
Tabib dan Firman serta teman-temannya, sudah sampai di Padepokan Macan Putih dengan menggunakan ilmu menghilang.
"Firman, aku akan pergi meracik Bunga Red
Sebaiknya kamu dan teman-temanmu saja yang pergi menghadap ketua Markus," ucap Tabib.
"Baiklah Tabib," sahut Firman.
Tabib pun bergegas pergi untuk meracik Bunga Red. Agar bisa memulihkan kekuatan energi Yasa dan teman-temannya.
Sedangkan Firman bersama murid Padepokan Macan Putih temannya. Segera pergi menghampiri Markus ketua Padepokan Macan Putih. Untuk memberitahukan, tentang keberhasilan dalam menemukan keberadaan Bunga Red.
Sesampainya di dalam ruangan Markus. Mereka semua memberi salam hormat, kepada Markus ketua Padepokan Macan Putih.
"Salam hormat kepada Guru Ketua," ucap Firman berbarengan, dengan murid Padepokan Macan Putih temannya.
Markus yang sedang melamun memikirkan tentang keberadaan Malik muridnya, yang belum di ketahui keberadaannya.
Dan Markus juga ingin menemukan keberadaan Sekar Wati ibunya Yasa. Untuk mengetahui cara mengaktifkan Pedang Sakti.
Sampai ia tidak menyadari kedatangan Firman, yang pergi menghampirinya, bersama dengan murid Padepokan Macan Putih temannya.
"Guru Ketua." Firman sekali lagi memanggil nama Markus, karena Markus yang tidak menyadari kedatangan Firman dan teman-temannya.
Markus yang sedang melamun pun tersadar dari lamunannya, karena Firman terus memanggil namanya.
"Ada apa?" lirih Markus, dan kemudian ia melihat Firman datang bersama murid Padepokan Macan Putih, yang ia tugaskan bersama Tabib. Untuk mencari keberadaan Bunga Red. Agar bisa memulihkan kekuatan energi Yasa dan teman-temannya.
"Kalian semua sudah kembali ke sini! Apakah? Kalian semua berhasil menemukan keberadaan Bunga Red?" tanya Markus antusias.
"Iya benar Guru Ketua. Kami kesini untuk menyampaikan, tentang keberhasilan dalam menemukan keberadaan Bunga Red. Dan kini Bunga Red sedang di racik oleh Tabib," tutur salah satu dari murid Padepokan Macan Putih.
Markus tersenyum senang. Karena mendengar kabar tentang keberhasilan, dalam menemukan keberadaan Bunga Red.
"Kalau begitu aku akan pergi menemui Tabib." Markus langsung bangun dari tempat duduknya, dan pergi ke tempat Tabib Padepokan Macan Putih. Meninggalkan Firman bersama murid Padepokan Macan Putih di ruangan Markus.
Firman dan teman-temannya, yang melihat Markus akan pergi ke tempat Tabib Padepokan Macan Putih, mereka semua pun memutuskan untuk pergi dari ruangan Markus.
_______
Didalam kamar.
__ADS_1
Yasa yang masih terbaring lemah, karena terkena Mantra Kegelapan saat bertarung melawan Rimba. Yang di keluarkan oleh Raja iblis. Dan juga kekuatan energi Yasa dan teman-temannya, yang di serap oleh Raja iblis, dengan menggunakan ilmu sihir Pemanggil Roh.
Ilmu sihir Pemanggil Roh yang gagal mengambil roh Yasa dan teman-temannya, tapi berhasil mengambil kekuatan energi Yasa dan teman-temannya.
Membuat kondisi Yasa yang terkena Mantra Kegelapan, dan ilmu sihir Pemanggil Roh yang mengambil kekuatan energinya. Akan lama dalam proses penyembuhannya.
Disaat kesendiriannya. Yasa termenung sedih meratapi nasibnya, dan sering bermonolog pada dirinya sendiri.
"Sampai kapan? Kondisiku seperti ini? Aku ingin segera sembuh, dan bisa merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba," geram Yasa. Jika mengingat kejadian saat ia kalah dalam melawan Rimba. Yasa pun menyesali keputusannya, yang berani pergi seorang diri, dalam mengalahkan Rimba dan murid Padepokan Black, tanpa persiapan terlebih dahulu.
"Aku juga ingin mencari keberadaan ibuku, dan ingin memastikan. Apa yang di katakan oleh ayah saat itu benar adanya," lirih Yasa yang mengingat kejadian. Saat ia bertemu dengan Mahesa Mahendra ayahnya, di alam bawah sadarnya.
"Tapi kalau kondisi aku seperti ini terus, bagaimana bisa aku merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba. Dan bisa mencari keberadaan ibuku," lirih Yasa sambil termenung sedih.
Tok-tok suara ketukan pintu.
Yasa yang mendengar suara ketukan pintu, segera menghapus air matanya. Karena ia tidak mau teman-temannya sampai mengetahui, kalau dirinya bisa sesedih ini dalam kesendiriannya.
Robi dan Riska langsung masuk ke dalam kamar Yasa, sambil membawa makanan untuknya. Dan menemani Yasa, agar ia tidak merasakan kesepian.
"Hay Yas, gimana kondisi mu saat ini?" sapa Robi yang sudah berada di dekat Yasa.
"Yah masih seperti ini kak," sahut Yasa dengan raut wajah sedih, karena ia tidak bisa menutupi kesedihannya. Meski ia sudah mencoba, agar tidak sampai terlihat sedih di depan teman-temannya. Yasa benar-benar sangat sedih. Karena kekuatan energinya menghilang, dan luka Yasa yang terkena Mantra Kegelapan belum sembuh.
Riska yang melihat Yasa bersedih.
"Jika kamu sudah sembuh, kita semua akan pergi menyerang Padepokan Black. Untuk mengambil Pedang Sakti ciptaan ayahmu," lanjut Riska berusaha menyemangati Yasa. Agar Yasa bisa semangat lagi, dalam mengalahkan Rimba dan murid-muridnya. Serta Raja iblis dan Pasukannya.
"Kamu harus berpikir positif, dan yakin bisa cepat sembuh Yas." Robi juga memberikan semangat kepada Yasa.
Yasa merasa bersyukur, karena selalu di temani oleh Riska, Robi dan Yudi serta Aira. Di saat kondisi Yasa yang belum pulih.
Karena Firman sahabatnya sedang pergi bersama Tabib. Untuk mencari keberadaan Bunga Red, agar kekuatan energi Yasa dan teman-temannya bisa pulih kembali.
Sedangkan Malik sahabatnya tidak tahu keberadaannya, semenjak mereka semua pergi ke Padepokan Black.
"Yasa. Sekarang waktunya kamu makan," ucap Riska sambil memberikan makanan dan minuman ke arah Yasa.
"Terima kasih," jawab Yasa sambil tersenyum.
Yasa pun makan dengan lahapnya, karena ia ingin segera cepat sembuh. Agar bisa merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba, dan bisa mengalahkan Rimba dan murid-muridnya, serta Raja iblis dan Pasukannya.
__ADS_1
"Meong," suara kucing Kay yang masuk ke dalam kamar Yasa.
Yasa yang sedang makan, melihat kedatangan kucing Kay menjadi tersenyum senang. Karena saat kondisinya seperti ini, ia belum bertemu dengan kucing peliharaannya.
Kucing Kay yang merindukan Yasa, bergegas pergi menghampiri Yasa dan duduk di pangkuannya.
"Hay Kay, kamu kemana saja sih?" ucap Yasa saat kucing Kay sudah berada di pangkuannya. Yasa yang sudah selesai makan, segera mengambil kucing Kay dan mengelus bulu lembut kucing Kay.
"Meong, meong." kucing Kay yang senang diperlakukan seperti itu oleh Yasa terus mengeong.
"Kay, kamu merindukan aku ya?" gemas Yasa dengan tingkah kucing Kay.
"Kamu selama ini kemana saja sih Kay?" tanya Yasa lagi kepada kucing Kay. Sambil mengangkat tubuh kucing Kay, dan menatap matanya.
"Eeeh iya yah Yas! Si Kay selama kamu sakit baru kali ini datang," ujar Riska yang baru sadar dengan hilangnya kucing Kay.
"Emangnya, selama aku sakit. Kucing Kay menghilang?" tanya Yasa yang ingin memastikan kebenarannya.
Robi dan Riska saling lirik, dan kemudian mereka berdua menjawab pertanyaan dari Yasa, dengan cara mengagukan kepalanya.
"Aku kira, kalian yang melarang kucing Kay berada di dekatku. Ternyata ia hilang?" lirih Yasa sedih.
"Meong," kucing Kay yang melihat Yasa sedih akan kehilangannya. Mengelus tangan Yasa dengan kepalanya, yang ia gerakkan ke arah tangan Yasa.
"Maaf Yas. Aku dan kak Robi juga baru sadar, kalau selama kamu sakit tidak melihat keberadaan kucing Kay," ucap Riska merasa bersalah. Karena tidak menjaga kucing peliharaan Yasa dengan baik, saat kondisi Yasa sedang sakit.
"Tidak apa-apa kok Ris, itu bukan salah kamu dan juga kak Robi." Yasa yang baru ingat tidak menyalahkan Riska dan Robi.
"Aku baru ingat, kalau ternyata saat kita semua menginap di penginapan Agung Sedayu. Aku menitipkan kucing Kay di tempat penitipan hewan, yang berada di dalam penginapan Agung Sedayu.
Kemungkinan kucing Kay baru saja datang ke sini. Karena ia mencari keberadaanku," lanjut Yasa menjelaskan. Karena Yasa yang baru ingat dengan keberadaan kucing Kay.
"Oh begitu," sahut
Riska, ia dan Robi menghembuskan nafas lega. Karena mendengarkan penjelasan dari Yasa, tentang keberadaan kucing Kay yang tersesat mencarinya. Bukan karena Riska dan Robi, yang tidak menjaga kucing peliharaan Yasa.
"Yas, boleh aku pegang kucing Kay?" tanya Riska.
"Iya boleh." Yasa pun memberikan kucing Kay kepada Riska.
Saat Riska sedang mengambil kucing Kay dari tangan Yasa, mereka semua mendengarkan suara pintu yang terbuka.
__ADS_1
"Hay sahabat baikku," sapa Firman yang baru saja masuk ke dalam kamar Yasa, bersama dengan Aira dan Yudi.
"Firman!" lirih Yasa dan Riska, serta Robi secara bersamaan. Karena mereka bertiga kaget melihat kedatangan Firman.