MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 28 Curiga


__ADS_3

Markus dan Tabib segera pergi meninggalkan Padepokan Macan Putih, dengan menggunakan ilmu menghilang. Agar mereka berdua bisa segera sampai menemui murid-muridnya, yang berada di penginapan Agung Sedayu.


Sesampainya di penginapan Agung Sedayu.


Markus dan Tabib melihat Firman dan yang lainnya, sedang berkumpul di depan penginapan Agung Sedayu.


"Kalian semua sedang apa disini?" tanya Markus yang sudah berada di dekat mereka semua.


"Guru Ketua," lirih Firman yang melihat Markus dan Tabib, sudah datang ke penginapan Agung Sedayu.


Mereka semua pun segera melakukan salam penghormatan, kepada Markus dan Tabib Padepokan Macan Putih, yang sudah sampai ke penginapan Agung Sedayu.


"Salam hormat kepada Ketua Markus dan Tabib," ucap mereka semua secara bersamaan.


"Iya." Markus dan Tabib menerima salam penghormatan mereka semua.


"Ada apa? Kalian semua memanggilku dan Tabib datang ke sini?" tanya Markus langsung pada intinya.


"Guru Ketua. Yasa terluka saat menyerang Rimba ketua Padepokan Black, dan sampai sekarang belum sadar dari pingsannya," jelas Firman.


"Tabib segera obati luka Yasa," perintah Markus kepada Tabib untuk mengobati Yasa.


"Baik Ketua Markus. Tapi alangkah baiknya, kita membawa Yasa masuk ke dalam penginapan terlebih dahulu. Agar nyaman mengobati luka Yasa," tutur Tabib.


Mereka semua pun segera membawa Yasa, masuk ke dalam kamar penginapan Agung Sedayu. Akan tetapi orang-orang yang sudah berubah menjadi manusia dan sadar dari pingsannya, mencegah mereka semua yang akan masuk ke dalam kamar penginapan Agung Sedayu.


"Mau apa kalian semua masuk ke dalam kamar penginapan? Daftar dan bayar dulu, baru kalian semua bisa masuk ke dalam kamar penginapan Agung Sedayu," ucap salah satu pelayan penginapan Agung Sedayu.


"Kami semua ini, yang kemarin menginap di penginapan ini. Masa kamu sudah lupa sih?" jawab Robi menjelaskan kepada pelayan penginapan itu.


Pelayan penginapan itu mengerutkan keningnya.


"Kemarin tidak ada orang yang menginap disini. Karena kemarin itu, kami semua sedang berlibur. Jadi kami tidak menerima tamu, yang datang menginap di penginapan Agung Sedayu," sahutnya.


"Ini benar-benar sangat aneh sekali!" gumam Firman dalam hatinya, yang merasa janggal, dengan semua kejadian yang mereka alami. Saat mereka semua pergi menyerang Padepokan Black.

__ADS_1


"Tabib. Yudi dan Robi, segera bawa Yasa pergi ke dalam kamar penginapan. Agar Tabib bisa segera mengobati luka Yasa. Biar aku yang mengurus semua pembayaran penginapan." Markus menyuruh Tabib, serta Yudi dan Robi yang membawa Yasa, untuk pergi ke dalam kamar penginapan Agung Sedayu.


Mereka semua yang di suruh oleh Markus, segera pergi ke dalam kamar penginapan. Untuk mengobati Yasa yang masih belum sadar dari pingsannya.


Sedangkan Markus yang sudah membayar biaya pendaftaran penginapan, segera menemui Firman. Riska dan Aira, karena Markus akan mengintrogasi mereka bertiga. Untuk menceritakan semua kejadian yang mereka alami, ketika mereka semua pergi menyerang Padepokan Black.


Firman dan Aira serta Riska, menceritakan semua kejadian. Saat mereka semua pergi menyerang Padepokan Black. Dan juga menceritakan kehilangan Malik, yang hilang secara tiba-tiba. Saat mereka semua masuk ke dalam Padepokan Black.


"Guru Ketua, aku ingin menanyakan tentang ilmu menghilang yang Malik kuasai. Sejak kapan Guru Ketua mengajarkan Malik ilmu menghilang?" tanya Firman penasaran.


"Aku belum pernah mengajarkan Malik ilmu menghilang. Bahkan guru-guru Padepokan Macan Putih, belum mengajarkan ilmu menghilang kepada murid-murid Padepokan Macan Putih yang lainnya juga," jawab Markus.


"Tapi kemarin itu. Malik bisa menggunakan ilmu menghilang. Mungkin saja Ketua Markus lupa? Atau bisa jadi guru Padepokan Macan Putih, yang sudah mengajarkan Malik ilmu menghilang." ucap Riska yang membela Malik.


"Jika guru Padepokan Macan Putih, akan mengajarkan ilmu menghilang kepada Malik. Pasti aku akan di beritahu terlebih dahulu. Apalagi kekuatan energi Malik itu belum cukup, untuk menguasai ilmu menghilang." Markus yang sangat yakin. Jika ia dan guru Padepokan Macan Putih, belum pernah mengajarkan Malik ilmu menghilang.


"Ini semua sangat mengherankan. Pasti orang yang menggunakan ilmu menghilang bukanlah Malik, tapi orang lain yang menyerupai Malik," gumam Firman di dalam hatinya yang merasa yakin. Kalau yang menggunakan ilmu menghilang bukanlah Malik, tapi orang lain yang menyerupai Malik.


"Emangnya, kalian semua pergi ke Padepokan Black, tidak berjalan kaki?" tanya Markus.


"Kalau tidak ada Guru Ketua disini, akan aku berikan pelajaran kepadamu Riska," geram Firman dalam hatinya, sambil mengepalkan tangannya.


Markus yang mendengarkan cerita mereka bertiga, merasakan ada sesuatu hal yang tidak beres. Maka dari itu, Markus akan mengajak Firman, untuk berkeliling di sekitar penginapan Agung Sedayu.


Saat mereka berdua sedang berkeliling mengitari penginapan Agung Sedayu. Markus tidak sengaja menemukan sebuah botol ramuan, yang tergeletak di belakang penginapan Agung Sedayu.


"Aku sangat familiar dengan bentuk botol ini! Sepertinya aku harus memastikan kebenarannya, dengan memberitahukan botol ramuan ini kepada Tabib," gumam Markus di dalam hatinya, sambil memperhatikan botol ramuan yang baru saja ia temukan.


"Firman sebaiknya kita pergi ke dalam kamar Yasa," ajak Markus pada Firman.


"Baik Guru Ketua," sahutnya.


Markus dan Firman pun pergi ke dalam penginapan Agung Sedayu. Karena mereka berdua akan masuk ke dalam kamar Yasa, yang tengah di obati oleh Tabib.


"Bagaimana keadaan Yasa Tabib?" tanya Markus kepada Tabib. Karena Markus dan Firman sudah sampai ke dalam kamar penginapan.

__ADS_1


"Luka Yasa sangat parah. Bahkan kekuatan energinya juga menghilang," tutur Tabib Padepokan Macan Putih.


"Apa?" jawab kaget mereka semua yang berada di dalam kamar penginapan.


"Apakah luka Yasa dapat segera sembuh Tabib?" Firman sangat mencemaskan keadaan Yasa.


"Bisa, tapi butuh pengobatan yang cukup lama. Apalagi kekuatan energinya sudah hilang, akan sangat sulit untuk ia bisa segera pulih kembali. Ditambah saat kalian semua pergi menyerang Padepokan Black. Hanya Yasa saja yang tidak meminum ramuan kekebalan tubuh, yang aku berikan kepada kalian semua. Jika kalian semua akan pergi menyerang Padepokan Black," jawab Tabib Padepokan Macan Putih.


"Tabib tolong periksa luka mereka semuanya," tunjuk Markus ke arah Firman. Yudi dan Robi serta Aira dan juga Riska.


"Tapi mereka semua tidak tampak terluka begitu parah. Karena mereka semua telah meminum ramuan kekebalan tubuh," sahut Tabib.


"Periksa saja!" ucap tegas Markus.


"Baik Ketua Markus." Tabib pun segera memeriksa mereka semua secara bergantian.


Setelah memeriksa keadaan Firman. Robi dan Yudi serta Aira dan juga Riska. Markus kembali datang menghampiri Tabib.


"Bagaimana? Apa mereka semua juga sama keadaannya seperti Yasa?" tanya Markus kepada Tabib. Ketika Firman, Yudi dan Robi serta Aira dan juga Riska telah pergi meninggalkan kamar penginapan. Karena Markus ingin berbicara berdua dengan Tabib.


"Aku rasa bukan hanya kekuatan Yasa saja yang hilang. Tapi yang lainnya juga kehilangan kekuatan energinya, dan di tubuh Riska ada mantra cinta, yang membuat ia jatuh cinta pada seseorang, dan entah siapa orangnya aku tidak tahu? Yang jelas! Jika tidak segera di beri ramuan penangkalnya. Riska akan semakin mencintai orang itu, bahkan bisa mencelakakan orang-orang yang berada di sekitarnya, dan untungnya aku sudah memberikan ramuan penangkalnya kepada Riska," tutur Tabib menjelaskan.


"Baguslah kalau begitu. Oh iya Tabib, tadi aku menemukan botol ramuan ini di belakang penginapan " Markus menunjukan botol ramuan yang ia temukan kepada Tabib.


"Ini seperti botol ramuan yang pernah Yasa perlihatkan kepadaku! Kalau tidak salalah. Yasa bisa mendapatkannya, dari seorang Pendekar Sakti yang bernama Kelana," ujar Tabib yang tidak asing dengan botol ramuan, yang ditunjukkan oleh Markus.


"Jangan-jangan!" ucap Markus dan Tabib berbarengan. Karena mereka berdua merasa curiga kepada Rimba ketua Padepokan Black, yang meminta bantuan kepada Raja iblis dan pasukannya.


"Pikiranmu? Apakah sama denganku Tabib?" tanya Markus.


"Iya ketua Markus. Aku curiga ini adalah ramuan dari Raja iblis," jawab Tabib.


"Pantas saja mereka semua kemarin pergi menyerang Padepokan Black, tanpa persiapan yang sangat matang. Pasti ini semua sudah di rencanakan oleh Rimba ketua Padepokan Black, yang di bantu oleh Raja iblis dan pasukannya,'' geram Markus kepada Rimba ketua Padepokan Black, sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Untung saja Pedang Sakti yang berada di tangan Rimba, belum aktif sepenuhnya. Jangan sampai ia mengetahui cara mengaktifkan Pedang Sakti. Sebelum Yasa dapat merebut Pedang Sakti, yang kini masih berada di tangan Rimba," gumam Markus dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2