Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Suara


__ADS_3

Salah satu hal yang paling aku sukai dari universitas ini adalah tumpukan salju pada musim dingin yang menutupi bangunan, pohon, dan jalanan. Semuanya berwarna putih seperti sesuatu yang belum ternodai apapun. Sangat indah dan menyejukan mata walaupun dinginnya salju sudah mengalahkan rasa sukaku. Sepertinya aku benar-benar membenci semua hal yang berbau ‘dingin’.


Beberapa mahasiswa kedokteran mulai bermunculan satu per satu. Sepertinya ujian sudah selesai. Beberapa mahasiswa menunjukkan wajah gembira, beberapa menunjukkan wajah frustasi, dan sisanya menunjukkan wajah tanpa ekspresi. Aku pernah mendengar dari Ken jika beberapa mahasiswa memasang wajah frustasi hanya sebagai topeng untuk mengecoh mahasiswa lainnya. Aku rasa hidup di lingkungan yang penuh persaingan sangat melelahkan dan menguras banyak tenaga.


Sebuah wajah yang tidak asing muncul dalam radar pandanganku. Dosen musikku saat ini juga berada disini. Dia bersama seorang laki-laki, aku rasa itu pacarnya atau tunangannya. Aku tidak pernah melihat Bu Jasmine tersenyum dengan tulus seperti sekarang. Aku selalu merasa senyuman yang selalu dia tunjukkan di kelas adalah sebuah kepalsuan. Bagaimanapun juga seseorang pasti akan menunjukkan jati dirinya pada orang yang memiliki pengaruh dalam hidupnya.


Tepat saat aku akan mengalihkan pandangan, mata kami bertemu. Aku terkejut dan langsung memalingkan wajahku ke arah lain. Aku juga berpura-pura mencari sesuatu di dalam tasku dengan mengacak-acak isi tasku.


“Tidak perlu berpura-pura tidak melihat Ibu.”


Baiklah, lagipula tidak masalah bagiku untuk berpura-pura atau tidak. Kuambil tas yang berada di samping tempatku duduk. Beberapa pengawal mulai berjalan ke arahku begitu Bu Jasmine duduk.


“Bisakah kamu membuat pengawal-pengawalmu tetap diam di tempat semula?”


Kugerakkan tanganku ke arah para pengawal dan membuat mereka kembali ke tempat semula. Kembali kulihat Bu Jasmine yang sedang sibuk dengan kacamatanya. Pengawalku bahkan tidak berpakaian formal seperti pada umumnya, bagaimana bisa beliau tahu beberapa pengawal berjalan ke arah kami?


“Dia suami Ibu. Kami melarikan diri dan menikah disini, lebih tepatnya Ibu yang melarikan diri untuk bisa menikahinya,” ucapnya begitu melihatku sibuk mencari Ken di kerumunan.


“….”


“Suami Ibu sering bercerita tentang Ken. Betapa besar cinta, perhatian, dan tulusnya dia pada istrinya tetapi Ibu tidak bisa bercerita tentangmu pada suamiku.”

__ADS_1


Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mencari perhatian orang lain. Aku rasa berbicara dengan mengungkapkan isi pikiran dengan jujur adalah salah satu cara yang biasa Bu Jasmine gunakan. Sekarang mata dan tubuhku sudah teralihkan kepadanya. Dia hanya tersenyum sebelum menyeruput kopi yang dibawanya.


“Nada-nada sedih milikmu, semuanya milik laki-laki lain bukan?”


“….”


“Awalnya Ibu mengira semua nada milikmu berasal dari Ken. Hingga kemarin saat Ibu mencoba memainkan nada lagu ‘Your Snow’ milikmu, Ibu merasa jika kamu memasukkan jiwa yang lain ke dalam nada itu. Jiwa seseorang yang sedang menikmati cinta dan bukan lagi jiwa seseorang yang tersiksa cinta. Saat kamu memasukan hidupmu ke dalam nada-nadamu, kamu juga akan menjadi seseorang yang mudah dibaca.”


“….”


“Bolehkah Ibu bertanya?”


“Diantara kamu dan Ken, siapa yang paling menderita?” lanjutnya setelah melihatku tidak menunjukkan ekspresi apapun.


“Bagaimana dengan Ibu? Diantara Ibu dan suami Ibu, siapa yang paling menderita?” tanyaku akhirnya memecah hening yang sudah bertahan selama 1 menit.


“Suaramu cukup indah untuk kamu sembunyikan, Zeta.”


“….”


“Hmmm…entahlah, dulu Ibu merasa suami Ibu yang paling menderita. Ibu menikah dengannya bukan karena mencintainya, hanya dia yang mencintai Ibu. Tetapi, setelah Ibu memikirkannya kembali, suami Ibu tidak pernah menderita karena dia akhirnya bisa hidup dengan wanita yang dia cintai dan sebaliknya Ibu tidak bisa hidup dengan laki-laki yang Ibu cintai.”

__ADS_1


Seseorang melambaikan tangan ke arahku dan membuatku mengalihkan perhatianku yang sedari tadi tertuju pada Bu Jasmine. Tanpa perlu melihat untuk kedua kalinya, aku langsung tahu siapa itu. Ken berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Dia menabrak seseorang dan membuat buku-buku yang dipegang olehnya dan orang yang dia tabrak berjatuhan. Ekspresi wajahnya saat ini benar-benar lucu. Beberapa orang yang lewat membantunya mengambil buku-buku itu dan dia terus meminta maaf pada orang yang telah dia tabrak.


Kembali kupusatkan perhatianku pada Bu Jasmine yang sekarang sedang menatap kosong salju-salju yang kembali berjatuhan dari langit. Aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang telah dijalaninya. Aku juga tidak tahu kisah cinta seperti apa yang sudah dirasakannya. Yang aku tahu hanyalah tidak ada yang menderita diantara Ken dan aku karena aku tidak pernah memikirkannya. Bahkan pikiran untuk memikirkan siapa yang paling menderita tidak pernah terlintas dalam benakku. Aku hanya berpikir tentang bagaimana menjalani sisa hidupku dengan laki-laki yang sekarang sedang berlari ke arahku, laki-laki hampir menabrak seseorang untuk kedua kalinya.


“Saya rasa saya telah mencintainya untuk kesekian kalinya dalam hidup saya,” ucapku memecah hening.


Bu Jasmine mengalihkan pandangannya ke arahku. Dia cukup terkejut mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulutku. Dia mengikuti tatapanku yang sedang melihat Ken diam membisu. Dari tempat Ken berdiri dan tempatku duduk, aku rasa jarak itu sudah cukup membuatnya melihatku dengan jelas membuka mulut untuk kali pertama pada orang lain. Ken tidak melanjutkan langkah kakinya dan hanya menunjukkan ekspresi seseorang yang kebingungan dan terkejut.


“Bagian tersulit dari mencintainya adalah berpura-pura tidak mencintainya,” ucapku sembari berdiri.


“….”


“Dalam mencintai tidak ada yang paling menderita sekalipun cintanya bertepuk sebelah tangan karena bagi seseorang yang jatuh cinta mengetahui jika dirinya sedang mencintai orang lain itu sudah lebih dari cukup terlepas apakah perasaannya dibalas atau tidak. Hanya mereka yang tidak bisa mencintai dengan tulus yang akan terus mencari tahu siapa yang paling menderita,” tambahku.


Kulihat wajah Bu Jasmine yang berubah sendu. Dia kembali menunjukkan senyum palsu miliknya yang sekarang lebih terlihat seperti kesedihan. Aku rasa ucapanku tepat mengenai titik rasa bersalah di dalam dirinya.


Kuambil tas milikku yang sedari tadi bercengkerama dengan dinginnya salju.


“Bolehkah saya memberi saran kepada Ibu sebelum pergi?” tanyaku sebelum benar-benar meninggalkan Bu Jasmine seorang diri.


Sebuah tatapan dan senyum diberikan sebagai jawaban. Aku tidak bisa mengartikan tatapannya tetapi senyuman di wajahnya sudah cukup memberiku sebuah jawaban. Kuhembuskan nafas sebelum benar-benar mengatakan beberapa kalimat pada Bu Jasmine.

__ADS_1


“Ibu sudah mencintai suami Ibu. Senyuman yang Ibu tunjukkan pada suami Ibu adalah senyuman tulus seorang wanita kepada laki-lakinya. Bukalah hati Ibu dan carilah kembali alasan kenapa Ibu meninggalkan semuanya hanya untuk bisa menikah dengannya.”


...-----...


__ADS_2