
Firman terbangun dari pingsannya, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat yang Firman rasa, seperti di penginapan Agung Sedayu.
"Ini seperti penginapan Agung Sedayu!" lirihnya.
Robi dan Yudi yang juga baru sadar dari pingsannya, menanyakan pada Firman tentang keberadaan mereka semua.
"Firman, ini kita semua ada di penginapan yang kemarin ya?" tanya Yudi kepada Firman.
"Iya benar kak, kita berada di penginapan Agung Sedayu," sahut Firman yang sangat yakin kalau mereka semua berada di penginapan Agung Sedayu.
Sedangkan Robi segera membangunkan Riska dan Aira, yang tidak jauh dari tempatnya, saat ia terbangun dari pingsannya.
"Riska, Aira bangun." Robi mengerakkan tangan Riska dan Aira secara bergantian.
Riska dan Aira pun bangun dan sudah sadar dari pingsannya.
"Kak, kita semua kenapa bisa ada disini?" tanya Riska.
"Entahlah, kakak juga tidak tahu. Kenapa? Kita semua bisa berada di penginapan ini lagi," sahut Robi yang merasa heran. Karena mereka semua bisa berada di penginapan Agung Sedayu.
"Bukannya kita semua lagi menyerang Rimba ketua Padepokan Black. Apa itu cuman hanya mimpiku saja?" lirih Aira.
"Kita semua memang pergi ke Padepokan Black. Untuk membantu Yasa kak Aira, ini bukan mimpi tapi kenyataan." Firman mencoba menjelaskan kepada Aira, bahwa ini bukan hanya sekedar mimpi, tapi ini memang kenyataannya, kalau mereka semua pergi ke Padepokan Black.
"Oh iya aku ingat! Kita semua mencoba kabur dari Padepokan Black, dengan bantuan dari Harimau yang sangat besar itukan?" ujar Riska yang mengingat kejadian, saat ia dan teman-temannya mencoba pergi dari dalam Padepokan Black.
"Kalau memang benar begitu. Pasti kita semua, bisa berada di sini berkat bantuan dari Harimau itu," timpal Robi yang merasa yakin, kalau mereka semua bisa berada di penginapan ini, berkat pertolongan Harimau yang sangat besar itu.
"Tapi kemana! Perginya Harimau itu? Pasti ini hanya sebuah mimpi saja. Iya kan?" Aira yang merasa yakin. Kalau ia itu sedang bermimpi, saat mereka semua menyerang Padepokan Black.
"Itu Yasa kenapa belum sadar dari pingsannya?" Yudi mengalihkan pertanyaan Aira. Karena melihat Yasa yang masih tergeletak di bawah, dan belum sadar dari pingsannya.
"Yasaaa!" mereka semua segera pergi menghampiri Yasa, yang masih belum sadar dari pingsannya.
"Berarti, ini semua bukan hanya sekedar mimpi. Tapi kita semua memang benar pergi ke Padepokan Black. Untuk pergi membantu Yasa yang pergi seorang diri ke sana?" lirih Aira, saat melihat Yasa terluka dan belum sadar dari pingsannya.
__ADS_1
"Aku dari tadi sudah bilang! Kalau ini semua bukan mimpi kak Aira. Tapi kenyataan yang terjadi," sahut Firman geram dengan pikiran Aira, yang tidak percaya dengan ucapannya.
"Maaf," hanya kata itu yang mampu Aira ucapkan, karena ia tidak percaya dengan ucapan Firman.
"Tenang Firman." Yudi mencoba menenangkan Firman yang tersulut emosi, karena Aira tidak percaya dengan ucapannya.
"Kenapa? Aku merasa kejadian ini seperti mimpi? Bukan kenyataan yang sebenarnya telah terjadi," gumam Aira dalam hatinya.
"Sebaiknya kamu coba hubungi Ketua Markus, dengan menggunakan ilmu telepati. Untuk segera mendatangkan Tabib Padepokan Macan Putih. Agar Yasa bisa cepat sadar dari pingsannya," titah Robi kepada Firman.
"Iya kak," sahutnya.
Firman langsung melakukan ilmu telepati, untuk meminta bantuan kepada Ketua Markus.
"Aku tidak yakin! Kalau Firman bisa menggunakan ilmu telepati, untuk memanggil Ketua Markus. Waktu di dalam Padepokan Black saja. Firman salah menggunakan jurus ilmu sihir gumpalan awan, yang keluar malah daun yang berterbangan," ucap Riska yang tidak percaya dengan kekuatan yang Firman kuasai.
"Terus siapa yang akan menghubungi Ketua Markus? Apa kalian bisa menggunakan ilmu telepati?" tanya Firman yang tersulut amarah, akibat ucapan Riska barusan.
"Ya sudah, kita suruh Malik saja. Pasti ia bisa memanggil Ketua Markus," jawab Riska.
"Iya benar. Kemana perginya Malik yah? Waktu kita semua masuk ke dalam Padepokan Black, aku juga tidak melihatnya," timpal Yudi yang merasa aneh dengan semua kejadian yang mereka semua alami.
"Aku juga sama, tidak melihat Malik di dalam Padepokan Black. Bahkan aku menanyakan keberadaan Malik kepada kalian semua?" Firman juga merasakan kehilangan Malik, sejak mereka semua masuk ke dalam Padepokan Black.
"Sudah-sudah. Jangan dulu berdebat mencari Malik, kita harus segera memanggil Tabib. Untuk mengobati Yasa." Robi menghentikan perdebatan teman-temannya, yang menanyakan keberadaan Malik.
"Tapi kak Robi. Aku merasa tidak yakin, dengan kekuatan ilmu menghilang yang Malik kuasai. Dan aku juga sangat penasaran sekali! Sejak kapan Malik belajar ilmu menghilang?" Firman merasa penasaran, dengan ilmu menghilang yang Malik kuasai.
"Mungkin Malik sudah belajar ilmu itu, tanpa kamu ketahui. Secara gitu yah! Kamu itu kan, selalu gagal dalam menggunakan ilmu sihir," tutur Riska yang membela Malik.
Firman sangat emosi mendengarkan penuturan Riska, ia pun segera pergi menghampiri Riska. Untuk memberikannya pelajaran.
"Jaga mulut mulutmu itu!" geram Firman kepada Riska. Langkah Firman yang mau pergi menghampiri Riska, bisa di cegah oleh Yudi dan Robi serta Aira.
"Firman, jangan tersulut emosi! Kita harus segera mengobati Yasa. Setelah itu, kita baru pergi mencari keberadaan Malik," ucap Aira menenangkan Firman yang marah pada Riska.
__ADS_1
"Riska, kakak mohon. Kamu diam dulu, jangan terus memancing emosi Firman. Dan untukmu Firman," tunjuk Robi pada Firman.
"Lebih baik, kamu segera mengunakan ilmu telepati. Untuk memanggil Ketua Markus, dan menyuruhnya datang membawa Tabib Padepokan Macan Putih. Agar Yasa bisa segera di obati," lanjut Robi.
"Baiklah," sahut Firman, ia juga mengkhawatirkan keadaan Yasa yang belum sadar dari pingsannya.
Firman segera memanggil Markus Ketua Padepokan Macan Putih, dengan menggunakan ilmu telepati.
"Guru ketua," ucap Firman memanggil Markus ketua Padepokan Macan Putih.
____________
Sedangkan di Padepokan Macan Putih. Markus yang sedang membaca Mantra sihir, yang di dapatkan dari Guru Gunung Marajeta. Untuk mengalahkan Padepokan Black serta Raja iblis dan Pasukannya.
Markus yang tengah fokus membaca Mantra itu, mendengarkan suara panggilan ilmu telepati dari Firman.
"Guru Ketua," panggil Firman beberapa kali, memanggil nama Markus.
"Ada apa? Firman memanggilku? Apa mereka semua sudah siap untuk pergi menyerang Padepokan Black. Dan sudah menyusun rencana, dalam mengalahkan Rimba ketua Padepokan Black, serta Raja iblis dan pasukannya," lirih Markus, ia pun segera menerima panggilan ilmu telepati dari Firman.
"Ada apa Firman?" tanya Markus yang sudah menerima panggilan dari Firman.
"Guru Ketua. Aku meminta bantuan Tabib Padepokan Macan Putih. Untuk datang ke penginapan Agung Sedayu agar..." ucap Firman terhenti, karena di sela oleh Markus.
"Kalian semua. Sebentar lagi akan sampai ke Padepokan Black, apa kalian mau ramuan dari Tabib? Untuk menambah stamina energi dan kekuatan kalian semua, dalam mengalahkan Rimba ketua Padepokan Black, serta Raja iblis dan pasukannya. Aku akan segera pergi ke sana membawa Tabib," tutur Markus yang menyela ucapan Firman, yang belum selesai bicara.
"Kami semua sudah pergi menyerang Padepokan Black Guru Ketua," sahut Firman.
"Apa?" Markus kaget dengan ucapan Firman, yang mengatakan kalau mereka semua sudah pergi menyerang Padepokan Black, tanpa memberitahu rencana mereka semua kepadanya.
"Kenapa? Kalian semua tidak memberitahu aku terlebih dahulu! Sebelum menyerang Padepokan Black," geram Markus. Karena ia tidak di beritahu terlebih dahulu, saat Yasa dan teman-temannya pergi menyerang Padepokan Black.
"Sebaiknya Guru Ketua segera datang ke sini, dan membawa Tabib Padepokan Macan Putih. Nanti akan aku ceritakan semuanya, setelah Guru Ketua dan Tabib datang ke sini," tutur Firman.
"Baiklah. Aku dan Tabib akan segera pergi ke sana." Markus pun menghentikan panggilan ilmu telepati, dan segera pergi menemui Tabib Padepokan Macan Putih. Untuk mengajaknya pergi ke penginapan Agung Sedayu.
__ADS_1