaimana denganku?" tanya Ken membuat kedua kakakku langsung memasang wajah intimidasi mereka. Sebuah bantal melayang ke arahnya, tentu saja itu perbuatan William. Kembali sebuah lemparan bantal mengarah kepadanya, kali ini oleh Arthur begitu aku selesai mengoleskan obat ke bibirnya.


"Obati sendiri," ucap Arthur sembari meletakkan kotak P3K ke pangkuan Ken.


"Kenapa sesi kali ini lebih cepat?" tanya William begitu melihatku kembali berusaha meninggalkan ruang keluarga. Aku meminta satu pelayan rumah yang lewat untuk mengisi baterai handphone milikku yang sudah mati sejak tadi malam.


"Aku tidak bisa memberitahu Kakak."


"Maafkan Zeta."


"Boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Tentu, tapi kenapa sekarang semua orang meminta izin kepadaku untuk menanyakan sesuatu?" balasku sembari memperbaiki posisi dudukku agar lebih nyaman.


"Apa kamu benar-benar mencintai Alvin?"


Arthur dan Ken langsung melihat ke arahku. Pertanyaan yang ditujukan untukku tetapi juga memberikan dampak kepada orang lain. Alasan William menanyakan pertanyaan itu karena dia ingin memastikan jika di masa depan aku mengetahui kebenaran tentang Alvin yang merupakan anak kandung ayah, aku tidak akan terlalu menderita. Aku sangat ingin memberitahunya jika sekarangpun aku sudah tahu laki-laki yang mengisi hatiku adalah kakakku sendiri. Aku benar-benar ingin memberitahunya.


"Aku sudah mengatakan kepadanya jika aku mencintainya," balasku yang kembali diikuti dengan tatapan khawatir ketiga laki-laki di ruangan ini.


"Zeta..."

__ADS_1


"Kami tidak menjalin hubungan apapun. Aku hanya mengatakan jika aku mencintainya, tidak lebih dari itu. Mengatakan cinta kepada seseorang bukan berarti menjalin hubungan dengannya bukan?" potongku.


"Tetapi menyatakan cinta kepada seseorang sama halnya dengan memberinya harapan untuk menjalin hubungan. Bahkan mereka yang hanya sekadar memberikan perhatian tanpa maksud apapun bisa disalahartikan sebagai pemberi harapan. Bukankah aku sudah pernah mengatakan kepadamu untuk tidak sembarangan memberikan lollipop kesukaanmu?" ucap William dengan nada tinggi miliknya.


"William."


"Kak William."


William mengabaikan dua panggilan yang ditujukan kepadanya. Dia tetap menatapku dengan tatapan penuh amarah dan khawatir. Aku hanya membalas tatapan itu selama beberapa detik. Aku tidak sanggup dan tidak berani untuk membalas tatapan penuh amarah dan khawatir itu lebih lama. Aku mengalihkan perhatianku kepada boneka kecil yang berada di bawah meja, boneka milik ibu yang diberikan oleh ayah. Ibu selalu menjaga boneka itu dengan penuh perhatian tetapi saat ini boneka itu berubah menjadi boneka yang tidak memiliki nilai apapun. Apakah di mata ibu sekarang ayah juga sama dengan boneka itu?


"Kak, saat aku mengatakan aku mencintainya, Kak Alvin tahu pernyataan itu adalah sebuah perpisahan."


"Apa maksudmu?"


"Ada saat dimana menyatakan cinta berarti mengakhiri semuanya. Menyatakan cinta memiliki arti akan adanya hubungan baru yang terjalin. Semua orang hanya terfokus pada akhir bahagia dari hubungan baru yang akan terjalin dan mereka tidak menyadari jika perpisahan juga merupakan hubungan baru yang bisa terjalin," ucapku diikuti senyum pahit.


Kali ini aku melangkahkan kakiku meninggalkan ruang keluarga menuju kamarku. Melihat bagaimana wajah William begitu mendengar ucapanku, sepertinya tidak akan butuh waktu lama untuknya mengetahui jika aku sudah tahu semua kebenaran tentang ayah. Hanya masalah waktu hingga dia benar-benar tahu semuanya.


Aku langsung menyalakan handphone milikku begitu sampai di kamar. Aku menatap jendela kamar yang terbuka lebar dan membiarkan udara pagi masuk ke dalam kamar. Udara pagi yang sebelumnya bisa menyejukkanku sekarang berubah menjadi udara malam yang mencekikku. Sangat menyedihkan saat sesuatu bisa berubah begitu cepat hanya dalam hitungan malam.


Ting.


Ting.


Ting.


Bunyi pesan masuk terus terdengar begitu handphone-ku menyala.


'Zeta, hari ini aku ke Jepang untuk beberapa hari karena ada urusan mendadak. Aku tidak akan bisa dihubungi selama hari-hari itu dan maafkan aku tidak akan bisa mengirimimu bunga ataupun alunan piano. Sebagai gantinya, aku akan mengajakmu kencan di hari Sabtu ini. Temui aku di tempat penitipan anak. Jika kamu sudah membaca pesanku dan setuju, cukup balas dengan kata ‘ya’, tetapi jika kamu sudah membaca pesanku dan tidak setuju maka abaikan pesan ini. Bye bye.'


'Ya', aku mengirimkan satu kata. Satu kata yang akan mengubah segalanya.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2