
Moonlight Sonata, sonata yang selalu dimainkan ibuku setiap kali menyentuh piano. Aku selalu membenci Moonlight Sonata karena kisah dibaliknya, berbeda dengan ibuku yang selalu mengatakan betapa indahnya sonata itu. Ketika kisah cinta tragis berakhir menjadi sebuah alunan nada-nada, ibuku selalu mengatakan itu adalah salah satu cara melampiaskan semua perasaan sedih dengan cara yang elegan tetapi bagiku hal itu hanya akan terus membuat luka yang semakin besar setiap kali nada-nada itu kembali dimainkan. Bahkan aku yang mendengarnya saja sudah merasakan perasaan tidak nyaman akibat alunan nada-nada dalam sonata ini, lantas bagaimana Beethoven bisa menahan perasaannya saat membuat dan memainkan Sonata ini.
Sekarang aku juga ingin tahu bagaimana perasaan orang yang sedang memainkan Sonata ini dengan kedua tangannya.
Aku rasa penikmat musik klasik setiap tahunnya bertambah, entah karena beberapa diantaranya baru menemukan apa yang membuatnya nyaman atau hanya karena tuntutan dalam hidup mereka untuk mengikuti musik klasik. Satu hal yang pasti, kedua hal itu bukan alasanku duduk diantara ratusan orang yang sekarang sedang menikmati alunan tuts-tuts piano sembari memejamkan mata mereka seperti seorang juri di acara perlombaan. Aku hanya mengikuti tiket konser yang diberikan seseorang, seseorang yang ternyata sekarang sedang memainkan sonata yang sebenarnya aku benci.
Bagi seseorang yang bisa memainkan piano semahir ini, aku tidak tahu kenapa bisa dia terdampar di sekolah yang bahkan tidak memandang seni sebagai hal utama dalam kurikulum. Setelah melihat permainan piano miliknya untuk kedua kalinya, aku rasa Alvin bukanlah seorang amatir ataupun seseorang yang sekadar menikmati hobinya dengan bermain piano, dia lebih seperti seorang profesional. Sepertinya dia memberikanku tiket konser violin bukan untuk melihat permainan violin yang merupakan acara utama dalam konser ini, dia hanya ingin aku melihat permainannya. Bodohnya aku yang mengira dia akan duduk di sampingku sembari menikmati alunan nada-nada yang keluar dari violin dimana justru sekarang dia yang menciptakan alunan nada-nada untuk aku dengarkan.
"Wah, Moonlight Sonata, bukankah kamu membencinya?"
Kualihkan perhatianku ke sumber suara yang sekarang sedang tersenyum mengejek ke arahku. Aku sengaja meninggalkan Stephanie dan Caroline karena tidak ingin mereka menginterogasiku tetapi sekarang mereka berada tepat di belakang tempatku duduk dan tentunya mereka tidak hanya berdua. Kedua kakakku juga duduk di belakang tempatku duduk. Setelah acara ini selesai aku tidak akan menemukan ketenangan selama beberapa saat. Aku benar-benar ingin menjauhkan keempat orang ini dalam hidupku.
Beberapa kali Caroline mencoba mengajakku berbicara yang menyebabkan beberapa orang disekitar kami menatap tajam dirinya dan akhirnya hal itu membuatnya berhenti menggangguku yang sedang berusaha menikmati kembali alunan nada-nada milik Alvin. Apa yang sebenarnya dia harapkan dengan membuat suara ditengah konser musik klasik yang sunyi. Dia benar-benar jenis spesies manusia yang sangat jarang aku temui dan tidak ingin aku temui lagi selain dirinya.
"Aku baru tahu jika Kak Alvin benar-benar pemain profesional," ucap Stephanie begitu keluar dari ruang konser.
Aku setuju dengan pernyataannya, aku sendiri tidak tahu jika Alvin bisa bermain piano sebagus itu. Permainan piano miliknya yang aku dengar di sekolah sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan permainan miliknya di konser, seperti seseorang yang berbeda 180 derajat. Seseorang yang memiliki 2 kepribadian.
"Aku juga baru tahu," ucap William menciptakan keheningan diantara kami.
Bagaimana bisa William baru tahu?
William yang aku tahu selalu mencari informasi apapun tentang teman-temannya. Dia selalu takut jika suatu saat nanti dikhianati oleh teman-temannya. Dia memiliki trauma, trauma yang mungkin Arthur dan aku tidak ingin miliki. Ketika usia William 7 tahun, dia sudah harus ikut acara bisnis keluarga dan dia melihat secara langsung saat dimana paman kedua kami dibunuh oleh sahabatnya sendiri, baik Arthur dan aku tidak pernah mencoba menanyakan detail apa yang terjadi karena hal itu sama dengan mengungkit luka di dalam hati William.
Sejak saat itu, William tidak mudah menjadikan seseorang sebagai temannya dan karena itu saat dia mengatakan jika Alvin adalah temannya, hal itu cukup membuatku terkejut. Dan melihat bagaimana William tidak tahu hal sesederhana tentang Alvin membuatku semakin terkejut. William mempercayai Alvin seratus persen tanpa adanya keraguan jika Alvin bisa mengkhianatinya di masa depan.
"Kalian berdua bagaimana bisa mendapatkan tiket?" tanyaku memecah hening yang sudah berlangsung cukup lama saat kami mulai berjalan.
"Apapun bisa dengan uang," jawab Caroline asal.
"Huh?!" timpalku ketus.
__ADS_1
"Kita berdua bertemu dengan Kak Arthur," jawab Stephanie sembari menutup mulut Caroline yang mencoba menjawab pertanyaanku.
Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa mendapatkan tiket yang sudah terjual habis, tetapi mendengar jawaban Stephanie membuatku yakin jika Arthur atau mungkin William menggunakan koneksi yang dimilikinya untuk mendapatkan tiket. Aku baru tahu beberapa bulan yang lalu, jika beberapa acara seperti konser ataupun pesta perayaan pasti selalu menyediakan tempat duduk lebih karena beberapa orang seperti William akan menggunakan koneksi untuk mendapatkan kursi itu. Tidak mengejutkan sebenarnya melihat semua hal bisa diselesaikan dengan uang.
Arthur menyodorkan sebungkus hamburger kesukaanku. Aku ingin langsung mengambil hamburger itu dari tangannya tetapi aku takut William akan merebutnya begitu aku mengambilnya. Kulihat William yang hanya menganggukan kepalanya. Sepertinya dia masih merasa bersalah karena tidak bisa memberi tahuku tentang perjanjian perjodohan. Sebenarnya hal itu tidak masalah jika bisa membuatku memakan makanan yang aku sukai. Tepat saat aku akan melahap hamburger yang sudah berada di tanganku, seseorang sudah berdiri di hadapanku. Seseorang yang 3 jam lalu menatapku penuh amarah.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Bicarakan disini," timpal William yang kembali membuat suasana menjadi hening.
Ken meraih tanganku dan menaikkan kemeja yang aku kenakan hingga sebuah gelang yang selalu aku gunakan terlihat. Aku tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan, tetapi melihat betapa agresifnya dia sepertinya dugaanku benar. Dia masih memegang pergelangan tanganku sembari menatap tajam mataku seolah meminta gelang yang sedang aku gunakan. Aku tidak akan mengatakan sepatah katapun ataupun melepas gelang ini, aku hanya tidak bisa melepaskan gelang ini.
"Lepaskan gelang ini."
"Ken!!" panggil William dengan penuh amarah.
Teriakan William membuat beberapa orang yang masih berada di sekitar tempat konser menoleh ke arah kami. Beberapa bahkan sudah mulai berbisik-bisik. Sepertinya sebagian orang sudah mulai mengenali siapa kami. Jika seperti ini, cepat atau lambat pasti akan muncul gosip-gosip tidak jelas tentang keluarga kami. Aku tidak punya pilihan lain untuk mencegah munculnya gosip-gosip itu, aku melepas gelang yang sudah menemaniku selama 10 tahun terakhir dan langsung memberikannya kepada Ken.
"Aku tahu dan karena aku sudah menemukan perempuan yang aku cintai, kamu sudah tidak pantas menggunakan gelang ini lagi."
"Ken!!" teriak Arthur sembari menarik kerah leher Ken.
"Kamu tahu tentang perjanjian perjodohan, bukan?" tanyaku mencoba mencegah perkelahian yang sebenarnya tidak diperlukan.
Pertanyaanku membuat Arthur menurunkan tangannya dari kerah Ken. Ken diam tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menatap ke arah gelang yang sekarang berada di telapak tangannya. Telapak tangan yang tidak akan pernah bisa aku gapai kembali dan telapak tangan yang sudah pergi cukup jauh untuk bisa aku kejar.
"Tidak usah khawatir, aku akan mencari cara supaya pertunangan kita batal."
"Ken, perempuan itu benar-benar membuatmu melupakan semuanya bukan? Hah?" balas Arthur diikuti tatapan penuh amarah miliknya.
"Kak Arthur, baik aku dan Zeta tidak pernah menginginkan perjodohan ini. Perempuan itu juga memiliki nama dan namanya Natasha, aku harap setelah ini Kak Arthur bisa memanggil perempuan itu dengan Natasha," jawab Ken dengan tatapan tajam yang terus mengarah ke Arthur.
__ADS_1
"Hentikan, kita pulang sekarang," potong William sebelum suasana bertambah buruk. Melihat bagaimana William bisa mengatakan hal itu, membuatku yakin dia berusaha keras menahan amarahnya.
Stephanie dan Caroline diam mematung, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Jika saja saat ini tidak ada kedua kakakku, aku sangat yakin kedua anak itu sudah memukul Ken dengan tas mereka. Aku ingin melihat hal itu terjadi tetapi sayang kedua anak itu hanya diam mematung, takut akan adanya perkelahian diantara 3 laki-laki yang berharga dalam hidupku atau mungkin hanya 2 laki-laki yang berharga untuk saat ini.
"Jika kamu sudah menemukan cara untuk membatalkan perjodohan kita, beritahu aku dan aku akan bekerja sama denganmu," ucapku sembari menarik lengan Arthur menjauhi Ken.
Dampak dari sebuah kalimat yang baru saja aku ucapkan, aku tidak tahu jika dampak itu akan langsung muncul tepat setelah 1 menit aku mengatakannya. Aku tidak tahu bagaimana bisa kalimat itu menjadi sebuah provokasi untuk Ken hingga membuat dia melakukan pengumuman di tempat umum.
Sebuah suara yang sangat aku kenal menghiasi tempat konser ini, atau mungkin satu gedung dimana sekarang kami berada. Suara itu mampu menghentikan beberapa orang yang lalu lalang.
"Disini Keenan Alexander Parker, aku rasa banyak dari kalian yang tahu siapa aku dan pastinya banyak dari kalian yang juga penasaran tentang kehidupan pribadiku. Banyak dari kalian pastinya tahu tentang diriku dan Zeta Ethelyne Beatrice Allison. Aku ingin menegaskan jika saat ini kami tidak memiliki hubungan apapun dan kedepannyapun kami tidak akan memiliki hubungan seperti yang kalian kira. Saat ini aku jatuh cinta kepada perempuan lain yang bisa dibilang perempuan yang membuat hidupku lebih bahagia dibandingkan saat sebelum bertemu dengannya. Jadi, aku harap kalian semua yang mendengarkan ini untuk berhenti mengaitkanku dengan Zeta. Dan aku ingin menegaskan sekali lagi jika aku tidak pernah jatuh cinta kepada Zeta. Terima kasih."
Pengumuman yang mampu membuat semua orang terdiam membatu. Orang-orang yang tadinya masih sibuk dengan urusannya sekarang semua diam menatapku. Menatap seorang perempuan yang ditolak secara langsung di depan umum. Perempuan yang bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Perempuan yang saat ini merasa semua tatapan yang ditujukan kepadanya hanyalah tatapan penuh rasa kasihan.
Alunan nada Moonlight Sonata kembali bermain di dalam otakku. Aku tidak tahu apakah ini sebuah karma karena aku begitu membenci alunan nada itu ataukah karena saat ini aku sedang menatap mata biru yang baru saja memainkan nada-nada itu. Satu-satunya mata yang tidak menatapku penuh dengan rasa kasihan, satu-satunya mata yang menatapku dengan tatapan biasa miliknya saat menatap mata biru milikku. Dan satu-satunya mata biru yang membuat luka di dalam hatiku langsung hilang hanya dalam hitungan detik setelah aku menatapnya. Mata yang langsung membuatku ingin menyelami semua kisah yang ada di dalamnya. Mata yang membuatku melupakan siapa sebenarnya diriku. Dan mata yang mungkin akan menjadi berharga untukku di masa depan.
"Kak, maafkan aku untuk tidak menuruti nasehat yang Kakak berikan," ucapku sembari menatap William yang saat ini sedang dipenuhi oleh amarah.
Aku tidak tahu takdir apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku. Aku juga tidak tahu bagaimana kerja takdir untuk hari ini, apakah takdir sedang memihakku atau tidak, aku tidak peduli akan hal itu. Hal yang aku tahu saat ini adalah aku ingin melakukan apa yang sekarang sedang aku lakukan sehingga aku tidak akan menyesalinya di masa depan.
"Untuk Kak Alvin. Aku sangat menikmati Moonlight Sonata yang Kakak bawakan," ucapku sembari memberikan sebuah lollipop.
"Apakah permainanku sebagus itu?" tanya Alvin sembari mengambil lollipop dari tanganku.
Hanya anggukan yang aku berikan sebagai jawaban. Mata biru miliknya tetap menatap mata biru milikku, seakan kedua mata kami memiliki kutub magnet yang berbeda dan mau tidak mau mata kami harus terus bertatapan. Untuk sesaat Alvin mengalihkan pandangannya dan mulai mencari sesuatu di saku bajunya.
"Aku memiliki sesuatu untukmu," ucapnya sembari meraih tangan kiriku dan memakaikan sebuah cincin ke jari manisku.
"Aku tidak tahu jika ukuran cincinnya akan sama dengan jari manismu. Mulai saat ini, jangan pernah melepaskan cincin ini jika bukan karena suatu hal besar terjadi," lanjutnya.
...-----...
__ADS_1