Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Batas Waktu


__ADS_3

"Ini sudah kedua kalinya Kak Alvin menitipkan lollipoo dan secarik kertas. Tidak bisakah kamu datang ke ruang musik seperti biasa?" keluh Caroline begitu melihatku berjalan menuju tempat duduk.


Kuambil lollipop kesukaanku dan secarik kertas dari tangan Caroline untuk kedua kalinya setelah tadi pagi sebelum pelajaran dimulai dia juga menyodorkan barang yang sama kepadaku. Caroline masih menatapku dengan tatapan merengeknya. Pasti sesuatu terjadi ketika Alvin memberikan permen dan kertas kepada Caroline, sesuatu yang sudah pasti mengganggunya.


Aku hanya mengusap lembut rambut pirang Caroline dan membuatnya langsung memutar tubuhnya membelakangiku. Aku langsung memasukkan lollipop ke dalam laci meja dan membuka kertas kecil yang terlipat dengan sangat rapi. Lipatannya sangat sesuai dengan kepribadian Alvin.


'Aku tahu saat ini kamu takut kepadaku. Aku tidak masalah jika kamu ingin menjauhiku selama beberapa hari ke depan, tapi aku mohon jangan jauhi aku untuk seterusnya dan bahkan selamanya. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu, aku harus mengatakannya langsung. Aku akan terus menunggumu di ruang musik saat istirahat dan 30 menit setelah bel pulang berbunyi. Aku mohon.'


"Untuk seseorang yang tahu bagaimana rasanya menunggu, bukankah kamu tidak ingin orang lain ikut merasakan perasaan itu?"


Pertanyaan yang Stephanie ajukan membuatku tertegun. Aku terdiam sejenak sembari memainkan kertas kecil di tanganku. Aku tahu akan sangat menyesakan jika tidak aku selesaikan secepatnya.


"Steph, membuatnya menunggu agar aku tidak meledak atau mendatanginya dan membuatnya mendengar hal yang menyakitkan, mana yang akan kamu pilih?"


"Kamu tahu betapa mudahnya kamu dibaca bukan?"


"Hah?" balasku bingung.


"Kamu pasti berharap aku akan memilih membuatnya menunggu, bukan?"


"Seperti yang aku harapkan dari Zeta, terlalu mudah dibaca," timpal Caroline diiringi tepukan kecil, gelengan kepala, dan tentunya senyum mengejek miliknya.


"Aku rasa saat ini banyak orang yang berpikir kenapa seorang Zeta harus marah karena hal seperti ini, bahkan fakta dimana Kak Alvin adalah anggota Keluarga Nakamoto membuat semua orang menjadi kagum, lantas kenapa seorang Zeta marah?"


"..."


"Ini kali pertama dalam hidupmu bisa membuka diri secepat ini dan ini adalah kali pertama kamu mengenal laki-laki selain Ken. Zeta, saat ini kamu merasa kecewa karena Kak Alvin tidak mengatakan semua hal tentangnya disaat kamu sudah terbuka kepadanya dan menceritakan banyak hal tentangmu. Zeta, temui Kak Alvin dan minta penjelasan darinya maka rasa kecewa yang kamu rasakan akan perlahan hilang. Cara untuk menghilangkan rasa kecewa karena seseorang adalah meminta penjelasan dan kejelasan darinya, bukannya membuatnya menunggu.”


"Aku setuju dengan Stephanie. Dan aku tahu kamu tidak akan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan karena saat ini kamu bukan sedang marah. Lihat saja Ken, setelah semua yang dia lakukan, apa kamu marah kepadanya? Tidak, kamu tidak marah kepadanya dan membuat kita semua yang ada di sekelilingmu yang marah kepadanya."


"Aku..."


"Bagimu kesalahan sekecil apapun tetaplah kesalahan tetapi ada kalanya kita harus melihat derajat kesalahan yang diperbuat seseorang untuk mengambil keputusan. Zeta, dunia ini bukan sekadar benar dan salah atau hitam dan putih. Anakku sudah besar, akhirnya bisa melihat dunia lainnya," potong Stephanie sembari mengusap lembut rambutku.


"Teman, sekarang saatnya jam seni, ayo semua ke ruang seni!" teriak Natasha dari depan kelas.


Stephanie dan Caroline langsung mengambil buku mereka dan tentunya menarikku berjalan mengikuti mereka. Belum sempat aku tersadar dari pikiranku, Caroline sudah memberikan tatapan sinis miliknya ke arah Ken yang saat ini sedang membantu Natasha menyuruh teman-teman lain untuk bergegas ke ruang musik. Akan sangat sulit bagi Ken untuk bisa kembali ke dalam lingkaran persahabatan kami terutama Caroline dan Arhur. Ah.... aku melupakan fakta dimana William yang akan paling menentang jika Ken ingin kembali menjalin hubungan yang baik dengan kami.


Apakah cinta semasa SMA benar-benar semelelahkan ini?


"Sepertinya Tuhan membantumu membuat keputusan dan membantu Kak Alvin agar bisa bertemu denganmu,” ucap Stephanie begitu melewati ruang musik yang berisikan anak-anak kelas Alvin dan William.


Caroline langsung membuka pintu ruang seni yang masih kosong. Dua saudari kembari itu langsung masuk ke dalam ruangan, meninggalkanku yang masih berdiri di depan pintu sembari melihat ke arah ruang musik, tempat dimana biasanya aku menghabiskan jam istirahatku bersama dengan Alvin. Sepertinya Tuhan memang membantuku.


"Tunggu, Zeta. Bu Jasmine menyuruh kita masuk ke ruang musik 2," ucap Natasha.


Aku hanya mengangguk dan memberikan isyarat kepada dua saudari kembar yang sudah sibuk dengan dunia mereka untuk pindah ke ruang musik. Aku membiarkan teman-teman yang lain masuk dahulu saat Natasha berusaha meminta yang lain untuk menungguku dan juga dua sahabatku. Selamanya aku tidak akan pernah bisa memahami pikiran Natasha, bagaimana bisa dia tetap bersikap seperti dahulu saat dimana dia bersama dengan laki-laki yang dijodohkan denganku.


Bukankah rasanya akan sangat canggung?


"Kali ini aku yakin 100%, aku akan membenci Ken selama sisa hidupku," ucap Caroline sembari meremas buku miliknya begitu melihat Ken yang terus mencoba membantu Natasha membuka pintu ruang musik saat dimana Natasha sudah membukanya sendiri.


"Apakah kamu iri karena Ken bisa menunjukkan kemesraan dengan orang yang dia cintai sedangkan kamu tidak?" serang Stephanie.


Serangan Stephanie membuatku tersenyum tipis dan langsung merangkul Caroline.


"Tapi Ibu rasa Caroline juga sering bermesraan dengan Nichole."


"Huwaaaa!!!" teriakku berbarengan dengan Stephanie dan Caroline, terkejut mendengar suara guru seni kami yang tiba-tiba sudah berada di belakang kami.


Beberapa anak yang belum masuk ke dalam ruangan langsung menoleh ke arah kami begitu teriakan terdengar. Bu Jasmine hanya tertawa kecil dan langsung menyuruh yang lainnya agar cepat masuk ke dalam ruangan. Beliau juga sempat menepuk pundak Caroline saat kami bertiga masuk ke dalam ruangan.


"Baik, Ibu tidak akan berbasi-basi. Sekarang Ken dan Zeta silakan ke depan memainkan piano untuk penilaian."


"Ibu, saya sudah mengganti pasangan saya menjadi Natasha."


"Ibu tahu hal itu, kamu bahkan mengumumkannya di depan umum. Berhenti mengatakan hal itu, apa kamu tidak punya nurani kepada Ibu yang saat ini masih single?"


Beberapa anak sedang berusaha menahan tawanya, termasuk aku. Hanya Ken yang saat ini sedang serius, sepertinya dia bisa meledak jika saja Natasha tidak mencegahnya. Siapa yang mengira jawaban Bu Jasmine akan selucu ini?


"Ibu, kemarin saya meletakkan kertas pergantian pasangan musik saya dari Ken menjadi Charlotte," ucapku setelah bisa mengendalikan tawa.

__ADS_1


"Ah.. benarkah? Sepertinya kertasnya tertumpuk kertas lainnya. Baiklah. Ken dan pasangan barunya silakan maju ke depan.


Ken dan Natasha langsung maju ke depan begitu Bu Jasmine duduk di kursinya. Ken membantu Natasha duduk, sesuatu yang sangat menggelikan untuk kami lihat. Aku rasa bukan hanya aku yang merasa geli dengan semua kemesraan dan tingkah laku yang Ken tunjukkan, beberapa anak perlahan memalingkan wajah mereka ke arah lain. Bahkan Stephanie yang tidak terlalu memikirkan hal itu, sekarang mengepalkan kedua tangannya. Dan tentu saja Caroline sudah memasang wajah suram miliknya.


Denting piano mulai terdengar menyusun irama yang sangat aku kenal. Moonlight Sonata. Sangat berbeda dengan yang Alvin mainkan, hanya satu kali mendengar Alvin memainkan sonata itu sudah bisa membuatku merasa permainan milik Ken sangat hambar. Sesuatu seperti hilang dari nada-nada yang Ken mainkan. Jika aku memainkan Moonlight Sonata, apakah aku juga akan merasakan suatu kehambaran?


Ting..


Permainan yang cukup baik, mengingat Natasha baru mulai mengenal dan bermain piano saat masuk sekolah ini. Harus aku akui, Natasha memang cerdas dan semua beasiswa yang dia peroleh tidak berbohong. Jika saja dia terlahir di keluarga yang cukup berada, aku rasa dia akan menjadi seseorang yang cukup direbutkan oleh beberapa keluarga untuk menjadi menantu mereka.


Caroline menyenggol lenganku dan menyuruhku untuk mengikuti arah telunjuknya. Sekarang aku melihat Ken yang memasang wajah kesal. Seperti sadar jika seseorang sedang melihatnya, dia langsung menoleh dan menatap mataku. Tatapan kesal dan marah, aku bisa merasakannya selama beberapa detik walaupun sekarang tatapan itu sudah berubah menjadi tatapan biasa miliknya.


"Bagus, Natasha beberapa kali terlalu cepat memainkan tempo. Tapi cukup bagus. Untuk ke depannya akan selalu ada satu atau dua pasang yang akan memainkan piano ataupun alat musik yang kalian sepakati dengan pasangan kalian. Sekarang kita fokus pada teori tentang perjalanan musik klasik."


...-----...


"Kamu tidak keluar?" tanya Stephanie begitu melihatku tidak beranjak dari tempatku duduk.


"Tidak."


"Ah... aku lupa."


"Kalau begitu kita pergi dahulu. Kita berdua menunggumu di kantin. Bye bye."


Aku membalas lambaikan tangan Caroline. Masih kurang 15 menit sebelum bel pulang berbunyi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selama waktu itu. Kulangkahkan kakiku mendekati piano yang sudah tertutup rapat.


"Aku rasa aku akan memainkan lagu yang aku buat denganmu."


"Apa yang kamu lakukan disini?!" teriakku begitu menyadari Ken masih berada di ruang musik.


"Aku belum meninggalkan ruangan ini."


Ken berjalan mendekat ke arahku. Aku langsung berdiri dari kursi piano dan berjalan ke arah pintu. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan dan saat ini hanya ada kami berdua di ruangan yang sunyi.


"Aku tidak akan melakukan apapun," ucapnya seakan tahu apa yang aku pikirkan.


"Kamu benar-benar sangat mudah dibaca," lanjutnya.


"Menurutmu bagaimana permainanku tadi?" tanyanya kembali setelah berhasil membuat tetap berada di ruangan ini.


"Bolehkah aku tetap berpasangan denganmu untuk kelas musik? Natasha sudah mengizinkanku."


"Apa kamu gila? Seharusnya kamu mengajarinya, membuatnya pantas untuk berada disisimu seperti yang selama ini kamu lakukan, dan bukannya tiba-tiba memintanya untuk membiarkanmu bermain dengan perempuan yang dijodohkan denganmu. Aku rasa kamu benar-benar sudah gila."


"Aku mencoba."


"..."


Ken menoleh ke arahku sebelum akhirnya membuka kembali piano dan memainkannya dengan acak. Dia terus melakukan hal itu selama 5 menit. Aku tidak tahu apa yang merasukinya saat ini, aku ingin meninggalkannya seorang diri. Jika saja saat ini William atau Arthur tahu tentang hal ini, sudah bisa aku pastikan wajah Ken akan dipenuhi luka pukulan.


"Aku mencoba untuk hidup tanpamu tetapi aku tidak bisa."


"Tidak, kamu bisa. Seperti yang aku katakan saat peringatan kematian tante, satu-satunya hubungan kita hanyalah Tante Lily. Cepat atau lambat kamu akan terbiasa."


"Apa kamu mencintainya?"


"..."


"Kamu tidak tahu?"


"..."


"Apa kamu masih mencintaiku?"


"..."


"Tidak?"


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku.


"Kamu sangat mudah dibaca, Zeta."

__ADS_1


Krit..


Bunyi pintu terbuka terdengar. Aku langsung memutar tubuhku ke arah pintu dan sudah mendapati wajah Alvin. Wajah yang dihiasi senyuman dan tatapan lembut. Sekali lagi aku terhanyut dalam tatapan biru miliknya, tatapan yang sangat menenangkan.


"Aku dengar dari William jika ibumu menanyakan tentang cincin pemberianku."


Aku langsung tersadar begitu mendengar suaranya. Tanpa kusadari aku sudah menyembunyikan tanganku ke belakang tubuhku, membuatnya menyadari betapa salah tingkahnya diriku. Alvin mendorong tubuhku menuju tempat duduk, tempat yang biasa kami duduki selama beberapa hari terakhir.


Tunggu, apa ini hanya perasaanku saja? Kenapa aku merasa Alvin mengabaikan Ken yang juga berada di ruangan ini?


Lagi-lagi, seperti tahu apa yang ada di dalam pikiranku, Alvin langsung melangkahkan kakinya mendekati Ken. Mereka bertukar pandang untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya Ken berdiri dari kursi piano dan berjalan ke tempat dimana dia duduk sebelumnya untuk mengambil beberapa buku miliknya. Bahkan tanpa ucapan apapun, aku bisa merasakan jika mereka berdua sedang saling melontarkan kalimat kebencian satu sama lain.


"Apa kamu tahu seperti apa orang yang sangat aku benci?" tanya Alvin membuat suasana menjadi canggung.


"..."


"Orang yang menjadikan penyesalan sebagai tiket untuk masuk kembali ke kehidupan orang lain."


Ucapan Alvin membuat Ken menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu. Dia diam sesaat sebelum akhirnya dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. Dia diam cukup lama menatapku hingga suara dentingan piano terdengar dan membuatnya mengalihkan perhatiannya ke arah Alvin.


"Dan apa kamu tahu orang seperti apa yang juga sangat aku benci?" balas Ken.


"..."


"Orang yang menjadikan cinta sebagai pembenaran untuk setiap tingkah lakunya."


"Bukankah itu yang sedang kamu lakukan? Apa itu artinya kamu membenci dirimu sendiri?" balas Alvin membuat Ken kesal.


Ah...aku tidak akan bisa masuk ke dalam pembicaraan mereka. Untuk tahu maksud pembicaraan merekapun aku tidak bisa. Bagaimana caranya aku bisa menghentikan mereka berdua?


Brak!!


"Ah... Halo, aku masih disini," ucapku canggung setelah menjatuhkan setumpuk buku di atas meja dengan sengaja.


Ken langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Terima kasih," ucap Alvin.


"Untuk?"


"Mau menemuiku kembali. Maafkan aku, aku tahu seharusnya aku mengatakan semuanya kepadamu tetapi aku kehilangan waktu yang tepat."


"Zeta rasa Kakak memiliki banyak waktu, bagaimana bisa Kakak kehilangan waktu yang tepat?"


"Karena bersamamu membuatku ingin menjadi diriku sendiri, diriku sebagai Alvin bukan sebagai Ryuzaki Nakamoto."


Alvin memutar tubuhnya menghadap ke arahku. Aku selalu penasaran apakah dia tahu jika mata biru miliknya yang dia gunakan untuk menatap lembut kedua mataku sudah menjadi sebuah kelemahan bagiku. Dia selalu memberikan tatapan yang sama setiap kali dia menatapku. Aku bahkan belum pernah melihatnya menatapku dengan tatapan selain tatapan itu, tatapan yang selalu membuatku ingin menyelami kehidupannya lebih dalam dan tatapan yang membuatku ingin menjadi bagian dalam kisahnya.


"Zeta kalah," ucapku pada akhirnya setelah kami terus menerus bertatapan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Aku akan memberimu waktu. Aku tidak akan memaksamu untuk menerima semua ini tetapi aku akan memaksamu untuk tetap bersama denganku. Aku akan memberikan waktu untukmu menyadari arti diriku bagimu dan aku akan menunggumu untuk memberikan jawaban itu."


"Lalu, apakah Kakak tahu arti diriku bagi Kakak?"


"Kamu hidupku."


"..."


"Aku akan memberikan waktu selama apapun yang kamu butuhkan tetapi aku tidak bisa memberikan 'selamanya' karena aku tidak ingin menunggumu 'selamanya'."


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.


"Banyak orang yang mengatakan jika mereka bisa menunggu selamanya, kenapa tidak dengan Kak Alvin?"


"Daripada menunggu selamanya, aku lebih memilih untuk memberikan waktu yang cukup untukmu dan menghabiskan sisa waktu 'selamanya' denganmu. Aku tidak ingin ada penyesalan karena memberimu waktu 'selamanya' disaat kamu sudah cukup mendapatkan waktu 'selama yang kamu butuhkan'. Akan sangat menyakitkan dan menyedihkan saat dimana seseorang yang kita tunggu sudah mendapatkan jawaban atas perasaannya tetapi karena kita memberikan waktu 'selamanya', waktu yang dia kira sudah cukup akan berubah menjadi tidak cukup dan jawaban yang sudah dia temukan berubah menjadi keraguan hanya karena kata 'selamanya'. Jadi, aku akan menunggumu selama yang kamu butuhkan," ucap Alvin sembari berjalan mendekat ke arahku.


'Selama yang kamu butuhkan', aku menghilangkan keempat kata itu ketika menunggu Ken dan membiarkan diriku menunggunya selamanya. Aku membuang kemungkinan akan penyesalan yang akan aku rasakan karena yakin bisa menunggunya selamanya. Aku belajar satu hal baru, 'menunggu selamanya' bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan semua orang. Ada kalanya kata 'selamanya' membuat seseorang melupakan bahwa dia sudah cukup mendapatkan waktu yang dia butuhkan. Ada kalanya kata 'selamanya' hanya membuat keangkuhan dalam hati seseorang hingga akhirnya seseorang itu jatuh ke dalam keangkuhan yang dibuatnya.


"Terima kasih," ucapku.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Hadir dalam hidup Zeta."


...-----...


__ADS_2