
Panglima Perang yang terlebih dahulu datang ke Padepokan Black, tidak mau bertemu dengan Rimba ketua Padepokan Black, ia memilih menghindar, karena tidak sanggup mengatakan kekalahan ini kepada ketua Rimba.
"Lebih baik aku jangan dulu menghadap ketua Rimba. Biarkan saja kelima muridnya, yang terlebih dahulu mengatakan semuanya," lirih Panglima Perang, yang berada di tempat persembunyiannya.
Tidak lama kemudian, kelima murid Padepokan Black datang menghadap ketua Rimba, untuk memberikan informasi kekalahan ini.
"Bagaimana? Apakah kalian semua, berhasil mengalahkan orang-orang, yang ingin mengambil Pedang Sakti milikku?" tanya Rimba antusias.
"Mohon maaf Ketua Rimba, orang yang kita hadapi ternyata tidak mudah untuk di kalahkan," sahut salah satu dari kelima murid Padepokan Black.
" Apa...? Kalian semua ini sudah aku latih dengan baik, mengalahkan seorang lelaki dan wanita saja kalian tidak bisa!" ucap Rimba berteriak marah, karena ia tidak bisa menerima kekalahan, Rimba pun melakukan ilmu sihir cengkraman maut, kepada kelima muridnya yang gagal melakukan perintahnya.
" Mo...moh...on, maafkan kami ke...ketua RI...mba," kelima murid Padepokan Black merintih menahan rasa sakit. Karena mereka semua terkena ilmu sihir cengkraman maut, yang sangat menyakitkan.
Setelah merasa cukup puas memberikan pelajaran, kepada kelima muridnya yang gagal. Rimba menghentikan ilmu sihir cengkraman mautnya.
"Ini hukuman untuk kegagalan kalian semua!" bentak Rimba sambil menatap tajam ke arah kelima muridnya.
"Iya ketua Rimba. Tapi tolong maafkan kesalahan kami, yang menganggap enteng mereka semua," ucap salah satu murid Padepokan Black, sambil menahan rasa sakti, akibat terkena ilmu sihir cengkraman maut.
"Bukannya kamu bilang mereka hanya berdua saja? Tapi kenapa barusan kamu bilang menganggap enteng semuanya? Jelaskan." Rimba yang sudah tersulut emosi, membentak kelima muridnya yang gagal.
"Ternyata mereka tidak berdua saja Ketua Rimba. Tapi ada beberapa temannya, yang datang membantu mengalahkan kami," tutur murid Padepokan Black.
"Lalu Panglima Perang kemana? Kenapa ia tidak datang bersama kalian semua?" Rimba menanyakan Panglima Perang kepada kelima muridnya.
Murid-murid padepokan black saling lirik, dan menyikut lengan teman-temannya, karena tidak ada yang berani menjawab pertanyaan dari Rimba.
"Kenapa kalian semua diam? Tidak ada yang menjawab pertanyaan ku?" teriak Rimba marah.
" Ma...maafkan kami, ketua Rimba. Ka...kami pergi meninggalkannya. Karena Pa...panglima Pe...perang, ma...sih melawan orang-orang itu, ketua Ri...mba," jawab salah satu dari kelima murid Padepokan Black, yang gugup dan takut mendapatkan hukuman lagi. Karena mereka berlima pergi meninggalkan Panglima Perang, yang masih bertarung seorang diri.
"Kalau begitu? Jika kalian semua, melihat Panglima Perang, suruh datang menghadap ku!" perintah Rimba kepada kelima muridnya,
"Baik ketua Rimba," sahutnya, sambil menundukkan kepalanya.
"Sudah sana pergi, temui Tabib untuk mengobati luka kalian semua." Rimba menyuruh kelima muridnya, pergi menemui Tabib Padepokan Black. Untuk mengobati luka mereka semuanya.
__ADS_1
"Luka bertarung melawan orang-orang itu tidak seberapa, di bandingkan dengan hukuman yang mendapatkan ilmu sihir cengkraman maut. Sangat sakti sekali, sampai tulang-tulang ku ini seperti mau remuk saja," gerutunya pelan. Karena kesal mendapatkan hukuman dari Rimba ketua Padepokan Black.
"Udah kamu diam saja, takut kedengaran sama ketua Rimba. Nanti kita bakalan mendapatkan hukuman lagi!" sahut teman yang di sebelahnya mengingatkan.
"Iya ketua Rimba, kalau begitu kita semua pamit pergi," murid Padepokan Black, yang mendapatkan perintah dari Rimba ketua Padepokan Black. Langsung pergi meninggalkan Rimba, karena mereka semua akan pergi menemui Tabib Padepokan Black. Untuk mengobati luka mereka semua.
Akan tetapi salah satu dari kelima murid Padepokan Black. Ada yang berdiam seorang diri, di hadapan Rimba sambil menatap kesal ke arah Rimba ketua Padepokan Black.
"Kenapa kamu diam saja? Mau aku kasih hukuman lagi sampai mati?" Rimba menatap tajam ke arah muridnya yang masih ada dihadapannya.
Temannya yang mendengarkan suara dari Rimba. Langsung menengok kebelakang, dan menarik temannya yang berdiam diri di hadapan Rimba. Untuk mengajaknya pergi meninggalkan Rimba ketua Padepokan Black.
Setelah kepergian murid-muridnya. Rimba memikirkan cara, untuk bisa menghadang orang-orang yang mau merebut Pedang Sakti yang sudah menjadi miliknya.
"Sepertinya aku harus meminta bantuan kepada Raja iblis. Tapi sebelum aku pergi menemui Raja iblis, aku ingin bertemu dengan Panglima Perang terlebih dahulu. Karena Panglima Perang, pasti mengetahui siapa orang yang ingin mengambil Pedang Sakti milikku?" lirih Rimba.
Rimba yang terus menunggu ke datangan Panglima Perang, tidak kunjung datang menemuinya. Padahal waktu sudah semakin malam.
"Kemana kau Panglima Perang? Jam sudah menunjukkan tengah malam. Tapi kau belum datang menemui ku. Apa jangan-jangan? Kau sekarang ditahan oleh orang-orang itu?" ucapnya bermonolog pada dirinya sendiri.
Rimba pun segera melakukan panggilan ilmu telepati, memanggil Panglima Perang.
***
Sedangkan Panglima Perang yang sedang tertidur pulas, ditempat persembunyiannya, mendengarkan suara Ketua Rimba yang terus memanggil namanya.
"Aduh! Ketua Rimba malah menghubungi aku, dengan menggunakan ilmu telepati. Pasti ketua Rimba marah besar, atas kegagalan melawan orang-orang yang ingin mengambil Pedang Sakti miliknya." Panglima Perang bingung. Antara menerima panggilan dari Ketua Rimba, atau membiarkan panggilan itu begitu saja.
Akhirnya Panglima Perang memutuskan, untuk menerima panggilan dari Rimba ketua Padepokan Black. Karena jika ia terus-terusan menghindari Rimba, pasti Rimba akan bertambah marah kepadanya.
Panglima Perang pun bangun dari tidurnya, lalu duduk dan memejamkan matanya untuk menerima panggilan dari Ketua Rimba.
"Iya Ketua Rimba," jawabnya pelan.
"Apa? Kamu di tahan oleh orang-orang itu? Sehingga sampai sekarang kamu belum datang menemui ku?" tanya Rimba.
"Ternyata Ketua Rimba mengkhawatirkan aku, bukan ingin memarahiku," gumamnya dalam hati merasa senang.
__ADS_1
"Aku tidak di tahan Ketua Rimba, cuman aku sedang memulihkan kondisi tubuhku yang terluka," sahut Panglima Perang.
"Terus siapa? Orang yang ingin mengambil pedang sakti, yang sudah menjadi milikku?" Rimba sangat penasaran kepada orang, yang mau merebut Pedang Sakti yang sudah menjadi miliknya.
"Mereka semua itu adalah murid Padepokan Macan Putih, dan murid Padepokan Singa Merah Ketua Rimba," tutur panglima perang menjelaskan.
"Kenapa? Kamu bisa kalah melawan mereka semuanya? Bukannya katamu mereka semua mudah untuk dikalahkan!" ucap Rimba marah kepada Panglima Perang.
"Tuh kan benar! Pasti akhirnya, aku di marahin juga oleh Ketua Rimba," gerutunya kesal.
"Mohon maaf ketua Rimba, ternyata mereka tidak selemah yang kita kira karena..." Panglima Perang yang belum selesai berbicara, tidak bisa melanjutkan ucapannya. Karena Rimba tiba-tiba saja, menghentikan panggilan ilmu telepati.
"Pasti Ketua Rimba sangat marah besar? Sampai panggilan ilmu telepati di hentikan." Panglima Perang tidak bisa berbuat apa-apa, ia akan menerima hukuman dari Rimba atas kekalahan ini.
***
Rimba yang merasa sangat marah dan kecewa atas kekalahan itu, menghentikan panggilan ilmu telepati.
"Aku harus meminta bantuan kepada Raja iblis. Untuk menghadang murid Padepokan Macan Putih, dan murid Padepokan Singa Merah. Pasti mereka semua akan berusaha mengambil Pedang Sakti yang sudah menjadi milikku," geram Rimba, ia pun segera melakukan ritual untuk memanggil Raja iblis.
Tidak lama kemudian Raja iblis datang menghampirinya.
"Ada apa kau memanggilku?" tanya Raja iblis kepada Rimba ketua Padepokan Black.
"Tolong bantu aku Raja, untuk menghadang murid Padepokan Macan Putih dan murid Padepokan Singa Merah. Karena mereka semua pasti di suruh oleh Markus, untuk mengambil Pedang Sakti yang sudah menjadi milikku." Rimba memohon bantuan kepada Raja iblis sambil duduk bersimpuh. Agar Raja iblis mau membantunya.
"Baiklah, aku akan membantumu. Terus kapan? Kau akan menguasai dunia ini, dan memperbanyak orang-orang yang akan menjadi pengikut ku? Bukankah Pedang Sakti sekarang sudah menjadi milikmu?" tanya Raja iblis.
"Maaf Raja, aku belum sempat menceritakan tentang Pedang Sakti yang sudah menjadi milikku ini. Karena ternyata Pedang Sakti belum bisa aku aktifkan sepenuhnya. Aku akan mencari tahu cara mengaktifkannya. Setelah mengalahkan murid Padepokan Macan Putih dan murid Padepokan Singa Merah," jelas Rimba.
"Ya sudah. Aku tidak perduli tentang Pedang Sakti itu, yang aku mau kau jangan sampai lupa untuk memberikan aku darah seorang wanita yang masih perawan. Aku tidak mau membantumu secara cuma-cuma," jelas raja iblis.
"Baiklah Raja, aku akan menyuruh murid ku. Untuk mendapatkan darah seorang gadis. Terus apa? Rencana Raja yang akan membantuku, dan mengalahkan mereka semuanya?" tanya Rimba antusias.
"Kamu tenang saja, semua itu sudah aku pikirkan. Kamu hanya tinggal duduk manis saja, dan mendapatkan kabar baik dariku," ucap Raja iblis, dan langsung pergi meninggalkan Rimba.
"Bersiap-siaplah Padepokan Macan Putih dan Padepokan Singa Merah, menghadapi Raja iblis dan pasukannya. Hahaha, aku yakin kalian semua, tidak akan bisa merebut Pedang Sakti yang sudah menjadi milikku," ujar Rimba tersenyum senang. Karena dengan menggunakan bantuan Raja iblis, semuanya pasti bisa di atasi.
__ADS_1