
Yasa yang belum sadar dari pingsannya, karena terluka sangat parah, sebab terjatuh hingga sampai beberapa kali. Apalagi Yasa terkena Pedang Sakti yang Rimba gunakan, serta Mantra sihir Pemanggil Roh yang di keluarkan oleh Raja iblis. Yasa juga terluka saat dalam melawan murid Padepokan Black dan Pasukan Raja iblis. Dan kini sekarang Yasa berada di alam bawah sadarnya
"Ada di mana aku ini?" lirihnya, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat ini.
Yasa yang melihat pemandangan yang berada disini, sangatlah berbeda dengan tempat yang pernah ia lihat sebelumnya.
"Aku harus segera pergi dari sini. Untuk merebut Pedang Sakti ciptaan Ayahku, dan membantu teman-temanku yang sedang melawan Rimba dan murid-muridnya," ucap Yasa menyemangati dirinya sendiri.
Yasa pergi mencari jalan keluar. Agar ia bisa cepat keluar dari tempat ini. Untuk segera membantu teman-temannya yang sedang bertarung melawan Rimba dan murid Padepokan Black, serta Raja iblis dan Pasukannya.
"Huuuh, capek sekali." Yasa mengelap keringatnya dengan menggunakan tangannya.
"Perasaan! Aku dari tadi hanya berputar-putar saja, tidak menemukan jalan keluar dari sini?" ujar Yasa sambil terus memperhatikan tempat yang sudah ia lalui.
"Ada di mana sih aku ini?" gerutunya kesal, karena Yasa tidak menemukan jalan keluar. Meski ia sudah berjalan cukup jauh, tapi ia masih berada di tempat ini terus.
"Sebaiknya! Aku menggunakan jurus ilmu terbang saja. Agar aku tidak kelelahan seperti ini," lirih Yasa.
Yasa pun segera menggunakan jurus ilmu terbang. Tapi saat pertama kali Yasa menggunakan jurus ilmu terbang, ia malah gagal mengunakannya.
"kenapa yah? Aku seperti kesulitan sekali, saat menggunakan jurus ilmu terbang ini, biasanya aku tidak pernah gagal menggunakan jurus ilmu terbang," ucap Yasa heran.
"Aku harus coba lagi, pasti kali ini aku bisa menggunakan jurus ilmu terbang." Yasa berusaha mencoba lagi menggunakan jurus ilmu terbang.
Meski Yasa kesulitan dalam menggunakan jurus ilmu terbang, tidak membuatnya putus asa, ia malah terus berusaha untuk bisa berhasil menggunakan jurus ilmu terbang. Hingga sampai beberapa kali Yasa mengeluarkan jurus ilmu terbang, tetap tidak bisa ia gunakan.
"Ini kenapa sih? Kok aku seperti tidak memiliki kekuatan lagi?" ucapnya bingung, karena kekuatan energinya menghilang.
"Kalau seperti ini, mana bisa aku mengalahkan Rimba dan murid-muridnya, serta Raja iblis dan pasukannya. Apalagi sampai bisa merebut Pedang Sakti ciptaan Ayahku, itu sudah sangat tidak mungkin." Yasa terjatuh dan duduk ke tanah sambil menangis.
"Sekarang saja, aku tidak tahu di mana aku berada saat ini." Yasa benar-benar frustasi, atas kehilangan kekuatan energinya.
Dewa Mimpi yang masuk ke dalam alam bawah sadar Yasa, ingin membantu Yasa agar tidak semakin terpuruk sedih.
"Aku harus membuat Yasa tidak sedih seperti ini, supaya Yasa tetap semangat dalam mengalahkan Rimba dan murid-muridnya, serta Raja iblis dan pasukannya. Meski kini kekuatan energinya menghilang, pasti Para Dewa akan berusaha untuk mengambil Bunga Red. Agar kekuatan energi Yasa dan teman-temannya, bisa kembali seperti semula," ucap Dewa Mimpi.
__ADS_1
Disaat kesendiriannya, Yasa yang sedang terpuruk sedih meratapi nasibnya.
Tiba-tiba saja ada dua cahaya putih, yang datang menghampiri Yasa, dan berubah menjadi ayah dan ibunya.
"Yasa Mahendra anakku," panggil Mahesa Mahendra.
Yasa yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya, langsung menoleh ke arah orang yang sedang memanggil namanya.
"Ayah, ibu!" ucap Yasa senang. Karena ia bisa melihat kedua orang tuanya, yang selama ini ia rindukan. Tidak menunggu waktu yang sangat lama. Yasa segera pergi menemui kedua orang tuanya sambil berlari.
Yasa memeluk kedua orang tuanya, dengan sangat erat dan meluapkan segala rasa kerinduannya. Akan kehadiran ayah dan ibunya, yang sudah lama tidak bisa ia jumpai, karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.
"Apakah benar ini ayah dan ibu?" tanya Yasa yang sudah melonggarkan pelukannya, dan menatap wajah kedua orang tuanya.
"Iya Yasa, ini ayah dan ibumu," sahut Mahesa Mahendra ayahnya Yasa.
Sedangkan Sekar Wati ibunya Yasa, hanya tersenyum senang. Karena bisa melihat anaknya.
Mahesa Mahendra yang melihat Yasa sedih, bukan karena terharu bisa bertemu dengan dirinya dan istrinya. Tapi seperti ada hal lain yang belum ia ketahui.
"Aku rasa, sedihnya Yasa bukan karena terharu bisa bertemu denganku dan ibunya saja. Tapi seperti ada hal lain," gumam Mahesa Mahendra dalam hatinya.
"Aku terharu ayah, bisa bertemu dengan ayah dan ibu." Yasa tidak berani menceritakan, tentang kekuatan energinya yang sudah menghilang.
"Tapi bukan hanya itu saja, yang kamu rasakan. Ayo coba ceritakan pada ayah?" Mahesa Mahendra meminta Yasa, untuk menceritakan permasalahan yang sedang di alami oleh Yasa.
"A...ku ga...gal, merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba yah," jawab Yasa terbata-bata sambil mengusap air matanya.
"Dan sekarang ini, kekuatan energi aku juga sudah menghilang. Aku tidak bisa merebut Pedang Sakti ciptaan ayah lagi. Bahkan aku juga tidak bisa mengalahkan Rimba dan murid-muridnya, serta Raja iblis dan pasukannya. Kalau kekuatan energiku tidak ada," tutur Yasa sedih menceritakan semuanya.
"Mahesa Mahendra, bilang pada anakmu. Kalau kekuatan energinya, sebentar lagi akan segera kembali. Karena Para Dewa sedang berusaha mengambil Bunga Red, yang berada di perdalam Hutan Lembah Lereng," bisik Dewa Mimpi di telinga Mahesa Mahendra, tanpa Yasa ketahui. Karena mereka semua bisa bertemu di alam bawah sadar Yasa, berkat bantuan dari Dewa Mimpi.
Mahesa Mahendra hanya menganggukkan kepalanya, ke arah Dewa Mimpi. Karena Yasa tidak dapat melihat Dewa Mimpi.
Mahesa Mahendra mencoba menenangkan Yasa, yang sedang bersedih karena kehilangan kekuatan energinya.
__ADS_1
"Yasa putraku, kekuatan energi memang sangatlah penting. Untuk bisa mengalahkan Rimba dan murid-muridnya, serta Raja iblis dan pasukannya. Ayah yakin kekuatan energi kamu pasti akan kembali lagi, asalkan kamu belajar dengan sungguh-sungguh," ucap Mahesa Mahendra yang memberikan semangat kepada Yasa.
"Baik ayah. Yasa akan berusaha belajar lagi dengan bersungguh-sungguh. Agar kekuatan energi Yasa bisa kembali lagi seperti semula. Yasa juga akan berusaha, untuk dapat merebut kembali Pedang Sakti ciptaan ayah, dan bisa mengalahkan Rimba dan murid-muridnya, serta Raja iblis dan pasukannya," sahutnya yang mendengarkan dengan baik ucapan dari ayahnya. Sehingga membuatnya merasa percaya diri. Untuk bisa mengalahkan Rimba dan murid-muridnya, serta Raja iblis dan pasukannya.
"Yasa, ada sumber kekuatan energi yang harus kamu ketahui! Yaitu kekuatan energi positif, yang berada di dalam diri kamu itu sangatlah kuat. Bahkan bisa mengalahkan Rimba dan Raja iblis, serta semua orang yang sudah menjadi pengikutnya," tutur Mahesa Mahendra menjelaskan, supaya Yasa bisa mengalahkan Rimba dan murid-muridnya, serta Raja iblis dan pasukannya. Agar Pedang Sakti ciptaan Mahesa Mahendra, berada di tangan orang yang tepat.
"Apakah ada kekuatan energi positif dalam diriku yah?" tanya Yasa yang sudah tidak bersedih lagi. Karena mendengarkan penjelasan dari Mahesa Mahendra.
"Tentu ada, hanya saja kamu tidak mengeluarkan energi positif itu. Saat kamu sedang melawan Rimba," jawab Mahesa Mahendra dengan memberikan senyuman penyemangat.
"Bagaimana ayah, cara mengeluarkan energi positif dalam diriku?" Yasa ingin tahu cara mengaktifkan energi positif dalam dirinya.
"Energi positif itu akan keluar dengan sendirinya. Asalkan kamu punya keyakinan, dan kesungguhan untuk mengeluarkannya," jelas Mahesa Mahendra.
"Aku pastikan, suatu saat nanti. Jika aku bertarung melawan Rimba dan murid-muridnya, serta Raja iblis dan pasukannya. Aku akan mengeluarkan energi positif yang ada dalam diriku. Agar aku bisa mengalahkan mereka semua," gumam Yasa dalam hatinya, dan memberi semangat pada dirinya sendiri.
Yasa heran melihat ibunya, hanya tersenyum melihatnya, tanpa bertanya kepada dirinya.
"Ibu kenapa sih! Ibu hanya diam saja?" tanya Yasa pada ibunya Sekar Wati.
"Yasa, itu sebenarnya hanya sebuah khayalan kamu saja, yang merindukan ibumu," jawab Mahesa Mahendra.
"Maksud ayah bagaimana?" Yasa bingung dan tidak mengerti maksud ucapan ayahnya.
Sekar Wati yang berada di antara Yasa dan Mahesa Mahendra, langsung pergi meninggalkan mereka berdua, dan menghilang jauh dari pandangan Yasa dan Mahesa Mahendra.
"Ibu....." teriak Yasa kencang. Karena Yasa melihat ibunya Sekar Wati, akan pergi menghilang dan meninggalkannya.
"Yasa. Jika kamu merindukan ibumu, pergilah cari ibumu sampai ketemu," ucap Mahesa Mahendra.
Yasa mengerutkan keningnya. Karena yang ia tahu, kalau ayah dan ibunya sudah meninggal dunia.
"Maksud ayah! Ibu masih hidup?" tanya Yasa kepada ayahnya, tapi sayang pertanyaan Yasa tidak langsung di jawab oleh Mahesa Mahendra, karena waktu ia bertemu dengan Yasa sudah habis.
"Ayo kita pergi, sekarang." Dewa Mimpi mengajak Mahesa Mahendra pergi meninggalkan Yasa. Karena waktu bertemu mereka berdua sudah habis.
__ADS_1
Meski Mahesa Mahendra dibawa pergi oleh Dewa Mimpi. Untuk pergi meninggalkan Yasa, yang berada di alam bawah sadarnya. Mahesa Mahendra sebelum pergi meninggalkan Yasa, ia berusaha untuk memberitahukan kepada Yasa, bahwa ibunya masih hidup.
"Iya Yasa, carilah ibumu," teriak Mahesa Mahendra sangat kencang, berharap Yasa dapat mendengarkan suara teriakannya, dan Yasa bisa pergi mencari keberadaan ibunya.