
"Oh.. Tuhan, apa sesuatu terjadi? Bagaimana bisa wajah yang kemarin Ibu lihat baik-baik saja sekarang penuh dengan luka?"
Ucapan ibu membuatku dan Arthur menghentikan langkah kaki kami menuju ruang makan. Di sana sudah ada ibu dan William, hanya berdua. Aku bahkan tidak melihat alat makan di meja dimana ayah biasa menyantap makanannya. Aku yakin sesuatu yang lebih buruk terjadi tadi malam dan membuat ayah pergi meninggalkan rumah. Aku menjadi penasaran alasan apa yang ayah berikan kepada ibu ketika beliau pergi meninggalkan rumah.
Apakah alasan pekerjaan? Atau bahkan ayah tidak mengatakan apapun?
Arthur menarik tubuhku ke arahnya, membuatku ikut bersandar ke dinding. Untuk saat ini, menyembunyikan kebenaran adalah hal yang harus Arthur dan aku lakukan. Kami harus berpura-pura tidak tahu apapun di depan William. William yang berusaha menanggung semua seorang diri, kami berdua memutuskan akan menghormatinya dan tentunya akan menerima amarahnya saat dia tahu jika kami berdua sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan, William."
"..."
"Maafkan, William."
__ADS_1
"Ada apa, Sayang? Sesuatu yang buruk terjadi? Apa William memiliki mimpi buruk tadi malam?"
"Maafkan, William."
"William, jangan menakut-nakuti Ibu. Apakah kamu memiliki mimpi buruk?"
"William berharap semua itu adalah mimpi buruk."
"Lihat, Ibu? Apa yang terjadi? Tidak, kita obati luka di wajahmu dahulu."
"Maafkan William yang tidak bisa melindungi Ibu," ucapnya sembari menangis.
Ucapan William menghentikan baik langkah kaki ibu maupun langkah kakiku dan Arthur. Seseorang yang tidak pernah membagi luka miliknya akhirnya menjatuhkan air matanya. Seseorang yang tidak pernah ingin menunjukkan kelemahan dirinya akhirnya menunjukkan luka miliknya. Seseorang yang selalu mengerjakan semuanya seorang diri akhirnya jatuh ke dalam pelukan ibu.
__ADS_1
Aku kira rasa sakit yang aku rasakan tidak akan menyamai rasa sakit yang telah ibu rasakan selama kehidupan pernikahannya dan aku tahu itu adalah kebenaran. Aku kira tidak akan ada satu orangpun yang bisa menyamai rasa sakit yang telah ibu terima dan rasakan tetapi aku salah. Siapa sangka anak pertama yang keluar dari rahim ibu ikut merasakan rasa sakit yang begitu besar bahkan mungkin lebih besar dari rasa sakit yang telah aku rasakan dan bisa jadi menyamai rasa sakit yang ibu rasakan. Siapa sangka laki-laki yang dikira tidak memiliki belas kasih ini masih memiliki tempat terlembut di hatinya untuk ibu?
"Sayang, Ibu tahu kamu tidak akan menceritakan apapun kepada Ibu tetapi Ibu meminta agar kamu tidak menyakiti diri kamu. William sudah melindungi Ibu dengan sangat baik. William adalah superhero kedua setelah kakek dalam hidup Ibu. William sudah melakukan tugas William dengan sangat baik sebagai anak laki-laki Ibu. Jadi, jangan pernah sekalipun mengucapkan William tidak bisa melindungi Ibu. Melindungi keluarga ini sama halnya dengan melindungi Ibu, Will."
Tangis William pecah di pelukan Ibu. Pelukan pertama yang menenangkan tangisnya saat dia lahir ke dunia dan pelukan pertama yang membuatnya mengeluarkan tangisnya saat dia tahu arti dunia miliknya yang sebenarnya. Aku semakin tahu betapa egoisnya diriku saat dimana kedua kakakku lebih mengutamakan cinta kepada keluarga dibandingkan cinta kepada lawan jenis dan aku justru sebaliknya tidak pernah memprioritaskan keluargaku. Aku benar-benar egois dan bodoh.
"Apapun yang terjadi Ibu akan selalu disini untukmu, Sayang."
Apa yang akan William lakukan saat dia tahu jika ibu sudah lebih dulu mengetahui semua kebenaran tentang ayah?
Apakah rasa sakit yang akan dia rasakan menjadi berlipat ganda?
Apakah rasa sakit yang akan dia rasakan melebihi rasa sakit yang ibu rasakan?
__ADS_1
Dan, apakah dia akan membenci ayah?
...-----...