MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 11 Mencari Yasa dan Riska


__ADS_3

Robi yang sudah merasa cukup sehat, terbangun dari tidur nyenyak nya. Karena Robi mendengar suara ketukan pintu.


[ Tok-tok ] suara ketukan pintu.


"Kak Robi." Aira memanggil Robi, yang belum keluar dari kamarnya.


"Iya ada apa Aira?" tanya Robi yang sudah membukakan pintu kamarnya.


"Kak Robi lagi sama Riska yah? Di dalam kamar?" bukannya menjawab pertanyaan Robi. Aira malah bertanya balik.


Robi pun mengerutkan keningnya.


"Kamu ini, aneh banget sih! Riska itu kan semalam tidurnya sama kamu, bukan sama aku!" sahut Robi sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya kak, aku tahu itu. Tapi masalahnya? Aku belum melihat Riska? Saat aku bangun tidur sampai sekarang ini! Dan aku kira Riska lagi di kamar ini sama kakak," tutur Aira.


"Aku baru bangun tidur Ai, jadi aku tidak tahu di mana Riska! Mungkin dia lagi di kamar mandi?" ujar Robi.


"Aku sudah memeriksa semua ruangan yang ada di sini kak! Tapi tidak menemukan Riska di..." ucapan Aira terhenti, karena Firman berteriak memanggil mereka berdua, Aira yang sedang berbicara dengan Robi, menolehkan kepalanya ke arah Firman dan Malik.


"Kak, kakak!" teriak Firman.


Malik dan firman datang menghampiri Robi dan Aira, yang berada di depan pintu kamar Robi.


"Kak! Lihat Yasa tidak? Soalnya dari tadi kita berdua mencari keberadaan Yasa. Tapi tidak menemukannya?" Firman langsung menanyakan Yasa yang hilang kepada Aira dan Robi.


"Ini Aira juga menanyakan Riska? Dan kamu berdua juga mencari Yasa? Kemana perginya mereka berdua yah?" lirih Robi yang bingung, memikirkan kehilangan Yasa dan Riska secara bersamaan.


"Palingan mereka berdua pergi bersama, mencari makanan," sahut Yudi, yang baru datang menghampiri mereka semua.


"Bisa jadi sih?" Malik pun ikut menimpali ucapan Yudi.


"Kalau begitu, kita tunggu saja mereka berdua datang. Mungkin sebentar lagi, mereka berdua akan kembali ke sini," ujar Robi.


"Tapi kalau sampai sore, Mereka tidak juga kembali ke sini, gimana kak?" Aira mengkhawatirkan Yasa dan Riska, yang tidak ada bersama mereka semua.


"Apa jangan-jangan? Yasa dan Riska, di serang oleh mata-mata Padepokan Black!" ucapan Firman, membuat mereka semua menjadi mengkhawatirkan Yasa dan Riska.


"Ya sudah. Lebih kita semua pergi mencari mereka berdua, sekarang!" perintah Robi kepada semua teman-temannya. Karena  mengkhawatirkan keadaan Yasa dan Riska, yang kemungkinan di serang oleh mata-mata Padepokan Black.


Mereka semua pun pergi meninggalkan penginapan ini, untuk segera pergi mencari Riska dan Yasa, yang hilang secara bersamaan.


***

__ADS_1


Sedangkan di Padepokan Macan Putih, Tabib menemui Markus ketua Padepokan Macan Putih.


"Salam hormat kepada ketua Markus." Tabib yang menemui Markus, memberikan salam hormat kepadanya.


"Iya, ada apa Tabib? Kamu datang menemui ku?" tanya Markus heran atas melihat kedatangan Tabib, yang datang menemuinya.


"Begini ketua Markus, botol minum yang dari Yasa. Sudah saya teliti dengan baik, bahwa ramuan di dalam botol minuman ini? Adalah ramuan penghilang energi. Bukan ramuan penambah energi, seperti yang di katakan oleh Yasa. Dan aku rasa yang memberikan ramuan ini adalah para iblis, yang menyamar menjadi seorang Pendekar Sakti sekaligus sebagai seorang Tabib. Dan aku sangat yakin, kalau tujuannya itu! Menginginkan murid Padepokan Macan Putih dan murid Padepokan Singa Merah, tidak mempunyai kekuatan energi. Karena setahuku, ramuan itu sangat susah untuk di buatnya, dan hanya Raja iblis yang bisa membuatnya," tutur Tabib menjelaskan tentang botol minuman, yang di bawa oleh Yasa dari Kelana si Pendekar Sakti.


"Pasti ini semua adalah rencana Rimba! yang meminta bantuan kepada Raja iblis. Untuk menggagalkan misi murid-murid ku, yang mau merebut Pedang Sakti yang berada di tangannya," geram Markus sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Ketua Markus, kita harus mempunyai cara! Untuk bisa mengalahkan Padepokan Black," ujar Tabib.


"Iya kamu benar Tabib," sahut Markus sambil berpikir, mencari cara mengalahkan Padepokan Black.


Markus yang melihat kedatangan Ratu Aurora, langsung menatap tajam ke arah Ratu Aurora, yang baru saja sampai ke dalam ruangan Padepokan Macan Putih, dan tidak sengaja mendengarkan semua pembicaraan Markus dan Tabib.


"Maaf Markus, aku menguping pembicaraan kamu dan Tabib." Ratu Aurora meminta maaf kepada Markus dan tabib.


"Iya Ratu, tidak kenapa-kenapa. Apakah kamu? Mempunyai cara Ratu! Untuk mengalahkan Padepokan Black yang di bantu oleh Raja iblis, pasti kita akan kesulitan untuk melawan mereka semua," ucap Markus, yang meminta pendapat pada Ratu Aurora.


"Kalau menurutku! murid Padepokan Macan Putih dan murid Padepokan Singa Merah. Sebelum menyerang Padepokan Black, mereka semua harus belajar terlebih dahulu di Padepokan Elang Sakti. Karena setahuku, Padepokan Elang Sakti bisa mengajarkan mereka semua, menggunakan jurus Pedang Naga Sakti yang sangat hebat, dan berbagai ilmu sihir yang dapat di gunakan dalam menyerang Padepokan Black," tutur Ratu Aurora.


"Aku sependapat denganmu Ratu. Kalau begitu, mari kita pergi menemui Erlangga ketua Padepokan Elang Sakti." Markus bangun dari tempat duduknya, dan bersemangat pergi menuju Padepokan Elang Sakti. Berharap Erlangga ketua Padepokan Elang Sakti, mau membantunya dalam mengalahkan Padepokan Black. Agar ia bisa merebut Pedang Sakti, yang di ciptakan oleh Mahesa Mahendra ayahnya Yasa.


"Ya sudah, kamu berhati-hatilah," lirih Markus.


"Ketua Ratu, berikan ramuan ini kepada mereka semua. Agar mereka semua bisa kebal menahan semua serangan, saat akan menghadapi Padepokan Black. Meski ramuan ini tidak bisa bertahan lebih lama, tapi setidaknya bisa membantu meringankan luka mereka semua, walau hanya sebentar." Tabib pun memberikan ramuan kekebalan tubuh kepada Ratu Aurora.


"Baik Tabib, dan terima kasih atas ramuan ini. Semoga saja, ramuan ini bisa bertahan lama," ucap Ratu Aurora.


Ratu Aurora pun segera pergi meninggalkan Padepokan Macan Putih, menuju Padepokan Elang Sakti.


***


Robi dan yang lainnya, terus mencari keberadaan Yasa dan Riska, di sekitar hutan dan perbatasan desa.


"Mereka berdua asyik pacaran kali! dari tadi di cari-cari gak ketemu juga?" celetuk Firman.


"Aawww!"  Firman berteriak, karena di injak kakinya oleh Malik.


"Kamu jangan ngomong sembarangan Fir?" bisik Malik di telinga firman.


"Iya," sahut Firman, sambil menahan rasa sakti dikakinya.

__ADS_1


Malik segera mengangkat kakinya, yang telah menginjak kaki Firman.


"Sebaiknya kita perginya berpencar saja deh, biar cepat menemukan keberadaan mereka berdua," usul Yudi yang ingin segera menemukan Yasa dan Riska.


"Jangan!" cegah Robi.


"Apa kamu tidak ingat? Dengan nasihat ketua Markus, yang menyuruh kita semua jangan sampai berpisah. Aku hanya khawatir jika kita berpencar, mata-mata Padepokan Black akan mudah mengalahkan kita semua," lanjut Robi menjelaskan kepada teman-temannya. Untuk tidak mencari Yasa dan Riska dengan cara berpencar.


"Betul itu! Apa yang di katakan oleh kak Robi. Lebih baik, kita cari bersama-sama saja." Aira setuju dengan pendapat Robi.


Mereka semua yang terus melangkah tanpa arah yang pasti, mencari keberadaan Yasa dan Riska.


"Itu bukankah Ketua Ratu?" tunjuk Yudi ke arah Ratu Aurora dan murid-murid Padepokan Singa Merah, yang sedang berjalan menuju ke arah mereka semua.


"Iya benar! itu ketua Ratu. Ayo kita datang menghampiri ketua Ratu," ajak Robi kepada mereka semua.


Mereka semua pun datang menghampiri Ratu Aurora, dan memberi hormat kepada Ratu Aurora ketua Padepokan Singa Merah.


"Salam hormat kepada ketua Ratu," mereka semua memberi salam penghormatan kepada Ratu Aurora.


"Sedang apa kalian di sini?" tanya Ratu Aurora, karena ini bukan jalan menuju Padepokan Black.


"Kami semua, sedang mencari Yasa dan Riska, yang hilang ketua Ratu." Robi pun menjelaskan semuanya kepada Ratu Aurora.


"Apa....? hilang!" Ratu Aurora kaget, mendengar kabar Yasa dan Riska yang hilang, dan ia sangat mengkhawatirkan jika Yasa dan Riska di tangkap oleh murid Padepokan Black.


"Iya benar ketua Ratu, sudah mau hampir petang. Kami semua pergi mencari keberadaan mereka berdua. Tapi  sampai sekarang, belum menemukan keberadaan Yasa dan Riska,"  tutur Yudi.


"Hmmmz!" Ratu Aurora sedang berpikir. Untuk menghentikan perjalanannya, atau membantu mereka semua, yang sedang mencari keberadaan Yasa dan Riska.


"Begini saja! Kalian semua mencarinya secara berpencar," perintah Ratu Aurora.


"Maaf ketua Ratu, kami tidak bisa pergi secara berpencar. Karena pesan dari Ketua Markus, yang menyuruh kita semua. Untuk terus pergi bersama-sama. Karena jika kita perginya berpencar, takutnya mata-mata Padepokan Black akan memudahkan mereka semua, datang menyerang kita yang tengah lengah. Karena tidak pergi bersama-sama." Robi membantah perintah dari ketua Ratu Aurora.


"Kalau begitu begini saja!, biar aku tinggalkan semua murid-murid yang pergi bersamaku. Untuk membantu kalian semua dalam mencari keberadaan Yasa dan Riska. Sedangkan aku, akan meneruskan  perjalananku, sambil mencari keberadaan mereka berdua," jelas Ratu Aurora.


Robi meminta pendapat pada Aira, Yudi dan kedua sahabat Yasa, dengan cara menatap matanya, mereka semua pun memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan pendapat Ratu Aurora.


"Baiklah ketua Ratu, kami semua setuju dengan saran ketua Ratu," sahut Robi.


"Ya sudah. Kamu atur saja Robi, dan yang terpenting kalian semua jangan berpencar secara sendiri-sendiri. Kalau begitu aku pergi dulu, untuk melanjutkan perjalananku, yang ingin menemui Erlangga ketua Padepokan Elang Sakti." Ratu Aurora segera pergi meninggalkan mereka semua. Karena ia akan pergi ke Padepokan Elang Sakti.


Robi segera mengatur strategi, dalam mencari keberadaan Yasa dan Riska yang hilang, dan berharap dengan banyaknya orang yang mencari keberadaan mereka berdua, bisa segera menemukan keberadaan Yasa dan Riska.

__ADS_1


__ADS_2