
Ada dua orang yang ingin aku hindari selama beberapa minggu ini tetapi salah satu dari kedua orang itu sudah muncul di hadapanku jauh sebelum aku bisa mempersiapkan diri. Hal ini sama seperti saat aku bertemu dengan orang baru, aku tidak akan pernah bisa selesai mempersiapkan diri karena orang baru itu akan muncul secara tiba-tiba. Apakah dunia tidak lagi mengasyikan jika manusia sudah tahu dengan siapa mereka akan bertemu?
Ibu menatap sebentar kepadaku sembari memberikan sebuah senyum sebelum akhirnya keluar dari mobil dengan mengajak Stephanie dan Caroline, meninggalkanku berdua bersama dengan supir yang sedang kebingungan karenaku tidak ikut keluar dari mobil. Aku melihat keluar kaca dan masih mendapati Ken yang berdiri di samping mobil. Sebelumnya masih ada Arthur tetapi begitu ibu keluar dari mobil, Arthur ikut bersama dengan ibu masuk ke dalam rumah.
"Zeta akan keluar. Maaf sudah membuat Paman kebingungan," ucapku begitu melihat supir berusaha membuka percakapan.
"Tidak, Nona.”
“Boleh saya meminta sesuatu kepada Nona?” tanyanya ragu.
“Tentu, apa itu Paman?”
“Saya mohon Nona berhenti memanggil saya ‘paman’. Panggil saya sesuai dengan pekerjaan saya, Nona."
Kalimat sama yang Paman Stephan ucapkan ketika pertama kali aku memanggilnya dengan sebutan 'paman'. Berbeda dengan Paman Stephan yang menunjukan sedikit kebahagiaan saat aku memanggilnya dengan 'paman', supir keluarga kakek lebih menunjukan ketidaknyamanan karena panggilanku. Aku tidak bisa memaksanya untuk menerima panggilan ini seperti yang aku lakukan kepada paman.
"Baik. Terima kasih sudah menyetir dengan baik," ucapku sembari membuka pintu mobil.
"Sebegitu tidak inginkah bertemu denganku?" tanya Ken begitu kepalaku terjulur keluar dari pintu mobil.
"Sangat tidak ingin bertemu denganmu," balasku sembari menerima uluran tangan Ken.
"Tante tiba-tiba menghubungiku dan memintaku untuk datang ke Wales. Aku kira sesuatu yang buruk terjadi kepadamu tapi aku rasa kamu baik-baik saja."
"Sepertinya Ibu menyuruh koki di rumah ini untuk memasakkan makanan kesukaanmu," ucapku begitu kami melewati koridor rumah.
"Karena aku akan menjadi anak Tante."
Aku terdiam begitu mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Ken. Sekarang aku benar-benar ingin tahu seberapa besar penyesalan yang dia rasakan. Aku benar-benar ingin tahu.
"Ken?" panggilku membuat Ken langsung menoleh ke arahku, sepertinya dia tidak sadar jika aku sudah berdiam diri cukup lama melihat wajah kebingungannya begitu tidak mendapatiku tepat di sampingnya.
"Kapan kamu berhenti?" tanyanya sembari menghampiriku.
"Jika di masa depan aku tiba-tiba berhenti seperti ini, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan berlari ke arahmu dan berjalan di sampingmu, menemanimu. Seperti apa yang sedang aku lakukan saat ini."
"Bahkan jika hal itu menyakitiku?"
"Maka aku akan berjalan di belakangmu hingga kamu tidak bisa melihatku."
"..."
"Aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya, Zeta. Bahkan jika aku tidak bisa berada di sampingmu itu tidak masalah bagiku asalkan aku bisa melindungimu. Aku benar-benar tidak ingin merasakan kembali penyesalan itu, penyesalan yang hampir merubah seluruh hidupku."
__ADS_1
"Wahh, benarkah itu Ken yang kita kenal?!"
Ken dan aku langsung menoleh ke sumber suara hanya untuk melihat dua saudari kembari dan Arthur sedang melihat kami dengan tatapan mengejek, lebih tepatnya mengejek Ken. Arthur berjalan ke arah kami dan langsung merangkul Ken, membawanya pergi dariku. Aku tahu tidak mudah bagi Arthur membuka kembali hatinya untuk Ken setelah apa yang Ken perbuat kepadaku. Aku bersyukur karena dia mau mencobanya. Aku berharap, William akan melakukan hal yang sama, membuka hatinya kembali.
Stephanie mencubit pelan pipiku, membuatku mengalihkan pandanganku kepadanya. Dia tersenyum dan langsung menggandeng tanganku, diikuti oleh Caroline tentunya. Kami berjalan menuju ruang makan. Sudah pasti, ketiga orang itu datang mencariku dan Ken karena kakek sudah mengomel perihal makan malam. Di hari pertama aku datang ke rumah ini, aku cukup terkejut melihat bagaimana kakek yang sangat tepat waktu untuk makan malam dan kakek tidak akan memulai makan sebelum semua anggota keluarga hadir, sesuatu yang cukup menyebalkan bagi mereka yang sedang kelaparan tetapi juga sesuatu yang sangat beretika terlebih mengingat kakek sebagai anggota tertua di rumah ini yang bisa kapanpun memulai suapannya.
Kami berlima langsung duduk begitu sampai di ruang makan karena melihat kakek yang sudah memberikan tatapan menakutkan. Sudah banyak makanan yang terhidang, sebagian besar makanan kesukaan Arthur dan Ken. Keluarga ibu selalu menyediakan makanan kesukaan tamu mereka. Kemarin, makanan yang terhidang di meja makan adalah makanan kesukaan Stephanie dan Caroline.
"Aku tidak tahu jika Kakek membangun rumah pohon."
Arthur membuka percakapan begitu makanan penutup dihidangkan. Kami semua menunggu jawaban kakek yang sedang sibuk menatap Eton Mess, makanan penutup yang berisikan campuran stroberi, meringue, dan krim.
"Sayang, Arthur membuka percakapan," ucap nenek setelah kakek hanya terdiam menatap eton mess yang bahkan tidak disentuhnya.
"Ibumu yang membuatnya, Kakek yang melindunginya.”
Sesuatu pasti telah terjadi selama aku mengunjungi tempat perawatan adik Bu Jasmine. Tidak biasanya kakek menunjukkan sisi seriusnya seperti ini. Walaupun aku tetap takut kepada beliau bahkan saat beliau sedang bercanda.
"Menurut kalian diantara membuat dan melindungi sesuatu mana yang paling berperan besar dalam hidup seseorang?"
Aku tidak akan mengganggap pertanyaan yang kakek ajukan saat ini hanya sebuah pertanyaan biasa. Ada sesuatu dibalik pertanyaan itu, sesuatu yang berkaitan dengan suasana hati kakek saat ini. Aku menatap Arthur, menyuruhnya untuk menjawab pertanyaan kakek. Arthur mengernyitkan keningnya sebelum akhirnya memberikan wajah sebal miliknya kepadaku karena aku terus memberikan tatapan memaksa kepadanya.
"Keduanya penting. Jika tidak ada seseorang yang membuat maka tidak akan ada pula seseorang yang melindungi. Mungkin dari pernyataan ini, membuat bisa dikatakan paling berperan tetapi tanpa melindungi maka membuat hanya akan sia-sia. Membuat sesuatu bisa dilakukan siapapun dan kapanpun tetapi melindungi tidak bisa dilakukan oleh semua orang," jawab Arthur setelah cukup berpikir.
"Lalu mana yang akan kamu pilih antara ayah yang membuat keluarga atau ibu yang melindungi keluarga?"
"Sayang?!" panggil nenek bersamaan dengan ibu.
Ya. Sesuatu benar-benar telah terjadi. Dan melihat bagaimana kakek mengabaikan panggilan ibu dan juga nenek, sudah bisa dipastikan sesuatu yang besar telah terjadi.
"Ayah kalian mengirimkan surat perceraian."
Klang.
"Ibu??" teriakku sembari menghampiri tempat ibu duduk.
"Biar Nenek saja," ucap nenek sembari melepaskan tanganku dari lengan ibu dan membawa ibu masuk ke dalam kamar, meninggalkan ruangan ini yang semakin hening dan dingin.
"Arthur akan memastikan kebenaran dari apa yang baru saja Kakek ucapkan," ucap Arthur sembari berjalan keluar dari ruang makan.
"Tidak bisakah kalian hanya memastikan ibu kalian akan baik-baik saja?"
Pertanyaan kakek membuat langkah penuh amarah Arthur terhenti. Arthur langsung menoleh ke kakek yang sekarang juga sedang menatapnya dengan tatapan hampa, tatapan seseorang yang sudah sangat lelah. Atau tatapan seorang ayah yang sudah putus asa melindungi kebahagiaan anaknya.
"Steph, Carol, Ken, bisakah kalian pergi dahulu ke kamar?" pintaku membuat ketiganya langsung beranjak dari tempat duduk mereka.
__ADS_1
"Ayah tidak mungkin mengirimkan surat perceraian kepada ibu," ucap Arthur dengan suara bergetar.
Aku langsung berjalan mendekati Arthur, mencegahnya meluapkan emosinya. Arthur memang mulai membenci ayah tetapi bukan berarti semua kepercayaan yang Arthur miliki kepada ayah bisa hilang begitu saja. Ayah pernah mengatakan tidak akan pernah menceraikan ibu apapun yang terjadi dan Arthur akan terus mempercayai hal itu. Dan aku juga mempercayai ayah untuk hal itu.
"Jika ayah kalian bisa bermain di belakang ibu kalian hingga melahirkan 2 anak, lalu kenapa ayah kalian tidak bisa memberikan surat perceraian?"
"Kakek..," panggilku pelan.
Tunggu, fakta dimana kakek tahu jika ayah tidak hanya memiliki 1 anak dari wanita lain apakah itu juga berarti ibu sudah mengetahui semuanya?
"Kakek hanya ingin anak perempuan Kakek bahagia. Kakek menuruti semua yang ibu kalian inginkan tetapi apa ini?!! Bukankah sudah cukup untuk kita? Bukankah dengan memotong penyebab kemalangan ini maka semua akan kembali normal?"
Kakek berdiri dari tempatnya duduk dan melempar dokumen perceraian ke atas meja makan. Arthur mencoba berjalan mendekat untuk mengambil dokumen itu. Aku mencoba menghalanginya tetapi dia langsung menggeleng dan memintaku untuk menepi. Arthur kemudian langsung mengambil dokumen itu dari atas meja dan membukanya.
"Kak Arthur," panggilku begitu melihat perubahan di wajahnya. Wajah penuh kepercayaan yang sebelumnya dia tunjukkan berubah menjadi wajah penuh amarah, amarah yang dia tunjukkan untuk dirinya karena telah mempercayai ayah. Arthur meremas kertas di tangannya dan langsung melemparkannya.
"Kak Arthur!!" panggilku begitu Arthur melangkah pergi.
"Kejarlah kakakmu."
"Maafkan kami," ucapku sebelum menyusul Arthur.
Aku berlari mengejar Arthur yang entah bagaimana sudah berada di tempat parkir. Sekarang yang ada di dalam pikirannya adalah memastikan jika ayah benar-benar mengirim surat perceraian itu kepada ibu. Dia sudah pasti ingin segera kembali ke London. Tanpa perlu kembali ke London, ayah pasti akan langsung menyusul ke Wales begitu mendengar tentang surat perceraian ini apabila ayah memang tidak mengirimkannya.
"Kak!!!!" teriakku mencoba menghentikan mobil yang mulai berjalan meninggalkan tempat parkir.
"Zeta!! Kamu gila?!!!" teriak Arthur penuh amarah begitu keluar dari mobil karena aku berdiri tepat di pintu keluar.
"Kakak percaya pada ayah bukan?"
"..."
"Apa yang Kakak lakukan saat ini menunjukan jika Kakak sudah tidak percaya lagi kepada ayah."
"Dan kamu masih percaya pada ayah?!"
"Aku percaya ayah tidak akan pernah menginginkan sebuah perpisahan."
"Seperti apa yang Kakek katakan, apa yang ayah lakukan sudah menunjukan jika ayah ingin berpisah dari ibu."
"Tapi Kakak masih percaya pada ayah."
"..."
"Zeta mohon untuk kali ini, jangan bertindak gegabah, Kak."
__ADS_1
Aku langsung memeluk Arthur. Arthur tidak membalas pelukanku karena amarah yang dia rasakan dan aku juga tidak bisa memaksanya untuk menghilangkan amarah itu begitu saja. Aku hanya bisa mencegah amarah itu untuk tidak bertambah dengan memeluknya.
...-----...