
Para Dewa dan Yasa serta yang lainnya. Mereka semua sudah sampai di Padepokan Black, dengan menggunakan ilmu menghilang.
"Buka mata kalian semua, kita sudah sampai di Padepokan Black," ucap Dewa Tanah memberitahukan kepada Markus dan Yasa serta yang lainnya.
Mereka semua pun membuka matanya.
"Ayo kita semua masuk ke dalam Padepokan Black," ajak Markus.
"Iya," sahut mereka semuanya secara bersamaan.
Saat mereka semua akan masuk ke dalam Padepokan Black, suasana di Padepokan Black berubah menjadi hawa dingin, dan cuaca di sekitar Padepokan Black menjadi gelap gulita.
"Sepertinya kedatangan kita semua sudah di ketahui oleh Rimba dan Raja iblis," ucap Dewa Api.
"Iya benar," sahut Dewa Tanah.
"Kita semua sudah berada di sini, meski Rimba dan Raja iblis sudah mengetahui keberadaan kita semua. Aku harap Yasa bisa merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba. Sedangkan kita semuanya, mengalahkan murid Padepokan Black dan Raja iblis beserta pasukannya," ujar Markus.
"Aku pasti bisa merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba, dan bisa mengalahkannya," batin Yasa.
Murid-murid Padepokan Black yang sedang berjaga di depan pintu masuk Padepokan Black, segera pergi menyerang Para Dewa serta Yasa dan yang lainnya.
Murid Padepokan Black mengeluarkan jurus pedang sinar hitam. Para Dewa dan Yasa serta Markus dan Ratu Aurora dan yang lainnya bisa menghindari serangan itu. Akan tetapi jurus pedang sinar hitam mengenai Yudi dan Firman, yang tidak bisa menghindari serangan jurus pedang sinar hitam. Karena jurus pedang sinar hitam itu, melilit mengenai Yudi dan Firman. Sehingga membuat mereka berdua tidak bisa bergerak.
"Ini kenapa aku tidak bisa bergerak," gerutu kesal Firman.
"Kita terkena jurus pedang murid Padepokan Black," sahut Yudi menjelaskan.
Yasa yang melihat itu ingin pergi membantu Yudi dan Firman, tapi saat Yasa akan pergi mendekati Yudi dan Firman. Riska menarik tangannya Yasa. "Kamu sebaiknya masuk ke dalam Padepokan Black, urusan Yudi dan Firman di sini. Biarkan aku dan yang lainnya yang menanganinya."
"Baiklah." Yasa pun segera masuk ke dalam Padepokan Black. Untuk mengalahkan Rimba, dan bisa merebut Pedang Sakti dari tangannya.
Saat Yasa akan masuk ke dalam Padepokan Black. Rimba sudah berada di hadapan Yasa.
"Akhirnya kita bertemu lagi," ucap Rimba tersenyum miring.
"Kali ini aku pastikan! Kamu akan mati di tanganku, dan Pedang Sakti akan aku rebut dari tanganmu." Yasa berucap lantang pada Rimba.
"Hahaha.... Tidak semudah itu," sahut Rimba.
Yasa segera menyerang Rimba, dengan mengeluarkan jurus Pedang Naga Sakti, untuk mengalahkan Rimba.
Sedangkan Rimba menangkis semua serangan dari Yasa, dengan menggunakan Pedang Sakti ciptaan Mahesa Mahendra ayahnya Yasa.
Yasa berusaha mengalahkan Rimba, meski Rimba bisa menangkis semua serangannya. "Aku harus mencari cara, agar membuat Rimba lengah. Sehingga aku bisa merebut Pedang Sakti dari tangannya Rimba," batin Yasa.
________
Sementara itu.
Para Dewa dan Markus serta yang lainnya, melawan murid Padepokan Black. Akan tetapi, saat Para Dewa dan Markus yang akan membunuh murid Padepokan Black. Amran ketua Padepokan Ular Naga dan murid-muridnya, datang menghadang Markus dan Para Dewa, dengan menggunakan jurus pedang black mamba secara bersamaan.
Markus dan Para Dewa yang tidak tahu kedatangan Amran dan murid-muridnya, yang datang menyerangnya. Membuat Markus dan Para Dewa terluka, terkena jurus pedang black mamba.
"Hahaha, ternyata kekuatan kalian semua hanya segitu saja." Amran mengejek Markus dan Para Dewa yang terluka, terkena jurus pedang black mamba.
"Jurus pedangmu itu, tidak akan membuat aku terluka." Dewa Tanah segera bangun, dan bersiap-siap melawan Amran dan murid-muridnya.
Markus dan Para Dewa yang lainnya pun bangun, dan rasa sakit terkena jurus pedang black mamba pun menghilang. Karena mereka semua telah meminum ramuan dari Dewa Tanah, sehingga membuat mereka semua cepat sembuh.
"Jangan senang dulu Amran," ucap Markus menatap sinis pada Amran.
"Ayo kita serang mereka semua!" Amran menyuruh murid-muridnya. Untuk menyerang Markus dan Para Dewa.
Sedangkan Sekar Wati dan Ratu Aurora serta muridnya mengalahkan Padepokan Black.
Awan yang sudah berubah menjadi awan hitam, kini semakin menjadi hitam pekat. Karena Raja iblis dan pasukannya, datang ke Padepokan Black untuk membantu Rimba.
"Akhirnya Raja iblis dan pasukannya datang juga." Rimba senang melihat kedatangan Raja iblis dan pasukannya.
__ADS_1
"Ayo Rimba, kamu segera aktifkan Pedang Sakti itu. Agar mereka semua juga bisa menjadi pengikut ku, dan kamu bisa menguasai dunia ini." Raja iblis berbisik di telinga Rimba.
"Kamu akan mati di tanganku!" Rimba segera mengarahkan Pedang Sakti ke arah Yasa.
Akan tetapi Pedang Sakti di tangan Rimba, tidak membuat Yasa terkena kekuatan Pedang Sakti. Karena Sekar Wati datang menolong Yasa, dari serangan Rimba yang ingin mencelakai Yasa.
"Wah, benar-benar sangat mengejutkan sekali! Ternyata kamu masih hidup Sekar Wati?" ucap Rimba tersenyum miring, melihat Sekar Wati menolong Yasa.
"Kali ini! Aku pastikan, kamu yang akan mati di tanganku," geram Sekar Wati kepada Rimba.
"Bukan aku. Tapi kamu dan anakmu serta mereka semuanya, yang akan mati di sini." Rimba pun menimpali ucapan dari Sekar Wati.
"Yasa, ibu akan menolong mu. Untuk bisa merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba," bisik Sekar Wati di telinga Yasa.
Yasa menganggukkan kepalanya, pertanda Yasa setuju dengan ucapan ibunya. Mereka berdua pun menyerang Rimba secara bersamaan, dan membuat Rimba tidak fokus menyerang Yasa saja. Kesempatan itu di gunakan oleh Yasa dengan baik, dan ia segera mengarahkan pedangnya ke arah Pedang Sakti. Agar Pedang Sakti di tangan Rimba terjatuh, dan Yasa bisa mengambil Pedang Sakti serta mengaktifkan Pedang Sakti.
Rimba yang sudah mengetahui tujuan Yasa itu, sengaja membuat dirinya lengah. Tetapi sebenarnya, tujuan Rimba bukan hanya mengalahkan Yasa dan Sekar Wati. Rimba ingin mengaktifkan Pedang Sakti di tangannya. Karena Rimba sudah mendapatkan informasi, cara mengaktifkan Pedang Sakti dari murid Padepokan Ular Naga.
Saat Yasa mencoba menjatuhkan Pedang Sakti dari tangannya Rimba, kesempatan itu Rimba gunakan dengan baik. Untuk menggoreskan luka di tangan Yasa, dengan menggunakan Pedang Sakti. Sehingga Rimba bisa mengaktifkan Pedang Sakti. Karena Pedang Sakti bisa aktif sepenuhnya, dengan menggunakan darah keturunan Mahesa Mahendra.
Yasa pun terluka di bagian tangannya, karena Rimba telah berhasil menggoreskan luka di tangan Yasa.
"Hahaha..." Rimba tersenyum bahagia. Karena aliran kekuatan energi Pedang Sakti telah menyerap kedalam tubuhnya, dan mengeluarkan aura putih di tubuh Rimba. Membuat Rimba semakin kuat kekuatannya, dan Pedang Sakti di tangan Rimba semakin bersinar lebih terang.
Yasa dan yang lainnya kaget melihat Rimba, yang telah berhasil mengaktifkan Pedang Sakti.
"Sial! Aku terkecoh saat dia lengah," gerutu Yasa kesal pada dirinya sendiri. Karena di saat Rimba yang di rasa Yasa lengah, ia segera menangkis Pedang Sakti. Akan tetapi itu semuanya, hanya cara Rimba yang membuat dirinya sendiri yang lengah, bukan Rimba yang lengah.
"Kekuatan Pedang Sakti telah aktif di tangan Rimba," lirih Dewa Angin yang melihat Rimba berhasil mengaktifkan Pedang Sakti.
"Iya, benar. Sepertinya ada orang yang memberitahukan kepada Rimba tentang cara mengaktifkan Pedang Sakti," sahut Dewa Tanah.
"Markus, bagaimana ini? Yasa gagal merebut Pedang Sakti, kini malah Rimba yang berhasil mengaktifkan Pedang Sakti," cemas Ratu Aurora. Jika Rimba berhasil mengaktifkan Pedang Sakti, pasti mereka semua akan kalah. Dan manusia yang berada di dunia ini, akan menjadi pengikut Raja iblis.
"Entahlah aku juga bingung, tapi untuk sekarang ini. Kita kalahkan murid Padepokan Black dan murid Padepokan Ular Naga. Agar Rimba tidak memiliki pengikut lagi, tapi untuk mengalahkan Rimba itu akan sangat sulit sekali." Markus pun bingung. Karena Pedang Sakti yang harusnya bisa di ambil oleh Yasa, tapi kini malah Rimba yang berhasil mengaktifkan Pedang Sakti.
Rimba yang sudah berhasil mengaktifkan Pedang Sakti, segera menggunakan kekuatan Pedang Sakti ke arah Para Dewa dan Markus serta Ratu Aurora dan murid-muridnya.
"Hahaha...." suara tertawa bahagia Rimba dan Raja iblis serta pasukannya, murid Padepokan Black dan murid Padepokan Ular Naga pun ikut tertawa bersama. Karena mereka semua melihat Para Dewa dan Markus, serta Ratu Aurora dan murid-muridnya terkulai lemah dan tak berdaya lagi.
"Kalian semua serang mereka!" titah Rimba kepada murid Padepokan Black dan Padepokan Ular Naga. Raja iblis dan pasukannya juga ikut membantu. Untuk menyerang Para Dewa dan Markus serta Ratu Aurora dan murid-muridnya, meski keadaan mereka semua sedang terluka. Mereka semua pun segera bangun, untuk menghadapi murid Padepokan Black dan murid Padepokan Ular Naga serta Raja iblis dan pasukannya.
"Bagaimana Sekar Wati? Kamu melihat sendiri kan, kekuatan Pedang Sakti ciptaan suamimu. Lebih baik kalian semua menyerah saja, jadilah pengikut ku dan Raja iblis." Rimba menatap tajam Sekar Wati dan Yasa. Karena tinggal mereka berdua yang tidak Rimba sakiti, agar mereka berdua bisa melihat kekuatan Pedang Sakti ciptaan Mahesa Mahendra.
"Aku tidak mau menjadi pengikut kamu." Yasa segera pergi menyerang Rimba, dan mengerahkan seluruh kemampuannya.
"Hahaha... Rupanya kau sudah bosan hidup," sindir Rimba melihat Yasa yang akan menyerangnya.
"Yasaaa," teriak Sekar Wati yang berusaha mencegah Yasa, yang akan menyerang Rimba.
"Kamu jangan ke sana, ibu tidak mau kamu sampai terluka." Sekar Wati berhasil menangkap tangan Yasa, yang akan pergi menyerang Rimba.
"Aku akan mengalahkan Rimba Bu, bagaimana pun caranya!" Yasa melepaskan tangannya yang di pegang oleh Sekar Wati, dan Yasa tetap pergi menyerang Rimba.
"Pertunjukan yang sangat menarik Rimba. Kamu kalahkan dia, jika kamu mau menjadi penguasa dunia ini," ucap Raja iblis.
"Baiklah Raja," sahutnya.
Yasa yang sudah berada di hadapan Rimba, segera mengeluarkan jurus pedang halilintar dan jurus pedang ribuan elang secara bersamaan. Agar Yasa bisa mengalahkan Rimba, yang menggunakan Pedang Sakti yang sudah di aktifkan.
Tapi serangan Yasa langsung di tangkis dengan cepat. Karena Pedang Sakti di tangan Rimba, mengarahkan ke arah Yasa. Dan sekali Rimba mengayunkan Pedang Sakti, membuat Yasa jatuh tersungkur ke tanah.
"Luar biasa sekali! Pedang Sakti ini. Mahesa Mahendra pedang ciptaan mu, akan membunuh istri dan anakmu hahaha..." Rimba yang melihat Yasa terjatuh segera pergi menghampirinya, dan akan membunuh Yasa dengan menggunakan Pedang Sakti.
"Apa ucapan terakhirmu?" tanya Rimba yang akan menusukkan Pedang Sakti ke tubuh Yasa.
"Aku akan mengalahkan mu," jawab Yasa menatap geram kepada Rimba.
Sekar Wati yang melihat anaknya sedang terancam nyawanya, mengeluarkan ilmu sihir pertukaran. Membuat Sekar Wati yang berada di posisi Yasa, sedangkan Yasa berada jauh dari Rimba.
__ADS_1
Rimba yang tidak menyadari itu, segera menancapkan Pedang Sakti ke tubuh Sekar Wati. Dewa Tanah yang melihat Sekar Wati menggantikan posisi Yasa, segera mengguncangkan tanah. Agar Rimba tidak bisa membunuh Sekar Wati, akan tetapi guncangan hebat yang di keluarkan oleh Dewa Tanah. Tidak membuat Rimba ikut tergoncang, ia hanya menyadari posisi Yasa yang telah berganti menjadi Sekar Wati.
"Ternyata kamu juga ingin menyusul suamimu yang sudah mati," ujar Rimba menatap wajah Sekar Wati.
Rimba segera mengangkat tubuh Sekar Wati ke atas udara, sebelum dia membunuh Sekar Wati. Yasa yang berada jauh dari Rimba segera pergi menghampiri Rimba, untuk menolong ibunya yang berada di tangan Rimba.
Yasa mengungkapkan jurus Pedang Naga Sakti, dan ia ikut naik ke atas punggung Naga yang akan menyerang Rimba. Karena tujuan Yasa hanya ingin menyelamatkan ibunya, yang berada di atas udara.
Rimba yang mengetahui itu, sekali mengayunkan pedangnya. Jurus Pedang Naga Sakti lenyap, dan sekarang ini Rimba berhasil membuat Yasa dan Sekar Wati berada di atas udara, tersengat aliran kekuatan Pedang Sakti.
"Hahaha, kini waktunya kalian berdua menyusul Mahesa Mahendra." Rimba segera membunuh Yasa dan Sekar Wati secara bersamaan.
Rimba yang tidak menyadari Riska berada di belakangnya, membuat Rimba lengah dan akhirnya Yasa dan Sekar Wati terjatuh ke tanah. Rimba tidak berhasil membunuh Yasa dan Sekar Wati, tapi membuat Yasa dan Sekar Wati tidak sadarkan diri. Karena mereka berdua terkena aliran kekuatan Pedang Sakti, yang sangat kencang dan membuat mereka berdua pingsan.
"Yasa. Sekar Wati," teriak Markus dan yang lainnya secara bersamaan.
Dewa Tanah yang berada tidak jauh dari tempat Yasa dan Sekar Wati terjatuh, segera memberikan ramuan yang berada di sakunya.
"Semoga kalian bisa segera sadar,"
"Alhamdulillah,kamu sudah sadar yas?" Dewa Tanah bersyukur melihat Yasa cepat sadar. Akan tetapi Sekar Wati yang lebih lama terkena kekuatan Pedang Sakti, membuat Sekar Wati belum sadar dari pingsannya.
"Kamu menggangguku saja," geram Rimba kepada Riska. Kini Riska yang terancam nyawanya oleh Rimba. Yasa yang melihat itu segera pergi menghampiri Rimba kembali.
"Yas, kekuatan energi kamu belum pulih." Malik mencegah Yasa yang akan pergi menyelamatkan Riska. Yasa menghiraukan ucapan Malik yang mencegahnya, ia tetap pergi menghampiri Rimba.
"Aku tidak akan membiarkan kamu bisa menguasai dunia ini. Kejahatan tidak akan menang selamanya," ucap Yasa penuh rasa percaya diri. Sehingga membuat kekuatan energi positif dalam tubuh Yasa berhasil keluar, energi positif dalam tubuh Yasa mengeluarkan cahaya kuning.
"Apakah aku berhasil mengeluarkan energi positif dalam tubuhku?" Yasa yang merasakan kekuatan energinya bertambah, dan melihat cahaya kuning di sekitar tubuhnya.
"Ayah aku berhasil," gumam Yasa yang mengingat ucapan ayahnya saat berada di alam bawah sadarnya.
Kekuatan energi positif dalam diri Yasa. Membuat suasana di Padepokan Black yang gelap gulita, menjadi terang dan sinar matahari keluar menyengat Raja iblis dan pasukannya, yang berada di dalam Padepokan Black.
"Aaaaaaaaah," suara teriakan Raja iblis dan pasukannya, yang terserap oleh sinar matahari berkat kekuatan energi positif dalam diri Yasa.
Mereka semua yang melihat kekuatan energi positif dalam diri Yasa, tercengang kaget dan tidak percaya.
"Itu Yasa berhasil mengeluarkan energi positif dalam tubuhnya," lirih Dewa Api.
"Iya,", sahut Dewa Air.
"Mahesa Mahendra, pasti kamu bangga kepada putramu. Karena dia telah berhasil mengeluarkan energi positif dalam dirinya," gumam Markus dalam hatinya.
Sedangkan Rimba yang melihat Raja iblis dan pasukannya, yang telah hilang di serap oleh sinar matahari. Membuat Rimba geram, ia pun melemparkan Riska ke sembarang arah. Dan mengarahkan Pedang Sakti ke arah Yasa, akan tetapi kekuatan Pedang Sakti tidak bisa menembus kekuatan energi positif yang berada di dalam diri Yasa.
"Kali ini kamu yang akan mati, lihatlah! Raja iblis dan pasukannya sudah menghilang. Kamu tidak ada lagi yang membantu," ucap Yasa.
"Aku tidak takut! Karena aku sudah berhasil mengaktifkan Pedang Sakti, kamu dan kalian semuanya yang akan mati di tanganku." Rimba menunjuk Yasa dan Markus serta Para Dewa dan yang lainnya.
Yasa yang sudah berhasil mengeluarkan kekuatan energi positif dalam tubuhnya, segera mengarahkan pedangnya ke arah Rimba. Meski Yasa menggunakan pedang biasa, tetapi kekuatan energi positif dalam dirinya. Membuat pedang biasa itu menjadi luar biasa, sehingga Yasa dengan mudahnya mengalahkan Rimba dan murid-muridnya serta murid Padepokan Ular Naga.
Rimba dan murid-muridnya kini sudah mati di tangan Yasa, dengan menggunakan kekuatan energi positif dalam diri Yasa.
"Ayah, aku berhasil mengambil Pedang Sakti milikmu yah," batin Yasa yang penuh haru. Karena ia berhasil mengambil Pedang Sakti dari tangan Rimba, dan Yasa juga berhasil mengalahkan Rimba dan murid-muridnya.
Keberhasilan Yasa yang bisa mengalahkan Rimba dan murid-muridnya, membuat Riska yang berada di dekat Yasa mencium pipi Yasa. "Kamu hebat Yas,"
Yasa yang mendapatkan ciuman dari Riska merasa kaget, dan mengusap pipinya yang telah di cium oleh Riska.
"Riska, apakah kamu mencintaiku?" tanya Yasa sambil memegang tangan Riska.
Riska menjawab pertanyaan dari Yasa dengan menganggukkan kepalanya, sambil memberikan sebuah senyuman manis.
"Apakah itu artinya kamu mencintaiku?" Yasa kembali bertanya lagi kepada Riska. Untuk memastikan kebenarannya, kalau Riska juga mencintainya.
"Iya Yas," jawab Riska dengan pipi yang merah merona. Karena pernyataan cinta Yasa di dengar oleh Sekar Wati dan Markus serta yang lainnya.
Mereka semua yang mendengar itu bersorak gembira. Karena Yasa selain berhasil merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba dan mengalahkannya, kini Yasa juga mendapatkan cinta sejatinya bersama dengan Riska.
__ADS_1
*Tamat*
JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH, TEMPAT KEJADIAN ATAUPUN CERITA, ITU ADALAH KEBETULAN SEMATA DAN TIDAK ADA UNSUR KESENGAJAAN